
"disini rupanya" desis Akhtar dengan senyum smirk
Diam-diam Akhtar meletakkan nampan di atas meja. Lalu melompat dengan gesit mengukung Zahwa di bawahnya.
Tawa Zahwa yang tadinya asik kini langsung kicep saat bibir nya di lu mats suaminya. Matanya mengerjap bertatapan lurus dengan mata Akhtar.
"Mmmpppt" Zahwa mencoba mendorong dada Akhtar yang batu saja menggigit bibirnya.
"Ih.. kok di gigit" protes Zahwa
"Huusttt!" Akhtar meletakkan jari telunjukkan tepat di bibir Zahwa. Setelah itu ia mengusap bibir ranum itu
"Apakah kita harus pindah ke rumah yang lebih kecil?" Tanya Akhtar pelan
"Hah?" Kening Zahwa mengerut
"Kamu telah membuat saya khawatir dan mencarimu ke seluruh sudut rumah"
"Upss... Emm m-maaf sayang... A-aku tadi bosen jadi.."
"Tidak bisakah katakan dulu sebelum pergi? Setidaknya saya tidak akan khawatir seperti ini"
"Emm maaf lain kali ga ngulangin lagi.. hmm" ucap Zahwa ketar-ketir
Kini ia menyadari kesalahannya, tapi mengapa tidak kepikiran sekedar memberitahu ia ingin keliling rumah. Dan sekarang lihatlah raut wajah suaminya itu sangat menyeramkan. Tatapan matanya tajam, nafasnya masih memburu, dan jangan lupakan tubuhnya yang semakin mengurung Zahwa seakan takut Zahwa lari entah kemana.
"Maaf di terima, tapi-"
"Tapi apa?"
"Kamu tetap mendapatkan hukuman"
GLEK!
"Ya Allah.. bagaimana ini? Kitab yang mana yang akan suamiku uji malam ini? Bisakah hukumannya jangan soal perkitab-an?" Batin Zahwa meringis
"Sekarang, ayo makan dulu" ucap Akhtar kembali normal lalu bangun dan mengambil nampan yang tadi ia letakkan di atas meja.
"A. Bismillah dulu"
"Bismillahirrahmanirrahiim" Zahwa menerima suapan dari Akhtar. Ia sampai memejamkan matanya merasakan enaknya masakan suaminya ini.
Ada manisnya dan ada pedas-pedasnya juga, sangat pas seperti ekspektasinya.
"Enak?"
"Alhamdulillah... Allah memberikan aku suami yang MasyaaAllah pandai sekali masak. Kalau gini aku boleh minta di masakin tiap hari ga Bib? HAHAHA"
"Sesui permintaan mu, Sayang..." Ucap Akhtar lembut lalu tersenyum menawan tepat di depan wajahnya, membuat ia speechles lalu membuang muka nya arah samping.
"Salting ya??" Goda Akhtar menaik turunkan alisnya
"Ihhh... Ayangg...!!" Pekik Zahwa menutup mula nya dengan kedua tangannya
"AHAHAHAHAHA"
"Jangan di tutupin dong wajahnya, saya mana bisa lihat merah-merah di pipi mu itu sayang.."
"Ihh Stop! Aku ga tahan di giniin" ucap Zahwa menunduk malu lalu mengambil bantal dan melemparnya pada Akhtar.
"Ahahahaha... Sudah iya tidak lagi. Sini A, makan lagi" ucap Akhtar menarik lembut dagu Zahwa lalu menyuap Zahwa lagi.
"Kamu makan juga dong Yank. A.." Alhtar menerima suapan Zahwa dan yaa bwgitu seterusnya hingga mie di piring itu habis.
"Nih susu nya" di sodorkannya susu yang sudah di minumnya setengah kepada Zahwa.
"Habisin" titah Akhtar karena Zahwa hanya meminum sedikit.
__ADS_1
"No" Zahwa menggelengkan kepalanya
"Habiskan atau saya meminumkannya dengan cara lain"
Lagi-lagi pipi Zahwa merona.
"Kenapa tingkat kemesuman kamu bertambah Yank.. ihh" omel Zahwa sebelum ia meneguk habis susu yang tinggal sedikit lagi
Akhtar tertawa kecil lalu mengangkat Zahwa ke pangkuannya.
"Itulah yang terjadi jika suami istri hanya tinggal berdua di dalam rumah" ucap Akhtar lalu membawa Zahwa ke kamar
Sesampainya di kamar ia mendudukkan Zahwa perlahan. Setelah itu ia ikut naik ke atas ranjang.
"Sekarang kita mulai hukuman kamu"
***
Sedangkan di benua yang lain, ada seorang wanita yang sangat gelisah setelah mendapatkan pesan di ponselnya.
Pesan yang berhasil membuatnya terkejut, yang isinya
📲 "Tunggu aku melamarmu"
"Apa sebenarnya yang aku takutkan?" Gumamnya berbicara pada dirinya sendiri
"Dia baik, dan juga idaman semua wanita. Tapi aku belum siap, aku belum ingin menikah" ucapnya lagi
"Sebaiknya aku harus bertanya pada Ustadzah apa yang harus aku lakukan"
Kringggg.... Kringggg.....
