Salah Khitbah

Salah Khitbah
37. SK : TUTUP MULUT


__ADS_3

...H A P P Y R E A D I N G...


...****************...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


KOPI KU ☕


Disaat hatinya menyapa


Disaat itu pula bersambung rasa


Puncaknya dari rasa bahagia


Yang merasakan indahnya dunia


Dua hati yang awalnya berbeda


Bersatu menjadi kata kita


Benih-benih asmarapun berkembang


Hingga tumbuh dan berbuah kasih sayang pada ketulusan rasa


Hati adalah wadah dari semua rasa


Walau hati tak bermata


Ia mampu melihat


ketulusan


Serta hati mampu merasakan perasaan yang lidah tak mampu merasakan-Nya


"Suatu saat nanti kau pun akan mengerti dan hal yang paling sederhana dalam hidup ini Adalah berhenti membandingkan hidupmu dengan orang lain. Dan belajarlah menyukuri apapun yang saat ini kau miliki."


***


"Azzam akan Zuad"


"Hah ZUAD???" batin Zahwa terkejut.


"B-Bang Azz-Azzam..." ucap Zahwa lirih


Butiran cairan bening jatuh dari mata indahnya.


Umi Alya langsung membawa Zahwa kedalam dekapannya. Ia tau apa yang di rasakan oleh Zahwa saat ini, dia pasti Syok bukan hanya Zahwa tetapi ia sendiri juga kaget.


" Kenapa mendadak Ba?" tanya Umi Alya


pada Buya Firman.


" Bang Ali mengabarinya juga baru sekarang Mi" ucap Buya Firman


" Berarti Ayah tadi nelpon, Buya?" tanya Zahwa yang sudah mulai tenang


" Iya nak, Ayah mu tadi menelpon Buya. Dan sebentar lagi mereka akan datang menjemput mu" ucap Buya Firman beralih menatap Zahwa


Zahwa hanya diam, sesekali mengangguk untuk menjawab yang di lontarkan Umi Alya dan Buya Firman. Mereka mengajak Zahwa berbincang agar pikirannya teralih kan.


Hingga akhirnya ia meminta izin kembali ke Asrama untuk mengantar barang yang ia bawa tadi. Dan sekaligus ia juga ingin berpamitan sementara pada Linda dan juga Dini, sudah pasti mereka kan menanyakannya. Terlebih saat ini matanya sembab dan kalau ia tidak memakai niqab saat ini pasti mereka juga sudah melihat hidungnya memerah sehabis menangis.


***


DI ASRAMA


Terlihat Linda dan Dini sedang duduk bersantai di halaman Asrama dengan santriwati lainnya sambil menyambung ayat. Ia segera menghampiri mereka.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab mereka.


"Anti sudah pulang Zah?" tanya Linda


" Menurut anti?" tanyanya balik


" Sudah "


" Kalau begitu kenapa bertanya " celetuk Zahwa yang membuat mereka semua menertawakan Linda yang sudah cemberut.


"ahahahaha"


Bibirnya mengerucut


"Iihh...anti mah ga bisa basa-basi"


"Afwan...afwan...sudah jangan hawas(marah) dong, sini ikut ana" ucap Zahwa menarik tangan Linda


"Ukhtyfillah semuaa, ana bawa Linda dulu ya" pamit Zahwa


"Tafaddholiy(silahkan)" jawab mereka kompak


" Ehhh....ana ikutt..." Susul Dini dari belakang


Sesampainya di kamar


Dini dengan kepekaannya langsung bertanya pada Zahwa

__ADS_1


" Apa ada sesuatu Zah? Kenapa mata anti sembab? Anti baru nangis ya?" Cecar Dini


" Hummm" Air matanya kembali luruh. Ayolah, ia sangat menyayangi Azzam, tak heran jika ia akan lembek bila berhubungan dengan Abangnya.


"Heyy...ada apa ini??? Ember...ember..." Ucap Linda


"Untuk apa?"


"Menampung air" Dini memutar bola matanya gerah


"Ga lucu"


"Ga ada yang ngelawak"


"Mending diam"


"H- "


"Bang Azzam mau ZUAD, huhuhuhuhu..." Ucap Zahwa memotong percakapan Linda juga Dini.


