
***
"TIDAKK...!!!! KALIAN YANG SALAH..TIDAK ADA YANG SALAH...aku yang di khitbah bukan Kak Wawa...BUKANN..."
"AKU tidak akan melepaskannya. Aku ingin tetap menikah dengannya. Jangan kalian halangi aku. Aku lah yang di KHITBAH. Bukan DIAAA"
"Ini SALAH KHITBAH Zahra..."
"TIDAAKK!!!!"
"Zahra!" Ucap Azzam keras
"Azzam!" Ucap Bunda balas membentak Azzam.
Sudah ia duga akan seperti ini. Ia pergi meninggalkan mereka berdua dengan perasaan kesal, kecewa, sesak dan dongkol.
"Bunda...huhuhuhu...hiks..aku ga mau Bunda..aku ga mau...huhuhuhu..."
Bunda Fatimah mendekat dan memeluk Zahra yang luruh di lantai
"Aku yang di minta Bunda...bukan Kak Wawa Bunda...huhuhu...bukan diaaa....huhuhuhu"
"Sudah..sudah...sini" Bunda Fatimah menuntunnya duduk di pinggir ranjang.
"Zahra...kamu tau... Kak Wawa mendapat surat dari seseorang" Zahra mendongak
"Isinya menyatakan bahwa si pengirim surat mencintai Kak Wawa. Dan ia meminta Kak Wawa agar mau menunggunya selama ia sedang study ke luar negri"
"Orang itu juga sama halnya seperti Kak Wawa yang menunggu. Ia juga tak sabar menanti kapan agar study nya cepat selesai dan agar ia bisa pulang lalu mengkhitbah Kak Wawa secepatnya. Seperti janjinya ia tulis di dalam surat tersebut" jelas Bunda Fatimah.
"Lalu ? Kemana dia sekarang? Harusnya dia menikah dengan Kak Wawa di sini sekarang! Dan bukan malah membatalkan khitbah ku dengan Kak Fatih dengan menukar diriku dengan nya..huhuhu...tidakk"
"Zahra..a-anak Bunda..." Bunda Fatimah menguatkan dirinya untuk mengatakan hal yang mungkin sangat menyesalkan untuk Zahra
"Apa lagi Bund...kalian semua jahattt" teriaknya tidak jelas.
"Zahra...dengarkan Bunda. Se- sebenarnya... Sebenarnya... Lelaki itu adalah Fatih nak.."
PRANG....
Handphone yang ia genggam jatuh hancur di lantai. Bak disambar petir di siang bolong tubuhnya membeku seketika.
Tenggorokannya tercekat, tidak mampu ia mengeluarkan kata-kata lagi. Seakan ada yang melempar timah panas padanya hingga sampai menembus jantungnya.
Ia berdiri dan berlari dengan kencang ke kamarnya.
BLAM! Pintu kamar di banting kuat. Ia menangis terisak di kamarnya. Semua barang-barang yang ada di meja riasnya sudah menjadi korban amarahnya di lantai. Banyak kepingan-kepingan kaca bertebaran di lantainya. Ia membuka paksa jilbabnya dan menjambak rambutnya kuat.
***
Saat makan malam
Suasana hening menyapa, tidak ada yang saling bicara. Hanya dentingan sendok yang terdengar bersahutan.
Jika biasanya makan malam di hiasi dengan canda tawa kini Susana mencekam menggantikannya.
Setelah makan malam, semua orang kembali ke kamar masing-masing.
***
"Assalamu'alaikum.."
"Wa- "
"Ya Allah..Alhamdulillah...anak Ummah sudah pulang..."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
"Ayo masuk nak"
Ummah membimbing Fatih masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kenapa tidak mengabari ingin pulang?" Tanya Abi Sam yang entah kapan sudah duduk di hadapannya. Ia menyalami kedua orang tuanya.
"Fatih.."
"Fatih tau Ummah..."
"Jelaskan apa maksud mu di telpon kemarin"ucap Ummah to the point
"Apa benar Abi dan Ummah sudah mengkhitbah seorang gadis untuk ku?"
