
***
Saat aku baru sampai di rumah, aku mendapat telpon dari Umi..
"Nak..apakah kau sudah mengambil keputusan?"
"Umi..maaf. Setelah sebulan dari terakhir Umi menghubungi Zi barulah Zi membuka pesan dari Umi. Dan di sini Zi juga sedang memantaskan diri Umi. Zi sempat lupa Umi"
"Memang benar, kamu tidak peduli dengan Umi"
"Umi jangan begitu pada Zi..yakinlah Zi pasti akan- ",
"Sudahlah nak. Percuma juga jika kamu ingin mengejarnya sekarang, sudah terlambat. Dia sudah di khitbah seseorang "
"A-apa?!"
Mendengar itu ada rasa menyesal dan tidak rela. Rasanya aku kalah start dengan orang itu. Tidak ku sangka akan begini. Rencana nya 2 minggu lagi aku akan pulang ke Indonesia dan mengutarakan niat ku, tapi kini aku sudah kalah.
Setelah sambungan telpon terputus, aku duduk di atas sajadah dan berdzikir memohon ampun pada Allah. Cukup lama aku ber muhasabah di sana.
Hingga di menit ke berapa aku terhenyak memikirkan perkataan Guru ku Imam besar kemarin.
"Akan ada sesuatu yang baik, tapi kamu harus bersabar"
Mungkin ini maksud perkataan beliau. Aku harus bersabar menghadapi ini, karena ada suatu yang baik menanti ku.
Sejak saat itu, aku tidak memasukkan lagi namanya ke dalam doa ku tetapi aku meminta yang terbaik untuk ku dan untuk nya. Dan jika memang masih ada harapan dan memang jodohnya agar di dekat kan, namun jika tidak maka hanya bisa meminta keridhoan serta ketabahan hati.
Aku mengingat kembali perkataan Umi. Umi sungguh sangat tidak rela dengan itu, apalagi mendengar siapa orang yang mengkhitbah gadis itu. Umi tidak ingin memberitahu kan nya pada ku. Sempat Umi berfikir agar mereka tidak bersama tapi setelah itu Umi hanya meminta agar di beri yang terbaik untuk kami semua.
***
__ADS_1
1 Minggu berselang dari situ. Umi kembali menelpon. Dan mengabarkan bahwa pernikahan merek tidak lanjut katena ada kesalahpahaman. Umi tidak menceritakan detil nya, hanya itu saja.
Jujur, dalam hati ini rasa bahagia membuncah tidak terjabarkan. Entah apa yang terjadi pada ku, aku sangat bingung dengan diriku sendiri. Aku sangat ingin terikat dengannya padahal aku sama sekali tidak mengenalnya, hanya menyimpan nama dan suaranya yang masih terngiang-ngiang.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk kembali memperjuangkannya dalam istikharah ku. Setiao malam aku selalu menggadaikan namanya kepada Sang pemilik kehidupan, kepada yang Maha berkuasa.
Setelah di rasa hati ku semakin mantap, siap lahir batin untuk meminangnya sesuai dengan impian Umi, aku menghubungi Abi untuk mengurus semua. Mulai dari kejutan untuk Umi, apartemen sementara untuk ku, dan rencana khitbah untuk nya.
Aku memutuskan untuk tidak tinggal di Pesantren setelah pulang nanti. Dan aku akan memberikan kejutan kedua untuk Umi, bahwa aku bersedia akan segera mengkhitbah menantu impiannya.
Aku mengatur jadwal dan kesibukan ku dan akhirnya aku bisa pulang ke Indonesia tiga hari lagi.
***
Udara pagi bercampur embun sejuk mengisi indra penciuman ku . Kini aku sudah menginjakkan kaki ku di tanah kelahiran ku. Ini adalah hari yang sudah sangat aku nantikan.
Aku menyeret koper ku dan memesan taksi. Setelah itu aku berangkat menuju sebuah gedung apartemen. Namun karena jalanan macet dan ada sebuah perbaikan jalan di tengah kota, jadi pak supir menyarankan agar lewat pasar tradisional. Aku hanya menurut, yang terpenting aku cepat bertemu dengan Umi.
Dapat ku lihat ia melakukan perlawanan, namun ia kesulitan juga karena tenaga dari si preman, juga pakaiannya yang tidak memungkinkannya untuk bergerak bebas.
Hati ku terdorong untuk membantunya.
Aku pamit sebentar pada pak supir lalu berlari mendekat pada mereka, si preman itu ingin bertindak nekat namun segera ku cegah dengan memukul salah satu titik lemah di sekitar bahu nya.
Terjadi lah keribuatan kecil, perlawanannya yang menyerangku. Hingga akhirnya ia tersungkur dengan segera tanpa sadar aku menarik kain baju tangan wanita itu untuk berlari. Aku melihat ada sebuah tong yang cukup besar di atas sebuah meja meja semen, bisa untuk bersembunyi.
Ku tarik di untuk bersembunyi di sana. Saat sudah aman. Aku sedikit menoleh pada nya
"Maaf..", lirih nya seraya melepas pegangannya ku pada tangannya. Pandangan kami bertemu.
Deg! Aku terpana melihat hanya matanya yang tidak tertutup kain niqab itu seperti pernah melihatnya.
__ADS_1
Aku bertanya-tanya dalam hati, seolah pernah melihatnya tapi entah dimana dan kapan.
Aku segera pergi menuju taksi dan masuk ke dalam dan duduk sambil memegangi dada ku yang berdebar.
Saat itu aku tidak mengetahui dia siapa dan mengapa aku merasa sangat familiar dengannya.
Namun sekarang aku sudah mengetahui dan menyadarinya. Bahwa dialah 'jodoh dalam istikharah ku'
Yang sudah aku tebus nama nya ke lauhul mahfudz saat aku mengikrarkan janji suci ku di hadapan Allah dengan menjabat tangan Ayahnya dan memintanya langsung pada beliau.
Yang kini sudah menjadi istriku di dunia, In syaa Allah Bidadari Syurga ku di akhirat.
Dia lah Queen ku Zahwa Mary Equeena.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
Jejak nya jangan tinggal and lompat yes 💙