Salah Khitbah

Salah Khitbah
44. SK : ORANG SABAR DIKASIH JODOH


__ADS_3

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, para readers SALAH KHITBAH. Setelah cerita ini tamat akan ana revisi lagi yak, karena masih banyak typo dan kesalahan-kesalahan lainnya. Apalagi bab semalem banyak typo dan kalimat tidak jelas, karena nulis nya sambil nahan kantuk, beberapa lagi merem trus bangun lagi, gitu mulu. Untuk itu tetap dukung Author dengan like, komen,rate 5 nya yah. Bagi kembang atau kopi juga dong...tenang...ana ga minta vote kok cuma itu doang. Ana sadar cerita ana tak sebagus yang lain, jadi pergunakan saja vote itu untuk karya yang memang bagus dan keren bagi kalian. Okee🙈


...SELAMAT MEMBACA...


***


Tiba-tiba Linda dan Dini datang menghampirinya nya dan mengagetkannya dari jarak yang dekat. membuat ia terlihat kaget. Buru-buru ia menyembunyikan surat itu dan tanpa sadar ia masukkan ke dalam kopernya.


"Zah.."


"I-iya ada apa?" Ucap Zahwa yang masih menetralkan detak jantungnya. Ah...seperti orang yang ketangkap basah sedang mencuri saja.


" Yok ke Masjid, kita sholat dulu. Abis itu makan bakso yuk?" Ucap Linda


"Afwan, ana lagi haid. Setelah antuma selesai sholat kita akan pergi makan bakso" ucap Zahwa


"Ya khayr" jawab mereka kompak


"Oh..iya. Anti mau minggat Zah?" Tanya Dini


"La ( tidak)"


"Lalu?"


"Ana akan pergi ke rumah Bang Azzam, liburan ini"


"Wah..anti ke kota P ?"


"Na'am, ana tidak ke rumah tetapi langsung ke kota P" jelas Zahwa


"Ooooo" Linda dan Dini membentuk mulut mereka seperti huruf O


"Bulat"


"Petak"


"Sembarang"


"Ayo pergi" stop Dini. Lalu mereka meninggalkan Zahwa yang masih sibuk dengan barang-barangnya.


Setelah selesai , Zahwa pergi ke tempat ekskul Da'i. Ia melihat banyak adik-adik santri yang sedang belajar dakwah disana. Senyumnya merekah melihat semangat lara Santri tersebut. Sungguh sangat memuaskan sekali penampilannya.


Tak jauh dari tempatnya berada. Zahwa mendekati sebuah pondok latihan Hadroh. Ia melihat kelincahan dan kekompakan sebuah grup tersebut dalam memainkan alat masing-masing. Tak ada yang menyadari keadaannya, hingga mereka terus bersholawat tanpa menyadari Istadzah mereka sedang ada di belakang mereka.


Sifat mereka seperti Dini dan Linda yang terkesan ceria, periang dan...bar-bar. lihat saja, mereka nukannya lanjut latihan malah tertawa bersama saling mengejek satu dengan yang lainnya karena ada diantara mereka yang sudaranya melencing saat bernyanyi. Melihat tawa mereka, Zahwa hanya menggelengkan kepala ya dan berniat meninggalkan tempat itu.


Belum sempat ia berbalik sempurna. Ia sudah di panggil oleh seseorang yang sangat ia kenali suaranya. Ia lah Ustadzah Rifa.


"Na..sini" panggil nya. Sontak Zahwa berbalik


"Ya khayr Ustadzah"


" Mari sini..." Ucap Ustadzah Rifa mengayunkan tangannya.


"Anti kan suaranya bagus, yok kita dengerin Ustadzah Na nyanyi. Kelompok C yang iringi nya ya. Bagaiamana setuju?" ucap Ustadzah Rifa


"Setujuu!!" Seru mereka semua.


"Eh- suara ana biasa saja. Lebih bagus Ustadzah kok" ucap Zahwa


"Ah..tidak. Ayo Na, mulai"


Akhirnya ia mengalah dan duduk di antara para pemain lainnya.

__ADS_1


Kali ini ia membawakan lagu 'Man Ana'


Man Ana memiliki arti "siapa diriku". Lirik lagu ini berasal dari sholawat yang menceritakan bagaimana seseorang jika tanpa jasa dan bimbingan yang diberikan oleh sosok guru serta ungkapan rasa cinta kepada sang guru.


Zahwa menarik nafasnya sejenak lalu membuangnya pelan.


"Bismillah


Man ana man ana, man ana laulaakum


Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum {2x}


Maa siwaaya wa laa ghoirokum siwaakum


Laa wa man fiil mahabbah ‘alayya wulaakum


Antum antum muroodii wa antum qoshdii


Laisa ahadun fiil mahabbati siwaakum ‘indii


Man ana man ana, man ana laulaakum


Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum{2x}


Kullamaa zaadanii fii hawaakum wajdii


Qultu yaa saadatii muhjatii tafdaakum


Lau qotho’tum wariidii bihaddi maadlii


Qultu wallaahi ana fii hawaakum roodlii


Man ana man ana, man ana laulaakum


Kaifa maa....ahwa..√√√ kum..."