"Ya benar, kami telah mengkhitbah Zahra untuk mu"
"Itulah kesalahannya Ummah.."
"Apa maksud mu Fatih" tanya Abi Sam
"Gadis yang Fatih maksud itu Zahwa bukan Zahra" ucap Fatih menunduk
"Bagaiamana mungkin? Tapi di sana hanya ada seorang gadis ialah Zahra" jawab Ummah
Fatih menggeleng
"Abi...sebenarnya berapa anak nya mbak Fatimah..???" Tanya Ummah gusar.
"Yang aku tau ada dua. Azzam dan seorang gadis kecil yang dulu pernah aku temui di perusahaan Ali. Aku lupa nama bahkan wajahnya, karena ia sangat menjaga pandangannya, ia hanya menunduk. Tapi wajah Zahra sedikit membuat bayang-bayang wajah gadis utu melintas di pikiranku. Aku juga sedikit tidak yakin, bagaimana mungkin dulu seorang gadis kalem tiba ketemu besarnya berbanding terbalik. Pasti ada sesuatu ini." Batin Abi Sam
Tok..tok..tok...
"Abi..ada yang datang" ucap Ummah membuyarkan lamunan Abi Sam.
"Abi akan menelpon Ali"
"Iya nanti dulu, tetapi terlebih dahulu buka dulu pintunya ada yang dateng" ucap Ummah lembut
Abi Sam beranjak dari tempat duduknya. Ia membuka pintu serta menjawab salamnya
Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang datang.
"Ma-mari masuk" ucap Abi Sam mempersilahkan Ayah Ali masuk ke dalam.
Masih di tengah keterkejutan. Ummah dan Fatih juga kaget melihat orang yang baru saja mereka bicarakan sudah berada di depan mata.
"Panjang umur, aamiin" gumam mereka bersamaan
Ayah Ali di persilahkan duduk. Ia terperangah melihat Fatih sudah ada di Indonesia.
"Om.." Fatih menyalim tangan Ayah Ali
"Ali.." " Sam.."
Abi Sam dan Ayah Ali memanggil bersamaan
"Duluan saja" ucap Abi Sam.
"Kedatangan ku ke sini, ingin mempertanyakan kembali keputusan kalian. Bukan aku tak percaya pada kalian hanya saja ada sesuatu yang sangat mengganjal di hati ku. Apakah memang kalian serius menginginkan putri ku?" ungkap Ayah Ali.
"Sebelum kami menjawab pertanyaan 'mu. Ada juga hal yang ingin aku tanyakan dan harus kau jawab sekarang. Ini sangat penting" ucap Abi Sam. Tidak peduli, ini saat nya terang-terangan, agar semua jelas dan tau tujuan sebenarnya.
"Apa?" Ayah Ali di landa rasa penasaran. Padahal saat pertemuan pertama mereka tidak ada tanya jawab se intens ini.
"Apakah kau memiliki seorang putri lagi?"
Pertanyaan itu membuat hati kecil Ayah Ali bagaikan di cubit kecil. Pasalnya Zahwa tidak ada bicara sepatah kata pun mengenai rencana pernikahan ini.
Entah apa yang ia pikirkan, Zahwa hanya diam dengan perasaanya. Justru itu adalah suatu hal yang aneh bagi Ayah Ali. Biasanya ia akan langsung berterus terang atau menanyakannya secara pribadi. Namun, ini? Tidak ada.
Ia tu pasti ada rasa sakit dan kecewa pada Zahwa. Ia pasti sedih, jika Zahra mendahuluinya. Karena itulah ia datang ke sini, untuk memastikan kembali. Pasalnya, di awal ia mengira kalau mereka datang ingin mengkhitbah Zahwa tetapi yang terjadi bukan seperti yang ia pikirkan.
"Ali.." panggil Abi Sam. Lamunannya lenyap seketika di balas dengan anggukan kecil sebagai jawaban.
"Bisa kau jelaskan?" Pinta Abi Sam. Tampaknya ia tak ingin lagi bertele-tele.
