Salah Khitbah

Salah Khitbah
26. SK : SURAT ITU!


__ADS_3

...Assalamu'alaikum para pembaca cerita gaje ini :v 😚...


...Mohon dengan sangat yaw, sebelum baca pencet tombol like nya dulu dong...ga sampe sedetik koq tinggal "klik" udah. Ana cuma minta itu loh hm...sadar cerita ana memang ga bagus jauh dari kata bagus, gaje dan...yaa acak-acakan sesuai dengan halu yang mengalir begitu saja ga ada aturan hehehe, tapi sius cuma minta itu doang✌🏻...


...So, like jangan lupa. Komen juga, ngoceh aja di komen kaga apa-apa ridho lillahi ta'ala dah😁yukss budayakan like sebelum baca :)...


...Bacanya pelan-pelan aja yah!!...


...~Happy Reading~...


******


"hmm...Apa Kang?"


"ini ada titipan" Kang Santri tersebut mengambil sesuatu dari kantung jubahnya dan mengulurkan nya pada Zahwa


"Mm...itu...??" Tunjuk Zahwa


"Ana di titipin ini dan mendapat amanah agar memberikannya langsung pada orangnya, dan orang itu katanya bernama 'Zah' , begitu ukhty" jelas Kang Santri tersebut


Zahwa mengangguk mengerti, tapi ia penasaran siapa pengirimnya.


"Emm...kalau boleh tau yang mengirimnya siapa ya Kang??" tanya Zahwa


"Anti akan tau sendiri nanti setelah membukanya"


Zahwa mengangguk dan menerimanya


"Kalau begitu ana pergi dulu Assalamu'alaikum" ucap Kang Santri tersebut undur diri.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Zahwa setelah Kang Santri tersebut pergi.s


"Surat?" Batin Zahwa bertanya-tanya.


Setelah tersadar ia segera memasukkan surat itu ke saku gamisnya lalu mengunci pagarnya kembali. Setelah itu buru-buru ia pergi ke asrama.


.


.


.


****


"Zah..." Panggil Linda dengan suara keras dari balik jendela


"Iyaa Lin" balas Zahwa


"Dimana??" Tanya Linda


"Disini..."


"Dimana sih Zah??"


"Allah Kareem...makanya masuk dulu lah Lin" ucap Zahwa menggeleng.


"Eheheheh" Linda cengengesan lalu mendekati Zahwa yang sedang merapihkan lemarinya.


"Ada apa?" Tanya Zahwa


"Ini kan hari sabtu, ga ada rencana buat keluar gitu??"


"Mau kemana?"


"Ya keluarlah...entah ada mau beli sesuatu atau apa" jelas Zahwa


"Emmm..." Zahwa tampak sedang berfikir.


"Krikk..krikk...jangkrik.."Ucap Linda mengetuk-ngetuk pergelangan tangannya.


"Kaya nya makan Bakso enak deh..." ucap Zahwa berbinar setelah sekian lama berfikir. Ia membayangkan sedang memakan Bakso dengan kuah bening, aroma harum lezat menyengat, di tambah sambal yang merah meledak, dengan pereda es teh manis dingin. Uhhh sungguh menggugah selera.


"Sslruuuppp..." Sepertinya Linda sudah dapat menangkap apa yang dibayangkan oleh Zahwa


"Oiya..iya..iyaa..Ayo Zah, aahh anti memang tempat tanya tanya recommend paling uummaachh" ucap Linda menarik-narik lengan Zahwa.


"Iya..iya..Ayo..."


Zahwa menuruti tarikan Linda. Ketika di ambang pintu langkahnya terhenti.


"Ada apa lagi Zah?"


"Sebentar ana mu ganti pakaian dulu, baju ini tuu udah kotor. Setelah di bawa nyapu di pagar pembatas tadi" ucap Zahwa mencium pakaiannya .

