
Tak lama kemudian pintu ruang rawat Akhtar di buka, suara roda yang berjalan mendominasi sekitar. Dengan cepat para suster mendorong brankar Akhtar menuju ruang operasi.
"Tunggu Sus" langkah ketiga perawat itu di hentikan oleh suara Zahwa
"Bolehkah saya melihat Suami saya sebentar saja?" Tanya Zahwa pelan
Mereka mengangguk mempersilahkan. Tak menunggu lama Zagwa langsung mendekati ranjang itu. Dan melihat secara dekat dengan suaminya. Para perawat itu menyingkir sedikit untuk memberi ruang kepada Zahwa melihat Suaminya.
Tangan Zahwa menyentuh kulit tangan kekar Akhtar yang di infus. Satu tangannya lagi mengusap wajah Akhtar yang sedikit luka-luka. Menatap bibirnya yang pucat dan membiru.
Ia mendekatkan kepalanya ke wajah sang suami. Memberikam kecupan di sekitar wajahnya yang tidak di perban. Bahkam hingga kini suaminya belum sadarkan diri.
"Sayang..." Lirih Zahwa
"Kamu harus sembuhh.. sayang... Kamu dengar aku kan? Kamu harus sembuh.. hiks..hiks.. "
Ia meraih tangan Akhtar dan menggerakkannya mengelus perutnya sambil kembali berucap "asal kamu tahu, anak kita dapat mengetahui dan merasakan semuanya. Ia ikut merasakan cemas akan kamu. Ku mohon.. jangan tinggal kan aku.. kamu harus sembuh.. aku mohon.. "
"Nona suami anda harus segera di operasi"
Mendengar peringatan itu Zahwa meletakkan tangannya mengelus surai hitam itu. " Aku mencintaimu, kami menunggumu sayang.." bisik Zahwa lalu mencium kening Akhtar.
Kaki nya melangkah mundur, memberikan ruang pada perawat untuk kembali mendorong brankar Suaminya. Setelah ruang operasi si tutup Zahwa kembali duduk menunggu tepat si depan ruang operasi. Bibirnya terus berdzikrullah dan berdoa agar operasi yang di jalani Akhtar berjalan dengan lancar dan berhasil.
Zahwa membenamkan wajahnya di kedua tangannya. Jari kakinya bergerak tak tenang. Ibu Geza mendekat memberikan minum pada Zahwa. Meskipun awalnya menolak, dengan bujukan Ibu Geza Zahwa menegak sedikit air mineral itu.
Lima belas menit berlalu, Zahwa masih setia menanti di depan ruang operasi.
Allahu Akbar Allahu Akbar..
Deru suara azan menggema si pagi hari yang sangat dingin itu. "Mari kita ke Mushalla Nona. Kita berdoa pada Allah untuk kesembuhan suami Anda" Zahwa mengangguk. Mereka berdua pergi ke Mushalla untuk melaksanaka shalat Subuh dua rakaat.
Ibu Geza menunggu Zahwa yang masih setia di sujud terakhirnya. Ibu Geza pergi ke mobil untuk mengambil baju ganti untuk Zahwa. Ia meminta Zahwa untuk bebersih karena ia tau bahwa Zahwa sangat gerah memakai baju nya semalaman. Setelahnya mereka di panggil Pak Bathur. Karena operasinya sudah selesai dan berhasil. Dan kini Akhtar sudah di pindahkan ke ruang rawat.
Dengan cepat mereka kembali ke rumah sakit. Pak Bathur mempersilahkan Zahwa untuk masuk menemui Akhtar terlebih dahulu. Dan mereka akan menunggu di luar, memberikan waktu untuk Zahwa melihat keadaan suami nya pasca operasi.
Tubuh itu masih setia terlelap di atas ranjang oasien. Tanpa ada niatan untuk membuka mata dan menyapanya.
"Dokter mengatakan setelah beberapa jam kedepan Pak Akhtar akan sadar. Karena ia masih dalam pengaruh obat bius " Ucap Ibu Geza setelah melihat keadaan Akhtar. Zahwa mengangguk mengerti.
__ADS_1
Tak lama pintu di buka oleh Pak Bathur yang membawa beberapa bungkus makanan. "Mari kita sarapan. Saya sudah membelikan makanan di depan" ajak Pak Bathur.
" Mari Nona, kita sarapan dulu" Ibu Geza menarik tangan Zahwa
"Kalian makan saja dulu saya belum lapar" jawab Zahwa masih setia duduk di samping ranjang mengunggui Akhtar sadar
"Jangan begitu Nona. Kita bersama-sama akan menunggu Suami Anda sadar"
"Tolong Ibu Geza. Saya tidak ingin makan" tolak Zahwa kembali
"Anda bisa saja menahan lapar, tapi bayi dalam kandungan anda tidak bisa menjerit mengatakan kalau ia butuh nutrisi" ujar Ibu Geza mengingatkan
Setelah di paksa akhirnya Zahwa memaksa makanan itu masuk ke dalam perutnya
Lima jam berlalu, tidak terlihat tanda tanda Akhtar akan sadar. Dan hal ini membuat wanita ayu ini kembali di landa khwatir. Ia memutuskan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Akhtar.
"Tenang.. Nona.. semua akan baik-baik saja" ucap Ibu Geza menanangkan. Saat ini merekadi luar ruangan Akhtar, menunggu Dokter memeriksa keadaan Akhtar.
