Salah Khitbah

Salah Khitbah
47. SK : LANGIT SEAKAN RUNTUH (2)


__ADS_3

S E L A M A T M E M B A C A


***


"Hiks...hiks...heg'..hiks.."


"Za--" mendengar Azzam memanggilnya Zahwa langsung menutup telinganya dan menggeleng pelan. Melihat itu Azzam menghentikan ucapan nya.


Azzam tertunduk, tangannya terkepal kuat.


"Wawa.." panggil Azzam lembut


Diam


"Dek..balik sini"


Diam


"Dek..ada apa? Kenapa diam? Jangan buat Abang bingung dek" ucap Azzam pura-pura tidak tau.


Tadi ia sudah melihat siapa yang menelpon Zahwa lewat riwayat panggilan di hp nya. Melihat itu Azzam mengacak-acak rambutnya gusar. Air matanya tak terasa jatuh di sudut matanya yabg langsung ia tepis.


Wajah tampan rupawan itu kini tampak kusut dan sedih.


"Zahra pasti sudah memberi tahu nya, makanya Wawa syok hingga pingsan seperti ini. Ya Allah..kenapa pria itu mengkhitbah Zahra bukan nya Wawa. Dek..Abang tau apa yang kamu rasakan saat ini. Pasti sakit sekali... Ya Allah..mengapa serumit ini" batin Azzam menangis pedih meratap nasib Adiknya.


Lamunannya buyar saat sebuah tangan lembut mengelus pundaknya. Azzam menggenggam tangan Helwa di pundaknya. Ia menatap sendu pada istrinya itu.


Helwa menatap Zahwa yang masih memunggungi mereka. Helwa memberi isyarat pada Azzam untuk keluar dan membiarkan ia yang mencoba untuk membujuk Zahwa.


Azzam mengangguk mengerti dan menatap penuh harap pada Helwa.


Helwa mengedipkan pelan matanya pada Azzam. Setelah itu Azzam beranjak keluar dari kamar Zahwa dan menutup pintunya. Di balik pintu itu ia menangis dan mengusap wajahnya.


Sedangkan di dalam kamar


Helwa duduk di hadapan Zahwa. Ia ingin berbalik tapi langsung di tahan oleh Helwa.


Zahwa mencoba duduk di bantu oleh Helwa. Setelah sudah di rasa bisa ia langsung berhambur kepelukan Helwa. Ia menangis di pundak kakak iparnya itu. Helwa mengelus punggung nya.


Setelah tangisannya mereda, perlahan Zahwa melepaskan pelukannya dan membawa satu bantal ke pangkuannya. Ia meremas ujung sarung bantal itu kuat.


Helwa berdiri mengambil nampan yang di bawa oleh Azzam tadi. Ia memberikan minum pada Zahwa dan langsung menerimanya.


Helwa meletakkan gelas dan mengangkat nasi dengan sup di tangannya. Helwa menyodorkan sesuap nasi pada Zahwa. Ia memalingkan wajahnya dan menggeleng tanda menolak.


Selera makannya hilang entah kemana. Rasanya ia tidak ingin makan apapun untuk saat ini.

__ADS_1


"Makan yuk, sedikit saja. Kamu baru saja pingsan, tenaga mu pasti berkurang karena kelelahan menangis. Hati 'mu boleh sakit tapi tubuh 'mu jangan kau sakiti" ujar Helwa memberi pengertian.


"Benar kata Ka Helwa. Menghadapi kenyataan butuh tenaga" batin Zahwa lirih


Ia meraih sendok dari tangan Helwa. Tapi baru saja Helwa melepaskan tangannya dari sendok tersebut, tangan Zahwa sudah bergetar dan menjatuhkan sendok yang di pegang nya.


"Tuh kan, tenaga nya ga ada. Biar Kakak suapi ya" ucap Helwa lembut dan mulai menyuapi Zahwa


Saat suapan kelima, Zahwa sudah kenyang dan menolak suapan dari Helwa.


"Tidak mau lagi.."


"Loh..kok menjadi seperti Humaira. Zahwa lebih besar dari Humaira jadi ayolah habiskan. Jangan kalah dari Humaira" bujuk Helwa


Melihat ketulusan Helwa, Zahwa tak tega. Ia menerima suapan itu walau sebenarnya ia ingin menolak.


Setelah meminum obat, Zahwa tertidur dalam keadaan duduk. Helwa yang menyadari itu menatap sendu pada Zahwa. Ia mengelus lembut punggung tangan Zahwa.


"Kakak tau apa yang kamu rasakan, kamu gadis yang kuat. Kakak percaya itu" batin Helwa tersenyum lirih


Kreek..


Pintu terbuka sedikit


Muncullah kepala Azzam di sana. Helwa yang melihat itu menghampiri Azzam dan mengajaknya ke dapur sambil membawa nampan dari kamar Zahwa tadi.


"Ada Wawa sudah makan?"


"Sudah"


"Alhamdulillah... Bagaimana keadaannya?"


"Dia baik-baik saja, tapi ia butuh banyak istirahat "


Azzam mengangguk


"Apa dia bicara sesuatu?"


"Tidak.." Helwa menggeleng. Mendengar jawaban Helwa membuat Azzam tertunduk dalam.


"Huuuffttt" Azzam menghela nafas. Helwa mendekatinya dan membawanya ke sofa ruang keluarga.


"Dia akan baik-baik saja, tenang lah.." ucap Helwa menenangkan


"Aku tak sanggup melihatnya seperti ini. Kenapa jadi begini?" Lirih Azzam menunduk


"Pasti di balik ini semua ada hikmahnya. Kita hanya bisa menghibur Zahwa. Sayang...ayolah jangan tunjukan kelemahan mu di depannya. Percaya semua akan baik-baik saja" ucap Helwa menangkup kedua pipi Azzam agar menghadap padanya yang tersenyum lembut untuknya.

__ADS_1


Sungguh, seorang istri yang menyejukkan mampu tampil indah dalam kondisi yang tidak indah. Di dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Nabi bersabda, “Maukah kalian aku beritahu sifat wanita kalian di surga?” Kami menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Yaitu wanita yang penuh kasih dan banyak anak. Bila ia marah, atau disakiti, atau suaminya marah, maka ia pun berkata, ‘Inilah tanganku dalam genggaman tanganmu. Engkau tak akan melihat mataku terpejam, hingga engkau ridha kepadaku’.” (HR. Thabrani)


"Hemm" Azzam memeluk Helwa untuk mencari ketenangannya. Seraya membaca


"Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubanaa 'ala tho'atik"


Artinya : Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu


***


Sedangkan di tempat yang berbeda


📱


"Kapan anak sholeh Ummah kembali, Hah?"


"Lusa adalah jadwal pemberangkatan nya Ummah"


"Cepatlah pulang, Kami sudah mengkhitbah gadis itu untuk mu sayang.."


"Benarkah? Sudah?" Terdengar suara di sebrang sana sangat bahagia.


"Iya sayang... Kami sudah mengkhitbah Zahra untuk mu"


"A-Apa!!"


.


.


.


.


Jejak nya jangan tinggal ya!!!


Like setiap selesai baca atau sebelum baca


Komen juga


Kembang dan Kopi bagiin juga


JANGAN LUPA AL-KAHFI NYA YAA💓💓


luv banyak-banyak💓


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2