
Keesokan harinya
Zahwa bangun dengan mata yang masih sembab. Dan sepertinya hidungnya tersumbat karena tiba-tiba flu saat nangis semalam.
Zahwa menggeliat pelan. Meregangkan otot-ototnya lalu meletakkan kedua tangannya di atas perutnya.
Perlahan matanya terbuka, tapi nyawanya belum terkumpul seluruhnya. Pusing. Itulah yang ia rasakan saat ini.
Kakinya saling bergesekan di dalam selimut, mencari kenyamanan dan kehangatan, karena pagi ini sangat dingin.
Ia melirik kemeja Akhtar yang masih di pelukannya, ia menariknya hingga menyentuh pipi mulusnya.
Jl
Setelah di rasa badannya sudah kuat berdiri, ia mencoba bangun walau tangannya masih bergetar.
"Huuhh..." Lirihnya. Setelah itu ia pergi ke kamar mandi.
Sedikit lagi ia akan menggapai gagang pintu, tiba-tiba..
'Bugh!' Zahwa merasa penglihatannya berputar, ia jatuh hingga terdengar suara benturan tubuhnya pada pintu.
"Astaghfirullah.." ringisnya menahan sakit di seluruh badannya.
Umi yang sedang mengambil air minum, merasa khawatir mendengar suara debukan dari kamar atas.
Dengan gerakan cepat, Umi naik ke atas dan membuka kamar Zahwa yang memang tidak di kunci semalam.
"Astaghfirullah..sayang.." pekik Umi menghampiri Zahwa.
Umi menepuk-nepuk pipinya tapi sepertinya Zahwa pingsan. Umi segera mengambil kain untuk menutupi rambut Zahwa. Lalu berteriak memanggil Buya
"Abiii..Abiii...Abii...Abii Mary pingsan Bi...Abii..",
Brakk!!
"Astaghfirullah...Nak Mary.."
"Angkat Bii!!"
Zahwa di gendong oleh Buya ke ranjang, membaringkannya di sana. Umi menggosok kaki Zahwa. Lalu beralih mendekatkan minyak kayu putih ke hidungnya.
"Hik..uhuk..uhuk.." Zahwa sadar langsung terbatuk-batuk tenggorokannya kering, bau minyak kayu putih yang sangat banyak di hirupnya membuat ia semakin pusing. Karena memang dia lebih suka minyak telon dari pada minyak kayu putih.
"Alhamdulillah..kamu sudah sadar nak"
"I-iya Mi..U-umi..minum.." ucapnya serak
"Ini nak" Umi menyodorkan segelas air yang langsung di teguk habis oleh Zahwa.
"Pu-sing..hiks.."gumamnya pelan. Sakit di kepalanya semakin menjadi.
"Tidak usah berkegiatan dulu ya Nak, kamu istirahat dulu sampai kamu pulih. Jangan terlalu memikirkan Zi, Abi yakin tidak lama lagi ia akan pulang" ucap Buya membuat wajah Zahwa sedikit tersenyum
"Abi..benarkah?"
"Iya nak, kamu istirahat yah" Zahwa mengangguk. Setelah itu Buya keluar, sedangkan Umi membantu Zahwa mengirit kepalanya.
Beberapa saat kemudian..
"Bagaimana nak?"
"Umi..Mary ngantuk lagi.." ucap Zahwa pelan
"Yasudah kamu tidur lagi saja ya.."
"Iya Umi..maaf tidak bisa membantu Umi masak dan beres-beres.. nanti kalau su~"
"Sstt..kesehatan menantu Umi lebih penting. Kamu tidak usah khawatir tentang itu. Banyak mbak santri yang akan membantu Umi nanti"
"Terimakasih Umi..Umi sudah merawat Mary selama Mary sakit, menyayangi Mary seperti anak kandung Umi sendiri, terimakasih atas kasih sayang Umi pada Mary.." lirih Zahwa tersenyum
"Sudah hakikat seorang ibu menyayangi anak nya sayang...kamu istirahat yah" balas Umi mengelus kepala Zahwa
Zahwa mengangguk dan memejamkan matanya.
***
Siang hari..
Zahwa sedang duduk di ayunan depan rumah. Kepalanya ia sandarkan pada salah satu besi di sebelahnya. Mengedarkan pandanganya melihat para santri yang sedang berlalu lalang.
"Assalamu'alaikum Ustadzah..." Beberapa santri yang kebetulan lewat menyapanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah.." jawab Zahwa sedikit menundukkan kepalanya.
