
"bodoh..."
Jtakk... Jtaakk...
"Awws.. s-sakit tante.. hiks.." adu kedua anak itu ketika kepala mereka di jitak dengan sangat keras
"Kalian bodoh..!!! Berani kalian melawanku Hah!?" Sentak nya kembali
"Lepas tante.. s-sakit.. huhuhu..."
"DIAM!!!"
"karena kalian, aku harus melakukannya sendiri. Bagaimana kalau aku katahuan hah??!"
Kedua anak malang itu menunduk takut dengan kaki gemetaran
"Kalian dengar aku?!! Hah!!"
Plak..
Plak...
"Aakhhhh.."
"Hiks..hiks..." mereka kembali menangis saat tangan wanita di depan mereka ini menampar wajah wajah kurus itu
" Hey, kalian" panggilnya pada kedua bodyguard nya
"Kurung, kedua anak ini di gudang bawah tanah. Jangan kasih mereka makan, biar mereka mati kelaparan" titah nya membuat kedua bodyguardnya menunduk patuh
"Aaa... Tidakk.. jangan.. hiks..."
"Tante lepaskan kami.. kami tidak tau apa-apa tante... Hiks..."
"Bawa mereka segera menyingkir dari hadapan ku!"
"Enggak, enggak mau. Lepas om... Lepas.."
"Hiks.. tante jahat.. lepaskan kami!.. hiks.. "
Mereka di seret keluar setelah di siksa oleh wanita itu. Mereka terus berteriak minta tolong. Tapi sayang, tidak akan ada yang mendengarnya. Karena tempat ini jauh dari pemukiman.
"Aarrgghhhh!!!!"
Pranggg
Sebuah guci keramik mahal yang tadinya berdiri tegak kini sudah tak berbentuk di banting wanita ini.
"Si*l. Kedua anak itu berani menghianatiku padahal aku mengawasi mereka. Aarrgghhgg"
Prang..
Benda benda mahal itu satu persatu mulai berserakan memenuhi marmer yang di injak wanita itu.
"Awass saja kalian! Kau tidakboleh memilih nya! Bre*gs*k ! "
Duarrr!!!
Sebuah tembakm melesat dan membidik lampu gantung yang sangat mewah. Dalam hitungan detik, lampu tersebut jatuh dan membuat suara melengkik juga pecahan beling dimana-mana.
"Masuk kalian!"
"Tidak- tidak mau Omm..lepas..lepas kan kami Om.. hiks"
"Kami mohon Om.."
"Aaa"
Bugh!
Kedua anak itu terprlanting mencium tanah
"Sshhttt..."
"Diam kalian di sini! Jangan coba-coba untuk kabur. Mimpi kalian!"
Blam!
Setelah berkata seperti itu kedua bodyguard wanita iblis itu mengunci kedua anak malang tersebut di ruangan gelap tak berventilasi.
"Hiks.. hiks...aku takut..."
"Hiks..hiks.."
__ADS_1
Keduanya duduk menempel sambil memeluk lutut mereka yang bergetar.
"Do, aku cuma bisa berharap Kakak baik tadi selamat dan baik-baik saja..hiks.."
"Iya Ky. Aku juga cuma bisa berharap seperti itu. Tante itu sangat jahat, kita tidak tau mengapa dia menyuruh kita unruk mencelakai Kakak baik tadi"
"Hiks..hiks.."
"Untung kita di belikan makanan enak sama Kakak dan Om tadi, jika tidak mungkin kita sudah mati kelaparan Ky, hiks.."
"Iya.. Ya Allah.. semoga Kakak baik itu tidak kenapa- kenapa. ya Allah ..."
"Do, kapan kita bisa keluar dari sini?? Di sini gelap. Aku takut.. Do"
"Aku tidak tau Ky, kita kan sama-sama di lempar ke sini.. hiks.. kita hanya bisa menunggu keajaiban, semoga ada yang mau menolong kita Hiks.."
"Ya Allah.. Edo takut...hiks..."
Tak henti-hentinya mereka berdoa keselamatan Kakak baik yang tak lain adalah Zahwa. Dan juga berharap ada yang menemukan mereka dan menolong mereka keluar dari ruangan gelap dan sesak ini.
***
"Kak Akhtar?"
"Dik Zahra"
"Kakak ngapain di sini?? Sendirian? Siapa yang sakit Kak?"
