
"Dih.. tau apa kamu dek tentang beginian, anak kecil juga. Lah kamu,, ikatan cinta mu mana?" Ledek Azzam
Zahra mendengus lalu manyun menatap sebal pada Azzam.
" Kan katanya aku masih anak kecil" sindirnya dengan hati dongkol
"Ahahahaha"
"Huhh" Zahra menahan air matanya yang akan menganak
Sedangkan yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat mereka.
" Ra, setelah ini kamu mau nyambung kemana? Masa iya selamanya free kaya gini" tanya Zahwa
" Aduh Kakak.. aku tuh engga free free amat yah, aku masih ngajar anak TK tuh, masih jadi guru les privat anak komplek juga" jawab Zahra
Ya memang, setelah setengah tahun ia lulus, Zahra belum punya plan akan bagaimana kedepannya, tentu saja karena kemarin ia kira akan menikah ehh ternyata tidak jadi. Sekarang dia lebih santai dan menerima tawaran seorang kepala sekolah TK untuk menjadi salah satu pengajar abcd anak-anak di sekolahnya. Dan tentu saja ia menerimanya, ia juga suka dan dekat dengan anak-anak, ini pekerjaan yang menyenangkan baginya. Selain itu ..
"Lumayan kan, selain bisa main sama anak-anak dapet cuan jugaa.. aahahayy"
Itulah ucapannya dulu setelah ia menerima tawaran itu.
Dan tak lama setelah itu, ia di temui salah seorang orang tua siswa yang meminta Zahra agar menjadi guru les anak nya di rumah. Setelah ia pikir-pikir, dengan menggunakan otaknya yang IQ nya ya.... Lumayan. Ia menyetujuinya.
Dan syukurnya, sekarang sudah 10 anak yang ia bantu menggunakan kepintarannya, beruntung juga ia memiliki cara menjelaskan yang sangat mudah di pahami oleh anak-anak, maka dari itulah, ia di minta oleh beberapa orang tua untuk mengajari anaknya di rumah.
"Iyaa kakak tau, memangnya kamu tidak ada cita-cita gitu? Engga mau kuliah atau apa ?" Tanya Zahwa lagi
" Entah lah kak, aku sudah nyaman sama kerjaan aku yang sekarang. Aku cita-citanya memang jadi guru sih, Alhamdulillah.. sudah tercapai. Dan sekarang aku bingung mau ngejer apa lagi" ucap Zahra buntu
"Dik, walaupun cita-cita mu sudah tercapai, tapi pikirkan lagi. Apakah kamu hanya ingin sampai disini? Tidak ingin yang lebih tinggi lagi? Mungkin saat ini tidak ada yang terlintas di benak mu . Tapi sebelum tidur, coba pikir-pikir lagi, renungi lagi. Kira-kira apa tujuan mu setelah ini" ucap Akhtar memberi nasehat
Zahra menganggukkan kepalanya
"Iya Kak, akan Zahra lakukan itu.Terimakasih "
Akhtar mengangguk
"Atau kamu cari laki aja dek, nikah saja udah sana. Biar kamu ada kerjaan" celetuk Azzam membuat semua orang menggeleng
"Apaan sih Bang, tadi katanya masih kecil, sekarang di suruh nikah. Ga jelas banget. Niat bantu ga sih, calonnya siapa coba" gerutu Zahra menatap Azzam sebal
"Khem.. calon ya? Ada tuh yang kemarin" ucap Azzam tersenyum jahil
"Ha? Siapa tuh, ga ada Abang... Ih cariin sono"
"Ada loh Ra, yang kemarin itu"
" Yang mana Abang.. Zahra tuh ga pernah maen sama laki-laki.. kan Abang sama Ayah larang Zahra, gimana sih Abang"
" Ya iyalah Abang ga bolehin, entar khilaf dosa tau"
"Ihh ga gitu juga kali Bang"
__ADS_1
"Terserah dah, Abang punya calon"
"Siapa? Abang jangan aneh-aneh deh"
"Engga, kamu juga kenal kok"
"Siapa sih Bang??"
"Yang kemarin itu loh.. siapa sih namanya .. Wa, siapa itu yang kemarin di Rumah sakit, yang nolongin Zahra itu loh"
"Hah? Ustadz Fakhri? " " Kak Fakhri?"
Ucap Zahwa dan Zahwa bersamaan
" Nah itu... Dia , dia yang Abang maksud. Gimana Yah? Cocok ga? Menurut Ayah dia orang nya bagaimana?" Tanya Azzam ke Ayah Ali
" Hem... Baik, sopan, ramah juga" jawab Ayah Ali
"Nah tuh kan, Bunda gimana?"
