
"Selamat, kamu akan menjadi seorang Abi"
Deg
Tubuh Akhtar mematung, jantungnya seperti berhenti berdetak. tiba-tiba saja lelehan cairan bening jatuh dari matanya. Membuat tangan Zahwa terangkat untuk menghapusnya.
"coba ulangi" ucapnya dingin
"Selamat sayang..kamu akan menjadi seorang Abi,kita akan menjadi orang tua" ucap Zahwa sekali lagi
Akhtar menggigit bibir bawahnya, lalu memegang kedua wajah Zahwa agar menatap matanya.
"Katakan dengan jelas, saya mohon" pintanya lagi sesekali mengusap sudut matanya.
"Aku sedang mengandung anak mu sayang..anak kita" ucap Zahwa bahagia meletakkan tangan Akhtar di perutnya.
" Ini hadiah ku untuk mu" Zahwa memberikan ketiga testpack itu pada Akhtar
Akhtar melihatnya dengan jelas, ada 2 garis di setiap testpack yang berbeda itu.
"Alhamdulillah....Ya Allah...
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ” Ucap Akhtar dengan rasa syukur {2}
Artinya : "Segala puji bagi Allah, dengan kenikmatan dari-Nya menjadi sempurna semua amal kebaikan."
Setelahnya Akhtar turun setengah berdiri, lalu mendekatkan bibirnya ke perut Zahwa seraya membaca.
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ
Artinya:
“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa." {2}
Semua membaca doa itu untuk Zahwa
Setelah membacakan doa itu ia mencium perutnya sekilas. Lalu kembali berdiri memeluk Zahwa dengan perasaan sangat bahagia, senang, dan sangat bersyukur.
Saat akan mendekatkan wajahnya ke wajah Zahwa , tiba-tiba tubuhnya di tarik ke belakang.
"Sabar dong, di sini ada anak di bawah umur" ledek Azzam menyenggol Akhtar agar menyingkir dari hadapan Zahwa. Ia tidak ingin putrinya mendapatkan tontonan gratis yang tidak seharusnya.
"Cuma mau cium kening saja tidak boleh" gumam Akhtar pelan namun masih bisa di dengar Azzam.
"Tahanlah sebentar, kamu bisa melakukan apapun setelah kami keluar dari sini, ck..ck..ck.." cibir Azzam
"huuhh.." Akhtar hanya bisa menghela nafas pelan.
"Selamat Adikku... kamu akan menjadi seorang ibu, kamu tengah memegang amanah yang sangat luar biasanya. Menjalankan kodrat wanita yang sesungguhnya. Perasaan baru kemarin Abang menggendongmu di pundak ini, baru kemarin Abang memangku mu , dan bermain bersama mu. Tapi sekarang, sudah berbeda. Selamat..selamat Wa..semoga kalian sehat, tidak ada masalah dan kendala apapun, dan lancar sampai lahiran yah, aamiin" ucap Azzam memeluk Zahwa sambil menitikkan air mata.
"Terimakasih Bang Azzam, terimakasih telah menyayangi Wawa. Abang segalanya untuk Wawa.." balas Zahwa menghapus sudut mata Azzam.
Azzam mengulas senyum terbaiknya untuk adik yang sangat di sayangi nya.
Kini berganti dengan Ayah Ali, berusaha menahan air matanya. Ayah Ali mendongak menatap langit-langit kamar.
Ia tidak menyangka putri kecil yang dulu sering ia timang-timang akan menjadi seorang ibu, dan akan memberikan seorang cucu untuknya di masa tuanya nanti.
Tidak bisa berkata apa-apa, Ayah Ali langsung membawa Zahwa ke dalam pelukannya.
"hiks..hiks..A-Ayah.."
__ADS_1
"Putriku..selamat...kamu akan menjadi seorang ibu"
"Ayah...hiks.." Zahwa menumpahkan air mata bahagianya di dekapan sang Ayah.
Setelah beberapa saat, Ayah Ali melerai pelukannya, dan mengusap puncak kepala Zahwa lalu mengecup ubun-ubunnya.