__ADS_1


Linda mendekat


"Emmhh ... Iya anti bau acem Zah" ejek Linda


"HUH...tunggu sebentar ya" ucap Zahwa memutar bola matanya malas


"Beik, ana tunggu di depan gerbang saja yah" ucap Linda


"Na'am"


Setelah itu Zahwa menutup pintunya dan membuka lemari kecil tempat pakaiannya.


"Hemm...make yang mana yah???" Zahwa memandangi satu per satu gamisnya.


"Ahh...ini mungkin bagus" pandangan mata Zahwa terhenti pada satu gamis sederhana pemberian Azzam dari Kairo tahun lalu. Tidak terlalu mewah seperti ingin ke kondangan, bisa dibilang di sana pakai untuk gamis rumahan, sederhana hanya gamis polos bergaris-garis berwarna pink baby dengan khimar syar'i berwarna senada.


Zahwa melihat pantulan dirinya di cermin gantung. Zahwa terlihat sangat cantik dan bertambah imut dengan balutan gamis tersebut.


"Okee lebih baik" gumamnya.


Zahwa mengambil pakaiannya yang ia pakai sebelumnya dan memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotornya. Setelah selesai ia keluar dari kamar mereka dan menguncinya.


Zahwa berjalan cepat mengejar Linda ke gerbang depan.


"Loh...Dini disini" tanya nya saat sudah sampai pada Linda. Ternyata ada Dini juga


"Ohh..begitu ya sekarang, ya udin ana balik aja HUH!" Ucap Dini merajuk


" Eeehh...anti koq ngambek sih..bukan begitu loh maksud ana... Ana dari tadi pagi tidak melihat anti, anti kemana saja?" Ucap Zahwa


"Hmm, ana disuruh memantau kegiatan adik tsanawiyah yang sedang lalaran di pondok"


"Ohh... eh itu kan yang ngajar harusnya Ustadz Fakhri, koq bisa jadi anti yang bertugas, hmmm ada yang tidak beres nih. Berarti anti di suruh sama si Ustadz muda ganteng dong" ucap Linda menaik turunkan alisnya menggoda Dini


Melihat Dini yang tiba-tiba merona, Linda semakin gencar menggoda Dini.


"Ayoo Din jelasin...koq bisa..hemm hemm hemm" Linda menyenggol-nyenggol bahu Dini.


Zahwa tersenyum jahil mendekatkan wajahnya persis ke depan muka Dini.


Pipi Dini semakin panas, wajahnya semakin memerah malu. "Akkh....udah ih ga penting, jadi pergi ga!" Elak Dini dan berjalan lebih dulu


"Hemmptt xixixixi" Zahwa dan Linda cekikikan di belakang karena berhasil menggoda Dini.


"Iyaa ya , biasanya juga malu maluin"sambung Linda mendengar gumaman Zahwa


"Eh?"


"Yuk kita susul Dini nanti kita ketinggalan, nyasar lagi" Linda menarik lengan Zahwa


"Iya..tapi jangan tarik-tarik...ana bisa jalan sendiri" oceh Zahwa


"Berisik!"


****


Setelah mendapatkan izin, mereka berjalan dengan senang menuju pedangan bakso yang terletak tidak terlalu jauh dari komplek Pesantren.


Warungnya memang kecil, tidak terlalu besar namun tempatnya bersih, halamannya luas, sejuk dan nyaman.


Setibanya di sana tak sedikit warga desa atau santri yang juga datang ke tempat ini memperhatikan mereka sejak dari awal mereka datang. Zahwa yang risih hanya menundukkan kepalanya. Berbeda dengan Linda dan Dini yang justru curi-curi pandang pada siapa saja matanya hinggap.


Mereka mengambil posisi di halaman, supaya ber angin kata Linda kalau di dalem panas katanya. Padahal di dalem ada jendela-jendela besar sebagai pemasok udara ke dalam.


"Uhhh..ana udah ga sabar pengen cepet-cepet makan hmmm" ucap Linda gerak-gerak tak sabaran seraya menggosok-gosok kedua telapak tangannya.


"Sama ana juga" sahut Zahwa dan Dini.


Tak lama pesanan mereka pun datang.


