Salah Khitbah

Salah Khitbah
102. SK 2 : KEJUTAN BESAR (3)


__ADS_3

"Uh..kasihan anak Ayah dua bulan lebih tidak ada teman tidurnya" goda Ayah Ali pada Zahwa


Membuat pipi Zahwa memanas memancarkan rona merah.


"Bunda..." rengek nya pada Bunda Fatimah


"Ahahahah... Ngadu"


Zahwa manyun sambil memeluk Bunda Fatimah.


"Sabar ya nak.. suami mu pasti pulang" Ayah Ali mengusap kepalanya.


Zahwa tersenyum kecil lalu mengangguk.


" Kapan pulang nya?" Batinnya lesu


"Ya sudah.. kamu mau minum jus yang tadi atau bagaimana Wa?"


" Bunda.. Wawa mau istirahat dulu boleh?"


"Jam segini?" Bunda melotot menatap jam dinding


"Hu'um" Zahwa mengangguk sambil menguap


" Kamu sedang tidak sakit kan?"


" Tidak Bunda..Wawa sehat.. kemarin malam Wawa tidak bisa tidur, sekarang baru ngantuk nya" ucap Zahwa


"Beneran mau tidur? Nanti kamu jadi gemuk loh Wa" goda Bunda


"Iya Bunda... Aih..tidak ada itu karena tidur siang jadi gemuk" bantah Zahwa


" Hem.. baiklah.. selamat istirahat" ucap Bunda Fatimah menatap Zahwa yang menaiki tanga satu persatu.


Perasaan baru saja ia memejamkan mata. Sudah terbuka kembali mendengar pintu terbuka dengan sangat keras hingga membentur dinding.


"Aa....Kak Wawa......" Zahra melompat ke atas ranjang dan memeluk Zahwa yang sedang berbaring menyamping.


"Uh..Zahra pelan-pelan.. siku mu menekan paha kakak, sakit..."


"Maaf kak" ucap Zahra mengelus paha Zahwa


"Hmm" gumam Zahwa kembali menutup matanya.


" Kakak...Kak Wa.. jangan tidur dulu dong..aku kan masih kangen kak.." .


"Kan sudah.." gumam Zahwa

__ADS_1


"Kan itu beda kak. Kita in- '"


"Hsst.. kamu tidur aja noh di samping akak"


"Aa.. baiklah, aku juga capek plus ngantuk" ucap Zahra mengambil posisi masuo ke dalam pelukam Zahwa.


Akhirnya siang itu mereka tidur di kamar Zahwa, tidak ada acara kangen-kangenan yang biasa mereka lakukan saat Zahwa berkunjung dari pondok seperti sebelum- sebelumnya.


/ / / / / / / / / / / /


Zahwa merasa posisi tidurnya sangat nyaman, ia merasa nyawanya ada di sini. Sepertinya ia bermimpi sesuatu yang sangat indah dalam tidurnya. Hingga ia mempererat pelukannya.


Ia merasa aneh, perasaan tadi ia yang memeluk Zahra tetapi sekarang malah seperti ia yang di peluk. Tapi sepertinya ia tak terusik sama sekali.


Beberapa saat kemudian.


"Eunghh...." Lenguh Zahwa meregangkan ototnya yang kaku


Matanya masih terpejam. Tetapi badannya sudah melepaskan diri dari pelukan Zahra. Perlahan matanya terbuka dan langsung mencari jam dinding.


"Hem.. ternyata sudah jam tiga. HAH? Aku tidur selama itu?"


Zahwa menepuk-nepuk lengan Zahra tanpa melihatnya.


"Ra..Ra..bangun dek..Ra..." Ucapnya


"Aahh.." tangannya di tarik hingga ia jatuh menimpa Zahra.


"Ra..kenapa kakak di tar-" ucapannya terhenti saat hidungnya mencium sesuatu abu yang sangat ia kenal.


Zahwa membuka matanya menyadarkannya dari hayalannya. Tetapi tetap saja, bau itu sangat terasa dan sangat nyata.


Ia tidak ingin semakin gila, ia melepaskan diri tetapi ditahan oleh tangan kekar yang melingkari pinggangnya.


"Mau kemana sayang...." Suara berat yang sangat ia rindukan kini terdengar jelas.


Ia mendongak


Deg!


Jantungnya berdebar, tubuhnya membeku, dan matanya mengerjap.


"Apa ini mimpi?" Gumamnya tak percaya.


"Tidak.. ini tidak mimpi, ini nyata"


Dalam hitungan detik, mereka berguling berganti posisi Zahwa berada di bawah. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas wajah yang selama ini sangat ia rindukan. Wajah yang selama ini ia nanti-nanti kepulangannya.

__ADS_1


Tangan lembutnya meraba wajah di depannya.


"Ya Allah..ini nyata.. suami ku..ini suami ku..? Ha? Suami ku sudah pulang??"


"Hemm"


"Aaa..suamiku..sayang.. kau sudah pulang..."


Zahwa memeluk erat suaminya.. Ya.. Akhtar sudah pulang.


"Iya sayang.. saya sudah pulang.. saya ada di sini, ada untuk mu" ucap Akhtar menciumi seluruh wajah Zahwa. Dan berakhir di bibir ranum itu, ciuman panas yang mereka lakukan sore ini bentuk ungkapan rindu yang sudah terpendam selama kurang dari 3 bulan tidak bersama.


"Uhuk..uhuk.." Zahwa terbatuk kecil sesaat saat ciuman mereka lepaskan.


"Maaf" Akhtar menghapus jejak perbuatan mereka di bibir Zahwa dengan ibu jarinya.


Kini mereka sudah berbaring saling berhadapan. Kepala Zahwa berbantalkan lengan suaminya. Pandangan keduanya tidak pernah lepas. Kaki saling menyilang. Seolah tidak membiarkan pergi lagi.


"Kapan sayang datang??"


"Tadi, saat kamu tidur"


" Lalu kemana Zahra? Tadi dia tidur bersama ku disini"


"Dia terbangun saat saya datang, jadi dia pindah ke kamarnya"


"Hmm.. lalu kenapa sayang tau kalau aku ada di sini?"


"Tentu saja tau"


"Lalu kenapa tidak mengabari kalau mau pulang? Kenapa beberapa waktu kemarin tidak bisa di hubungi? Sayang tau? Aku itu sangat khawatir, bahkan tidak semalam dua malam aku tidak bisa tidur karena memikirkan mu. Oh iya.. bagaimana bisa sayang ada disini? Selama di sana makannya di jaga kan? Tidurnya teratur kan? Lalu- emmmhhh"


"Ihh.. kenapa di ciumm..." Adu Zahwa


"Siapa suruh mulutnya cerocos melulu?"


"Ya akan aku khawatir sama kamu sayang..."


"Tapi sekarang kamu sudah lihat kan , saya baik- baik saja. Jadi jangan bicara apa pun lagi. Diam dan nikmati saja. Saya sangat merindukanmu" Akhtar mengurung Zahwa dalam pelukannya.


"Aku juga sayang..." balas Zahwa


Menikmati saat yang sangat ia tunggu-tunggu. Memeluknya sebentar saja belum puas untuk membayar rindunya.


Sesekali Akhtar menggesekkan hidungnya pada hidung Zahwa. Lalu mereka tertawa bersama.


***

__ADS_1


Jejaknya jangan tinggal ya.. jangan lompat jugaa, maaf up nya telat🙏🏻✨


__ADS_2