
Di tempat lain, Dua keluarga tengah berbincang tentang pernikahan yang nanti akan di laksanakan. Percakapan serius mereka harus di hentikan oleh ketukan pintu dari luar.
Ayah Ali beranjak melihat siapa yang datang. Sedikit heran Ayah Ali bertanya alasan kedatangan sekretarisnya ke rumah di hari liburnya.
"Pak.. ini sangat penting. Tidak bisakah kita berbicara bersama anggota keluarga lainnya?"
"Maaf Rud, tapi sekarang saya juga sedang ada tamu. Keluarga Fakhri datang untuk membicarakan rencana pernikahan Zahra dan Fakhri. Sepenting apa hal yang ingin kau bicarakan sampai-sampai kau seserius ini? Tidak bisakah nanti saja setelah mereka pulang, Rud?"
"Pak.. ini tentang putri dan menantu anda" final Rudi berhasil membungkam Ayah Ali
"Baiklah ayo masuk" ucap Ayah Ali mendadak tidak enak
" Maaf semuanya.. perkenalkan ini sekretaris saya namanya Rudi. Katanya Rudi ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting. Jadi maaf bila mengganggu sebentar" ucap Ayah Ali
"Tidak apa-apa Pak" ucap Ibu Fakhri tidak keberatan sama sekali
"Sekali lagi maaf Pak.. Ibu.. saya ingin menyampaikan informasi yang akan membuat semua terkejut. Tentang- Nona Zahwa dan Suaminya"
"Kenapa Rud? Ada apa dengan mereka?" Tanya Bunda Fatimah juga mendadak sesak
"Kemarin dini hari menantu anda mengalami kecelakaan dan sekarang di nyatakan koma" semua orang menahan nafas syok ketika Rudi menjeda ucapannya
"Dan.. saat ini Nona Akhtar di bantu oleh Pak Bathur beserta istrinya Geza, selaku sekretaris Akhtar. Mereka yang menemani Nona Zahwa dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Nona Zahwa sempat pingsan dan drop beberapa waktu sebelum Akhtar di operasi. Dan kini ia masih menetap di ruang rawat VVIP Akhtar, belum ada niatan untuk pulang ke rumah " jelas Rdi panjang lebar
BRUK!
Tubuh Bunda Fatimah seketika ambruk ke lantai.
" Bunda!!!" Pekik Zahra "Ya Allah.. Bu Fatimah.." Ibu Fakhri ikut mengahampiri Bunda Fatimah
Mendengar berita ini juga cukup mengguncanghati dan pikitan mereka semua. Bahkan Fakhri pun tidak dapat berkata-kata. Jujur saja ia dapat membayangkan kesedihan Zahwa saat ini, karena ia dan Zahwa juga Akhtar mempunyai cerita saat di pondok dulu. Pikirannya melayang kepada Umi Alya dan Buya. Sepertinya mereka lebih dulu tau akan hal ini. Tetapi tidak sanggup memberitau sendiri ke keluarga besannya. Karena mereka juga sedang di landa kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
Mengerti keadaan, mereka pamit pulang. Dan mengatakan untuk sementara rencana pernikahan mereka di undur sampai waktu yang belum di tentukan. Keadaan belum stabil, tidak mungkin mereka melakukan acara di saat salah satu anggota keluarga mereka sedang dalam musibah. Dan ini adalah kesepakatan bersama. Tidak dari satu belah pihak saja.
Mereka memutuskan ini dengan hati yang lapang dan ikhlas. Tidak dapat di bayangkan jika mereka yang berada di posisi mereka saat ini
Setelah keluarga Fakhri pulang. Bunda Fatimah di pindahkan ke kamar dan terus mencoba menyadarkannya.
Azzam yang memiliki perasaan tidak enak dari kemarin, memutuskan berangkat dari kota sebelah menuju rumah Syeena. Di dalam perjalanan, Helwa terus berusaha menenangkan suaminya.
Satu tangannya terus menggenggam tangan Azzam selama perjalanan. Sesampainya di rumah Syeena, Azzam langsung menerobos masuk ke rumah yang kelihatan sunyi.
