
Entah kenapa aku malah tertawa mendengarnya.
"Kalau kau berniat godain laki-laki, jangan tunjukkan sisi jelek kau, cukup yang bagus-bagusnya aja!" seru ku.
"Siapa juga yang berniat godain kau!" jawabnya dengan wajah menyebalkan.
"Abang masih ingat ya dek, waktu kemarin anak kau bilang itu kan om yang mamah bilang manis di acara kau!" jawabku dengan menirukan gaya bicara anaknya.
"Memang kau manis bang, apalagi kalau senyum. wajah yang khas dan senyum yang pas, mana abang terlihat seksi lagi". ungkapnya dengan menaik turunkan alisnya. Dia memujiku terang-terangan, aku pun baru merasakan di puji wanita secara langsung.
Aku di puji demikian merasa seolah sedang naik biang lala, geli-geli gembira rasanya, "Kau ini, heran aku sama mulut kau itu!"
Dia malah tertawa terbahak, "Udah jadi aku di suruh apa nih, kau tak tau kah hari ini ada diskon menarik di G********mall, buang-buang waktu ku saja kau bang!" ucapnya cepat. Sepertinya mulai lagi kebiasaan cerewetnya.
"Kau kenapa tak pakai seragam?" tanyaku langsung.
"Kau cuma mau nanya itu bang? Aku ini yang bantu ngenalin kedai ini di masyarakat kota C. Aku pun sering endorse menu makanan dan minuman di kedai ini!" jawabnya dengan melihat ke arahku.
"Menurut abang itu bukan jawaban dek, kau kan karyawan kan disini? Tapi kau tak pakai seragam dari kedai!" ucapku sehalus mungkin. Berharap ia mau mengerti maksudku.
"Iya juga ya bang." Adinda nampak berpikir, "Tapi kenapa ya aku tak pakai seragam?" lanjutnya.
"ya kenapa? Abang nanya loh dek! Kesal kali aku sama kau. Malah nanya balik pula kau!" ucapku dengan stok kesabaran yang mulai menipis.
Dia malah tertawa renyah. Sungguh aku tak kuat lama-lama berbicara dengannya. Aku ingin cepat mendapatkan jawaban dari pertanyaan ku dan menyuruhnya cepat pergi.
"Jadi begini bang." dia menjeda ucapannya dengan ekspresi yang serius, "Ini gajian pertama ku." ucapnya sambil mengeluarkan amplop dari tasnya.
"Ya lalu kenapa dek, astagfirullah Adinda!" seru ku frustasi. Aku sangat kesal sekali. Ini bukan jawaban atas pertanyaan ku.
"Aku serasa di panggil kekasih, abang selalu manggil aku Adinda Adinda. Cukup Dinda aja sepertinya lebih ringan untuk di ucapkan." ungkap Dinda dengan menggigit bibir bawahnya.
"Ok ok fine, baliklah kau sana. Geram kali aku sama kau." ucapku menyerah. Sudahlah terserah dia mau berpakaian apa.
"Dari tadi kek bang, harusnya abang pun paham pas aku bilang ini gajian pertama ku. Disini kan yang pakai seragam yang kerjanya lebih dari tiga bulan!" jawabnya sambil berlalu tanpa pamit dan salam.
__ADS_1
Kalau memang itu kenyataan nya kenapa dia tak bilang dari tadi. Jadi ucapannya mengandung arti. Memang begitu kah penulis kalau berbicara?
~
Aku pun membersihkan diriku di toilet kedai, dan mengganti pakaian ku. Kembali ke ruangan dan menyimpan baju kotorku. Aku memilih tinggal di kedai, sementara rumah Maya yang akan ku tempati sedang di pindahkan barang-barangnya dan mengganti dengan perabotan baru milik ku, tentu saja orang ayah yang mengurus itu semua.
AUTHOR POV
Satu jam lagi kedai akan tutup tapi tidak menyurudkan pengunjung yang datang. Mereka silih berganti menikmati makanan di kedai tersebut dan ada beberapa orang yang membeli untuk di bungkus.
Adi mendapat telpon dari Haris untuk ikut makan bersamanya. Adi keluar dari ruangannya dan menemui Haris, yang ternyata juga bersama Jefri yang masih memakai kemeja dan jas putih yang di sampirkan di kursi.
"Nih buat kau", ucap Haris saat Adi baru duduk. Haris memberikan kantong plastik berwarna abu-abu itu.
"Apa nih? Dari siapa?" jawab Adi menerimanya.
"Dari dek Dinda!" sela Jefri sambil memakan makanannya.
"Hah, bawa balik nih!" tolak Adi memberikan plastik abu-abu itu pada Haris.
"Tenang, ini cuma pakaian tak ada peletnya. Akupun dapat!" tambah Jefri sambil menunjukkan kantong plastik yang sama dengan milik Adi tersebut.
"Bukan cuma kau aja yang di kasih! Aku, anak-anak ku, dua pengasuh anak ku, sama supir di rumahku juga dapat. Juga mereka dapat titipan amplop dari Dinda." ungkap Haris sambil menunjukan tiga amplop dari saku jaket nya.
"Tengah gajian juga rupanya mereka?" tanya Jefri kepada Haris.
