Salah Khitbah

Salah Khitbah
33. SK : Umi Alya


__ADS_3

...H A P P Y R E A D I N G...


Hari itu pun tiba, kini semua persiapan sudah selesai selepas subuh tadi, kini semua santri dan santriwati akan di giring menuju suatu Aula. Berbeda dengan santriwati lainnya Zahwa Mary Equeena justru sedang sibuk di suruh ini itu oleh mbak yang juga membantu di ndalem.


"Ukhty...ini anterin ke belakang dong ana ingin menyusul Umi Alya" ucap salah satu mbak santriwati abadi pada Zahwa. Ia memberikan ember yang penuh dengan piring yang seharusnya menjadi tugasnya untuk mencucinya kini ia serahkan pada Zahwa yang justru mendapat tugas menyusul Umi Alya.


Karena mbak santriwati ini terkenal galak dan tidak segan-segan, Zahwa memilih diam dan mengalah. Ia menerima ember besar itu dengan lapang dada. Dengan sedikit kesusahan karena tubuhnya yang mungil harus mengangkat sebuah ember besar yang bahkan ia masuk di dalamnya.


Zahwa berjalan tertatih, sampainya ia di belakang segera ia menurunkan ember berat itu dan meluruskan pinggangnya.


Ia mencari sebuah bangku kecil untuk dudukannya. Lalu meletakkannya di dekat ember tadi. Ia mengisi ember lain dengan air, dan mulai mencuci piring kotor tersebut.


Tangannya memegang beberapa garpu besi dan akan menyiramnya dengan air, tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya. Hingga sendok-sendok itu jatuh ke air dan mengenai bajunya.


"Ya Allah...basah kan..padahal batu ganti" lirih Zahwa


"Ukhty Mary....Ukhty Mary... Ukh~


Loh anti disini, Allah Kareem anti sudah di tunggu Umi di depan kenapa anti yang mengerjakan ini, harusnya kan si mbak abadi itu" pekik santriwati tesebut.


" Kan tadi mbaknya udah nyusul Umi" ucap Zahwa


"Sabar..sabar... Yang di tugaskan siapa?" Tanya santriwati tersebut mengelus dadanya


"Di tulis nama ana"


"Nah...kalau gitu kenapa ga kesana...Astaghfirulah..." Lalu santriwati tersebut menarik Zahwa yang hanya diam. Lalu menyeret Zahwa ke ruang tengah tempat Umi Alya berada. Zahwa diam saja mengikut kemana Santriwati itu akan membawanya.


"Afwan Umi, ini dia mbak Mary nya" ucap Santriwati tersebut melepaskan tangannya dari lengan Zahwa dan menunduk hormat pada Umi Alya.


" Zahwa...Umi sudah tunggu dari tadi. Loh ini bajunya kenapa basah?" Ucap Umi Alya lembut


Zahwa menunduk


"Afwan Umi tadi ana nyuci piring di belakang, dan ini tak sengaja terkena jipratan air saat menyiram~ "


"Hmm baiklah, Umi mengerti" ucap Umi Alya memotong ucapan Zahwa, karena sebenarnya ia tau apa yang terjadi.


"Mbak...tolong periksa di dapur yah" ucap Umi Alya pada mbak santriwati yang tadi menarik Zahwa.


"Njih Umi ,Mbak Mary... Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"


Setelah kepergian santriwati tersebut Umi Alya mendekati Zahwa dan memegang pundaknya.


"Nak..ikut Umi yuk, baju kamu basah nanti masuk angin" ucap Umi Alya sambil tersenyum lembut pada Zahwa. Seketika ia teringat pada Bunda Fatimah, ia rindu.


"Ana balik ke asrama saja Umi" ucap Zahwa menunduk sopan.


Umi Alya meraih dagu Zahwa

__ADS_1


"Kelamaan, keburu tamunya dateng. Yuk siap-siap" Umi Alya menarik tangan Zahwa lalu mengajaknya ke suatu kamar. Jelasnya ia tak tau pasti kamar siapa ini, karena tidak ada tanda di sana. Umi Alya mendudukkannya di kursi rias.


Dengan ragu Zahwa menurut.


"Tunggu sebentar yah.." Umi Alya meninggalkan Zahwa di kamar tersebut dan pergi entah kemana.


Zahwa memonitor setiap sudut ruangan itu, rapi dan bersih, kamar ini sangat nyaman. Di tambah ada pengharum ruangan yang sangat menenangkan. Sesekali Zahwa memejamkan matanya menikmati aroma lavender tersebut.


Tak lama Umi Alya datang dan membawa sebuah stelan gamis pada Zahwa.