"Assalamu'alaikum..Bunda.. Ayah... Zahra.." panggil Azzam terus masuk lebih dalam dan langkahnya terhenti ketika mendengar suara tangisan yang sangat pilu dari kamar orang tuanya.
"Yank.." sahut Helwa dari belakang dengan nafas memburu. Dia ketinggalan di belakang, tidak sanggup mengimbangi langkah kaki Azzam yang berjalan cepat.
"Hiks..hiks.." tangisan itu di dengan juga oleh helwa
"Maaf" setelah mengatakannya Azzam menarik tangan Helwa ke kamar orang tua mereka
Ternyata pintunya hanya tertutup setengah,
Azzam membuka pintu sembari mengucap salam " assalamu'alaikum.. Ayah.. Bun- " tanpa banyak kata Azzam menyerahkan Humaira kepada Helwa dan duduk di samping Bunda Fatimah yang sedang menangis
"Ada apa ini??" Tanya Azzam to the point
Ayah Ali menceritakan semuanya pada Azzam. Hati Azzam bagai di iris-iris mendengar berita tentang adiknya.
"Aarrgghhh..." Keluh Azzam menjambak rambutnya. Ia sangat kesal, di saat seperti ini justru penerbangan di tutup sehingga ia tidak bisa terbang kesana menyusul Zahwa. Adik ya tersayang, sedang menerima cobaan yang berat.
Azzam berjalan cepat ke arah jendela saat merasakan air matanya akan menetes. Ia tidak ingin menampakkan kelemahannya di depan keluarganya.
"Wawa... Adikku.."
__ADS_1
...***...
Kembali kepada Zahwa. Hari ini ia memutuskan untuk pulang ke rumah. setelah tiga hari di rumah sakit, membuat ia merasa banyak hal yang harus ia urus. Hatinya sudah lebih tabah sedikit dari kemarin.
Ia di antarkan oleh Pak Bathur juga Ibu Geza pulang ke rumah. Setelah itu mereka juga pulang ke rumah mereka. Dan Akhtar mereka tinggalkan kepada beberapa perawat yang mereka minta untuk menjaga Akhtar selama mereka tidak ada.
Sesampainya di rumah, Zahwa langsung membersihkan badannya, lalu mengambil tas besar dan mengemas barang-barangnya. Tas
ini yang akan ia bawa selalu kemana mana.
Zahwa turun ke dapur dan membuat makanan untuk dirinya sendiri. Jujur saja, ia tidak berselera makan di Rumah Sakit. Entah karena apa, ia tidak mengerti.
Hatinya teremat saat ia duduk makan seorang diri di rumah yang besar itu. Kenangan bersama Akhtar sebelum musibah ini membuat Zahwa selalu terbayang-bayang di setiap sudut rumah.
Setelah membersihkan alat makannya, Zahwa memberanikan diri masuk ke dalam ruang kerja Akhtar.
Ia melihat ada beberapa rak berkas-berkas yang di beri nama di atasnya sesuai dengan tempat kepemilikannya. Ia mempelajari semuanya dan melihat berapa pekerjaan Akhtar yang berjalan saat ini.
"jika bukan aku siapa lagi?" pikirnya sambil terus mempelajari tumpukan berkas-berkas itu.
Sampai tengah malam Zahwa masih berasa di ruang kerja Akhtar, matanya tidak bisa terpejam sedikitpun.
Khawatir dengan kesehatannya akan mempengaruhi bayinya. Zahwa merapikan semuanya kembali dan masuk ke kamar, memejamkan mata memaksakan matanya untuk tidur.
Benar saja, wanita malang itu tertidur pulas. Ia yang memaksakan dirinya untuk kuat padahal tubuhnya lelah dan letih. sebenarnya ia ingin istirahat dengan tenang. Namun keadaan memaksanya untuk menjadi wanita yang kuat.
Bahkan sangking lelahnya, terdengar dengkuran halus di sela tidurnya.
Selamat tidur Bumil cantik, siapkan dirimu untuk menjalani hari esok *
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak ...
...Terimakasih ...