Salah Khitbah

Salah Khitbah
159. SK 2 : DAN SELESAI ~


__ADS_3

"Apanya yang jangan?! "


"lahirannya!"


"astaghfirullah Yank..! Mana bisaa.. mmpph sakitt.."


"Astaghfirullah Al 'adziim" tanpa pikir panjang lagi Akhtar langsung membopong Zahwa dan membawanya ke mobil.


"Sholawat yank.. sholawat yank.. amalin semua yang Abi bilang "


" Iya. Jangan lupa tas nya masih di kamar" ucap Zahwa di sela-sela menarik nafas


Setelah mengantarkan Zahwa ke mobil, Akhtar kembali berlari mengambil tas persalinan Zahwa ke kamar di lantai satu. Setelah itu ia tancap gas membawa mobil menuju Rumah sakit.


Ditengah kepanikan, Zahwa berusaha mengatur nafasnya yang mulai sempit, Satu tangannya meraih tangan Akhtar yang memegang erat kemudi.


" Sakitt Bunda.." ucap Zahwa sedikit menggerakkan pinggulnya


"tahan sayang.. sebentar lagi kita akan sampai"


"tapi aku udah ga tahan, Yank!!"


"sabar yank! Sholawat terus yaa istriku"


Ting! lampu lalu lintas berganti berwarna merah.


"Ya Rabb.. bantu lah kami" bisik Akhtar


Tidak ada lagi Akhtar yabg kaku dan dingin saat ini, Akhtar yang sekarang berubah bagaikan suami dengan segala ke-lemotan-nya.


"Yank! sakittt"


"tahan sayang! gigit tangan saya aja nih " Akhtar memberikan tangannya untuk melampiaskan rasa sakit yang di rasakan Zahwa, tapi Zahwa menolak


" Jangan, Aku aja yang sakit, kamu engga usah . Kalau aku sudah tiada siapa yang rawat anak-anak kita kalau kamu juga sakit. Bismillah sayang aku nikmati prosesnya. Apapun yang terjadi, kamu harus semangat yah membesarkan anak-anak kita"


"husstt! Jangan bicara sembarangan, kita merawat anak kita sama-sama saya yakin Allah pasti memberikan kekuatan kepada kamu yang berjuang melahirkan umat kekasih-Nya"


"Tapi berjanjilah untuk selalu menjadi Habibie yang aku kenal walaupun suatu saat nanti kamu tanpa aku"


deg!


" Sayangg!!! sholawat terus saja yah, tidak udah ngawur. Tidak boleh mendahului takdir, semua ada waktunya. lampunya sudah hijau sebentar lagi kita akan sampai. Yang kuat sayang"


"enggghhh... huhh..hahh...huuhh" Zahwa merasa pinggangnya patah dan dadanya terasa sesak. Matanya hampir saja tidak bisa ia buka.


Sepuluh menit kemudian mobil hitam mengkilap kini telah terparkir tepat di pintu rumah sakit. Perawat dari dalam dengan sigap membukakan pintu dan membawakan brankar pasien.


Akhtar membopong Zahwa dan membawanya ke ruang bersalin yang sudah di siapkan khusus untuknya.


"Enggghhhh....huhhhhfff"


Dokter dengan cepat bergerak mengambil alih melakukan pekerjaannya. Terlebih dahulu Dokter melakukan pengecekan terhadap Zahwa.


"Masih pembukaan keenam, Tuan!"


"Yankk.. sstt!!"

__ADS_1


"Tapi jika tidak di lahirkan secepatnya bisa berbahaya bagi si Ibu" pernyataan Dokter tersebut sontak membuat Akhtar terkejut


"La hawla quwata illa billah. Lantas bagaimana Dok? Lakukan yang terbaik"


"Pilihannya hanya ada dua. Kita lakukan operasi secepatnya untuk menyelamatkan ibu dan anak, atau masih menunggu pembukaannya hingga sempurna untuk persalinan normal. Namun, prediksi kami akan sangat beresiko jika istri anda melakukan persalinan normal melihat kondisinya yang sangat kritis, terlebih istri anda hendak melahirkan satu bayi tapi twins"


Mendengar penjelasan Dokter membuat Akhtar berfikir keras. Jauh sebelum ini Zahwa sudah bersikeras untuk tetap melahirkan secara normal. Namun mengingat keadaannya yang sepertinya tidak memungkinkan Akhtar tidak tega, ia juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada Zahwa.