"Ini, pakai ini ya. Ini adalah baju Umi karena kekecilan jadinya tidak terpakai. Sepertinya cocok buat kamu" ucap Umi Alya menyodorkan gamis itu pada Zahwa.


"Umi..ini.."


"Sstt...pakai saja yah. Umi tunggu di depan" ucap Umi Alya lalu keluar dari kamar itu tak lupa menutup pintunya.


Zahwa memperhatikan gamis itu, ia membentangkannya ia atas ranjang yang ada. Sungguh, gamis yang manis...Ternyata ada niqab nya juga. Simpel tapi manis.


Ia mengganti gamisnya yang basah tadi dengan gamis tersebut. Ia melihat pantulan dirinya di kaca, waah sangat cantik. Takut Umi Alya kembali menunggu lama, Zahwa segera keluar dari kamar itu dan menyusul Umi Alya keluar.


Tak lama..


"Umi..."


Umi Alya berbalik


"Iyaa...Ma Syaa Allah...sangat pas untuk mu nak. Ayo kita segera ke depan" ucap Umi Alya berbinar, setelah itu mengajak Zahwa ke depan untuk menyambut tamu serta memberikan tanda terimakasih.


Hingga akhirnya sebuah mobil masuk ke pekarangan pesantren, keluarga ndalem mendekat ke mobil itu. Hingga akhirnya Zahwa memutuskan untuk pergi dari sana.


"Umi...ana ke belakang dulu ya" ucap Zahwa hati-hati, mendengar itu Umi Alya langsung mengerti kalau akan ada kumpul keluarga inti disini. Karena merasa ia tidak berkepentingan jadi ia memilik mundur, padahal Umi Alya tidak masalah malah ia ingin Zahwa tetap berada di sampingnya, tapi karena Zahwa merasa tidak nyaman apa boleh buat.


"Tafaddholiy nak, tapi jangan jauh-jauh ya" pinta Umi Alya


Awalnya Zahwa bingung, tetapi pada akhirnya ia mengangguk.


Tanpa ia sadari seseorang yang baru turun dari sebuah mobil sedang diam-diam memperhatikannya. Walaupun Zahwa memakai niqab, ia yakin bahwa itu adalah si gadis kecil. Senyum kecil tampak dari bibirnya.


Setelah kepergian Zahwa ia kembali melanjutkan langkahnya dan bersalaman dengan seluruh anggota keluarga.


Zahwa kembali ke asrama, ia yakin kalau Dini dan Linda akan menunggunya terlebih dahulu. Benar saja, saat ia masuk ke kamar, ia melihat mereka sedang menepuk-nepuk bantal mereka seolah sedang bermain gendang sambil membaca nadhom Alfiyah.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, ehh ini anti Zah? Udah dateng" ucap mereka


Mereka memperhatikan Zahwa dari atas sampai bawah lalu berdecak kagum


" Zah dari mana anti mendapatkan gaun indah ini?"


"Iya, bukankah saat pergi anti tidak memkai ini?" Tanya mereka beruntun

__ADS_1


Ya memang benar. Lalu Zahwa mencaritakan semuanya pada mereka.


"O...owwwwoooo begitu, wahh Umi Alya baik. Mertua idaman hm" ucap Linda mesem-mesem


"Kang Fadil sama ana" ucap Dini memancing Linda


"Ehhh...ya..ya..jangan....ihh..malu." ucap Linda malu-malu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ahahahaha" tawa Dini dan Zahwa pecah melihat ekspresi tak biasa itu dari wajah Linda


"Sudah..sudah..yuk kita pergi. Acara akan di mulai" ucap Zahwa


"Beik"


"Beik"


Mereka lalu mengambil niqab masing-masing lalu memakainya setelah selesai mereka pergi ke Aula.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Acara berjalan lancar, pengajian berlangsung dengan khidmat. Setelah pengajian selesai dan sudah pembacaan doa saatnya acara penutup apalagi kalau bukan makan. Linda dan Dini antusias menerima kotak makan mereka.


"Dasar tulang makan" julid seorang santriwati yang sejak tadi memperhatikan mereka


"Ga makan ga hidup!" Jawab mereka kompak lalu pergi meninggalkan santriwati tersebut dengan perasaan jengekel


"Awas saja kalian....uh.." ucapnya dengan tangan mengepal.


Berbeda dengan Linda dan Dini, Zahwa di tarik ke ndalem untuk makan duluan di sana. Karena setelah semua selesai makan tempat akan di bersihkan oleh Kang Santri.


Saat akan kembali ke dapur


BUGH...

__ADS_1


Zahwa menabrak sesuatu.


__ADS_2