Salah Khitbah

Salah Khitbah
120. SK 2 : SURPRISE


__ADS_3

-Maaf atas ketidaknyamanannya di Akhir Bab-


***


Pukul 09:00 malam


Anggota keluarga ndalem sedang duduk bersama di ruang keluarga.


Umi di samping Abi, Zahwa dan Akhtar, dan.. ya Aleeya. Eit? Dia sendiri? Tentu tidak. Ia mengambil boneka teddy yang seukuran dengannya dan mendudukkannya di sampingnya lalu memeluknya.


"Kak.. Umi udah tau belum?" Tanya Aleeya memainkan dasi boneka nya


"Belum, ini baru mau di beri tahu"


"Umi..Abi.."


"Iya nak"


"Alhamdulillah.. Abi dan Umi sebentar lagi akan menjadi Jid dan jiddah. Istri Zi sedang hamil" ucap Akhtar tersenyum merangkul Zahwa.


Abi dan Umi saling tatap untuk sesaat, lalu beralih menatap Akhtar dan Zahwa bergantian.


"Alhamdulillah.." seru mereka berucap syukur lalu membacakan doa seperti yang Akhtar bacakan saat mengetahui Zahwa hamil.


"MasyaaAllah... Selamat sayang..." Umi berpindah dan memeluk Zahwa erat. Mencium kedua pipinya keningnya.


"Selamat juga buat Umi, akan me jadi Jiddah" ucap Zahwa membalas pelukan Umi


"Terimakasih nak.. kalian sudah memberikan kami cucu. Semoga lancar selamat sampai lahiran ya nak" ucap Abi


Di balas amiin oleh mereka.


Umi tetap berada di samping Zahwa dan memberikan wejangan padanya sama seperti yang Bunda katakan. Umi juga membagi pengalamannya pada Zahwa, dan memperingatkan Akhtar agar selalu berhati-hati dan menjadi suami siaga kapanpun dan dimana pun.


Jujur saja merek sangat bahagia saat mengetahui akan menjadi nenek lagi.


***


Zahwa sedang mengecek hp nya . Dan tak sengaja notif quotes ber-background kue tar dengan wipcream dan coklat di sekelilingnya.


Zahwa menelan ludah melihatnya, lalu meirik Akhtar sebentar.


Kemudian menatap hp nya lagi, matanya semakin berbinar, dan kembali melirik Akhtar lagi.


Ia menggigit bibir bawahnya, ingin meminta tapi ia tidak tega jika menyusahkan suaminya mencarikan kue ini untuknya di malam yang semakin larut ini.


5 menit ia coba untuk menahannya, namun sepertinya gagal. Selera untuk memakan kue tar itu sangat besar.


Akhirnya ia merapatkan dirinya pada Akhtar. Lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Akhtar dari belakang, juga menyenderkan kepalanya di bahu Akhtar.


Perlakuannya itu membuat Akhtar menoleh menatapnya.


Ia menyodorkan hp nya kepada Akhtar, dan mengatakan keinginannya lewat isyarat matanya.


Wajahnya di buat seimut mungkin. Agar bisa meluluhkan pria tampan itu.


"Kamu mau ini?" Tanya Akhtar


"Humm" jawab Zahwa mengangguk


" Sebentar"


Akhtar membuka hp nya dan melacak keberadaan bakery yang dekat dengan lokasi pesantren. Setelah menemukannya, ia melirik Zahwa sebentar saat aplikasi tersebut menunjukkan bahwa bakery sudah tutup, tidak ada yang buka.


"Sayang.. sudah tutup ini...kamu bersedia menunggu? Biar saya jemput di bakery yang berada di sekitaran pusat kota. Mau?"


Zahwa tampak mengerut, menatap Akhtar. Lagi-lagi hati nuraninya kembali tidak tega menyusahkan suaminya. Matanya tampak menganak, antara masih ingin memakan kue dan tidak ingin suaminya pergi.


Ia menunduk dan mengusap matanya.


