
Author POV
***
Sudah tiga hari Zahwa dan Akhtar berada di rumah Zahwa. Dan malam ini mereka memutuskan untuk pulang ke pesantren.
"Bunda..Wawa pergi dulu ya. Bunda jaga kesehatan jangan capek-capek. Nanti Wawa akan main kalau ada waktu", ucap Zahwa memeluk Bunda Fatimah
"Iya sayang..kamu ikut kemana pun Suami kamu pergi ya, syurga mu ada padanya jangan lupa tetaplah meminta ridho nya dan berbakti padanya. Yang nurut sama suami, belajarlah jadi istri yang shalihah. Mengerti putri ku?"
"Ia Bunda" ucap Zahwa menyentuh tangan Bunda Fatimah yang menangkup pipi nya .
Catat! Benar kata Bunda. Kita harus BELAJAR bukan harus menjadi istri yang shalihah. Karena jika kita merasa sudah menjadi seorang istri yang shalihah, maka kita akan kebingungan sendiri dengan masalah yang datang tiba-tiba yang akan di hadapi nanti. Namun jika kita BELAJAR, maka saat sedang di hadapkan dengan sebuah keadaan, situasi atau permasalahan, di situlah kita berperan. Belajar menghadapi situasi dan menyelesaikan masalah. Dan itu jugalah yang akan menunjukkan dan memmbenarkan kalau kita seorang istri yang shalihah.
Kira-kira begitu maksud ucapan Bunda Fatimah yang sudah pernah beliau katakan jauh-jauh hari pada Zahwa.
Kini Zahwa beralih pada Ayah Ali. Ia langsung mendapat kan pelukan di sana. Kini ia akan meninggalkan cinta pertama nya itu bukan lagi untuk menuntut ilmu, tapi untuk menjalani kehidupan baru nya.
Ia berpamitan pada Azzam, Helwa dan Zahra dan lain sebagainya. Setelah itu mereka pamit masuk ke dalam mobil. Dan perlahan mobil meninggalkan kediaman keluarga Syeena.
***
Keheningan tercipta di dalam mobil. Zahwa menatap ke luar jendela sedangkan Akhtar fokus dengan kemudinya.
Semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak mereka mendapati para pedagang yang berdagang di malam hari.
Tangan kiri Akhtar bergerak menyentuh puncak kepala Zahwa dan mengusap nya.
"Sayang.." panggil Akhtar lembut
"Hemm iya?" Zahwa menoleh
"Mau beli sesuatu? Apakah Ada yang sedang kamu inginkan? Selagi kita masih belum melewati para pedagang ini"
"Apa ya?" Jawab Zahwa justru balik bertanya.
Sebenarnya Zahwa tidak suka makan malam namun karena Akhtar bertanya ia menjadi tidak enak menolaknya.
"Oh iya kamu suka martabak 'kan? Mau?" Zahwa mengangguk
"Sebentar"
Akhtar menepi kan mobil nya, memakai maskernya dan keluar membeli martabak untuk sang istri.
"Darimana Habib tau? Pasalnya aku tidak mencantumkan makanan dan minuman Favorite ku di CV?" Gumam Zahwa setelah Akhtar keluar dari mobil.
Ia mentap sang suami yang berdiri menunggu pesanannya selesai. Kedua tangan Akhtar ia masukkan ke dalam saku nya, ia berdiri tegak dan fokus memandang apa yang di kerjakan sang pedagang.
"Tampan! sangat tampan. Walau wajah mu tidak terlihat, tetapi kharisma yang kamu sangat kuat dan bersinar. Ahh..suami kuu" ucap Zahwa memandang ketampanan dang Suami dari dalam mobil.
15 menit berlalu. Akhtar kembali ke mobil dengan membawa 3 kotak martabak.
"Sudah?" Tanya Zahwa menerima kantong plastik yang di berikan Akhtar.
"Hemm" Akhtar mengangguk.
" Loh? Banyak sekali?"
" Untuk Umi dan yang lainnya. Siapa saja nanti yang ada di sana" sahut Akhtar. Zahwa mengangguk setuju.
30 menit perjalanan mereka sudah sampai. Dan perlahan mobil memasuki gerbang pesantren. Akhtar langsung memutar stir maju menuju jalan khusus ke ndalem yang hanya di pakai oleh keluarga dan kerabat ndalem saja .
__ADS_1
'ciiiittt....'
Akhtar memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil untuk menutup pagar parkiran. Selepas itu ia mengeluarkan seluruh koper dan barang yang mereka bawa dari jok belakang.
Ia menyeret koper itu dan berhenti di samping pintu Zahwa. Tangannya bergerak membukakan pintu untuk sanh istri tercinta.
Kreekk....
"Silahkan Queenn ku..." Ucap Akhtar lembut seperti pengawal kerajaan, bedanya ia tersenyum manis. Membuat Zahwa terkekeh geli sambil menyambut uluran tangan suaminya.
