
"Tidak, Azzam akan tetap menikahinya" ucap Azzam tiba-tiba membuat suasana menjadi kelam seketika
Tidak ada yang berbicara. Hening!
Sedangkan gadis itu kini menatap tak percaya pada Azzam. Ini sungguh membuatnya syok.
Apa apaan dia, nanti semua orang akan berfikir kalau itu adalah benar. Apa lagi ini?
Ayah Ali hanya tersenyum samar. Bunda Fatimah melepaskan pelukannya, dan gantian Ning Fatya yang merangkul gadis itu. Bunda Fatimah mendekat pada Azzam seolah meminta penjelasan namun Azzam hanya diam dan memeluk erat wanita yang sangat dia cintai itu.
Kini para Santri sudah di bubarkan agar kembali ke kamar masing-masing dan para Ustadz dan Ustadzah pun kini sudah bubar. Mereka semua paham ini adalah urusan keluarga inti. Dan membiarkan keluarga itu menyelesaikan masalah itu.
Ning Fatya membawa gadis itu ke ndalem untuk membersihkan tubuhnya juga mengobati lukanya. Gadis itu hanya menurut, ia sendiri tidak tau harus bagaimana lagi.
"Entah apa yang ada di pikiran pria itu" itulah yang berputar di otaknya saat ini. Matanya sempat saling beradu dengan mata Azzam yang melihatnya dengan tatapan penuh keyakinan. Ia mencari keraguan di sana namun tidak ada. Hatinya tak nyaman, ia segera melempar pandangannya ke sembarang arah.
***
Kini di ruangan itu hanya ada Gus Afnan, Ayah Ali, Bunda Fatimah, dan Azzam.
Azzam duduk di depan ketiga orang yang lebih tua dari nya itu. Seakan sedang di intimidasi rasanya, lihat lah tatapan tajam Bunda Fatimah itu.
"Khemm" ia berdehem untuk menghilangkan kegugupannya. Kini ia berpindah, ia sungkem-an seorang diri di kaki Bunda Fatimah. Perlahan ia meraih kedua tangan Bunda Fatimah dan menciumnya. Matanya menatap manik teduh milik Bunda nya itu.
"Bunda..."
Pandangannya beralih kepada Ayah Ali yang juga sedang menatapnya
"Ayah.."
"Azzam ingin meminta izin untuk menikahi gadis itu" ucap Azzam menatap orang tuanya secara bergantian.
"Hemm, apa alasan mu" ucap Ayah Ali
Azzam menunduk
"Azzam ingin menebus kesalahan Azzam karena ini ia terluka dan karena Azzam ia juga syok. Walau ini adalah kesalahpahaman Azzam tetap ingin menikahinya"
Azzam menjeda ucapannya dan langsung di ambil alih oleh Ayah Ali
"Kau ingin menikahi ya karena kasihan? Kalau kau merasa bersalah itu artinya ini pernah terjadi sebelumnya. Benarkan?" ucap Ayah Ali membuat Azzam speechless
"Bu-bukan. Ti-tidak Yah. Ayah percaya sama Azzam, Azzam tidak pernah melakukan hal seperti itu. Azzam ini anak Ayah"
"Justru karena kau adalah anakku makanya aku bisa berbicara seperti itu" ucap Ayah Ali menyeringai
__ADS_1
Matanya beradu dengan Ayah Ali
Setelah sepersekian detik, ia memutus kontak mata itu terlebih dahulu. Tidak mungkin ia melawan Ayah yang sangat ia hormati
"Ayah percaya pada Azzam. Azzam ingin menikahiinya karena ada alasannya"
"apa alasannya?"
" Karena....karena..."
" Karena apa Zam? Ayah tidak pernah mengajarimu untuk jadi banci seperti ini" ucap Ayah Ali terus memancing Azzam
Azzam terdiam.