__ADS_1
"Setelah Azzam lahir, lima tahun kemudian dia hadir ke dunia melengkapi kebahagiaan kami. Dia lah Wawa, gadis yang jatuh saat kau datang ke perusahaan dulu beberapa tahun lalu" ucap Ayah Ali.
"MasyaaAllah..gadis ya-yang..."
"Iya benar, dia yang saat itu tidak mau membuka kaos kaki nya di hadapanmu. Makanya Azzam mengajaknya ke mobil" jelas Ayah Ali
"Ma syaa Allah..."
"Fatih..apakah dia gadis yang...Kau ceritakan pada Ummah?"
"Iya Ummah. Fatih lah yang bertabrakan dengannya di taman perusahaan dulu"
"Benar itu Ali?"
"Aku tidak tau pasti siapa yang ia tabrak dulu. Namun, jelasnya Wawa adalah Kakak nya Zahra. Dia anak kedua kami. Zahwa Mary Equeena"
Deg..deg...deg..deg...deg..deg...
Jantung Fatih selalu berdebar saat mendengar namanya.
Fatih menunduk dalam seraya memejamkan matanya. (Hening cipta Kang?)
Ayah Ali melirik Fatih yang duduk di sebelah Ummah. Abi dan Ummah saling bersitatap
"Be-be-berarti...ki-ki-kita..salah khitbah Abi.." lirih Ummah
"Awalnya aku juga kaget kalian ingin mengkhitbah Zahra, kecewa memang. Namun apa boleh buat, kalian sudah memilih. Aku berharapnya Zahwa bukan Zahra" ujar Ayah Ali
"Lalu dimana Zahwa saat kami datang kemarin?" Tanya Abi Sam
"Dia pergi ke rumah Azzam. Saat libur kemarin dia tidak ke rumah tapi ke rumah Azzam. Ia rindu pada Humaira katanya. Itu lah sebebnya mengapa ia tidak ada saat kalian datang" jelas Ayah Ali
"Astaghfirullahal'adziim.."
"Om..se-sebenarnya.. Fatih pernah memberikan surat pada putri Om. Sebelum Fatih berangkat ke Kairo dua tahun lalu, Fatih menuliskan jika Fatih akan mengkhitbahnya setelah study Fatih selesai. Dan saat ingin pulang enam bulan yang lalu ada kendala yang mengharuskan Fatih menetap di sana enam bulan lagi. Itulah sebabnya, Fatih kembali sekarang. Dan saat kepulangan Fatih, Abi dan Ummah sudah mengkhitbah putri Om. persis seperti yang Fatih katakan agar mengkhitbahkan putri Om untuk Fatih. Tapi Zahwa bukan Zahra" ucap Fatih menceritakan semua yang ia alami.
"Ya Allah..Wawa..." Lirih Ayah Ali mendengar bahwa selama ini putri nya menunggu dan menanti.
"Jadi selama ini Wawa bersedia menunggu. Wawa..."
"Begitulah Om"
"Tapi Zahra juga mencintaimu dan dia langsung menerima khitbah itu kemarin. Bagaiamana jika ia mengetahui hal ini"
"Zahwa..Zahra aku tidak bisa membedakan mereka karena ada kemiripan di wajah mereka. Dan Zahwa kecil sangat menjaga pandangannya hingga aku tidak dapat mengenali wajahnya lagi. Padahal dulu aku juga berencana menjodohkannya Fatih dengannya" sambung Abi Sam.
Semua menatap ke arahnya.
.
.
.
.
MAU DI LANJUTT GA NIH??
KALAU LANJUT TAU DONG HARUS NGAPAIN YA KAN! KENCENGIN
LIKE
KOMEN
KOPI MA KEMBANGNYA YA...
KALAU BANYAK NANTI UP SATU LAGI.
SELAMAT MENUNGGU....BUDAYAKAN LIKE SEBELUM ATAU SESUDAH MEMBACA🌻
Tabarakallah💙
__ADS_1