Salah Khitbah

Salah Khitbah
144. SK 2 : REFRESHING


__ADS_3

Hari ini Akhtar akan mengajak Zahwa jalan-jalan dan kulineran seperti janji nya tadi malam.


setelah beristirahat di rumah selama tiga hari, membuat Zahwa cukup jenuh dan ingin jelan-jalan keluar.


Rencananya Akhtar akan membawa Zahwa


liburan ke tempat tempat yang dekat dengan lokasi mereka saja. Nanti baru ke tempat-tempat wisata lainnya.


Zahwa dengan semangat mempersiapkan diri dan keperluan mereka. Memastikan tidak ada yang tertinggal, ia kembali


menge-cek ulang barang bawaannya.


Akhtar menggenggam erat tangan Zahwa, selama mereka berjalan.


Ketika sedikit berdesakan dengan orang-orang, maka Akhtar akan mengurung Zahwa di dalam dekapannya untuk melindunginya.


Di tengah perjalanan, Zahwa menghentikan langkahnya saat melihat sebuah kedai es krim yang penjualnya melakukan atraksi yang cukup menyita perhatian.


Akhtar dengan segala kepekaannya, mengajak Zahwa untuk membeli es krim di sana.


"mau berapa?"


"dua boleh?" pinta Zahwa


"baiklah, kali ini boleh. Lain kali tidak boleh banyak-banyak ya" ucap Akhtar memperingati.


"hu'um" Zahwa mengangguk cepat


Saat akan mengambil es krim dari tongkat yang di sodorkan oleh penjual, tiba tiba ia si buat jantungan ketika eskrim tersebut di balikkan lalu di lemparkan ke atas.


Zahwa tertegun kaget sontak menahan nafas. Ia menghembuskan nafas teratur saat es krim tersebut di tangkap dan kembali utuh seperti bentuk semula.


"Ahahahaha" terdengar gelak tawa penonton setelah mereka jantungan seperti Zahwa.


Menyaksikan atraksi seperti itu cukup berhasil menggelitik perut Zahwa untuk terus tertawa dan berdecak kagum.


Mereka duduk di sebuah bangku untuk menikmati es krim tersebut. Karena Zahwa merasa sedikit kesusahan untuk memakannya. Mereka memutuskan untuk berjalan ke parkiran dan makan di dalam mobil.


Akhtar menghidupkan mode penggelap kaca agar tidak terlihat dari luar. Setelah itu ia membuka Cadar Zahwa yang langsung menikmati dua es krim sekaligus.


Setelah itu mereka kembali keluar dan melanjutkan jalan jalan mereka.

__ADS_1


"Yank.. kok rasanya aku pengen makan semua ya" ucap Zahwa sambil melihat seluruh jajaran penjual jajanan di pinggir jalan.


" Satu-satu aja ya, ingat sayang Allah membenci sesuatu yang berlebihan. Karena...."


"yang berlebihan itu tidak baik" sambung Zahwa


"pinter.." tangan Akhtar terangkat mengelus kepala Zahwa lalu mengecupnya


"tenang.. kita tinggal di sini. Kamu bisa makan apa aja di hari lain"


"hmm baiklah.." Zahwa mengangguk


Setelah itu Akhtar kembali menautkan jari-jari mereka lalu mengajak Zahwa melanjutkan jalan jalan mereka.


Saat akan tiba waktu sholat, Akhtar mengajak Zahwa untuk sholat di Blue Mosque. Sebuah icon di Istanbul yang memiliki sejarah yang rumit. Di katakan sebagai Mesjid Biru karena Kubahnya yang dahulu berwarna biru. Tapi sekarang warna pada kubah tersebut sudah pudar seiiring berjalannya waktu.


Tidak afdhol rasanya jika mengunjungi suatu tempat tapi tidak mengabadikannya. Mereka mengoleksi banyak foto di galeri hp mereka di setiap tempat yang mereka datangi. Zahwa tentu sangat senang ketika ia di bawa jalan jalan mengabsen satu per satu tempat yang biasanya banyak di datangi para pariwisatawan ke kota Istanbul.


Walau belum semua, tapi Zahwa sudah sangat merasa bersyukur bisa sampai dan berdiri di salah satu negara impiannya.


Sore hari, Zahwa mengeluh jika kakinya mulai merasakan kebas. Mereka memutuskan untuk pulang dan akan melanjutkan liburannya esok hari atau kapan saja.


Benda pipih yang di pegang Zahwa sedari tadi terus menyala, dengan senyum yang sesekali mengembang melihat foto foto dirinya dan juga Akhtar tadi siang.


Ponselnya bergetar, ia mendapat notifikasi pengingat jadwal, sudah waktunya ia minum susu .


Ia tersenyum sembari mematikan ponselnya, ini adalah ulah suaminya. Yang bahkan sampai memberikan pengingat di hp keduanya.


