Salah Khitbah

Salah Khitbah
158. SK 2 : SEBENTAR LAGI


__ADS_3

Keesokan harinya


Zahwa melakukan vidio call dengan seluruh keluarga mereka yang berada di Indonesia. Sama halnya dengan mereka, semua yang berada di sana pun turut bersyukur dan bahagia. Serta membuat syukuran atas kesadaran Akhtar dari komanya.


Kini mereka telah tenang, karena saat Zahwa lahiran nanti sudah ada Akhtar yang menemaninya. Puas bertukar kabar dengan keluarga, Akhtar dan Zahwa memutuskan untuk istirahat. Tangan Zahwa menangkup setengah wajah Akhtar lalu mengelusnya, sedangkan perutnya yang juga di mainkan sama oleh Akhtar.


Mereka terdiam cukup lama, sebelum akhirnya Zahwa membuka suara.


"Terimakasih" Akhtar yang mendengarnya pun merasa bingung, namun ia hanya diam menunggu kalimat selanjutnya.


"Terimakasih sayang.. karena kau masih ingin hidup bersama ku. Sempat aku terfikir bagaimana jika aku tidak bisa bersama mu lagi. Bagaimana jika Alah lebih sayang padamu. Aku tidak tau apakah aku bisa bertahan dengan keadaan seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan jika-"


"Husstt..! Sudah, jangan membayangkan atau memikirkan hal yang tidak terjadi, Allah maha baik yang masih memberikan saya kesempatan hidup yang kedua, itu artinya Allah masih memberikan kita waktu untuk membesarkan anak-anak kita kelak bersama-sama. Dan mendidik mereka di jalan Allah. Harusnya saya yang berterimakasih istriku, karena kamu adalah wanita hebat yang Allah berikan kepada saya. Berjanjilah untuk tetap selalu di sisiku apapun yang terjadi." Ujar Akhtar dari lubuk hati yang paling dalam sembari menatap manik indah dan bening di depannya


"Aku tidak bisa berjanji, Karena kita tidak tau takdir Allah apa lagi yang akan kita hadapi di masa depan. Apapun itu tetaplah bahagia, bimbing anak-anak kita kelak seperti yang kamu inginkan"


"Tidak hanya saya, tapi kamu juga istriku. Kita!"


'entah mengapa sulit rasanya aku mengatakan iya. Karena aku tidak tau apakah aku bisa mendampingi mu selamanya atau tidak' - batin Zahwa


Zahwa hanya tersenyum menanggapi, lalu merapatkan tubuhnya kepelukan Akhtar dan memejamkan matanya. Akhtar membalas pelukannya dan mencium kening Zahwa agak lama. Lalu ikut memejamkan mata menyusul sang istri ke alam mimpi.


Beberapa saat kemudian, Zahwa yang masih terjaga mengerjapkan matanya. Memandangi wajah sang suami yang sudah terlelap terbukti dari dengkuran nafas nya yang teratur.


Ia pandangi wajah yang sedikit pucat, namun tak mengurangi gurat ketampanannya. Rasa takut kehilangan itu masih membekas di dadanya walaupun ia tau bahwa raga yang di depannya sudah bersatu kembali dengan jiwanya .


Bibir ranum nan tipis itu menjelajahi seluruh permukaan wajah pria tampan dan perkasa itu tanpa mengusik pemiliknya. Dan berakhir pada permainan bibir yang ternyata di balas oleh sang suami.


"Tunggu saya pulih sebentar lagi ya!" Bisik Akhtar membuat wajah Zahwa merona lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Akhtar

__ADS_1


***


"Sayang... sini!" Panggil Zahwa dengan menepuk sisi sebelahnya


"Sebentar" sahut Akhtar sambil berjalan membawa nampan berisikan susu untuk Zahwa.


Kini mereka sedang duduk santai di pinggiran kolam taman belakang rumah. Keduanya tampak serasi memakai pakaian berwarna putih menikmati senja yang sebentar lagi menampakkan diri.


Yah! setelah 14 hari berlalu masa pemulihan Akhtar kini semuanya sudah kembali seperti sedia kala. Mereka sudah bisa menikmati masa-masa penantian kelahiran anak mereka.


Keromantisan juga kehangatan dari Akhtar kembali Zahwa dapatkan. Sikap manja dari Zahwa ketika berdua dengannya kembali Akhtar terima. Dari segala hal Akhtar menjadi suami yang lebih sigap dan cepat tanggap.


Membayarkan tiga bulan tidak mendampingi sang istri dimasa-masa sulitnya. Kini ia ganti dengan memberikan seluruh perhatian dan kasih sayangnya. Hingga membuat Zahwa sampai lupa dengan masa lalu yang telah berhasil ia lalui.


"Hmmmm, enggak mau!" tolak Zahwa saat gelas tersebut di sodorkan ke hadapannya.


"loh?! kenapa menolak, ayoo habiskan" Zahwa kembali menggeleng


"Engga suka rasa ini"


" Yang beli siapa?"


"emm, aku sih ehehe"


" Kenapa beli kalau engga suka, hm?" tanya Akhtar lembut sambil mengelus perut Zahwa


" Karena kamu suka rasa ini, jadi aku beli ini untuk ngobatin rindu ku waktu kamu-- koma kemarin" ucap Zahwa menunduk


Ia kembali teringat masa-masa kesendiriannya yang segalanya harus berbau Akhtar sangking rindunya kepada sang suami.

__ADS_1


"emm, sebaiknya beli yang biasa saja" Zahwa mengangguk


"Tapi ini tetap di minum ya.. masa saya yang minum. Kan kamu yang hamil"


" tapi- Akh.."


"kenapa?" tanya Akhtar panik melihat Zahwa memegangi perut bawahnya


"Sakit Yank!" Akhtar mendadak pucat, bahkan lebih pucat di bandingkan saat ia koma dulu.


"a-aku harus apa? sa-sayang.. yang tenang.. istighfar.. sholawat yank.."


"hufftt...hufftt.." wajah Zahwa sudah memerah menahan gejolak di perutnya


Zahwa menarik tangan Akhtar agar terus mengelus perutnya. Bibir Akhtar komat-kamit membisikkan sholawat juga ayat penenang tepat di depan perut Zahwa.


Perlahan dan berangsur-angsur sakitnya mulai mereda. Akhtar mengangkat kepalanya memperhatikan Zahwa yang juga tengah menatapnya.


"Kapan HPL-nya?" tanya Akhtar


" Kira-kira empat sampai tujuh hari lagi" Akhtar mengangguk


"Sebaiknya kita masuk ke dalam. Tidak baik menjelang Maghrib kamu masih di luar. Buka mulutnya..!"


Dengan sedikit terpaksa Zahwa meminum susu yang sempat ia tolak tadi.


"Ayo!" Akhtar memberikan tangannya lalu membantu Zahwa untuk berdiri. Namun baru satu langkah ia berjalan. Zahwa kembali meringis


"Hmmpph.. sssttt! Yank, kaya nya aku mau lahiran!"

__ADS_1


" Apa! JANGAN SEKARANGG!"


"HAH?!"


__ADS_2