
" M-ungkin Zahwa yang lain bu.. kan yang nama Zahwa banyak bu" ucap Zahra
"Hem.. iya ya. Nak.. mungkin saja" jawab ibu Fakhri tersenyum
Zahra meremas sisi bajunya, menyalurkan kekesalannya. Hatinya berkecamuk, pikirannya mulai di penuhi pemikiran negatif
"Apa aku hanya jadi pelampiasan di buat nya?" Batin Zahra marah
Ia melirik Ustadz Fakhri dengan tatapan tajam. Sedangkan yang di lirik seketika menjadi gugup, wajah memelas dan isyarat mata memohon agar tidak salah paham pun ia pasang.
Tapi Zahra tetaplah Zahra, ia tidak peduli dengan wajah memelas itu.
"Nak... " Panggil Ibu Ustadz Fakhri membuat Zahra seketika menormalkan kembali ekspresi wajah nya lalu memalingkan wajahnya menatap Ibu Ustadz Fakhri lagi.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka dengan banyak hal,membuat Zahra sedikit bisa melupakan kekesalannya.
1 jam sudah Zahra menemani Ibu, dan ia rasa ia harus pergi sekarang juga. Takut Bunda Fatimah akan mencarinya.
"Bu.. kalau gitu Zahra pamit dulu ya.. ibu cepat sembuh yaa, kapan-kapan Zahra akan mengunjungi ibu lagi" Zahra menyalim tangan wanita itu
"Yah.. padahal ibu masih pengen di temenin. Tapi tidak apalah, hati-hati ya.. makasih sudah mengunjungi ibu"
"Iya bu, Zahra pamit ya.. Assalamu'alaikum.."
"Iya nak.. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ri.. cepet antar nak Zahra balik"
"Baik bu"
"Eh! Tidak usah bu.. Zahra bisa sendiri makasih hehehe"
" Tidak nak, ibu tidak ingin kamu pulang sendiri. Biar anak ibu mengantar ya.. tadi kan datang nya di bawa sama anak ibu.. mau ya.."
"Em... B-baiklah.. mari bu.." Zahra membungkukkan badannya sopan lalu cepat keluar dari ruang rawat Ibu.
Setelah keluar dari sana. Zahra berjalan cepat, berusaha menghindar dari Ustadz Fakhri.
"Zahra..."
" Zahra! Tunggu..." Ustadz Fakhri mengejarnya dari belakang
Zahra terus melangkahkan kaki nya, mencari jalam yang ramai di lewati orang agar bisa menyelinap tidak terlihat oleh Ustadz Fakhri.
Ia mencari jalan pintas dengan menuruni tangga, tidak memakai lift.
Ustadz Fakhri yang mengetahui jalan Zahra, mengikutinya menggunakan tangga juga.
Zahra berhenti tiba-tiba sambil memegangi dada nya saat Ustadz Fakhri berada tepat di hadapannya.
__ADS_1
***
Zahwa yang baru saja selesai makan mie sop bersama sang suami tercinta, memutuskan untuk pergi ke mobil terlebih dahulu. Ia sangat kenyang, dan saat ini ia hanya ingin tidur.
"Hati-hati ya sayang... Tunggu saya di mobil. Setelah pembayarannya selesai kita akan pulang" ucap Akhtar mengelus kepala Zahwa.
Zahwa mengangguk lalu berjalan hati-hati keluar. Sedangkan Akhtar sedang mengantri untuk melakukan pembayaran.
"Hufftt.. Alhamdulillah.. keinginan mu sudah terpenuhi ya sayang.. ihihihi.. " gumam Zahwa mengelus perut nya yang menggembung sedikit itu.
"Kak.. bagi rezeki nya kak.. kami belum makan kak..." Tiba-tiba dua orang anak mengemis datang menghampirinya
"Eh? Aduuh.. dek.. kakak lagi ga pegang uang" ucap nya jujur. Memang benar, Zahwa tidak pernah membawa uang sepeser pun ketika pergi bersama Akhtar, toh nanti uang nya tidak akan keluar, Akhtar hanya memperbolehkan uang itu di pakai untuk kebutuhan Zahwa saja. Tidak saat Akhtar ada di sampingnya.
"Kak.. bagi rezekinya kak.. kami belum makan.. kak..."
"Hufft.. adik.. maaf ya.. kakak memang sedang tidak bawa uang.. maaf ya dek..."
"Kak.. kami belum makan kak..." Ucap mereka lagi
"Aduh.. bagaimana ini" Zahwa menatap Akhtar yang masih ada di dalam.
Ia mengeluarkan ponsel nya dari saku nya. Lalu mengetikkan sesuatu untuk di kirim kepada Akhtar.
Drrtt... Merasa saku nya bergetar , Akhtar mengeluarkan ponsel nya dan membaca ada pesan dari istrinya . Ia berbalik ke belakang, melihat Zahwa masih ada di jalan, blm masuk ke mobil.
Mendapat balasan dari sang suami sesuai dengan harapannya ia tersenyum senang.
"Baik lah.. begini saja. Kalian silahkan masuk ke warung itu yah... Kalian lihat om yang berdiri memakai gamis hitam itu? " ucap Zahwa menunjuk Akhtar
Mereka mengangguk
"Nah.. kalian bilang saja kalian ingin makan. Okey.."
Mata kedua akan itu berbinar, lalu membungkukkan badan mereka tanda
terimakasih
"Terimakasih kak.. terimakasih.."
Zahwa mengangguk setelah itu mereka pergi dan melakukan seperti yang Zahwa perintahkan.
Setelah itu ia tersenyum karena telah membantu kedua anak malang itu. Ia berbalik dan ingin cepat-cepat duduk di mobil.
Tapi, baru saja, beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba ada seorang wanita yang berlari dengan cepat dan menyenggol Zahwa. Zahwa yang tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya menjadi limbung karena kaki nya juga menginjak bawah gamis nya.
"Aaakhhh...." Pekik Zahwa saat ia merasa tubuhnya terdorong ke depan.
__ADS_1
Melihat ada batu di depannya ia masih sempat meneluk perutnya.
Dugh!
"Akhhrrgg... Hiks.. sakit.. hiks.."
Pandangannya mulai kabur, ia msih sempat melihat orang-orang mendatangi nya dan mencoba menolongnya.
1..
2..
3..
Tidur!
Eh
Salah
Pingsan!
Akhtar yang melihat itu seketika melemparkan uang kembalian itu ke tanah. Dan berlari menghampiri Zahwa.
Melihat uang berserakan, para warga berebut ingin memungut uang tersebut.
" Sayang... " Lirih nya
" Ayo pak. Di bawa ke rumah sakit" desak ibu-ibu yang membantu mengusap darah pada tangan Zahwa
"Terimakasih sudah menolong istri saya"
Akhtar membawa Zahwa ke mobil dan memasukkannya ke bangku belakang. Dengan bantuan ibu tersebut membukakan pintu nya. Setelah itu ia berlari ke pintu kemudi, dan menghidupkan mobil nya terburu-buru.
Dengan satu kali gas, Akhtar sudah meninggalkan tempat itu.
_
_
_
_
JANGAN LUPA JEJAK NYA.. LIKE 500 KOMEN 50 BARU OTHOR UP 😌 KESEL LIAT YANG JADI SILENT READERS 📍 . JIKA LEBIH DARI TARGET. OTHOR DOUBLE UP 🤧
DO'AKAN OTHOR SEHAT SELALU BIAR SELALU INGAT KALAU MASIH HARUS MEMENUHI HALU KALIAN DISINI 🤲🏻🤣
__ADS_1