"Z-zahwa Kakak mu sedang di periksa di dalam. Kakak minta bantu do'a supaya dia dan calon keponakan mu baik-baik saja" lirih Akhtar
"K-Kak Zahwa??? Hah? Kak Zahwa kenapa Kak??" Tanya Zahra yang mulai berkaca-kaca
Akhtar menjelaskan apa yang terjadi pada Zahwa. Zahra syok seketika, dia menyatukan giginya keras, tangannya terkepal kuat, ia yakin ada yang ingin mencelakai Kakak nya.
Zahra menggigit kuku nya saat melihat pintu belum terbuka, kaki nya sudah lemas. Takut terjadi apa-apa pada Kakak nya.
"Ya Allah.. semoga Kak Zahwa baik-baik saja.. Zahra mohon.. selamat kan lah keduanya.." Zahra berdoa dengan sangat memohon dalam hati
Tes!
Akhirnya cairan bening itu jatuh, ia tidak sanggup melihat Kakaknya menderita. Setelah apa yang ia perbuat di masa lalu kepada Kakak nya. Sekarang ia sangat mengerti perasaan dan tugas sesama saudara.
"Hiks.."
"Jangan menangis cukup do'a kan saja" ucap Akhtar tidak tega melihat mata dan hidung Zahra memerah.
Zahra mengangguk, dengan cepat ia menghapus air matanya.
"Apa Kakak sudah menelpon Ayah Bunda dan Umi juga Buya?"
Akhtar menatap kosong lalu menggeleng.
"Kenapa? Mereka harus tau Kak?"
" Nanti mereka khawatir"
"Ish.. Kak. Mereka akan lebih khawatir jika nanti mereka menanyakan kalian dan kalian bilang baru pulang dari rumah sakit. Apa yang akan mereka pikirkan nanti. Ayolah Kak. Izinkan aku beritahu Ayah Bunda ya.."
Setelah berfikir, ia pun menyetujui nya. Ia mengangguk mengiyakan. Jangan tanyakan untuk memberi kabar, untuk mengetahui dalang di balik semua ini saja ia tidak sempat. Kondisi Zahwa adalah yang terpenting saat ini.
15 menit kemudian, dokter keluar dari ruangan Zahwa bertepatan dengan kedatangan Ayah Ali dan Bunda Fatimah. Umi Alya?? Beliau menyusul nanti dengan Buya karena Buya masih mengisi acara di Mesjid. Saat ini Umi cuma bisa bantu doa, semoga putrinya dan calon cucunya baik-baik saja dalam lindungan Allah SWT.
"Nak Akhtar!" Seru Ayah Ali dan Bunda Fatimah mendekat.
Akhtar mencium kedua tangan mertuanya. Dan berpelukan sebentar dengan Ayah Ali.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya"
"Huftt..." Dokter tersebut menghela nafas pelan , lalu kembali berucap "Thar, mari ikut ke ruangan saya"
" kami ikut" ucap Bunda Fatimah
Dokter tersebut mengangguk. Semua masuk ke ruangan Dokter, kecuali Zahra. Ia pergi mencari minum ke luar.
Di sinilah mereka sekarang. Menunggu dengan tengang terkait kondisi salah satu orang yang sangat mereka cintai.
"Begini, istri mu mengalami benturan dari pinggang kirinya. Sehingga ia mengalami pendarahan. Tangannya juga terluka, apakah tadi di sana ada batu?"
Akhtar mengingat kembali lokasi kejadian. Lalu mengangguk.
"Iya. Istri saya jatuh di samping sebuah batu"
"Sungguh Istri anda sangat hebat, ia melindungi perut nya dari batu tersebut dengan tangannya hinga terluka. Tapi benturan itu tidak dapat ia elakkan"
__ADS_1
"Apakah pendarahannya sangat beresiko, Dokter?" Tanya Bunda Fatimah
"Alhamdulillah.. 'Ala kulli hal. Semuanya baik-baik saja. Walaupun sempat pendarahan tapi kandungannya sangat kuat. Istri kamu dan janinnya selamat"
"Alhamdulillah..." Mereka berseru syukur.
Akhtar memejamkan matanya, dan memalingkan wajahnya saat merasa basah di sudut matanya.
"Terumakasih ya Allah.. Engkau telah melindungi istri dan calon anak hamba" batin Akhtar penuh syukur
"Tapi.."
Kembali mereka terdiam dengan tubuh kembali menegang.
