
Zahwa menahan tangan Akhtar yang akan beranjak setelah suaminya itu membaringkannya.
"Tetaplah di sini!" Ucap Zahwa dengan puppy eyes .
Akhtar tersenyum manis lalu ikut berbaring di samping Zahwa dengan bersandar di headboard.
Setelah Akhtar berbaring, kepala Zahwa naik menempel di atas dadanya sembari memeluknya erat.
Akhtar membalas pelukan itu sambil mengelus kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.
" Bib.."
"Hm"
" Kamu bahagia tidak, menikah dengan ku?" tanya Zahwa tiba-tiba
" ... "
" Kenapa tidak di jawab Bib? Tidak bahagia ya?" Ucap Zahwa dengan murung
" Kenapa bertanya seperti itu?" Ucap Akhtar
" Karena aku penasaran, pengen tau kamu itu bahagia tau tidak menikah dengan ku"
" Maaf.." ucap Akhtar pelan melihat ke arah lain
Mendengar ucapan Akhtar membuat Zahwa mendongak
" Kamu tidak bahagia?" Tanya Zahwa dengan mata berkaca-kaca
Akhtar menatap mata Zahwa, melihat lelehan bening itu mengalir di pipi mulus istrinya membuat ibu jarinya dengan cepat menghapusnya.
"Maaf, seharusnya saya yang bertanya seperti itu. Saya yang bertanya apakah kamu bahagia menikah dengan saya. Ya..memang konsekuensi menikah dengan saya itu tidak mudah. Lihatlah, baru dua minggu kita menikah saya sudah meninggalkan mu lebih dari dua bulan. Waktu yang seharusnya adalah masa pernikahan kita senang hangat-hangat nya, tapi... Saya harus berada jauh dari mu, meninggalkan mu, menumbuhkan rasa kekhawatiran dalam dirimu. Kita bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua di masa awal pernikahan kita. Dan saya sangat menyayangkan itu. Jujur saja, kamu pasti tersiksa 'kan?" Ujar Akhtar panjang lebar
Zahwa menggelengkan kepalanya dengan yakin, semakin mengeratkan pelukannya, ia membenamkan wajahnya di dada bidang itu.
"Tidak, jangan berkata seperti itu-" ucap Zahwa tertahan
"Queen.. saya harap kamu tidak menyesal karena telah menerima pinangan saya, tidak menyesal karena menjadi istri saya. Saya berharap kamu bisa menerima setiap kekurangan dan kelebihan saya. Saya merasa bersalah karena bukannya memberikan kebahagiaan, saya malah membekas kan rindu dalam hatimu"
"Ihh Bib.. sudah jangan bicara lagi. Ini sudah jalan kita, kita harus menerimanya. Mungkin waktu berpacaran kita hanya dua minggu, dan selebihnya di antara kita sudah ada dia. Kita bukan berdua lagi, tapi bertiga. Dan jangan lagi pernah katakan bahwa kamu tidak membahagiakan ku, karena dengan adanya dia sudah menjadi bukti cinta dan kasih sayang mu pada ku, kebahagian ku sudah lengkap dan aku sangat bersyukur atas hal itu" ucap Zahwa tersenyum lembut, menempelkan tangan Akhtar ke perutnya, di balas elusan oleh Akhtar.
__ADS_1
"Ana uhibbuki Fillah " ucap Akhtar mencium kening, hidung kedua pipi dan berakhir di bibir Zahwa, setelah itu ia bermain di sana.
_
_
"Oh iya sayang.. kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Akhtar pada Zahwa yang berada di dekapannya
" Hemm. Aku tidak tau, tapi tunggu sebentar" Zahwa keluar dari dekapan Akhtar lalu mengambil ponselnya di atas nakas.
Akhtar menarik boneka teddy bear Zahwa, memeluknya lalu memejamkan matanya. Entah kenapa kepalanya sangat pusing saat ini.