Linda dan Dini terdiam, tertohok, dan ingin jungkir balik.


"A-apa?"


"Hu'um...huhuhuh...hiks..huuhuhu..."


" Trus ana gimana?" Tanya Linda


"Ngapain?" Dini beralih ke Linda


" Ga jadi dong ana ipar-an sama Zahwa, huaa....Abang gas'ah (tampan) tak jadi milikku...awwh" ucap Linda yang langsung mendapat toyolan dari Dini. Bisa-bisa nya dia berkata seperti itu di saat begini


"Apaan sih, Din" Linda mengusap kepalanya sambil menatap sebal kepada Dini


Dini acuh saja, dalam hati dia membatin


"Bukan cuma anti Lin, ane juga atit ati tauk"


Yaelah sama aja kalian berdua (othor)


Dini mendekati Zahwa dan mengusap lembut bahunya.


"Anti tau dari mana, Zah?"


Zahwa menatap Dini dan menceritakan semuanya pada Linda juga Dini.


" Koq tiba-tiba ya??? Hemm...atau jangan-jangan..."


"Aahh...tidak! Tidak mungkin Bang Azzam begitu" tukas Zahwa langsung sepertinya ia sudah tau apa yang ada di pikiran Dini


"Emang Bang Azzam, ngapain Din?Zah?" Tanya Linda dengan segala ke lola-an nya


"Isshh...Lin, itu loh..kaya di sinetron-sinetron itu...Biasanya mereka, ahh laki dan wanitanya maksud nya.."


"Sembarangan!!" Potong Zahwa kembali


"Ngapain laki ma perempuan?" Tanya Linda masih dalam mode lemot


"Suka" jawab Linda cepat


"Nah, kalau di nont- "


"Dasar ratu sinetron" ucap Zahwa lalu membereskan barangnya.


"Apa?" Tanya Linda tanpa suara


"Itu- " baru saja Dini ingin kembali berbisik Zahwa sudah lebih dulu menatap nya tajam.


***


Kini Zahwa sudah kembali ke ndalem


Tak lama sebuah mobil masuk ke pekarangan Pesantren.


Mereka sudah menunggu di teras rumah Buya. Tak lama mobil itu berhenti tepat di depan halaman rumah itu. Perlahan pintu terbuka, dan muncullah tersangka yang terdakwah


(Wa, emang nya Bang Azzam ngapain sampe terdakwah?? - otor)


Ah...ada Zahra juga, ia berjalan bersama Ayah Ali. Lalu..Bunda??


"Bunda tidak ikut?" batin Zahwa bertanya


" Oh...mungkin lagi sibuk di rumah" batin Zahwa kembali menjawab pertanyaannya sendiri.


"Assalamu'alaikum Buya, Umi" ucap Azzam mencium tangan Buya Firman lalu beralih kepada Umi Alya


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab mereka bersamaan.


Terakhir tatapannya jatuh pada seorang gadis berniqab yang berada di samping Umi Alya. Zahwa yang menyadari dirinya sedang di tatap hanya diam saja bersikap tak acuh seolah-olah tidak ada orang.


Di susul oleh Ayah Ali juga Zahra. Zahwa mencium tangan Ayah nya lalu memeluk Zahra sebentar. Azzam? Pria tampan itu harus menelan pahitnya di cuekin.


Mereka di persilahkan masuk, Zahwa masih betah di samping Umi Alya.


Umi Alya yang mengerti kembali membawa Zahwa duduk di sampingnya. Sedangkan Buya dan Ayah Ali sedang menikmati perang dingin sepihak antara Zahwa dan Azzam.


Salah satu mbak ndalem membawakan teh hangat dan beberapa camilan


"Silahkan di minum dulu" Ucap Umi Alya


Setelah berbasa-basi, akhirnya mereka pun pulang.