"Orangnya baik kok"
"Khem.. gimana dek?? Bisa nih Abang contacts beliau" Tanya Azzam menaik turunkan alisnya
"Ihh..apaan sih Abang..emang Bunda sama Ayah ngebolehin.. ga tau Ah" jawab Zahra dengan wajah memerah, setelah itu ia berlari ke kamarnya.
Membuat semua orang tertawa dia salting sendiri.
"Oh iya nak, Bunda udah kirim nomor Dokter Andara ke hp kamu yah, dan kalian udah dapet antrian nomer 3, Bunda udah buat janji duluan. Besok kalian jangan lupa jam sembilan pagi ke rumah sakit Metta Medika yah"
"Iya Bunda nanti Wawa cek. terimakasih"
"Terimakasih Bunda, besok saya akan bawa Wawa ke rumah sakit" jawab Akhtar
***
Sedangkan di kamar Zahra
Ia sedang menatap Bintang di balkon kamarnya. Matanya berlinang akibat kilauan cahaya bulan yang menerpa wajahnya.
" Hufftt... Ya Allah, apa ini? Kenapa di saat aku sudah mulai melupakannya, justru Abang berniat mendekatkan ku dengannya" ucap Zahra merenung
Setelah beberapa saat, ia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Ia membuka laci nakasnya, lalu mengambil sesuatu di bawah tumpukan novelnya.
Ia menggenggam sebuah mainan kunci bayi mungil berwarna pink, yang sangat imut. Pemberian dari seseorang yang sangat ia rindukan.
" Hay kakak... siapa pun kamu, aku ingin bertemu dengan mu lagi" ucapnya tak sadar menitikan air mata.
***
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain , seseorang tengah menatap sebuah buku agenda. Yaa buku agenda, tapi isinya bukan agenda melainkan curahan hatinya.
Dengan hati yang deg-degan ia membuka buku tersebut. Menyapu lembar pertama yang kosong. lalu berhenti di lembar kedua
Membaca sebuah judul yang ia tulis indah.
"TAJWID CINTA"
Senyum kecil terukir di bibirnya, siap-siap membuka halaman selanjutnya.
Srekk..
Saat pertama kali ku berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah, hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar. Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara Idgham Bilaghunnah, terlihat tapi dianggap tak ada. Aku tidak mampu mengunngkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang.
Jika Mim mati bertemu Ba itu disebut Ikhfa Syafawi, maka aku bertemu dirimu itu disebut cinta. Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain, melebur jadi satu.
Ia menutup mulutnya dengan salah satu kepalan tangannya, tidak habis fikir atas tulisannya sendiri.
Sreeekk... ia membalik halaman berikutnya
Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttashil dan Mad Jaiz Munfashil, paling panjang diantara yang lainnya. Setelah dikau terima cintaku nanti hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro, terpantul dengan keras. Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab ditandai dengan dua hati yang menyatu.
Sayangku padamu seperti Mad Thobi’i dalam al-Qur’an, sangat banyak. Semoga dalam menjalin hubungan kita seperti Idgham Bilaghunnnah, hanya berdua , Lam dan Ra yaitu Aku dan kamu.
Ia merenungi setiap kata yang ia tulis, setelah itu ia memikirkan satu nama yang ia ingat saat menulis bait-bait ini.
Sreekk... ia membuka halaman selanjutnya
Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya, dia atau aku. Meski perhatianku padamu ga terlihat, seperti Alif Lam Syamsiyah. Namun cintaku padamu seperti Alif Lam Qomariyah terbaca jelas.
Kau dan Aku juga seperti Idghom Mutaqooribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya. Aku pun harap cinta kita seperti Waqaf Lazim, terhenti sempurna di akhir hayat. Sama halnya dengan Mad ‘arid, dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti. Seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.
Merasa malu sendiri saat membaca karyanya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu tertawa geli.
Sreekk... halaman berikutnya
Layaknya huruf Tafkhim, namamu tercetak tebal di dalam Qalbuku dan Fikiranku. Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ra’ saja, begitu juga aku hanya untuk dikau semata. Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu..dan dikau yang terakhir untuk ku ya seperti Mad Aridh lisukun... Aamiin🤲🏻
"aamiin" ucapnya mengangkat tangannya membaca tulisan akhirnya. Karen halaman selanjutnya kosong.
"Syifa" gumamnya membaca sudut kanan bawah di setiap halamannya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas mengingat pemilik nama tersebut.
"Jika jodoh dekatkanlah, jika tidak berilah hamba sebaik-baik jodoh pilihanmu ya Rabb" Do'a nya selepas melaksanakan sholat sunnah. Lalu dilanjut dengan dzikir panjangnya.
Siapakah dia?????
****
Hayoo Bunda sama Ayah ngizinin Zahra nikah ga?
Zahra rindu sama siapa ya kira-kira???
Jangan lupa tinggalin jejaknya yaaa✨
__ADS_1