Lain lagi dengan Zahwa yang sedang duduk bersandar, ia membuka ponselnya dan melihat rekomendasi makanan hari ini. Tangannya sibuk men-scroll layar ponsel nya.
Hingga jari lentik itu berhenti di sebuah gambar rujak serut dengan kuah yang sangat pedas menggoda.
Pertama ia melirik-lirik Akhtar sebelum mengatakan keinginannya.
"Yank.."
"Hm..iya ada apa" ucap Akhtar membuka matanya
"Ini" cicit Zahwa menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Akhtar.
"Yank.. jangan ini yah.. melihatnya saja sudah membuat perut saya mulas" ucap Akhtar memelas dan kembali menutup matanya. Ia tidak sanggup membayangkan istrinya memakan kuah yang sangat pedas itu.
"Yank ini tidak semengerikan itu, ayolah tadi nanya, tiba aku mau sesuatu eh.. ga di bolehin" bibir Zahwa maju dua senti
Akhtar yang tak sengaja mengintip, membuat ia gemas dan menarik tengkuk Zahwa lalu mengambil kesempatan itu untuk mengecupnya.
" Sayangku..cintaku.. yang lain saja ya.. kasian nanti calon baby nya kepedasan di dalam " ucap Akhtar memeluk Zahwa
"Ihh.. apaan sih. Mana ada begitu Bib.. ayolah.."
"Baik- "ucap Akhtar terpotong karena kecupan Zahwa di pipinya
"Makasih sayang..." Ucap Zahwa dengan senang
" Baik, setelah kamu lahiran dan umur baby kita 1 tahun baru kamu boleh makan itu" ucap Akhtar membuat Zahwa melotot dan marah sehingga ia menghapus pipi Akhtar yang di kecupnya tadi.
"Tidak jadi makasih. Kamu mah gitu ihh... Masa 2 tahun baru boleh makan beginian ihh" gerutu Zahwa menjauh dari Akhtar
__ADS_1
"Sekali ga boleh, maka tidak" ucap Akhtar menutup matanya kembali saat rasa pusing itu kembali hadir.
Zahwa ngambil guling dan memeluknya dengan kasar.
" Kenapa semua orang tidak memperbolehkan ku untuk makan rujak pedes sih, kemarin Umi dan Abi. Sekarang Habibie. Ihhh kan rasanya itu enak.. seger seger pedas.. kalau ini di ponpes mungkin aku udah ngerujak lagi bareng santriwati padahal yang kemaren lebih pedes dari ini" gumam Zahwa komat kamit
"Apa?? kamu pernah makan ini sebelumnya?" Tanya Akhtar menyingkirkan guling itu dari wajah istrinya.
"Upss.. ketahuan" ucap Zahwa pelan menutup mulutnya
"Jawab Sayang"
" Eh.. a..emm.. a.."
"Jujur, iya kan?"
" Huufftt.. hu'um" Zahwa mengalah akhirnya mengangguk iya
" Kapan?"
"Beberapa hari yang lalu"
"Kamu ngerujak di taman belakang , sama santri dan lebih pedas dari ini, begitu?" Tanya Akhtar meminta penjelasan
"I-iya"
" Terus setelah makan itu kamu tidak kenapa-napa?" Tanya Akhtar lagi
"Tidak tuh, biasa saja"
Akhtar menelan berat salivanya, ia menyadari sesuatu
"Yank.. "panggilnya
"Hemm.. apa?" Balas Zahwa
" Kamu makan rujak yang sangat pedas beberapa hati yang lalu tidak kenapa-kenapa. Dan bertepatan juga dengan saya yang tidak makan yang aneh-aneh tiba tiba.. mules, perut saya sakit minta ampun, sudah seperti orang diare bolak balik kamar mandi" ujar Akhtar menatap Zahwa
Ekspresi Zahwa menunjukkan keterkejutan, ia balik menatap Akhtar lekat. Lalu menahan tawa nya..
"Berarti...
__ADS_1
****
Jejaknya jangan lupa yaa✨🤭