"Aku sangat takut ... Ta-taku jika keadaannya semakin memburuk Ibu Geza.. hiks.." air mata itu kembali keluar. Ibu Geza mengusap usap punggungnya
"Percayalah ini jalan terbaik dari Allah untuk menguji kalian berdua. Yakinlah semua ini masih dalam kendali Allah, jangan khawatir, tidak usah takut. Allah bersama kita"
Suara pintu terbuka mengahncurkan lamunan Zahwa. Dokter keluar dari ruangan Akhtar. Dan meminta Zahwa untuk ikut ke ruangannya.
"Di luar dugaan kita semua. Qadarullah, di baik tubuh yang segar yang kita lihat, kondisi Suami Anda ternyata memburuk di alam bawah sadarnya. Dengan berat hati, kami menyampaikan kabar ini kepda Anda. Suami anda koma Nona" ucap sang Dokter dengan hati-hati
"A-apa? Ko-koma?? Suami saya Koma dokter???"
"Iya Nona, Cedera otak traumatik yang di alami Suami anda menimbulkan gangguan pada tubuhnya dan menyebabkannya menjadi koma. Saat kami memeriksanya tadi kondisinya sudah paling dalam ketika tidak sadarkan diri. Itulah sebabnya tidak dapat merespons apa yang terjadi di sekitarnya sama sekali. Setelah operasinya tadi, kondisinya sudah cukup membaik, namun Allah berkehendak lain beberapa jam setelahnya kondisinya berubah jauh dari yang kita bayangkan"
Setelah mendengar semua penjelasan Dokter, Zahwa kembali ke ruangan Akhtar. Hatinya kembali seperti di iris melihat Suaminya yang sedang koma. Yang sampai entah kapan baru akan sadar. Kali ini Zahwa benar-benar kembali di guncang kenyataan. Entah apa yang akan ia lakukan selama suaminya koma. Pikirannya berkecamuk memikirkan bagaiamana hidupnya kedepannya.
Di usia kandungannya yang kini di angka enam bulan. Disangka ia akan menikmati momen kebersamaan mereka menunggu si jabang bayi lahir, justru keduanya mendapat musibah yang tak di sangka.
Malam pun tiba, Zahwa baru saja selesai melaksanakan sholat Isya. Tiba-tiba hp nya berdering. Melihat nama yang tertera di layar ponsel nya membuat Zahwa sedikit gamang untuk mengangkatnya.
Karena ponsel itu terus berdering, Zahwa akhirnya mengangkatnya.
"As-salamu'alaikum.." ucapnya dengan nada biasa
__ADS_1
" Wa'alaikumussalam.. nak?? Ya Allah.." isak tangis langsung terdengar di sebrang
"U-umi... U-umi kenapa nangiss??"
"Nak.. kamu tidak usah tutupi lagi.. Umi dan Abi sudah tau. Ya Allah.. nak Mary... Sayang.. hiks.. hiks... Kamu yang kuat ya nak. Kamu yang sabar di sana.. hiks hiks" ucap Umi Alya masih terisak
"I-iya Mi.. Mary minta doa yang banyak dari semua keluarga di Indonesia.. Mary sendiri di sini Umi... " Ucap Zahwa dengan suara bergetar
"Tentu sayang.. tentu..Nak.. sayang.. maafkan kami yang tidak bisa menemani mu.. hiks.. hiks.. ini pasti berat untuk mu"
"Mary tidak tau harus bagaimana Umi.. hiks.." isakan itu akhirnya keluar juga.
"Nak.. boleh Abi melihat suami mu? " Tiba-tiba suaranya berubah menjadi suara Buya Firman
"I-ini Abi.." Zahwa mengalihkan panggilan suara ke panggilan vidio. Ia mendekat ke brankar Akhtar lalu mengarahkan kamera ke wajah Akhtar.
"Zi... Putraku.... Sadarlah nak.. Ya Allah.. sadar lah..nak.. Umi mohon.. sadarlah nak.." raung Umi Alya terdengar pilu. Sebagai seorang ibu pasti terpukul dengan keadaan anaknya yang seperti ini. Di layar, tampak Buya Firman merangkul Umi Alya dan mengelus-elus lengannya untuk menguatkan.
"Abi.. anak kita Bi.. Ya Allah..." Tangis Umi Alya semakin deras
"Nak jika bukan karena peraturan pemerintah untuk menutup semua penerbangan. Mungkin saat ini kami bisa mendampingi mu di sana. Tapi tenang saja nak, Pak Bathur akan membantu mu. Anggap saja mereka seprrti kedua orang tuamu. Tetap kebari kami perkembangan Zi ya nak.."
"I-iya bi.. nanti Mar- Ya Allah Umi! Abi.. Umi Bi..."
Pekik Zahwa melihat Umi Aya pingsan
"Nak.. nanti Abi hubungi lagi ya.. Abi mohon selalu ada di samping suami mu. Assalamu'alaikum "
"Iya Bi.. wa'alaikumussalam"
"Huhuhuhuhu.. huhuhuhh...hiks.. hiks.." Zahwa meluapkan tangis nya di dada Akhtar. Setelah mereda, ia naik ke atas ranjang yang sudah disiapkan untuknya persis di samping brankar Akhtar. Ia membaringkan tubuhnya di sana, memikirkan banyak hal tentangnya kedepan. Hingga tak sadar ia terlelap memeluk satu tangan Akhtar.
_
_
_
Tolong yang belum like bab sebelumnya agar kembali untuk tekan jempol dulu 🙏🏻 Jangan lupa tinggalin jejaknya yaps
__ADS_1