"Ya Rabb" Akhtar mengusap wajahnya. Ia menoleh karena panggilan Zahwa. Setelahnya ia mendekat sambil menghapus peluh di wajah sang bidadari hati.


"Sayang.. kamu wanita kuat, kamu wanita terbaik saya. Saya mohon kali ini, turuti keinginan saya. Dokter mengatakan melahirkan secara normal sangat beresiko, saya akan selalu mendampingimu. Tapi jalan satu-satunya adalah operasi. Kamu bersedia kan? Melahirkan anak-anak kita dengan operasi?"


Zahwa menggeleng lemah " aku ga mau, selama kamu masih di samping ku InsyaaAllah Aku kuat. Aku tetap memilih lahiran normal"


"Yank.. mengertilah. Ini demi kebaikan kita semua. Saya tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu"


"Engga yank. Ridhoi aku untuk tetap lahiran normal. Bismillah aku bisa, demi anak-anak kita aku siap melakukan apapun"


Akhtar mendesah kecil, ia sudah tidak sanggup melihat wajah Zahwa yang seperti sangat kesakitan tapi ia tetap kekeuh melahirkan secara normal.


"Sayang.. melahirkan normal atau operasi itu tetap sama. Sama sakitnya, sama perjuangannya. Tetap akan menjadi ibu seutuhnya. Mau yah?"


"Yank..ssttt!! Aku mohon yang terakhir, aku ingin secara normal" putus Zahwa tak terbantahkan


Dengan berat hati Akhtar terpaksa mengiyakan keinginan Zahwa. Walaupun dari lubuk hati yang paling dalam ia sangat mengkhawatirkan keadaan Zahwa.


Sudah satu jam lebih menanti tapi pembukaan masih sama. Dengan setia dan sabar Akhtar menuntun Zahwa melakukan apapun yang di katakan dokter untuk mempercepat pembukaannya.


Berita persalinan Zahwa pun sudah sampai terdengar ke Indonesia. Seluruh keluarga Zahwa baik Akhtar yang harusnya berangkat ke Turki lima hari lagi, kini berusaha mencari penerbangan tercepat untuk sampai ke sana.


Seluruh keluarga meminta doa kemudahan untuk Zahwa yang sedang berjuang melahirkan keturunan mereka. Seluruh pesantren milik kedua keluarga ini melakukan gerakan doa dan sholawat bersama serentak.


"Ssttt...! Ya Allah.." Akhtar yang tengah membacakan ayat di ubun-ubun Zahwa seketika memencet tombol darurat.


Tak lama Dokter masuk bersama beberapa perawat yang akan membantunya. Akhtar yang deg degan terus berdoa begitu pun Zahwa yang terlihat lebih tenang sedangkan ia yang sedang mempertaruhkan nyawanya.


Dokter menyuruh nya untuk mengenjan, dengan seluruh tenaga yang ia miliki Zahwa mengenjan dan...


"Oeek....oekk....oek..." Suara tangisan bayi laki-laki menggelegar di seluruh ruangan membuat jantung keduanya berdetak tak karuan. Akhtar mendadak gugup setelah melihat putranya telah lahir ke dunia.


Air mata keduanya tak terbendung lagi, ketika tangisan itu terdengar.


"Allahu Akbar.. alhamdulillah.." Akhtar memeluk Zahwa dan memberikan kecupan betubi-tubi di wajahnya


"Terimakasih sayang kamu wanita hebat"


"Sama-sama sayang... Jaga anak kita ya.." jawab Zahwa yang semakin melemah


Akhtar memperhatikan putra nya yang sedang di kemas dan di bersihkan oleh perawat. Lalu kembali fokus pada Zahwa yang akan berjuang sekali lagi.


Dokter mendekat lalu berbicara hati-hati pada Akhtar " Tuan, kondisinya semakin lemah. Ia sudah kehilangan banyak darah dan sisa tenaganya belum tentu cukup untuk melahirkan anak kedua anda. Ini yang saya takutkan. Perkiraan kami sama seperti di awal hanya satu yang akan selamat setelah ini. Sisanya Hanya Allah yang tau"


Akhtar kembali mematung. Matanya memerah menatap Zahwa yang tampak sudah terkulai lemas tak berdaya. Dan wajahnya memang semakin pucat.