"Eh? Bagaimana? Mau menunggu" tanya Akhtar lagi


" Kenapa nak?" Tanya Umi


"Istri Zi mau kue ini, tetapi bakery di sekitar sini sudah tutup semua. Yang ada di sekitar pusat kota. Tapi entah dia mau menunggu atau tidak"


Zahwa malu lalu menyembunyikan wajahnya di belakang bahu kekar Akhtar.


"Kue bagaimana kak?"


"Begini" Akhtar menunjukkan foto itu pada Aleeya.


"Ya Kareem. Kenapa tidak bilang dari tadi, aku buat black forest cake tadi. Aduh.. kok bisa lupa ngeluarin ya. Bentar Kak " Aleeya segera pergi ke dapur dan mengambil kue yang ia buat tadi dari lemari pendingin.


"Iya kah?" Tanya Zahwa bersemangat


"Nah.. ini dia"


Aleeya memotong kuenya dan memberikannya pada Zahwa.

__ADS_1


"Ini kak, silahkan di coba. Di jamin eenakk.. "



"Wah.. cantik sekali.. makasih Leyaa" ucap Zahwa menatap kue itu dengan berbinar.


Ia menyendok kan kue itu ke mulutnya, dan mengunyah kue itu dengan penuh penghayatan.


"Bagaimana kak?"


"Eumm....ini enak banget.. Leya.. kamu bisa membuat kue enak ya ternyata"


"Hehehe.. ya begitu lah kak"


"Enak kayanya, mau Yank.. Aa.." Akhtar mendekatkan mulutnya minta di suapi. Dengan senang hati Zahwa menyuapinya.


"Buka toko kue udah bisa ni Leya"


" Pengen sih kak, cuma.. ya.. males. Hehehe" jawabnya dengan cengiran khasnya.


"Umi juga sudah beberapa kali bilang begitu nak. Ya.. tapi begitu lah. Jika katanya sudah begini ya harus begitu. Padahal jika buka, lumayan padahal"


"Ihh.. Umi.. tidak begitu juga ya. Nanti deh Leya pikir-pikir lagi"


Mereka menikmati kue itu bersama hingga habis.


"Oh iya nak, kapan kalian akan mengumumkan pernikahan kalian? Bahkan sampai sekarang masih banyak yang tidak percaya jika Zi sudah menikah. Ada yang bersikeras tetap mengirimkan cv nya pada Abi"


Akhtar menatap Zahwa


"Sebenarnya Zi sudah berniat, setelah Zi pulang kemarin akan mengadakan walimatul ursy di sini. Tapi Qadarullah Istri Zi hamil jadi, Zi khawatir dengan kondisinya jika nanti membuat acara. Menurut kamu bagaimana sayang?"


"Emm..setelah satu tahun pernikahan kita saja bagaimana?" Jawab Zahwa menyuarakan usulnya


Akhtar tampak berfikir


"Baiklah, begitu juga tidak masalah"


"Abi juga setuju, sebenarnya Abi juga inginnya begitu kemarin. Tetapi harus tetap mendengar pendapat kalian juga. Berarti walimatul ursy nya akan di adakan setelah satu tahun pernikahan kalian"


Zahwa dan Akhtar mengangguk bersama.


"Oh iya nak.. apakah kalian tidak ada rencana ingin honeymoon atau sacam nya?"


"Ya salam.. Umi.. percuma juga kalau ingin honeymoon. Lah, kak Mary nya saja sudah tekdung duluan"


"Ahahahahahaha"


Mereka berhenti tertawa


"Hm? Kapan?"


"1 bulan lagi, saat Usia kandungan Istri Zi sudah menginjak 4 bulan dan sudah kuat. Zi juga sudah konsultasi dengan dokternya jadi tidak masalah jika di bawa perjalanan jauh"


"Hah? Kapan Yank?"


"Kemarin, kamu tidak tahu"


"Kenapa tidak di beri tau?"