"Apa Dok? Apakah ada yang serius dengn putri ku?" Kini Ayah Ali yang angkat bicara.
"Putri Bapak sepertinya syok. Ia sempat tak sadarkan diri tadi. Nafasnya juga tersenggal, sepertinya ada ketakutan yang besar dalam dirinya. Masuk dalam ruangan rumah sakit. Ia juga mengigau memanggil anak nya. Dan juga.. Z-za.."
"Zahra dokter" sambung Bunda Fatimah menatap kosong
"Iya, Zahra. Ia terus mengigau bahkan menangis tersedu-sedu dengan mata yang tertutup, tapi kami sudah menyuntikkan obat tidur agar ia tenang dan bisa beristirahat"
"Tidak apa-apa dokter" ucap Ayah Ali sambil menatap Akhtar dengan tatapan penuh arti
"Apakah kami sudah boleh menemui Zahwa sekarang?"
"Tentu, tapi saya ingin tekan kan. Jangan tinggalkan ia sendiri. Tetaplah selalu ada di sampingnya. Jangan ingatkan ia tentang kecelakaan ini. Tetap menyemangatinya dan berikan hal-hal positif untuknya"
Mereka semua mengangguk paham. Lalu Ayah Ali dan Bunda Fatimah keluar dari ruangan dokter yang ber nametag Siska F. Itu dan mauk ke ruangan Zahwa.
"Thar, aku tidak tau apa yang di alami Istri mu di masa lalu. Tapi aku yakin trauma ini akan hilang seiring berjalannya waktu"
"Saya harap juga begitu"
"Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah kamu tidak mencari pelakunya?" Tanya Dokter Siska
Akhtar menyerngit bingung.
"Mungkin kah, ia di dorong oleh seseorang? Melihat luka dan posisi benturannya, tidak mungkin jika ia kesandung sendiri" ucapan Dokter Siska kali ini telah menyadarkan Akhtar.
Ya memang benar, kita harus selalu berhuznudzan. Tapi ini menyangkut hidup istri nya. Akhtar harus mendengarkan ucapan Dokter Siska yang tak lain adalah teman kuliah nya dulu.
"Baiklah, terimakasih. Terimkasih banyak saya akan mengurusnya. Apakah Istri saya bisa di bawa pulang sekarang Dok?"
"Akhtar, came on. Jangan terlalu kaku. Kamu masih menganggap aku dan suami ku teman mu kan" sindir Dokter Siska
"Maaf, saya terlalu khawatir" lirih Akhtar
"Yap, tidak apa-apa. Aku mengerti, maaf juga tadi hanya becanda. Istri mu baru boleh pulang besok agar aku selalu bisa memantau perkembanganya.
Jangan terlalu teburu-buru, bagaimana kalau ia tiba-tiba merasakan sakit saat kalian pulang? Capek kan bolak balik"
Akhtar mengangguk
"Baiklah, terimakasih. Saya pamit dulu. Salam pada Zein. Assalamu'alaikum"
"Akan aku sampaikan. Selalu dampingi istri mu. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
Drtt.... Drrtt... Ponsel Dokter Siska berbunyi, sepeninggalan Akhtar. Bibirnya melengkung sempurna saat melihat nama Suami nya tertera di layar ponsel. Ia menggeser icon hijau menjawab panggilan tersebut.
***
Akhtar keluar dari ruangan Dokter Siska, dengan tidak sabar ingin berjumpa dengan Zahwa. Mengingat ucapan Dokter Siska. Ia kembali berfikir, trauma apa yang di miliki Istrinya sehingga mengigau saat tau berada di rumah sakit.
Lamunan Akhtar buyar saat seseorang menepuk pundaknya.
"Kenapa tidak masuk nak?"
Akhtar menoleh menatap pria yang berdiri tegak itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Nanti Zahwa mencarimu, ayo masuk" Ayah Ali menepuk pundak menantunya itu, belum siap untuk menjawab arti tatapan pria yang menikahi putri nya itu.
Akhtar mengangguk, ia paham pasti ada sesuatu yang membuat Ayah mertuanya tidak ingin mengatakam apapun padanya sekarang.
"Baiklah, nanti saja. Keadaan Queen ku lebih penting" batinnya
_
_
_
Jejak nya jangan lupa🔥kalau jejaknya bikin Author puas. Author bakal usahain up kaya dulu, so ramein jejaknyaaa🔥
__ADS_1