Salah Khitbah

Salah Khitbah
57. SK : SANG PENOLONG


__ADS_3

***


Ceklek...Pintu terbuka


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"


"Loh..Ustadz Fakhri" pekik Zahwa terkejut


"Kakak kenal???"


"Kenal" singkat Zahwa


"Koq bisa?" Kini Zahra yang berada di atas bangkar menatap pada Ustadz Fakhri yang duduk tak jauh darinya.


"Saya ngajar di Al-Hikmah" jawab Ustadz Fakhri


"Oowhhh...begityu. Pantes Kak Wawa kenal, wong Ustadz nya toh" ucap Zahra mengangguk-angguk


"iyaa"


Tak lama Ayah Ali dan Bunda Fatimah masuk ke dalam ruangan Zahra


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab mereka


"Gimana nak? Kaki nya sudah baikan?" Tanya Ayah Ali


"Alhamdulillah...sudah Yah. Tapi belum bisa jalan normal karna masih gemeteran kakinya kalo nginjek lantai" jelas Zahra


"Hmm...sebentar lagi baikan kok" sahut Bunda Fatimah sambil menyuapkan nasi sup pada Zahra.


Kini Ayah Ali pindah pada Ustadz Fakhri


" Nak..Fakhri...terimakasih sudah menolong Zahra ya.."


"Iya..sama sama Om. Sesama muslim harus saling tolong menolong" jawab Ustadz Fakhri tersenyum manis.


Dan hal itu tak sengaja di tangkap mata Zahra.


"OMGGGGGG.....senyum nyaa aduhaiii...manis bangeett huaaa...." Batin Zahra mesem-mesem


"Dek..kenapa?" Tanya Zahwa


" Hah? Itu Kak lihat. Senyum nya maniss bangeettt" ucap Zahra tanpa sadar dengan pandangan masih tertuju pada Ustadz Fakhri.


Mendengar itu sontak Ustadz Fakhri menatap Zahra sekilas lalu menunduk karena tersipu malu.


"Khemmm..." Dehem Zahwa


"Eh..." Zahra tersadar dan segera meraih selimutnya untuk menutupi wajahnya yang memerah semerah tomat.


"Ahahahaha...." Zahwa, Bunda Fatimah dan Ayah Ali tertawa melihat mereka.


"Serasi...pas!!!" Batin Zahwa


30 menit kemudian


Tok..tok...tok...


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Bunda Fatimah ingin beranjak membukanya namun terlebih dahulu di tahan oleh Zahwa.


"Biar Wawa aja, Bunda"


Bunda Fatimah mengangguk.


Zahwa beranjak membukakan pintu.


Jleb! Ia mematung melihat siapa yang datang.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa-wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Zahwa terbata-bata. Ada yang mengganjal hatinya melihat orang yang di depannya ini.


"Siapa Wa?" Tanya Bunda Fatimah. Zahwa tersentak sadar


"Eh..i-iya.. silahkan masuk Kang.." Zahwa memberi jalan


"Terimakasih..." Zahwa mengangguk


"Ohh...nak Fatih.. masuk sini" panggil Ayah Ali


"Iya Om.." Fatih mendekat


"Loh...Gus Fatih.." gumam Ustadz Fakhri

__ADS_1


" Eh..ada Ustadz..Fakhri ya.." ucap Fatih bingung.


Dalam hati ada rasa tak nyaman. Pasalnya ia mengetahui bahwa Ustadz Fakhri pernah mengagumi Zahwa. Tapi tidak tau sekarang bagaimana. Tetap saja ia di buat bingung.


"Iya Gus" ucap Ustadz Fakhri menunduk


"Aduh..biasa saja Ustadz..panggil nama saja. Kita sedang tidak di pesantren" ucap Fatih.


"Ahahah... Iya"


"Zahra bagaimana?" Tanya Fatih


"Alhamdulillah sudah lebih baikan, Kak. Tinggal menunggu kakinya bisa jalan normal aja"


"Alhamdulillah...oh iya Ustadz Fakhri bisaa.. disini juga?" Tanya Fatih dengan sedikit canggung.


Ayah Ali yang mengerti itu langsung menjelaskan.


***


FLASHBACK OFF


"Taksii!!! Pak taksii pakk!!!"


Tiba-tiba..


BRAAKKKKK!!!!!


.


"Miiaawwww....miawww...miaww.."


"Alhamdulillah...kucingnya selamat" ucap Zahra membelai kucing di pangkuannya.


Ia menggerakkan pelan kakinya mencoba untuk memperbaiki posisinya.


"Awwshh...ya Allah..sakit..hiks.." rintihnya. Kaki nya keseleo tulangnya seakan patah sungguh Zahra tak kuasa hanya menggerakkan sedikit kakinya.


Sedangkan kucing itu duduk di sampingnya.


Tak lama berhenti seseorang di depan Zahra. Ia melihat Zahra menangis sambil memegangi kakinya.


"Astaghfirullah...anti kenapa?" Tanya Ustadz Fakhri. Ya dialah Ustadz Fakhri yang hendak pulang ke rumah nya. Namun di tengah jalan sepi ia melihat Zahra sedang menangis. Penasaran apa yang terjadi ia menepikam mobilnya dan memutuskan untuk menghampirinya.


"Aaa...huhuhu..hiks...Bunda..sakit..." ringis Zahra menahan sakitnya


"Kak-kaki..kaki ku sakitt...."