"Namanya juga surprise sayang.. kalau di beri tahu duluan, tidak surprise lagi "


" Kemana Kak??" Tanya Aleeya antusias


" Emm.. Zi berencana ingin ibadah Umroh dulu lalu lanjut babymoon nya, seperti yang pernah Zi katakan oada Abi bahwa Zi akan membawa Istri Zi ke Turkey, jadi sebelum itu. Kami akan ke mesir dulu. Zi akan membawa Abi, Umi, Ayah dan Bunda juga. Setelah Umroh nya selesai, kita akan beda penerbangan. Para orang tua pulang ke Indonesia dan kami akan ke Mesir lalu ke Turkey. Bagaimana sayang kamu setuju kan?"


Zahwa menatap Akhtar dengan mata berkaca-kaca. Darimana ia tahu bahwa impian Zahwa adalah setelah menikah ia ingin berangkat Umroh dengan pasangan halalnya. Dan kini Akhtar akan mewujudkan impiannya itu.


"Setuju, aku setuju Sayang" jawab Zahwa bahagia.


"Alhamdulillah...Umi dan Abi bagaimana?"


"Kalau itu adalah rencana yang sudah kamu buat, Abi setuju saja. Abi juga belum berangkat tahun ini karena belum ada jadwal. Tapi sekarang sepertinya kita bisa berangkat bersama seperti yang kamu katakan"


"Umi ngikut saja. Jujur Umi sangat bahagia"


"Alhamdulillah.. untuk Ayah dan Bunda nanti Zi yang akan memberi tahu mereka"


***


⚠️⚠️⚠️


Di kamar


Setelah mereka membersihkan diri dan bersiap-siap untuk tidur. Zahwa naik ke ranjang duluan. Zahwa sudah selesai murajaah hafalannya bersama sang suami dan bersambung dengan membaca surah Al-Mulk bersama.


Kini, ia memeluk Akhtar dari samping dan menyandarkan kepalanya di dada bidang itu.


" Terimakasih sayang"

__ADS_1


"Sama-sama. Tapi untuk apa?" Balas Akhtar mengelus rambut pajang Zahwa yang hitam pekat.


"Kamu mau mewujudkan impian ku. Mengajakku ke tanah suci, beribadah bersama. Itu impian ku sejak dulu. Menatap langit indah tanah suci bersama pasangan halal. Dan kamu akan mewujudkan itu. Terima kasih"


Akhtar melebarkan senyum nya lalu mengangkat kepala Zahwa dan mencium keningnya.


"Saya bukanlah orang yang romantis, yang bisa membuat pasangannya bahagia dengan kata-kata manisnya. Tapi saya ingin membuat mu bahagia dengan cara saya sendiri. Melakukan sesuatu yang bisa membuat mu bahagia itu merupakan sesuatu pencapaian yang ingin saya dapatkan setiap harinya. Tetaplah di samping saya apapun yang terjadi, tetaplah bersama saya bagaimana pun keadaan saya. Karena ini lah saya, kamu mungkin bisa melihat saya yang sebenarnya. Yang tidak bisa bersikap romantis"


Zahwa memberi isyarat pada Akhtar agar merebahkan tubuhnya. Lalu memeluknya seperti ia memeluk bantal guling.


" Sayang..Kamu itu manusia yang paling sempurna yang di ciptakan untukku. Selama ini aku tidak pernah tidak bahagia bersama mu. Aku selalu bahagia dengan semua yang kamu lakukan untuk ku. Dan aku sangat bersyukur menjadi istri mu. Tetap bimbing aku ya sayang.. tetap menuntun ku agar kita bisa bersama-sama menuju jannah nya"


"Uhh.. Zaujatii..." Akhtar menarik hidung Zahwa gemas lalu memeluk pinggangnya dan dengan isengnya jari-jarinya menggelitik nya.


"Ihh..hahahah.. Yank..jangan. ih..ahaha"


Dugh!