"Ana pamit dulu Umi, Buya" ucap Zahwa


"Iya nak, hati-hati yah" Umi Alya memeluk Zahwa setelah itu melepaskannya


"Kalau begitu kami pamit dulu, Assalamu'alaikum" ucap Ayah Ali

__ADS_1


"Iya Bang, Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"


***


DI DALAM MOBIL


Ayah Ali menyetir mobil sendiri, di sampingnya ada Azzam yang sedari tadi melihat ke kaca spion. Sedang di bangku tengah Zahwa dan zahwa sedang melepas rindu dengan berbincang-bincang


Tak ada sedikit pun niat Zahwa untuk menanyakan kabar Abang nya itu. Jangankan berbicara meliriknya saja ia masih enggan. Ayah Ali membiarkannya karena ia juga menikmatinya, ia yakin itu tak akan berlangsung lama. Mereka saling menyayangi tidak akan bisa salah satunya marah lama-lama pada yang lainnya.


Setelah cukup berbincang Zahra tetap memeluk kakak nya itu dari samping sepanjang perjalanan, Zahwa berzikir untuk mengisi waktunya sembari melihat ke luar jendela, tak sengaja mata nya bertemu dengan mata Azzam dari spion.


Tatapan sendu Azzam hampir saja menerobos pertahanannya. Ia segera memutus kontak mata itu dan kembali cuek pada Azzam.


"Huffftt..." Azzam membuang nafasnya kasar. Ayah Alu melirik pada Azzam dan tersenyum tipis.


***


Kini mobil sudah memasuki pekarangan rumah. Dengan semangat Zahra menarik tangan Zahwa untuk segera menemui Bunda Fatimah.


Azzam turun dan dengan cepat membukakan pintu untuk Zahwa. Kini ia tak bisa lagi menolak, ia turun dari mobil.


"Syukron" ucap Zahwa ketus lalu berlalu meninggalkan Azzam.


"Iya dek" lirih Azzam. Ia terasa asing dengan cara bicara Zahwa yang biasanya lembut dan penuh sayang padanya, kini kenapa tiba-tiba berubah ketus.


Zahra mengetuk pintu tiga kali dan mengucap salam. Namun tak ada yang datang membukakan pintu. Ia membuka sendiri dan menarik tangan Zahwa untuk masuk ke dalam


"Assalamu'alaikum...Bunda..." Panggil Zahra


"Bunda..." Panggilnya lagi dengan suara cempreng nya itu.


Mereka pergi ke dapur, ternyata di sana sudah ramai dengan para ibu-ibu yang membantu Bunda memasak.


"Bunda..."


"Ehh...Zahwa...sini nak" ucap seorang wanita pada Zahwa


"Bibi Fatya" pekik Zahwa dan langsung mendekati adik dari Bunda Fatimah itu


"Kaifa khaluq (apa kabar?) , Bi ?"


"Alhamdulillah..bi khyar sayang..kamu bagaimana?" ucap Bibi Fatya


"Alhamdulillah...baik juga Bi" jawab Zahwa


"Emm ga inget Bunda lagi, hiks.." ucap Bunda Fatimah yang sudah berada disampingnya dengan pura-pura sedih


"Ahh..Bunda" Zahwa memeluk Bunda Fatimah


Mereka memilih berbincang di taman belakang dengan di temani teh dan roti, sangat cocok saat bersantai seperti ini.


"Dek.." ucap Azzam berdiri di hadapan Zahwa yang akan menyusul ke taman belakang


Zahwa hanya diam mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat.


"Wa..Abang mau bicara"


" Kapan-kapan aja, Wawa sibuk" setelah itu Zahwa pergi ke taman belakang.


"Ya Allah...Wawa...dengerin Abang dulu" lirih Azzam menatap kepergian Zahwa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...-MUTIARA HIKMAH-...


Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya bahwa batasan untuk meminta izin untuk bertamu adalah tiga kali. Sebagaimana riwayat dari Abu Musa Al Asy’ary Radhiallahu anhu, dia berkata:


"Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah'." (HR Bukhari dan Muslim)


Diceritakan oleh Anas bin Malik Radhiallahu anhu:


"Kami di masa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku." (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad bab Mengetuk Pintu)


.


.


.


.


PANTENGIN TERUS YAA, TERIMAKASIH SUDAH MENUNGGU💓.....


...LIKE...


...KOMEN...


...KEMBANG...


...KOPI...

__ADS_1


...BAGI-BAGI DUNGS.......


...JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YAA...


__ADS_2