
...H A P P Y R E A D I N G...
...****************...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
*C**ukuplah hati ku disini berdoa agar hatimu senantiasa terjaga di sana*...
Dirimu bukanlah sepenuhnya milikku...
Bukan pula milik mereka..
Dirimu hanyalah titipan dari Allah untuk menghiasi dunia ini...
Titipan dari Allah yang kini bersemayam di relung hatiku..
Dirimu seutuhnya milik-Nya..
Hatimu pun demikian adanya...
Jika aku mengharapkan mu...
Cukuplah harapan yang aku gantungkan pada-Nya...
Bukan tak ingin memperjuangkan mu..
Bukan tak ingin mendekatimu
Mengutarakan isi hati ini..
Dan dengan percaya diri mencuri perhatian darimu...
Bukan itu caraku mengikhtiarkan cinta ini...
Biarlah aku menantimu dalam ketaatan...
Memberi sedikit ruang pada hati ku...
Agar tak menggantungkan pengharapan selain padanya...
Dan jika dia berkehendak kelak kita akan bertemu dan bersanding...
Bukan lagi sebagai orang yang tak saling peduli..
Namun sebagai kedua insan yang saling mencintai...
Nanti kamu akan menggenggam tanganku dan berkata..."Kini Syurgamu Ada Di Tanganku"
****
Zahwa menutup buku Diary nya. dan menyimpannya di sela-sela pakaiannya.
Setelah semua cara selesai, langsung diadakan kebersihan, dan kini lapangan pesantren sudah seperti semula. Karena tanggung acara hanya setengah hari, maka hari belajar diliburkan dan di perbolehkan jika ingin mengikuti ekstrakulikuler atau keluar seperti hari Jum'at dan Sabtu.
Zahwa memilih pergi ke Masjid dan membaca Al-Qur'an di sana.
30 menit kemudian Linda dan Dini datang dengan mukena masing-masing. Karena sebentar lagi waktu magrib akan tiba.
***
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
1 tahun berlalu
Zahwa melewati hari harinya seperti biasa, tidak ada yang buruk karena segala kegiatannya juga langkahnya ia berserah diri kepada Allah terlebih dahulu. Jadi apapun yang ia jalani semua nya terasa mudah.
"Zah.." panggil Intan ( Santriwati baru yang baru kembali ke Pesantren setelah mendapatkan jatah pulang ke rumah)
Saat ini Zahwa sedang mengajar anak-anak TPA bersama dengan Umi Alya. Sebenarnya banyak yang heran mengapa Zahwa dekat sekali dengan keluarga ndalem, banyak yang iri karena ia selalu di bawa Umi Alya kemana-mana. Jujur ia sendiri juga tidak tau pasti apa alasannya, ia hanya mengikut saja.
"Ya khayr, kalau datang ucap salam dulu lah. Kebiasaan anti" jawab Zahwa mengalihkan pandangannya pada Intan yang sudah di sampingnya.
"ehehehe iya afwan..afwan...Assalamu'alaikum..Ukhty Zahwa...yang pintar...Haley...Harum..Wangi..Baik hati..So- "
"aamiin, dah terlambat. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" potong Zahwa
"hemm ada apa?" ucap Zahwa
"dih..jangan jadi kulkas napa Ukht. Mana Ukhty Zahwa yang terkenal Periang" ucap Intan menganyun-ayunkan tangannya
"emang ana se periang itu, se dingin itu juga kah??" tanya Zahwa
"emm...ya-"
"ya sudah lah, ayo mau bilang apa kemari.." ucap Zahwa memotong kembali ucapan Intan
"ish...dipotong mulu dah ucapan ana, huh sebel" ucap Intan bersedekap dada
"jadi ngomong ga?"
"iya..iya...jadi..Umi pesan, kalau kelas anak-anak sudah selesai dateng ke taman depan mushalla, Umi mau bicara kata Umi"
"oo...beik..beik.."
"Ustadzah...ana sudah selesai" ucap salah satu anak laki-laki mengangkat tangannya
"ana juga.."
"ana"
"ana sudah selesai juga.."
Ucap mereka berebut.
"beik..sudah..tenang yah..sekarang Ilham kumpulin semua tugas temen regal(laki-laki) yah, dan Rani kumpulin tugas temen yang hareem(perempuan)" titah Zahwa
" Na'am Ustadzah..."
Setelah selesai, Ilham dan Rani memberikannya pada Zahwa secara bergantian
"nah..kelas hari ini sudah selesai...kita sudah bisa pulang. Pelajaran yang kalian dapat hari ini jangan di lupakan yah...terapkan dalam kehidupan sehari-hari...Fahimtum.."