Handphone nya kembali berbunyi, ia mengangkat benda pipih itu dan melihat siapa yang menelpon. Oh ternyata dari sahabatnya. Jarinya bergerak menggeser icon hijau untuk mengangkat telponnya.
"..."
"..."
"Dua minggu lagi aku libur pondok. Aku balik ke rumah kok"
"..."
"InsyaaAllah bisa"
"..."
"Ohh okeyy.. aku akan usahakan ya.."
".."
" Aku do'a in semoga lancar sampai hari H ya"
"..."
"Okeyy beb, nanti aku ke konveksinya langsung aja deh. Yang lain duluan aja"
"..."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah"
Tit! Telpon terputus
"Satu per satu teman ku pun akan menikah yuhuuu" ucapnya bersenandung lalu mengambil keranjang pakaian kotor untuk di cuci.
***
Kembali lagi pada pesangan yang sedang asik berduaan ini. Saat ini Zahwa tengah di hukum membacakan asmaul husna beserta artinya sebanyak 33 kali. Sedangkan Akhtar berbaring di pangkuannya sambil mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Ya Haadii, pemberi petunjuk"
"Ya Badii, Tiada banding"
"Ya Baaqii, maha kekal"
" Ya Waarits, maha pewaris"
"Ya Rasyiid, Maha Pandai"
"Ya Shabuur, Maha penyabar"
"Alhamdulillah, selesaii" ucap Zahwa pelan penuh kelegaan setelah 1 jam menjalani hukuman yang di berikan suaminya.
Akhtar menyudahi tangannya mengelus perut Zahwa, ia mengecup nya lalu bangkit mencium kening Zahwa.
"Terima kasih sayang... Sudah menglafalkan asmaul husna kenap anak kita" ucap Akhtar memeluk Zahwa
Zahwa tersenyum ia turut membalas pelukan Akhtar. Suaminya ini tidak pernah memberikan yang namanya hukuman yang sesungguhnya, sebagai gantinya ia akan menyuruh Zahwa melakukan sesuatu yang sebenarnya kebaikannya balik kepada dirinya sendiri.
Seperti sekarang, hukuman yang di maksudkan bertujuan kepada dua hal, yang pertama sebagai ibadah untuk Zahwa terutama juga Akhtar sebagai pendengar yang tanpa suara ikut melafalkannya dan yang kedua, secara tidak langsung mereka telah mengajarkan anak dalam kandungan Zahwa Tauhid, mengenal nama-nama A.
Lagi-lagi ia sangat bersyukur di berikan pasangan hidup seperti Akhtar, jarang sekali lelaki seperti ini di zaman sekarang.
Akhtar memberikan segelas air yang di terima Zahwa lalu meminumnya setengah, sisanya di habiskan kembali oleh Akhtar.
"Selanjutnya hukuman kedua" ucap Akhtar menyeringai
Mata Zahwa melotot mendengar penuturan Akhtar. Badannya membeku saat Akhtar membacakan doa di ubun-ubunnya.
"Sayangghhh"
Satu jam berikutnya, peluh sudah membasahi keduanya. Bahkan AC pun tidak dapat mendinginkan hangatnya tubuh mereka.
Zahwa memiringkan badannya membelakangi Akhtar. Matanya sangat berat, badannya juga sudah sangat letih.
"Aku ngantuk yank.." gumam Zahwa saat Akhtar mencoba membangunkannya.
"Mandi dulu, setelah itu kita istirahat"
"Nanti saja"
"Jangan di tunda istrikuu"
"Haiss.. mata ku sangat berat"
"Tidak ada penolakan"
"Aaa" pekik Zahwa merasakan tubuhnya melayang
"Mari mandi bersama"
"Huffttt" Zahwa hanya menghela nafasnya pasrah
"Sayanghhh udah..aa-aku.. aakhh" rengek Zahwa tidak tahan saat tubuhnya kembali di gempur di ranjang
"Ssstt.. sebentar lagi" jawab Akhtar terengah-engah
Beberapa saat kemudian, Akhtar ambruk di samping Zahwa. Menenangkan diri sebentar, setelah itu mengajaknya mandi sebelum Zahwa kembali terlelap.
"Tidak mau!" Tolak Zahwa. Ia takut kembali di php-in dengan dalih 'setelah mandi langsung tidur' ia tidak ingin terperdaya lagi kali ini
"Saya serius, janji setelah ini tidak lagi. Kita langsung istirahat" ujar Akhtar meyakinkan
Mata Zahwa menyipit mencari keseriusan di mata Akhtar, setelah ia mendapatkannya. Ia keluar dari selimut dan mengiyakan ajakan Akhtar.
"Sini kita tidur" Akhtar menepuk-nepuk sprei yang baru ia ganti.
__ADS_1
Zahwa yang baru selesai berpakaian pun mendekat dan langsung membaringkan tubuhnya yang lelah