'ketakutan itupun saya rasakan. Ya Rabb jangan jadikan ini sebagai perjumpaan kami yang terakhir. Hamba masih ingin bersamanya. Berilah ia kekuatan untuk melanjutkan perjuangannya melahirkan keturunan hamba ya Rabb' batin Akhtar


"Tuan, putra anda sudah bisa di adzan kan" ucap salah seorang perawat sambil menunjuk kearah baby boy yang sudah dibedong.

__ADS_1


Akhtar melangkahkan kakinya menuju putranya, mengulurkan tangannya membawanya ke pelukannya. Setelahnya Akhtar mendekat kepada sang istri yang juga tengah menatap kearahnya.


Duduk di samping sang istri, Akhtar mengadzani sang putra dengan merdu dan syahdu. Bayi yang tadi rewel ingin didekapan Umma. Kini terdiam mendengar suara Abba yang amat merdu menyentuh hati.


'Allahu Akbar Allahu Akbar'


'Asyhadu Alla Ilaaha illallaah..Asyhadu Alla Ilaaha illallaah..'


'asyhadu anna muhammada rasulullah..asyhadu anna muhammada rasulullah'


'hayya 'Ala sholaah.. hayya 'Ala sholaah'


'hayya 'Ala falah.. hayya 'Ala falah'


'Allahu Akbar Allahu Akbar.. Laa Ilaaha illallaah'


Semua menitikkan air mata mendengar adzan yang dilantunkan oleh Akhtar. Hatinya yang penuh rasa syukur dengan tulus mengadzani sang putra yang telah dilahirkan oleh wanita hebat di sampingnya.


Usai urusan baby boy selesai, Zahwa tiba-tiba menjerit saat ia merasa perut bawahnya bagai digigit. Akhtar kembali deg-degan. Ia bersitatap dengan Dokter, sebelum Dokter menangani Zahwa kembali.


"Nona, apakah anda yakin mampu melakukannya?"


"Demi Anakku, Bismillah Aku pasti sanggup. Engghhh"


Akhtar mengangguk lemah, lalu menggenggam tangan Zahwa sekuat mungkin, Bibirnya menempel di kening yang dilapisi peluh.


"Bismillahiirrahmaaniirahiim.. La hawla ~ . Allahumma sholli 'Ala~"


"Enggghhhh... Huhh huuffft ENGGHHHHHH hh"


"Belum Nona, sedikit lagi ayo"


Dengan sisa tenaga yang tersisa Zahwa memberikan dorongan terkuat nya. Namun tetap gagal, kini ia telah tak bertenaga. Habis sudah kekuatannya.


"Sayang..sayang... Bangun..sayang..jangan tutup matamu sayang.. sayang..." Akhtar menepuk pipi Zahwa yang mulai menutup matanya.


"Istriku.. kamu pasti bisa. Hiks.. bangun sayang.."


"Suamiku.. aku sudah tidak sanggup lagi, mungkin ini usaha terakhirku, ku serahkan pada Allah" ujar Zahwa dengan nafas terengah-engah


"Eengghhhh!!" Zahwa mengenjan untuk yang terakhir kalinya sambil menjerit sekuat-kuatnya.


Tangisan bayi kembali menggelegar untuk yang kedua kalinya.


"Allah..." Setelah mengucap Zahwa menutup mata dan tak sadarkan diri


"Ya Rabb. Istriku..hikss..hiks"


...'Terimakasih telah membagi duniamu untuk hidup bersamaku. Telah merajut tali kasih dengan ku, hingga memberikan ku dua buah hati yang insyaaAllah jadi penolong kita di akhirat nanti. Tapi, mohon bertahanlah, sudilah engkau berjuang sekali lagi. Saya berharap kisah kita tidak sampai di sini' ...


...- Akhtar...


***


Besok ending yeay~


Boleh Kasih saran nama dong untuk sepasang twin nya Abba Akhtar dan Umma Zahwa

__ADS_1


Salam sayang 😸


__ADS_2