Ia memalingkan wajahnya melihat Umi berjalan cepat ke arah nya sambil membawa pinsel di tangannya.
__ADS_1
"Nak..ini suami mu"
Mata Zahwa berbinar, rasa senangnya membuncah, pusing di kepalanya sudah sedikit berkurang mendengar suara orang yang ia rindukan semalaman.
"Assalamu'alaikum..." Suara yang ia nanti-nantikan terdengar merdu di telinganya saat ini. Ia menatap Umi, bertanya lewat matanya apakah ini benar suami nya. Umi mengangguk. Membuat ia tersenyum haru
"Wa'alaikumussalam.."
"Sayang...kamu sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja" jawab Zahwa menutupi yang sebenarnya. Ia tidak ingin Suaminya khawatir padanya di sana.
"Hem..syukurlah..maaf semalam batrai handphone saya habis dan tafi malam mati lampu, jadi tidak bisa mengabari mu. Maaf sudah membuat mu khawatir"
"Iya kamu jahat sudah membuat ku khawatir, tapi tidak mengapa. Sekarang aku sudah lega karena kamu baik-baik saja"
Umi yang mendengar percakapan mereka tersenyum geli.
"Sayang..saya punya kabar gembira"
"Kabar gembira? Apa?"
"Alhamdulillah..Kiyai Kholid sudah sembuh. Dan kemungkinan tidak lama lagi saya akan pulang."
Zahwa senang bukan kepala. Ia bersitatap dengan Umi yang sama terlihat bahagia. Lalu mereka berpelukan.
"Benarkah? Alhamdulillah..kami menunggu mu sayang..cepatlah pulang"
"InsyaaAllah..saya usahakan ya Queen.."
"Iya Bib"
"Baiklah saya sudah menyampaikan ini, dan sekaramg saya akan menemani Kiyai untuk cek up sebentar. Sudah ya sayang...Assalamu'alaikum.."
"Iya sayang...Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
Tit...panggilan terputus
"Umii....suami Mary akan pulang.." sorak gembira Zahwa memeluk Umi
"Iya nak.." ucap Umi bahagia
Siang itu, senyum Zahwa selalu mengembang. Membuat Abi dan Umi yang melihatnya ikut bahagia.
***
Sore ini ia meminta izin untuk berjalan-jalan di sekitar pesantren.
Hatinya merasa terpanggil untuk mendatangi mereka. Ia berjalan mendekat. Beberapa santriwati yang menyadari ke hadirannya langsung menunduk takut dan menggeser sedikit mmberi ruang untuk nya.
"Assalamu'alaikum Ustadzah.."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Antunna semua sedang apa?" Tanya Zahwa ikut duduk
"Em..a-anu..afwan jiddan Ustadzah..nahnu tidak ikut ekskul.."
"Loh..ini ditanya apa di jawab apa" batin Zahwa
"Ohh antunna bolos nih cerita nya" jawab Zahwa santai sambil melihat apa yang sefang mereka kerjakan
"Iya Zah, afwan jangan laporin nahnu ya Ustadzah.."
"Hemm baiklah, ana juga pernah begitu" jawab Zahwa membuat mereka bernafas lega.
" Antunna sedang apa?"
"Nahnu sedang nge-rujak Ustadzah.."
"Ini mangga yang di belakang?"
"Na'am Ustadzah"
"Yasudah, yuk kita ngerujak" ucap Zahwa membuat seluruh nya melongo.
Padahal dalam hati tadi sudah was-was akan kena marah, ternyata ini tidak,malah seorang istri dari anak pemilik pesantren sangat ramah ingin bergabung dengan mereka.
'wahai para santriwati, berbahagialah Ustadzah kalian yang satu ini sedang berbahagia'~author
Dengan perasaan gembira dan rasa persaudaraan yang erat mereka terlihat akrab, merujak bersama dengan oenuh suka cita. Saling membantu agar tetcipta sebuah rujak yang akan di nikmati bersama.
Hingga beberapa saat kemudian, sebaskom rujak sudah siap di santap.
Mereka bersorak ria setelah mengucap basmalah sebagai permulaan.
"Uhh...nikmat..ni rujak enak benner.."
"Slurruuppopo.uhhhss...enak...ga sia-sia Ustadzah nyanoerin kita, bumbunya pas "
__ADS_1
Begitulah celotehan mereka saat makan. Zahwa juga menikmati rujak nya hingga ia merasa kurang puas. Dan meminta cabe giling lagi.