Tanpa sengaja kaki Zahwa bergeser mengenai milik Akhtar. Membuat wajah Akhtar memerah sambil memejamkan matanya. Membuat Akhtar menatapnya


"Ups..maaf sayang" ucap Zahwa memelas menutup mulutnya dengan satu tangannya


" Sedari tadi kamu memang sudah menggodanya bukan??" Ucap Akhtar dengan senyum smirk


"Hsstt.." wajah Zahwa memerah


Dengan cepat Zahwa membungkam bibir Akhtar dengan dengan bibirnya.


Ia mengecupinya beberapa kali. Tangan Akhtar melingkari pinggang Zahwa dan mengelusnya lembut sambil menggesernya agar lebih rapat dengannya.


Zahwa mulai memberikan *******-******* kecil membuat Akhtar membatin senang dengan keagresifan istri kecilnya ini.


Semakin lama, semakin lama ******* kecil itu semakin menuntut. Tangan Zahwa bergerak meraba dada Akhtar lalu naik menarik tengkuk Akhtar.


Mereka melepaskan ciuman itu saat ruang nafas mereka semakin kecil.


Dada Zahwa naik turun, meraup udara sebanyak-banyaknya.


Setelah sepersekian detik, Zahwa menyadari apa yang di lakukannya. Ia menyembunyikan wajahnya malu di leher Akhtar.


Akhtar kembali tersenyum, ternyata masih sama, ia masih malu-malu.


Tik


Lampu padam menyisakan lampu tidur saja.


Akhtar membalik posisinya mengukung Zahwa di bawah


Ia menatap wajah cantik nan ayu itu. Manaikkan dagu itu agar mata hazel itu juga menatapnya.


"Apa boleh?"


"Tentu saja, asal hati-hati dan tidak menimpa-"


Cup


Ia mencium perut yang berisi sebuah calon kehidupan baru itu


..Anak kita"


Akhtar membaca doa sebelum memulainya, setelah itu ia kembali menyambar bibir ranum itu.


Tangan mereka tak tinggal diam. Saling menel4nj4ng1 satu sama lain. Akhtar mengambil bantal dan menaruhnya di bawah Zahwa. Ia mengatur posisi yang menguntungkan bagi mereka bertiga, yaa agar si baby aman tidak kejepit, hanya mereka yang tau bagaimana.


Setelah itu Akhtar menarik selimut untuk menutupi keduanya.


Kepala Akhtar mulai turun kebawah, menjelajahi batang leher yang jenjang itu.


Semakin turun, hingga wajahnya bertemu dua balon padat yang sangat putih dan sintal. Ia menenggelamkan wajahnya di sana, sambil menggesek-gesekannya.


Membuat Zahwa kegelian dan meringsek ke kanan dan ke kiri.


Masih dengan kegiatannya ia berfikir jika nanti setelah lahiran, bahwa anaknya lah yang akan menguasai sepasang benda favorite nya itu. Oleh karena itu, ia gemas sendiri dan bermain di puncak gunung yang tidak berapi itu bergantian. Melakukan seperti yang bayi lakukan pada umumnya.


Membuat Zahwa merasakan sensasi yang berbeda, kenikmatan tiada tara. Ia membusungkan dadanya berkali-kali akibat perbuatan Akhtar.


Kakinya sudah menghancurkan bentuk ranjang, karena bergerak tidak tahan kesana-kemari .


Tangannya memeluk kepala Akhtar dalam dekapannya, mengelus, mengacak rambut suaminya.


Akhtar merasa terbuai dengan perbuatan Zahwa, cintanya bertambah berkali-kali lipat saat istrinya ini selalu bisa membuat ia melayang dan sangat di cintai.


Skip


Kini masuk pada intinya


"Assalamu'alaikum anak Abba, sampai jumpa di perut Umma" sapanya sebelum bertemu dengan anaknya.


"Aaa...sayang"

__ADS_1


Seperti yang ia katakan pada Zahwa siang tadi, bahwa mereka akan bertempur merai puncak nirwana bersama.


***


__ADS_2