Salah Khitbah

Salah Khitbah
152. SK 2 : BENAR TERJADI


__ADS_3

Zahwa berjalan dengan sedikit cepat, menuju ruangan yang di dalamnya terdapat orang yang sangat ia cintai. Niqab nya sudah basah karena di banjiri air mata yang sedari tadi terus mengalir.


Dengan menenteng tas yang sedikit besar, Zahwa terus memaksakan kaki nya yang bengkak berjalan dengan tertatih.


Deg deg deg deg deg deg deg


Detak jantungnya yang memompa seribu kali lebih cepat dari biasanya.


Dua orang yang mengikutinya dari belakang tampak kewalahan mengimbangi langkah kaki bumil yang tengah gusar ini. Ketika sampai di ruangan yang di maksud suster tadi, Zahwa langsung menghampiri perawat, yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. Hati Zahwa berdesir mana kala melihat dari jendela wajah pucat suaminya di atas ranjang pasien dengan berbagai macam alat medis yang menempel di tubuhnya.


"Hiks..hiks..hiks..." Isak tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar juga menatap tubuh tak berdaya suaminya sendirian di dalam sana.


Perlahan kepalanya terasa pusing, matanya juga perih "Aahhh" jerit Zahwa saat perutnya terasa seperti melilit, jika saja tubuhnya tidak di topang oleh Ibu Geza ( istri dari sekretaris Akhtar ) mungkin saat ini ia sudah terjatuh di lantai dan akan berakibat lebih parah lagi


"Aakhhh.... Sakiit.." rintihnya terus mengelus pinggang dan perutnya. Tak kalah khawatir Ibu Geza langsung memapah Zahwa untuk duduk di bangku. Mereka menunggu Pak Bathur yang sedang pergi bersama perawat tadi untuk berbicara dengan dokter.


"Istighfar Nona, istighfar... Tarik nafass... Buang... Tarik nafaas... Buang.." Ibu Geza terus memberikan instruksi pada Zahwa agar tetap tenang


"Anak baik... Anak baik... Tenang ya.. kasihan ibu.." ucap Ibu Geza ikut mengelus-elus bagian tubuh Zahwa yang kram. Hatinya ikut teremas melihat keadaan Zahwa


Beberapa saat kemudian, Zahwa sudah di tempatkan di sebuah ruangan. Ia sempat pingsan tadi saat tidak dapat menahan sakut di perutnya.

__ADS_1


Setelah di periksa kini Zahwa sudah baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu keadaannya stabil seperti semula.


"Hiks..hiks...habibie... Hiks.." dalam diam Zahwa terus menangis dan itu di sadari Ibu Geza, ia mendekat dan duduk di samping Zahwa. Dengan penuh kasih sayang, ia memeluk Zahwa dengan erat. Mengisyaratkan bahwa ia tak sendiri, di masa sulitnya mereka ada untuk mendampinginya.


Zahwa sesengukan di dalam dekapannya, hingga kegiatan keduanya terhenti saat pintu ruang rawat Zahwa di buka oleh Pak Bathur.


Dengan ragu-ragu Pak Bathur mendekati keduanya. Bersitatap dengan istrinya lama hingga suara lirih Zahwa memutus tatapan keduanya.


"Pak Bathurr"


Dengan sayu Pak Bathur sedikit menoleh kepada Zahwa lalu menunduk.


"Ada apa Pak?"


Dengan sisa keberaniannya, ia menahan sekuat tenaga segala ketakutannya yang bisa saja dapat mengguncangnya. Ia menguatkan hatinya dan mencoba tabah mendengarkan setiap berita yang akan di sampaikan Pak Bathur


"Dokter mengatakan bahwa Pak Akhtar harus di operasi, ada cedera di otaknya karena benturan yang sangat keras di kepalanya. Jadi, saya ingin meminta persetujuan anda Nona agar Dokter bisa segera melakukan operasinya"


Lagi lagi Zahwa shock, berita kecelakaan suaminya dua jam yang lalu sudah membuat dunia Zahwa runtuh, dan kini Zahwa kembali menerima kabar bahwa suaminya mengalami cedera di otaknya. Dimana tak sedikit kemungkinan suaminya itu akan amnesia.