Berganti dengan Ayah Ali, kini Zahra dan Humaira mendekat.
"onty Wa.. kenapa nanis???" tangan mungil itu mengusap pipi Zahwa dengan jari-jari kecilnya.
"Onty Wawa itu bukan sedang sedih Maira.. tapi sedang bahagia.." jawab Zahra
Humaira mendongak,
"Bahagia? Onty Wa abis di kaci adiah ya cama om danteng?" ucapnya polos
"Bukan Maira.. duh... gini ya sayang.. sekarang coba pegang perut Onty Wa" titah Zahra , ia mendekatkan Humaira ke perut Zahwa
" sekarang coba katakan ini , Baik-baik di cana ya dede bayyi, kami cemua menunggu mu.. we love yuuu..." tutur Zahra mengikuti cara bicara Humaira
" hmm..iya. Baik-baik di cana ya dede bayi..kami cemua menunggu mu...wi lof yuu..." ucap Humaira menuruti Zahra
Membuat semua orang tersenyum melihatnya.
"eh..Onty Ra, tundu cebental" ucap Humaira saat menyadari sesuatu
"apa Maira?"
" tandi Onty binlang dede bayyi.. belalti di pelut Onty Wa ada dede bayyi??" celetuk Humaira menaikkan kedua alisnya.
Semua orang mengulum senyum, Sungguh pintar bibit Azzam ini. MasyaaAllah..haha
" yeyyyy dede bayyii... Maira puna temen mainn...yeeeyyy" soraknya gembira
"matacih Onty Wa..."
"hm? untuk? "
"Udah tacih Maila dede bayii.. hihihi" ucap Humaira cekikikan
Membuat semua orang tertawa.
"Bukan Onty Wa, Maira... tapi berterimakasih pada Om Akhtar kar- "
"butan Om Atal Abi... tapi Om danteng!!" protes Humaira membuat Akhtar tersenyum bangga dan dengan sengaja menyenggol lengan Azzam sambil berdehem.
"hemm..yayaya.. Om Ganteng..issh" ralat Azzam dengan malas plus nada geli di ujung kalimatnya. Semua tertawa melihatnya
" Jadi, Maira harus berterima kasih pada Om ganteng karena dia yang membuat dede bayi, sama seperti Abi yang membuat Maira bersama Umma setiap ma- emmpptt"
"isssh...Abiii... ngomong apa sih, ngelantur aja ke anaknya" gerutu Helwa membekap mulut Azzam
"iya..iya...afwan sayang..uh.. Maira sayang.. lupakan yah cantik" ucap Azzam mengelus kedua telinga Humaira yang tertutup hijab.
"hu'um" Humaira hanya mengangguk saja, karena sejujurnya pun ia tidak tau apa yang di katakan Abi nya.
"Dik.. ayo duduk dulu, jangan lama-lama berdirinya, nanti kaki mu mudah lelah"ucap Helwa menuntun Zahwa untuk duduk
Ah ya, kini mereka berkumpul di kamar Zahwa bukan di ruang keluarga yang memang di buat untuk kumpul keluarga.
Azzam mengambil karpet bulu Zahwa dan menggelarnya di lantai, ia juga mengambil bad cover Zahwa,membukanya menjadi Lipatan segi empat lalu membentangkannya di tengah-tengah karpet bulu tersebut.
__ADS_1
Sadar jika Abi nya menyiapkan itu untuknya, Humaira meminta turun lalu berguling-guling ke bad cover tersebut sambil tertawa khas balitanya.
Semua orang tertawa melihat tingkah si mungil yang lucu itu.
"Oh iya dik, apakah sebelumnya kamu tidak pernah merasakan ada perubahan dalam dirimu? jujur sebenarnya dari awal kamu datang, Kakak sudah peka terhadap perubahan mu, maaf, kamu memang terlihat gemukan" ucap Helwa
"Apa ya Kak, aku tidak terlalu memikirkannya. Tapi aku sadar jika aku memang sangat banyak makan selama di rumah Umi. Karena setiap kami masak makanan atau cemilan, baru aku sadar, kebanyakan aku yang menghabiskannya" ucap Zahwa mengingat nafsunya, mulutnya itu selalu ingin mengunyah.