Ting! Bunyi pesan masuk


"Waktunya minum susu sayang ❤️, Sebentar lagi saya akan pulang. Tunggu Abba pulang ya nak 😻😘"


Zahwa mengulum senyumnya, semakin hari suaminya ini semakin romantis. Selalu saja punya banyak cara yang bisa membuatnya salah tingkah sendiri.


Tadi, setelah keduanya sampai di rumah. Tak lama kemudian datang telepon ke nomor Akhtar. Ternyata yang menelpon adalah ketua umum penanggung jawab Majlis milik Akhtar. Ia di beritahu ada yang ingin bertemu dengannya. Khawatir itu sangat penting, apalagi ini menyangkut tentang Majlis, tanpa pikir panjang Akhtar bersiap kemudian berangkat ke Majlis.


"Iya sayang, bukankah Habibie juga mengaktifkan pengingat di hp ku. Baru saja notifikasinya muncul. Hati-hati di jalan ya Abba, Umma tunggu di rumah 😘" ketik Zahwa memberi balasan kemudian mengirimnya.


Setelah itu ia pergi ke dapur untuk membuat susu sendiri.


"Glek..glek..glek..haahh..."

__ADS_1


Susu satu gelas penuh sudah habis di minumnya. Ia berjalan sedikit ke westafel lalu mencuci gelasnya.


Tangannya meraih serbet yang di gantung lalu mengeringkan tangannya dengan kain tersebut. Kepalanya menoleh menatap jam dinding.


"Habibie akan segera sampai, aku harus bersiap"


Zahwa pergi ke kamar mengganti pakaian, bersiap untuk menyambut Akhtar yang akan pulang. Dengan hati-hati Zahwa turun ke lantai bawah dan menunggu Akhtar dengan duduk di sofa.


Benar saja, tak berapa lama, deru suaara mobil Akhtar pun terdengar memasuki garasi. Akhtar masuk dengan hati bahagia, karena istrinya dengan tampil cantik setia menunggunya dan menyambutnya pulang.


"Cup" satu kecupan di kening Zahwa dapatkan


"Ayo ke kamar" ajak Akhtar merangkul pinggang Zahwa


Berbeda dengan pasangan yang sedang manis-manisnya ini. Di benua sebelah, ada seorang pria yang tengah melamun di sofa yang berada di ruang kerjanya


Hari sudah malam tapi ia belum berniat untuk beranjak dari sana. Entah apa yang di pikirkannya tapi saat ini tatapan matanya kosong dan nanar.


Pikirannya kembali kilas balik beberapa tahun silam. Dimana ia tak jadi menikah dengan wanita pilihannya. Perjuangan dan kenangan indah semasa di pondok di malam yang teramat dingin ini terekam jelas diingatannya.


Bukan ia tak ikhlas dan menerima takdir. Tapi ia menyayangkan dirinya sendiri yang masih tertutup soal perasaan. Bukan sekali dua kali kedua orang tua mendesaknya mencari pendamping hidup, bukan satu dua juga cv juga lamaran secara terang-terangan ia terima dari beberapa wanita.


Entah apa tujuannya menetap di negara Mesir ini, ia sendiri bingung apakah ia kembali saja ke tanah air atau tetap disini, melanglang buana tanpa arah dan tujuan.


Hari-harinya hanya di isi dengan belajar dan mengajar, tidak ada niat dirinya untuk meminang seorang wanita menjadi pendamping hidupnya. Tapi ini soal perasaan yang tidak mudah untuk menerima yang baru.


Lama ia terbuai akan lamunan yang menyesatkan. Hingga pada akhirnya ia tersadar dan mengucap mengampunan.


"Astghfirullahal'adziim.. maaf kan hamba Ya Allah.. maafkan hamba" ia mengusap kedua wajahnya untuk menyadarkan kembali akal sehatnya


"Fatih.. ayo bangkit, dia sudah bahagia dengan takdirnya. Kini giliranmu yang mencari kebahagiaan mu"


Kata-kata itu kembali ia tanamkan dalam hati sama seperti ketika ia mendengar kabar bahwa wanita yang dulu ia cinta sudah di pawangi oleh sepupunya sendiri.


"Assalamu'alaikum... Pak ini tugas terakhir saya" ucap seseorang yang entah dari kapan berdiri di depan ruangannya.


Fatih segera berbalik dan menatap wanita yang selama beberapa waktu terakhir ini ia bimbing belajarnya.


Wanita yang umurnya sama dengan si dia, dengan sopan dan tutur bahasa yang sama lembutnya.


"Maaf Pak, saya sudah letakkan di meja Bapak. Saya permisi Pak. Assalamu'alaikum" tak butuh waktu lama. Wanita itu sudah hilang dari pandangannya. Ia memejamkan matanya yang selama sehari ini sudah sangat menambah dosanya.

__ADS_1


Fatih bangkit, dan duduk di kursi kerjanya. Mengalihkan pikirannya dengan memeriksan tugas ujian akhir dari murid privatnya.


__ADS_2