"Ya Allah..." Lirih Zahwa dengan hampa

__ADS_1


"Astaghfirullah.. Astaghfirullah... Astaghfirullah... Ya Allah.. tolong lah hamba mu ini.. kuatkan hamba ya Allah.. selamatkanlah suami hamba ya Allah.. hamba mohon.." Zahwa kembali menangis pilu. Dadanya terasa semakin sesak, air matanya tak dapat dibendung lagi, tanpa diminta kembali turun dengan derasnya.


"Yang kuat Nona yang kuat... Kami disini menemani Anda. Jangan khawatir kita serahkan semuanya pada Allah. Kasihan si bayi Nona" ucap wanita paruh baya ini dengan kasihan


Zahwa yang tadinya diam saja langsung terpaku saat Ibu Geza mengingatkan akan bayi nya. Ia kembali bersedih, ia tau bahwa dengan ia bersedih seperti ini dapat berpengaruh buruk pada bayinya.


"Ibu Geza.. hiks..." Zahwa memeluk wanita paruh baya itu. Penumpahkan kesedihannya di sana. Ibu Geza membalas dengan memberikan semangat Bahwa mereka bisa melalui ini.


Setelah Zahwa sudah tenang dan bisa di ajak diskusi. Zahwa memberanikan diri menemui Dokter seorang diri. Ibu Geza sudah menawarkan diri untuk mendampinginya, takut terjadi sesuatu padanya. Tapi ia sudah menguatkan hati bahwa ia bisa melewati ini.


Dengan langkah yakin ia masuk ke ruangan Dokter tersebut. Dokter mulai menjelaskan seluruh keadaan tubuh Akhtar dari hal kecil sampai hal besar. Ketika pembahasan sampai pada rencana operasi, Zahwa menanyakan kemungkinan- kemungkinan yang terjadi setelah operasi nanti.


Seperti dugaannya, Zahwa terpaku mendengar penjelasan Dokter


" Ketika kepala terbentur sesuatu dengan sangat keras, maka ada kemungkinan dinding otak mengalami cedera berupa retak. Bila pembuluh darah di sekitar otak mengalami kelainan, misalnya otak kecil cedera dan terhimpit akibat tekanan saat benturan keras terjadi, maka seseorang akan mengalami amnesia sementara dengan jangka waktu yang berbeda-beda.


 Jika benturan hanya mencederai dinding otak, maka amnesia yang terjadi mudah disembuhkan. Namun, cedera yang di alami oleh suami anda sudah cukup parah sampai mengenai bagian otak besar, kecil, dan tengah, maka amnesia akan membutuhkan waktu lama untuk sembuh" lagi lagi Zahwa di buat lemas dengan informasi yang di dengarnya.


"Dok..lakukan yang terbaik untuk suami saya. Apapun kemungkinannya saya yakin taqdir Allah. InsyaaAllah suami saya akan sembuh. Tolong saya dok, tolong suami saya" pinta Zahwa


"InsyaaAllah bu. Kami akan melakukan semampu kami. Ibu banyak-banyak berdoa agar semuanya lancar dan sesuai dengan yang kita harapkan" Zahwa mengangguk. Setelah itu ia keluar dari ruangan Dokter dan berjalan lunglai kembali menunggu di depan ruangan suaminya.

__ADS_1


Tak mampu menopang tubuhnya, kepalanya ia sender kan pada bahu Ibu Gaze. Kembali air matanya luruh di sana.


"Habibie.. kamu bisa.. kamu berjuang ya sayang... Aku belum sanggup di tinggal sama kamu.. aku dan anak kita menunggu kamu di sini bib sayang.. hiks"


__ADS_2