"Fahimna..Ustadzah.." ucap mereka kompak
"Alhamdulillah..
Yuk barisan yang ini keluar terlebih dahulu"
Satu per satu anak-anak didiknya keluar dari kelas setelah menyalim Zahwa secara bergantian. Semua sudah keluar, Zahwa membereskan barang-barangnya lalu keluar dari Mushalla tersebut.
Sesuai dengan pesan Umi melalui Intan tadi, Zahwa mencari Umi Alya ke taman sekitar Mushalla desa tersebut.
NB: MUSHALLA INI DI KHUSUSKAN UNTUK ANAK-ANAK YANG INGIN BELAJAR MENGAJI DI SORE HARI DAN UNTUK WIRITAN IBU-IBU JUGA TADARUSAN BERSAMA DAN LAIN-LAIN. TEMPAT YANG DI JADIKAN SEBAGAI PERKUMPULAN ROHIS DI DESA TERSEBUT.
Mata nya memonitor setiap halaman Mushalla itu, pandangannya berhenti pada satu sosok yang sedang duduk di bale-bale bambu.
Ia berjalan mendekat
"Assalamu'alaikum Umi.." ucap Zahwa sambil tersenyum di balik niqabnya
"wa'alaikumussalam warahmatullaah, sini nak.." Ucap Umi Alya menepuk tempat sebelahnya, Zahwa menurut dan duduk di sebelah Umi Alya
"iya Umi.."
"Umur nak Mary udah berapa tahun?" tanya Umi Alya
__ADS_1
"kenapa tiba-tiba Umi nanya begitu ya?" batin Zahwa bertanya-tanya.
" 17 tahun Umi" jawab Zahwa
"Berarti jalan 18 ya nak"
"iya Umi.."
"Rencana nak Mary setelah tamat dari Pesantren apa?" tanya Umi Alya
Zahwa terdiam beberapa saat, kemudian menjawab
"Untuk itu... ana belum ada Umi, karena Zahwa masih nyaman kaya gini"
"mau ngabdi nak??"
"untuk sementara mungkin iya Umi" jawab Zahwa jujur
"kenapa ga ada kepikiran tentang itu ya? setelah dari sini ana akan apa ya?" batin Zahwa jadi berpikir
"kalau ada yang beasiswa study ke luar Negri Mary mau ambil ndak?" tanya Umi Alya mengelus punggung Zahwa
Sontak ia tersentak kaget mendapat perlakuan Umi Alya yang sangat baik padanya. Dengan segera ia menguasai dirinya, hampir air matanya luruh segera ia tahan sekuat tenaga.
" Ana tidak tau apakah Ayah sama Bunda mengizinkan, apalagi Bang Azzam pasti abang ga akan bisa jauh dari Mary Umi, eeheheh" ucap Zahwa sedikit terkekeh
Melihat itu Umi Alya tersenyum hangat, Zahwa menyadarinya dari mata Umi Alya yang menyipit.
"Mary...." panggil Umi Alya
" Iya Umi.." jawab Zahwa menatap manik mata Umi Alya
"Umi boleh peluk Mary ndak??"
JLEB!
Zahwa mematung, ia teringat pada keluarganya di rumah sudah lama ia tak berjumpa dengan mereka. Terlebih pelukan hangat mereka, rindu tiba-tiba menyerang relung hatinya.
"Mary..." panggil Umi Alya kembali karena tak mendapat jawaban dari Umi Alya
"i..iya Umi..." ucap Zahwa mengangguk
Umi Alya perlahan membawa Zahwa kedalam dekapannya. Rasa hangat mengalir pada keduanya. Sungguh mereka sama-sama nyaman membayangkan sedang memeluk orang yang mereka rindukan.
Zahwa membalas pelukan Umi Alya. Setelah beberapa saat Umi Alya mulai melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Zahwa
" Mary mau kan jadi anak Umi..." ucap Umi Alya penuh arti menatap intens kedua mata Zahwa
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf baru up kemaren sedang sibuk dan baru sempet up sekarang. Semoga bisa mengobati rindu pada Zahwa. Oh iya...siap-siap ya...beberapa bab lagi akan ada sesuatu, tetep pantengin SALAH KHITBAH ya....
Klimax akan hadir, jangan hujat jangan ngapa-ngapainnya cukup dukung, dan tetep stay yaa...
...LIKE...
...KOMEN...
...KEMBANG...
...KOPI...
...BAGI-BAGI DUNGS.......
...JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YAA...
__ADS_1