Zahwa menutup kalimat terakhirnya dengan tempo lambat di iringi cengkok andalannya.


'haaah...'


"Prok....prok..prok..." Tepuk tangan menggema di pondok tersebut. Memang suara Zahwa tidak di ragukan lagi.


"Ma syaa Allah...Ma syaa Allah...Ma syaa Allah...." Kalimat pujian terus mereka lontarkan pada Zahwa karena suaranya yang mampu menembus qalbu mereka. Zahwa menanggapinya hanya dengan tersenyum.


"Tuh..kan bener....anti suaranya itu bagus..ma syaa Allah..." Ucap Ustadzah Rifa membuat Zahwa tersipu malu.


"Sungguh beruntung yangakan menjadi suami anti nanti" ucap salah satu dari mereka. Mendengar itu sontak Zahwa menjadi sendu kembali. Entah lah kepastian tak kunjung ia dapatkan.


Zahwa menunduk, ia meremas jari-jarinya. Saat melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Matanya membulat sudah lima belas menit. Dari waktu selesai sholat, itu artinya Linda dan Dini sudah menunggu dan pasti sedang mencarinya.


"Syukron atas ajakannya, ana sedang terburu-buru. Ana pamit ya...Ustadzah...Assalamu'alaikum" pamit Zahwa langsung pergi ke Asrama.


Sesampainya di sana Ia tak melihat keberadaan kedua makhluk tuhan itu. Ia mencarinya ke gerbang dan benar mereka menunggunya di sana dengan tatapan tajam mereka.


***


Kini Zahwa sedang berada di bandara. Ia sudah sampai di kota P tempat tinggal Bang Aazam dan kakak iparnya Helwa. Bang Azzam mengurus salah satu cabang perusahaan Ayah Ali di kota P tersebut dan kebetulan rumah lama nya Helwa peninggalan orang tuanya juga tak jauh dari kota dan tak sampai masuk ke pedalaman.


Zahwa beberapa kali menguap dari balik Niqab nya. Agaknya ia kurang puas saat tidur di pesawat tadi. Ia mengeluarkan ponsel nya dan menekan panggilan darurat yang sudah ia atur dengan huruf tertentu untuk no Azzam.


"Assalamu'alaikum...Abang.." ucap Zahwa menempelkan hp di telinganya


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" ucap seseorang dari belakangnya membuat ia langsung berbalik.

__ADS_1


GREB !


Ia memeluk Azzam di tengah keramaian. Banyak yang memeperhatikan mereka. Membuat Azzam tekekeh geli dengan sikap Zahwa yang masih saja sama seperti Zahwa kecil.


"Dek..." Ucap Azzam lembut.


"Eh..Astaghfirullah.." ucap Zahwa sontak melepas pelukannya dan bersembunyi di belakang Azzam.


"Ehehehe, udah..sini. Gapapa, ayo kita pergi" Azzam menarik tangan Zahwa dan satu tangannya lagi menarik koper Zahwa.


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit. Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah minimalis ber cat putih dan coklat. Zahwa turun begitu juga dengan Azzam, ia menyeret koper Azzam dari belakang.


"Assalamu'alaikum"


Tok..tok..tok...


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" ucap sebuah suara lembut seseorang dari balik pintu.


Tak lama pintu terbuka.


Ceklek~


Nampak lah seorang wanita cantik yang sudah menyambut mereka.


"Aaa...Zahwa.." ucap Helwa


"Iya...Ka" jawab Zahwa tersenyum lalu menyalim Helwa, setelah itu mereka berpelukan. Melupakan seseorang yang sejak tadi di anggurin.


"Khemm.." dehem Azzam sambil menatap langit-langit teras


"Eh astaghfirullah...maaf Abi.." Helwa buru-buru mendekati Azzam dan meraih tangan Azzam dan menciumnya.


Azzam pura-pura ngambek tak membalas perlakuan Helwa, membuat Helwa gusar.


"Abi..maaf.." bujuk Helwa dengan puppy eyes nya. Azzam melihat itu ingin sekali tertawa tapu ia tahan.


"Abiii..ii.ii" rengek Helwa kembali


"Ihh...Abii.." Helwa mengerucutkan bibirnya dan dahinya berkerut


"Ahahahahah, iya iyaa, sini" ucap Azzam akhirnya tak bisa menahan tawanya. Setelah itu ia menarik Helwa dalam pelukannya dan mengecup keningnya.


"Maaf juga istriku..makanya kalau suami dateng langsung di salim jangan di anggurin"


"Iya, janji engga lagi" ucap Helwa tersenyum manis.


Mereka saling tatap dengan Helwa masih dalam kukungan Azzam.


"Khemm...Ya Allah...sabar. Orang sabar di kasih jodoh. Humaira....aunty minta minum dong... Di sini panas" ucap Zahwa mengibas-ngibaskan tangannya.


.


.


.


.


.


.


jejaknya jangan tinggal yaa.

__ADS_1


__ADS_2