"Ya Allah Kaki nya kenapa??" Tanya Ustadz Fakhri mencoba menggeser pelan kaki Zahra dengan tangannya yang sudah ia lapisi dengan sorbannya. Walaupun ada pakaian Zahra sebagai penghalang namun ia tetap menggunakan sorbannya untuk melapisi tangannya.


"Aaaa....sakiitt..." Teriak Zahra


"Aaa...ehh.." Ustadz Fakhri ikutan teriak


"Hhuuussttt" Ustadz Fakhri menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya. Isyarat menyuruh Zahra diam


"Duhh..jangan teriak-teriak atuh..nanti orang-orang kira ana ngapa-ngapain anti aduhh..."


"Emang kamu mau apain aku?" Tanya Zahra dengan bodohnya.


"Eehh....engga..engga mau ngapa-ngapain" ujar Ustadz Fakhri tersentak


"Lalu tadi..."


"Ahh.. sudah lah lupakan sekarang ana harus bagaimana ini..aduh..."


"Memang harus ngapain?"


"Ehh..anti bener-bener ya. Bawel banget"


"Aaaa...." Jerit Zahra saat Ustadz Fakhri tiba-tiba memutar kakinya


"Hikss..sakkiiit..."


"Coba gerakin" titah Ustadz Fakhri. Dengan cepat Zahra menggeleng.


"Coba duluu... Jangan ngeyell.."


Dengan pelam Zahra menggerakkannya, ya memang bisa di gerakkan dengan pelan namun rada ngilu dan berat sangat ia rasakan. Ia tak bisa menekuk lututnya sangkin sakitnya.


"Hiks...hikss.."


"Begini saja...bagaimana kalau anti ana anter ke rumah sakit?" Tawar Ustadz Fakhri


Pasrah, Zahra mengangguk.


"Caranya gimana? Aku tak bisa barang hanya menekuk lutut ku"

__ADS_1


Ustadz Fakhri dengan cepat membentangkan sorbannya lalu mendekati Zahra


"Eehh..mau ngapain??"


"Afwan" Ustadz Fakhri membopong Zahra dan memasukkannya ke mobil.


"Aakkhh..." Zahra memekik kaget


Zahra ia turunkan di kursi samping kemudi. Setelah ia menutup pintunya. Ia meraba dadanya yang bergemuruh.


"Hiiihh..." Ustadz Fakhri mengedik


Dengan kecepatan sedang Ustadz Fakhri membawa mobil menuju Rumah Sakit.


"Bagaimana bisa anti berada di tempat sepi seperti itu?"


Zahra menceritakan ia yang berjalan tanpa sadar hingga saat ia melihat taksi ia langsung memanggilnya. Ia menyebrang jalan. Namun mendengar suara gemuruh motor bersahut-sahutkan ia menoleh ke belakang dan melihat seekor kucing melintas dan akan di tabrak pengendara ugal-ugalan tersebut.


Ia kembali berlari menyebrang dan menyelamatkan kucing itu.


BRRRAAAKKKK ....!!!!


Alhasil ia terserempet dan kakinya keseleo menekuk lalu terbentur batu besar di pinggir jalan. Lengannya yang kena stang motor itu terhempas ke aspal.


Pelakunya kabur melihat Zahra yang terjatuh.


"Itulah sebabnya kaki ku sangat sakiitt" jelas Zahra


Setelah sampai di Rumah Sakit Zahra langsung di tangani dan benar ada tulang yang bergeser dan hampir patah.


Ia berbohong memberitahu jika ia menginap di rumah Senia saat Zahwa menelponnya.


Mendengar itu hati Zahwa menciut...pikirannya masih tertuju pada keterangan Zahra saat di restoran tadi siang.


"Apakah ini ada hubungannya dengan yang di restoran tadi siang? Makanya ia hendak menenangkan diri di Rumah Senia? Ya Allah... Zahra... Apa sebenarnya yang kau pikirkan. Apa kah ini memang keputusanmu yang paling tepat?" Batin Zahwa gelisah sambil memandangi fotonya dan Zahra yang sedang duduk di sebuah ayunan.


FLASHBACK OFF


***


Tak lama Azzam datang. Setelah berbicara keadaan Zahra. Zahwa mendekat kepada Azzam.


"Abang..."


"Iya.. ada apa Wa??" Tanya Azzam menatap Zahwa yang sudah bersembunyi di sampingnya


Zahwa mendekatkan dirinya ke telinga Azzam lalu membisikkan sesuatu.


"Zahwa mohon...." Ucap Zahwa


"Yakin?" Menatap lekat manik mata Adiknya.


"Hu'um"


"Serius??"


"Iya.."


"Baiklah.. ayo" Azzam menarik tangan Zahwa


"Maaf...Fatih..bisa ikut Ane sebentar?"


Fatih melirik Zahwa yang menyembunyikan tubuhnya di belakang Azzam. Setelah itu ia mengangguk


"Ayah..Bunda..Dek..Ustadz..kami keluar sebentar ya" izin Azzam


"Silahkan" semua mengangguk


Mereka keluar dari ruangan Zahra.


Zahwa mengikuti kedua pria itu dari belakang.


.


.


.


.


.


.


BUDAYAKAN LIKE SEBELUM ATAU SESUDAH MEMBACA YAA🌻


Tabarakallah💙

__ADS_1


__ADS_2