"Masalah Givan sementara waktu Dinda kerja di titipkan ke rumah ku kan memang udah ada kesepakatan dari awal, gajinya pun sama aku udah di tambahkan. Mungkin Dinda cuma mau kasih ucapan terimakasih aja." ucap Haris mengobrol dengan Jefri. Jefri mengangguk dan Adi hanya menyimaknya saja.
"Jadi kau nih habis pergi sama Dinda?" tanya Jefri pada Haris.
"Tak, aku di suruh antar balik Givan aja. Ternyata dia habis belanja banyak." jawab Haris menikmati kopinya.
"Susah kali Dinda di bilangin. Baru gajian kan dia, pasti dah lenyap tuh uang!" kesal Jefri berasumsi.
"Tak ada yang bikin dia senang, biarin aja lah dia bersenang-senang dengan caranya sendiri." sahut Haris, "Lagian ini kan hal yang positif juga, hobby belanjanya tersalurkan tapi dia bersedekah juga ke orang-orang terdekatnya." lanjut Haris kemudian.
__ADS_1
"Jadi dia bersedekah nih sama aku ceritanya? dia kira aku tak mampu kah beli pakaian sendiri!" sela Adi.
"Sudahlah lah kau Di, tak usah tersinggung gitu. Lagian ini bukan pakaian murah juga. Kaos dari merk ini aja harganya dua ratusan lebih Di." jawab Haris dengan menunjukkan salah satu kaos dari plastik abu-abu milik Adi.
"Jadi kau kira aku tak mampu beli kaos bermerk ini?" sahut Adi emosi.
"Kau kenapa sih? emosian terus heran aku." ucap Jefri dan di selingi tawa dari Haris juga.
"Tinggal kau pakai aja Di. Dinda senang kalau pemberian nya di pakai" ucap Haris santai.
"Memang siapa aku? sampai harus buat dia senang." sarkas Adi.
"Terserah kau lah Di!" ucap Jefri setelah selesai makan.
Dan mereka pun mengobrol ringan sampai kedai bersiap untuk tutup.
ADI POV
Aku membantu membereskan kedai untuk tutup dan setelah selesai, aku langsung mencuci muka, tangan dan kaki lalu masuk ke ruangan ku. Aku melirik plastik abu-abu yang katanya pemberian dari Adinda. Aku penasaran apa ya isinya, sepertinya banyak dari ukurannya yang lumayan besar.
Ternyata di dalam plastik tersebut berisi, satu celana jeans hitam, satu kemeja panjang berwarna marun, dan satu kaos yang berwarna putih. Royal juga ini perempuan. Harga celana jeansnya dari merk ini kisaran satu juta, kemeja dan kaosnya pun punya nama juga. Tapi tetap saja aku gengsi memakai pemberian darinya. Nanti sepertinya saat aku memakai pakaian darinya, dia akan bilang ke orang-orang untuk mempermalukan ku. Entahlah aku tidak tau apa maksudnya.
Sesaat sebelum tidur aku sempatkan untuk chatting dengan Devi agar lebih akrab dengannya. Devi seperti wanita pada umumnya. Dan ternyata dia baru berumur 24tahun, dia pengajar di taman kanak-kanak dekat rumahnya. Oh, menarik sekali. Pasti dia sangat sabar untuk mengurus anak-anak.
~
Semalam aku tertidur saat masih chatting dengan Devi. Aku membalasnya sesaat setelah membacanya, "Maaf Dev, semalam aku ketiduran." pesan yang ku kirim pagi ini untuknya. Tapi tak kunjung dapat balasan darinya. Aku lalu keluar ruangan untuk mandi dan bersiap. Sepertinya aku akan jalan-jalan sebentar di perumahan belakang kedai untuk mencari sarapan.
Aku berjalan sendirian, lumayan ramai juga suasana pagi ini. Saat aku menuju gerobak bubur ayam yang berjarak 50meter dari tempat aku berjalan. Aku di kagetkan dengan bola yang melesat cepat dan mengenai Adi's bird. Aku langsung berjongkok dan memegangi milik ku yang terasa sangat sakit. Sial, tau begini aku tetap di kedai saja. Aku menyesal sekali berinisiatif jalan kaki sendirian begini, tapi bagaimana lagi aku merasa lapar sekali.
Aku melihat sekeliling, aku mencari pelaku dari kejahatan yang aku alami ini. Berjarak satu rumah dari tempat ku, aku melihat ibu muda berdaster batik berwarna coklat tua sepanjang betis dan bawahnya terdapat celana hitam ketat yang nampak dari betis sampai pergelangan kaki, juga memakai sweater hitam berkancing, hijab yang senada dengan sweater nya. Sepertinya ibu muda itu sedang menyuapi anaknya, dia tertawa keras menunjuk ke arahku. Dan anak laki-laki yang nampak ketakutan dengan menarik daster ibunya. Sepertinya anak laki-laki itu pelakunya, sialan betul ibunya malah tertawa pula. Dia pikir ini lucu apa.
Aku masih berjongkok menunggu rasa sakit yang mereda. Lalu aku mengambil bola yang tak jauh dari jangkauan ku tersebut. Saat jarak mulai mengikis, sepertinya aku kenal pelakunya. Sialan, dia malah berlari dan juga anaknya. Aku benar-benar muak, tanpa berpikir lagi aku langsung berlari mengejar mereka.
TBC.
__ADS_1