"Permisi ini baksonya kak..." ucap anak si pemilik warung bakso itu. Ia meletakkan satu per satu isi nampannya di atas meja.


"Selamat menikmati.."


Setelah selesai baru ia meninggalkan meja mereka.


"Ssllrrruupp..." Mereka menelan ludah sendiri melihat bakso yang sangat menggoda tepat berada di hadapan mereka.


Tak menunggu lama, mereka mengambil sambal dan menuangkan nya pada mangkok masing-masing. Linda dan Dini menatap heran pada Zahwa.


"Loh?? Zah kenapa sambalnya sedikit sekali? kurang sedap tuh kaya ana nih, uhh baru"tanya Linda menunjukkan isi mangkoknya.


Zahwa teringat pesan Azzam yang selalu ia tegaskan pada Zahwa

__ADS_1


"Dek..jangan banyak-banyak makan sambal, pedass..nanti Dek Wawa sakit perut. Paham!?"


"Ya Allah Zah... Sekali ini aja koq, biar nikmat makannya nih..." Di i menuangkan banyak sambal ke mangkok Zahwa.


"hmm....enak nih" lalu mereka mulai memakan bakso masing-masing.


"Bismillah...maafin Wawa Bang...ini sangat enak, sekali ini aja koq tapi ga janji ya Bang " batin Wawa.



****


"Ahh...alhamdulillah..." Ucap mereka bersamaan kala telah menyeruput es teh mereka hingga kandas.



"Udah...ana udah kenyang" ucap Dini


"Ana juga, tapi jujur ini bakso enak loh ...ahh kapan-kapan kita mampir lagi yah" ucap Linda


Dan diangguki Zahwa dan Dini.


Setelah selesai membayar makanan mereka, mereka meninggalkan warung bakso itu dengan rasa puas.


"Mau kemana lagi??" Tanya Zahwa


"Hmmm ntah, Dini?" Balas Linda


"Eemmm...kayanya ana mau ke minimarket dulu deh, pengen beli pembalut sama cemilan buat nambah harta karun di kamar" ucap Dini.


"Ahahaha harta karun itu emas bukan makanan Dini" ucap Linda


" Ahh ya itu lah pokoknya, gimana?"


"Ya sudah, ayo" ucap Zahwa


Mereka berbelok ke arah ke sebuah minimarket, ya memang ini pedesaan tetapi belum terlalu ke pedalaman. Minimarket ini di sediakan oleh pihak Pesantren untuk umum, bisa di bilang koperasi lah. Yang menyediakan kebutuhan santri dan warga.


Setelah masuk kedalam minimarket yang luas itu mereka berpencar mencari kebutuhan masing-masing. Zahwa mengitari setiap rak dan memperhatikan yang terpajang di sana.


Matanya terfokus pada sebuah benda yang letaknya berada di rak paling atas, ia berusaha meraihnya namun tak sampai juga.


"Astagfirullah...nasib punya tubuh barbie mungil ya begini" ucap nya masih berusaha meraihnya.


Tiba-tiba


Ada sebuah tangan yang terulur ke atas mengambil barang yang ia inginkan. Zahwa mematung kaget, saat benda itu sudah berada di keranjangnya.


Ia mendongak


Syok! Melihat siapa yang sudah membantunya. Orang itu sedang bersama seorang temannya.


"S...s..syukron, Assalamu'alaikum" ucap Zahwa menunduk gugup lalu segera pergi.


Orang itu tersenyum samar melihat kepergian Zahwa yang terlihat malu-malu.


"mungkin dia sudah membacanya" batin orang itu dengan perasaan deg deg tak karuan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" gumam mereka menjawab salam Zahwa.


Teman yang di sebelahnya tampak mengulum senyum melihat mereka.


****


Zahwa keluar dari minimarket tersebut dan mencoba mengingat sesuatu.


.


.


.


.


"Ahh ya, surat itu!"


.


.


.


πŸ‘πŸ»

__ADS_1


πŸ‘‰πŸ»πŸ™‚πŸ‘ˆπŸ»


__ADS_2