Semua orang menahan tawa mereka melihat bumil yang tidak di sadari ini semakin gembil.
Akhtar menoel pipi istrinya dari samping, setelah ia lepas tangannya pipi Zahwa bergetar dan menggembung sangking tembemnya.
"hem... mainan ku semakin empuk" gumam Akhtar dalam hati
"Dek.. kira-kira timbangan mu sudah di angka enam puluh berapa ya??" tanya Azzam menggoda
"ihhh... Abang.." rajuk Zahwa melempar Azzam dengan bantal sofa.
"Hahaha.."
"Abang mah gitu, suamiku saja tidak mempermasalahkan perubahan badan ku, sedangkan Abang...ih.." Zahwa memanyunkan bibirnya
"Tapi dek... perutmu itu lihatlah"
"Abang.. aku kan tidak tau aku sedang hamil, aku kira perutku menggembung begini karena aku sering makan malam dengan porsi yang dua kali lipat dari biasanya... setelah makan banyak aku kan ngantuk bang... ya ketiduran"
"Nah.. itu dia adikku sayang.. kamu tidak menyadari perubahan nafsu makan mu itu... bagaimana kalau kamu jajan sembarangan saat nafsu makan mu sedang meningkat lalu tanpa di sadari membahayakan janin mu, secara kan kamu tidak tau kalau kamu sedang hamil"
"uhh makasih Abang.....Sekarang Wawa mengerti, Wawa akan lebih hati-hati dalam segala hal" ucap Zahwa memeluk Azzam dari samping.
"Nah.. anak pintar" ucap Azzam mengelus kepalanya
"hihihihi...." cekikikan Humaira memecah keheningan.
"Oh iya nak, besok kalian cek ke rumah sakit yah, supaya kita tau sudah berapa usia kandungan mu dan apakah dia baik-baik saja" ucap Bunda Fatimah
Zahwa menatap Akhtar
"Baik Bunda.. besok kami akan ke rumah sakit. Tapi... Akhtar mau minta saran, kami pilih dokter nya cari yang baru atau Bunda punya kenalan.. supaya lebih aman Bunda" ucap Akhtar
" Bunda serahkan pada kalian nak, tapi kalau kalian lebih percaya sama Bunda. Bunda mau saranin kalian ke dokter kenalan Bunda saja, nanti Bunda telfon dia dan kasih nomornya ke kalian, untuk konsultasi. Bunda sudah kenal lama, dan InsyaaAllah akan lebih aman dan nyaman" ucap Bunda Fatimah
" Baik Bunda, Terimakasih" ucap Akhtar
.
"Baiklah kalau begitu kita keluar dulu, biarkan Wawa istirahat" ucap Ayah Ali setelah mereka puas 1 jam bercengkrama di kamar Zahwa
Semua mengangguk patuh dan menurut untuk keluar. Azzam menggendong Humaira yang sudah tertidur di tempatnya selama mereka berbicara.
Setelah semua keluar dan keadaan kamar lebih aman, Akhtar menutup pintu dan menguncinya. Setelah itu dengan cepat ia menggendong Zahwa ke ranjang.
.
***
{1}. Dari Aisyah R.a, Rasulullah apabila menyaksikan hal-hal yang beliau sukai (menyenangkan) maka beliau mengucapkan “ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ” “Alhamdulillah alladzi bini'matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan apabila beliau menyaksikan hal-hal yang disukai (tidak menyenangkan), maka beliau saw mengucapkan “ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ” “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” [HR Ibnu Majah]
{2} . Doa ini di beberapa riwayat dibaca oleh Nabi Zakariya AS ketika mengetahui sang Istri hamil. Doa positif hamil ini tercantum dalam QS Al-Imran ayat 38. Doa yang bisa dipanjatkan oleh pasangan suami istri yang diberkahi kehamilan.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAA... ✨
__ADS_1