"arrgghh...Ayah pasti ingin menjebak ku dengan kata-kata ku sendiri. Ayah sengaja ingin menyudutkan ku. Ya Allah..bagaimana mungkin aku jujur pada mereka"
"Apa kau yakin?" Ucap Bunda Fatimah yang baru membuka suara
***
Sedangkan di tempat lain
Gadis itu kini sudah lebih baik, ia sudah mandi dan lebih segar. Saat ini Ning Fatya sedang membantunya membalut luka nya. Awalnya ia menolak dan ingin melakukannya sendiri namun di tentang keras oleh Ning Fatya.
Warna nya merah, perih saat di teteskan ke luka. Bau nya sangat menyengat. Awalnya akan menderita tapi itu tak berlangsung lama setelah itu tidak kan perih lagi. Luka ya akan cepat kering dan tidak berbekas. Persis seperti yang Ning Fatya katakan pada ya tadi.
" Kamu makan dulu ya nak" ucap Ning Fatya lembut
Gadis itu menggeleng pelan sebagai penolakan.
"Makanlah sedikit, agar kau lebih bertenaga. Lihatlah wajah mu pucat sekali nak. Makan ya? " Bujuk Ning Fatya lagi.
Melihat perhatian Ning Fatya padanya membuatnya tak bisa menolak permintaan itu.
"Ya Allah... Bagaiamana ini Ning Fatya sangatlah baik. Aku tidak tega jika harus menolaknya. Baiklah aku akan melawan rasa tidak ingin makannya ku ini. Walau tak berselera tapi Ning Fatya benar aku harus makan agar memiliki tenaga. Tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini" batin gadis itu .
Setelah makan ia duduk di temani oleh Rizki dan Ridwan. Ning Fatya menyuruh mereka untuk menemani gadis itu sebentar. Juga agar dia terhibur karena ada mereka yang setiap bertemu akan ada perdebatan kecil, dan akan membuatnya melupakan kejadian barusan.
Ning Fatya kembali ke ruangan khusus tadi. Ia duduk di samping Gus Afnan, suaminya.
"Bunda..." ucap Azzam pelan
"Apa Azzam yakin dengan keputusan mu itu nak?" Tanya Bunda Fatimah mengulang pertanyaannya.
" Yakin Bunda. Kalau tidak mana mungkin Azzam meminta restu langsung saat ini" ucap Azzam
__ADS_1
Mendengar itu Ning Fatya mengerut bingung.
"Restu? Untuk apa?" Gumam Ning Fatya yang masih terdengar oleh Gus Afnan.
"Untuk apa kau lakukan itu Zam. Mengapa kau mengambil keputusan terburu-buru seperti ini" Gus Afnan akhirnya buka suara.
Ning Fatya semakin pusing tak mengerti akhirnya memilih diam menyimak saja.
"Tidak paman, kalau pun kejadian ini tidak terjadi Azzam pasti juga akan meminta restu ini pada Ayah dan Bunda"
Hah!?
Kedua sudut bibir Ayah Alu semakin nampak tertarik ke belakang. Ia tau pasti ada sesuatu yang di sembunyikan anak nya ini. Namun ia ingin Azzam yang mengatakannya padanya.
"Azzam akan menikahinya" bisik Gus Afnan pada Ning Fatya yang sudah tidak tahan melihat wajah gemas istrinya itu ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Mendengar itu matanya membola dan bersitatap dengan Gus Afnan lalu beralih pada Azzam.
"Zam...Bibi merestui mu" ucap nya cepat.
.
.
.
.
.
PANTENGIN TERUS YAA, TERIMAKASIH SUDAH MENUNGGU💓..... SEMALEM KAN AI BILANG MAU DOUBLE UP, NAH KEBETULAN ADA HALANGAN MENDADAK. KALAU NTAR MALEM UP NYA CUMA SATU BERARTI AI KETIDURAN🙏🏻😂MAAFIN YAK
OH IYA SATU LAGI. KALAU AI DOUBLE UP LIKE NYA JANGAN LOMPAT DONG😢 KAN SEDIH AKU TU🙏🏻👃
...LIKE...
...KOMEN...
...KEMBANG...
...KOPI...
...BAGI-BAGI YA JANGAN LUPA...
...JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YAH...
__ADS_1