
S E L A M A T M E M B A C A
***
"Iya, Om. Zahra terima" ucapnya bersemu merah
"Alhamdulillah..." Ucap syukur kedua pasangan paruh baya itu.
"Zahra!" Desis Ayah Ali pelan. Hatinya menolak untuk ini namun karena mereka masih memiliki tamu maka ia tahan
Setelah berbincang-bincang mengenai pertemua selanjutnya. Mereka pulang dengan gurat kebahagiaan. Tanpa mereka sadari malah justru kesedihan bagi anaknya.
Setelah Abi dan Ummah sudah pergi, Ayah Ali langsung menutup pintu. Dan memejamkan matanya. Sedangkan Zahra, sudah terlebih dahulu lari ke kamarnya dengan perasaan bahagia.
Bunda Fatimah memanggil bibi untuk membantu membereskan sisa jamuan tadi dan segera menyusul ayah Ali yang sudah berlalu ke kmar mereka.
Bunda Fatimah duduk di samping Ayah Ali. Dan mengusap pundaknya pelan.
"Bunda...." Ucap Ayah Ali pelan
"Cepat beritahu Azzam, Bund.." lirihnya. Ia tidak tau harus berbicara apa lagi.
Bunda Fatimah yang masih syok langsung saja men-dial no Azzam.
Azzam yang mendengar itu sangat terpukul. Ia ingin memberitau sesuatu, tapi karena keadaannya sangat kacau, ia tahan hingga nanti ia bisa berbicara langsung saat mereka sudah bertemu.
Setelah selesai menerima telpon dari Bunda Fatimah. Ia keluar dari kamar dan melihat Zahwa sedang tertawa bahagia bersama Humaira membuat hatinya bagai di kikis.
Dari sekian banyak pria yang ingin mengajak Zahra ta'aruf hingga menikah semua ia tolak, mengapa kali ini ia langsung menyetujuinya.
"Dek..Abang ga sanggup jika besok tawa mu itu berganti menjadi tangisan luka" batin Azzam sendu
FLASHBACK OFF
***
Kini keadaan Zahwa sudah mulai membaik. Ia sudah mau bicara banyak walau hanya seperlunya saja.
Azzam masuk ke kamar Zahwa, ia sedang berdzikir dan muraja'ah hafalannya di atas ranjangnya. Masih dengan mukena yang melekat di kepalanya.
Ia duduk di sampingnya dan mengelus puncak kepalanya
"Dek..." Panggil Azzam. Ia melihat mata Zahwa basah.
"Kamu menangis?" Tanya Azzam. Dengan cepat Zahwa menggeleng.
"Tidak"
"Lah itu?"
__ADS_1
"Kelilipan, tadi Wawa belum sapu kamarnya jadi debu tadi pagi masih bertebaran" alibi Zahwa
Azzam tau dia berbohong, karena saat ingin mengambil minum ke dapur ia melihat Zahwa menyapu dan mengepel lantai kamarnya. Tidak mungkin seorang Zahwa betah dengan debu barang hanya sedikit, tidak. Ia adalah orang yang sangat menjaga kebersihan.
Mereka sama-sama diam.
"Dek..Zahra....Zahra...Kita akan pulang ke rum--- "
"Mengapa Abang tidak memberi tahu Wawa" potong Zahwa dingin tanpa menatap Azzam.
Azzam terdiam.
Zahwa tersenyum kecut
"Heh, aku memang tidak di anggap, hal sebesar ini tidak ada yang memberi tahu ku"
"Zahwa" pekik Azzam. Tentu saja Zahwa terkejut jika Azzam sudah memanggil namanya berarti ia sedang kesal dan marah.
" Heh" Zahwa hanya tertawa pedih
" Maaf, bukan begitu Wa.." menyadari kesalahannya Azzam mereda
"Sudah lah, semua sama saja" ucapnya menahan sesak didada.
"Abang mau pesan tiket, kita pulang ya. Jatah libur mu masih ada kan dek"
" Abang saja yang pulang, waktu libur ku sudah habis besok. Jadi Wawa ke Pesantren saja langsung" ucap Zahwa sambil menahan air matanya yang akan menetes membayangkan pernikahan adik dengan orang selama ini dia tunggu kepulangannya.
" Tidak bisa kah, Wawa bertemu anak didik Wawa dulu? Mereka pasti sangat merindukan ku. Ehehhe mengingat wajah lucu mereka saja membuat ingin segera bertemu mereka" jawab Zahwa ngawur.
" Tapi Zahra lebih membutuhkan 'mu"
"Ada Abang, Ayah, Bunda, dan Kak Helwa juga. Ayolah Bang kurang apa lagi?" Matanya semakin memerah menahan tangis.
" Apa karna Zahra yang akan menikah duluan dari kamu?"
"Tidak, tentu saja tidak. Terserah saja siapa yang mau menikah" Ucap Zahwa menunduk
"Dek, tatap mata Abang" Azzam mengguncang bahu Zahwa agar menatap matanya. Namun Zahwa tetap masih menunduk.
"Wa..ada yang kamu sembunyikan dari Abang?"
"Tidak"
"Bohong"
"Abang mengenalmu Wa...jangan berbohong pada Abang. Kita tumbuh bersama, Abang tau seperti apa dirimu"
"Tidak Bang...tidak ada yang Wawa sembunyikan dari Abang, justru kalian lah yang menyembunyikan sesuatu dari Wawa" jawab Zahwa meyakinkan
__ADS_1
Tak puas dengan jawabannya, hingga akhirnya ia mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan menyakiti hati Adiknya.
"Apa ini karena, Fatih?"
Heeeg! Nafasnya tertahan. Ia terperanjat, Ia menatap netra hitam milik Azzam yang sedang memberinya tatapan tajam. Mengapa Azzam mengetahui tentangnya?
"Apa maksud Abang, Wawa tidak mengerti" ucap Zahwa gugup seakan sedang tertangkap basah
"Abang harap kamu mengerti maksud Abang" Zahwa menunduk, air matanya lolos begitu saja
"Apa sih Bang, tidak ada hubungannya" ucapnya masih mencoba menutupi
"Kamu pernah berharap lebih pada pria itu, bukan? Kamu rela menunggu nya 'kan?
Deg!!
"Kenapa kamu tidak pernah bercerita pada Bang Wa..." Azzam menatap sendu Adik yang sangat ia sayangi itu.
Zahwa bergeming.
Tak tahan lagi, percuma jika ingin mengelak. Azzam sudah tau semua. Tak berpikir lagi Zahwa memeluk Azzam dan menumpahkan tangisnya di sana.
"Hiks...hiks...hiks..." Ia terisak di dalam dekapan Azzam.
"Kenapa Wa..kenapa? kenapa tidak cerita pada Abang ha?"
.
.
**Mohon budayakan like setelah atau sebelum membaca karena itu sangat berpengaruh pada si penulis :)
hanya meng-klik doang ko, ga ribet-riber amat dah cuma itu doang.
Like nya di pencet ya bund😌🌻**
.
.
.
Maaf up nya sedikit, lagi ga mood. Yuk like dan komennya banyakin biar mood nulisnya balik lagi😌
Semoga harinya menyenangkan🌻
Tabarakallah 💙
Dilanjut ga???
__ADS_1
Kalo mau, yuk tinggalin jejak cinta kalian 💓