"Ukhty...cabai giling nya masih ada tidak?"
"Ada Ustadzah...ini"
Setelah menerima cabai itu, ia menuangkan banyak ke mangkuk nya.
Ia memakannya, alisnya terangkat tabda ia menikmati makananya. Dan rasa nya juga lebih enak dari tadi.
Melihat cara makan Zahwa yang sangat enak. Mereka meminta untuk mencoba punya Zahwa.
Tentu dengan senang hati, Zahwa memberikannya.
Satu suapan....ya..lumayan lah..tapi level pedasnya meningkat sungguh nikmat..
Dua suapan.... " Uwekkk...." Rata-rata dari mereka langsung melepehi rujak bagian Zahwa. Dan beberapa dari mereka langsung cicing mencari toilet
Sungguh rujak milik Ustadzah satu ini benar-benar menguji ketangkasan usus...
Tinggal ia dengan tiga orang santriwati tersisa. Zahwa yang sudah kenyang, memilih pulang sebelumnya sudah berterima kasih pada mereka.
Karena ada sisa satu mangkuk rujak yang belum di pegang, memang sengaja di simpan buat tambahan bagi yang ingin nambah, Zahwa putuskan untuk membawanya pulang.
'maaf ya para santriwati yang budiman. Author lupa bilang kalau Ustadzah kalian ini level pedas nya uh....ahahaha'
***
Sampai nya di rumah, Zahwa memasukkan mangkuk itu ke kulkas. Setelah sholat magrib. Ia memilih menonton tv di ruang keluarga. Tak lupa rujak yang ia simpan tadi.
Tak lama Umi datang, dan duduk di sebelahnya.
"Nak..lagi makan apa?" Zahwa menoleh
"Hem? Oh ini, rujak Umi. Bikin bareng sama anak santri di taman belakang" jawab Zahwa
"Duh.. itu merah banget..tapi sepertinya menggiurkan" ucap Umi menelan ludah
"Umi mau coba? Ini Umi" Zahwa menyodorkan mangkuknya sekaligus memberikan sebatang tusuk pada Umi
"Astaghfirullah...uhukk..uhuk...ini pedas..uhuk..sekali..uhuk..uhuk.." ucap Umi merasa lidahnya terbakar juga hidungnya terasa perih sehingha membuatnya terbatuk-batuk.
"Eh..eh..Umi.." Zahwa menyodorkan segelas air oada Umi langsung di teguk habis.
"Umi tidak suka pedas ya?"
" Suka, tapi tidak seperti ini juga Sayang...sudah ya..nanti kamu sakit perut.."
"Umi..ini tidak terlalu pedas kok. Jangan Umi, Mary masih mau makan.."
"Sudah ya nak..jangan lagi.."
"U~ "
"Assalamu'alaikum.."
Buya datang dengan terburu-buru memotong ucapan Zahwa.
" Wa'alaikumussalam. Ada apa Abi?"
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiu'un.. Kiyai Kholid telah berpulang ke rahmatullah sore tadi"
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiu'un.." Ucap keduanya tertegun.
"Yahh..Abi..Kak Akhtar tidak jadi pulang sekarang.." ucap Zahwa lesu
Umi dan Buya saling tatap, menelan ludah kasar .
"Sayang..." Umi mengelus lengan Zahwa
Wajah Zahwa kembali kusut bibirnya mengerucut.
"Hhftt..." Terdengar helaan nafas darinya.
"Sabar ya nak..saat ini sedang ada musibah.." ucap Buya
"sebenarnya hari ini aku sedang di beri kabar apa? hiks" batinnya
Zahwa mengangguk..dengan rasa sedikit ketidakrelaan. Ia lampiaskan pada mangkuk di depannya.
Tangannya mulai menyapkan potongan rujak itu ke mulutnya. Sebelum itu..
"JANGAANNN!!!!" Umi dan Buya menghentinnya .
****
Ihh Author sampe ngiler loh bayangin rujak nya Zahwa. Kemaren Author ketiduran maaf ya..btw up nya udah Author panjangin sebagai gantinya.
__ADS_1
Jejaknya jangan tinggal yaa..kalau banyak kita bakal ngerujak rame-rame bareng Wawa..🤣
Ga ah serius.. kalau Jejak nya mantap. Up nya juga mantap ✨