"Ihihiihi gimana ya reaksi orang-orang liat Habib yang biasanya dingin dan kaku tiba-tiba begini" gumam Zahwa menahan tawa nya.
"Jangan tertawa sayang"
Greb! Akhtar menarik pinggang Zahwa yang mematung seketika.
"Ayo" Akhtar menyempatkan mencium pipi Zahwa sebelum membawanya masuk ke dalam rumah.
"Bib..." Zahwa mencoba melepas tangan Akhtar di pinggang nya.
"Tenang sayang...tidak ada orang" balas Akhtar.
Zahwa melihat ke sekeliling nya memang tidak da orang yang berlalu lalang di sana. Mungkin semua sedang gokus di Masjid atau setor Hafalan di kelas atau bisa juga di pondok tahfidz.
Setelah itu mereka melanjutkan jalan mereka.
_
_
Tok..tok...tok...
"Assalamu'alaikum.."
Tok..tok..tok...
"Assalamu'alaikum.."
Ceklek~ pintu terbuka
"Wa'alaikumussa-lam...Aaa menantu Umi...." Umi Alya langsung menyambut menantunya dengan membawa Zahwa kepelukannya dan menciumi pipi menantunya gemas.
Dalam hati Umi bergumam " ohh..kamu senang bermain-main di sini ya Zi"
Bagaimana tidak, Bau Akhtar sangat tercium di pipi Zahwa.
"Eh...eh... Umi.." kekeh Zahwa. Setelah itu Umi melepaskan pelukannya dan Zahwa ganti meraih tangan Umi dan menyalim nya.
"Umi kabar?"
"Alhamdulillah...baik nak.. Ayo masuk dulu" Umi menggandeng tangan Zahwa dan mendudukkannya di sofa ruang keluarga.
Akhtar melongo melihat itu.
"Khem..Umi anak Umi yang di sini" tegur Akhyar dengan wajah cemberutnya.
Umi berbalik dan menatap Akhtar yang mengikuti mereka dari belakng dengan menyeret koper.
"Kamu kan sudah sering Zi, lagian siapa suruh 5 tahun tidak pulang. Sekarang giliran Mary kamu udah lewat" enteng Umi
"Umi tidak bisa begitu dong, Zahwa lebih lama di sini dengan Umi"
__ADS_1
"Tapi kan beda Zi...dulu dia sebagai santri dan teman Umi di sini, sekarang kan sudah jadi menantu Umi"
"Hiss..." Muka Akhtar semakin kusut
Zahwa menggeleng tak percaya dengan apa yang di lihat nya. Ternyata Akhtar sangat manja pada Umi, dan dia bisa-bisanya cemburu dengan istrinya sendiri demi mendapat kasih sayang Umi.
Ia menahan tawanya melihat Akhtar seperti itu.
Ia mendekat pada Akhtar dan mengelus lengannya.
"Bib..jangan cemberut dong..jelek tau. Sini!" Ucap Zahwa berbisik lalu menyeret Akhtar dan menyatukan tangannya dengan tangan Umi. Setelah itu Zahwa kembali berdiri di samping Umi dengan menggandeng tangan Umi.
Jadilah Umi di tengah dan kedua tangannya di genggam anak dan menantunya.
Apa lagi yang kurang? Umi sangat bahagia. Anak nya kembali dan Zahwa menjadi menantunya.
Umi tersenyum senang lalu mengelus kedua tangan itu dengan penuh kasih sayang.
"Kalian anak-anak Umi"
_
_
Mereka mengobrol di ruang keluarga sambil menikmati martabak yang mereka beli tadi.
Sesekali Akhtar menyuapi Zahwa.
"Coba ini" Akhtar mengangkat martabak rasa durian. Zahwa tidak terlalu suka, tapi Akhtar sangat menyukainya. Akhtar tau Zahwa tidak suka, taoi ia ingin agar istrinya mencobanya.
"Humm..." Zahwa menggeleng
"Coba dulu.."
"Hummm"
"Ayo, A..."
"Coba dulu nak..enak loh" timpal Umi Alya
Zahwa membuka mulutnya menerima suapan dari Akhtar. Matanya terpejam mengunya martabak itu. Akhtar dan Umi menahan tawa mereka melihat ekspresi Zahwa. Namun tak lama, matanya terbuka dan senyum terukir di bibir nya.
"Enak kan?"
"Iya" jawab Zahwa suka. 'tidak buruk' pikirnya.
Akhtar terus menyuapi Zahwa di hadapan Umi dengan tidak malunya ia juga meminta di suapi oleh Zahwa.
"Ahahahaha tidak apa-apa nak. Anggap Umi tidak ada" ledek Umi melihat pipi Zahwa merona.
"Biiibbbbb!"
_
_
_
_
_
__ADS_1
Jejaknya jangan tinggal yaaa
Semangat puasanya 💙