
"Nak..bawa baju mu itu keluar dari sini. Istri mu tidak tahan dengan baunya" ucap Bunda tepuk jidat.
"Ha? Oh iya. Baik Bunda " jawab Akhtar gelagapan.
Semua orang yang baru masuk ke kamar Zahwa geleng-geleng kepala melihat Ustadz tampan satu ini.
Setelah meletakkan baju nya di ruang laundry, Akhtar kembali naik ke kamar.
Saat Akhtar masuk ke dalam, semua orang menatapnya, membuat ia merasa seperti di intimidasi.
Tak lama, Azzam datang dengan membawa kantong plastik. Melihat Akhtar datang, Bunda membangunkan Zahwa.
"Nak... Sayang... Bangun dulu sebentar sayang..."
"Emmh" Zahwa dengan malas membuka matanya.
"Ada apa Bunda?"
"Ikut Bunda sebentar yuk, Sayang.." ucap Bunda lembut
"Kemana Bunda?"
"Ke toilet, sudah yuk...nanti juga tau" ucap Bunda membantu Zahwa bangun.
Melihat istrinya masih lemas, dengan cepat Akhtar membantu membopongnya ke kamar mandi.
"Eit.. sudah, nak kamu tidak boleh masuk. Ini urusan wanita" ucap Bunda Fatimah mendorong Akhtar agar keluar dari toilet. Dan di gantikan dengan Helwa yang masuk ke dalam.
"Tapi Bun-"
"Thar... Kita di sini saja, biar itu menjadi urusan ibu-ibu" ucap Azzam memanggil Akhtar agar duduk di sofa bersama mereka.
"Tayyib" ucap Akhtar lesu dan duduk di samping Azzam yang memangku Humaira sambil memakan cemilannya.
Mereka menunggu harap-harap cemas, apa sebenarnya yang mereka lakukan disana.
Nyatanya Akhtar tidak bisa diam, dengan duduk menunggu dengan tenang. Ia berjalan pelan mondar-mandir dengan khawatir, akan keadaan istrinya.
"Ck..ck..ck..." Decak Azzam geleng-geleng kepala menatap Akhtar.
Sedangkan di dalam...
Mereka sedang berdiri di depan kaca westafel kamar mandi tersebut.
"Nak, coba pakai ini" ucap Bunda Fatimah menyodorkan sesuatu dari plastik kepada Zahwa.
Zahwa menerimanya dan mengeluarkannya dari kotak. Jantunya berdetak lebih kencang saat melihat benda itu.
"B-bunda... I-ini..."
__ADS_1
Hm tespack, itulah benda yang saat itu ia pegang dengan perasaan gugup.
"Iya sayang...bismillah ya" ucap Bunda Fatimah mengelus kepalanya
"Coba saja dik, kita tidak tau apakah amanat itu sudah lama berada disini" sahut Helwa mengelus perut Zahwa.
"Hem..tapi, Wa-Wawa takut..ji-jika nanti..."
"Tenang sayang...jika memang belum rezeki ya tidak apa-apa. Tidak akan ada yang kecewa. Semua kita serahkan pada-Nya" ujar Bunda Fatimah sembari menghapus air mata Zahwa yang menetes.
Setelah itu Zahwa masuk ke dalam toilet, yang tempatnya lebih dalam dari tempat Bunda dan Helwa berdiri menunggu saat ini.
Ia memakai benda itu sesuai dengan tata cara yang ada di sampulnya.
Setelah selesai dengan ritualnya, ia menunggu sebentar. Dengan meletakkannya di pinggir bathup sambil menunggu dengan harap-harap cemas.
Ini lebih menegang kan daripada di hadapkan dengan ujian hafalan mendadak, seperti yang ia alami dulu saat di pondok.
"Huhhmm....huhmmm" bak orang kedinginan, badannya gemetar menunggu hasilnya.
Setelah menunggu beberapa saat, ia mendekati bathup tersebut lalu mengambil satu tespack di tangannya.
Ia memejamkan matanya, menguatkan hatinya untuk siap menerima apapun hasilnya. Menyiapkan hatinya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan jika yang di dapatkan adalah kekecewaan tidak sesuai dengan harapan.
"Bismillah..." Gumamnya.
Perlahan ia membuka matanya, dan melihat hasil yang ia terima.
Seketika tangannya bergetar, matanya memanas, air mata nya luruh seketika. Rasanya ia tidak sanggup lagi untuk berdiri.
"Aa..hah?? Ya Allah..i-ini.."
Tidak percaya apa yang di lihatnya. Ia mengambil dua tespack yang masih tergeletak di pinggir bathup.
Dadanya naik turun, tangannya yang gemetar itu mengusap matanya untuk memperjelas penglihatannya.
" Aaaa...." Jeritnya tak sadar.
"Bu-Bunda.." panggilnya
Ia menutup mulut tak menyangka ketiga tespack berbeda itu menunjukkan hasil yang sama.
...-POSITIF-...
"Aaah..ya Allah..Alhamdulillah... Aku akan menjadi seorang Ummi" gumamnya dalam hati bahagia
Ia segera menghampiri Bunda Fatimah dan Helwa di dekat pintu kamar mandi.
"Bu-Bunda... Kakak...hiks..A-a-aku...aahh" Zahwa menyodorkan hasil tespack itu pada mereka. Mata keduanya membola seketika
__ADS_1
"Aaahh..Alhamdulillah...ya Allah.." Dengan cepat keduanya memeluk Zahwa bersamaan.
Tidak ada yang lebih baik, selain kabar bahagia ini.
"Selamat Sayang..." Ucap mereka kompak pada Zahwa. Lalu mengelus perutnya bersamaan.
***
Sedangkan Ayah Ali, Azzam, Akhtar dan Zahra seketika berdiri saat mendengar teriakan Zahwa.
"Ya Salam.. ada apa?" Gumam Akhtar khawatir
Mereka saling pandang, tak terkecuali Humaira yang ikut terangkat di gendongan Azzam ikut mentap bingung pada orang-orang di sekitarnya.
Trek...ceklek...
Tak lama mereka keluar dari kamar mandi. Melihat Zahwa keluar dengan derai air mata, Akhtar berjalan mendekati Zahwa lalu memeluknya.
"Hiks..hiks..hiks.." isak tangis Zahwa membasahi pakaian Akhtar
"Sayang tenanglah.... ada apa? Apa yang terjadi di dalam tadi? Hustt... sudah jangan menangis, tenanglah katakam ada apa?" Bisik Akhtar semakin memeluk Zahwa dengan erat.
Bunda Fatimah mendekati Ayah Ali lalau memeluk pinggangnya. Sedangkan Helwa bersitatap dengan Azzam, lalu mengulum senyumnya mendekati suaminya.
Sedangkan Humaira yang sudah berpindah ke tangan Zahra merasa bingung, sama seperti orang yang menggendongnya.
"Hiks..hiks.."
"Hey..sudah..tenanglah sayang.." ucap Akhtar menciumi puncak kepala Zahwa
"Aduuh.." rintih Zahwa
" A-ada apa?" Tanya Akhtar menatap Zahwa yang di dekapannya.
Zahwa mendongak, menatap Akhtar.
" Kamu menyakitinya sayang.." ucap Zahwa sambil mengelus perutnya.
Ucapannya membuat Akhtar tidak mengerti, entah apa maksud istrinya itu. Siapa yang di sakiti? Bukankah hanya mereka berdua yang berpelukan?
" Hem???"
"Selamat, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Abi" bisik Zahwa lembut
***
Maaf bila ada kesalahan,
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ✨
__ADS_1