Sang Pemuda

Sang Pemuda
30


__ADS_3

AUTHOR POV


Di tempat lain Adinda sedang menangis dengan memeluk anaknya yang tertidur. Setiap kali ia pulang ke rumah orang tuanya, ia tidak merasa senang. Tidak sedikit tetangga yang mengomentari terang-terangan tentang Dinda yang menjadi janda diusia muda. Terlebih lagi bapaknya sering membahas kejadian yang sudah-sudah. Membahas tentang dirinya yang terlalu mempercayai suami dan masih banyak lagi.


Sebenarnya dia pulang bermaksud untuk membicarakan Givan yang akan ia boyong ke provinsi A. Rencananya Dinda selesai dari acara pernikahan Edi, ia langsung berangkat ke provinsi A.


Adinda sudah tidak tahan dengan suara bapak dan ibunya yang tengah membicarakannya. Adinda memesan taksi online, dan bersiap membawa barang yang akan ia bawa. Lalu ia keluar dari kamar.


"Pak, Buk. Dinda langsung berangkat aja kayanya. Nanti dari acara anak bos, Dinda langsung berangkat ke provinsi A." ucap Dinda menghadap kedua orang tuanya. Daerah orang tua Dinda berada di kabupaten kota C. Sedangkan rumahnya sendiri berada di pusat kota C. Lusa adalah hari pernikahan Edi, Adinda hanya beralasan untuk bisa keluar dari rumah orang tuanya secepatnya. Dia tidak mau jatuh sakit, karena terlalu memikirkan omongan yang ia dapat dari sini.


"Kerja tuh gak harus jauh-jauh. Tinggal tolak aja tawaran bos mu itu." sahut ayah Dinda.


"Aku nyaman suasana provinsi A." tutur Adinda. Namun orang tua Dinda tidak suka dengan pengakuan Adinda.


"Jangan sampai kamu dapat jodoh orang sana juga! Orang sana egois-egois. Kalau kamu gak nurut kamu bakal ditinggal gitu aja." balas ibu dari Adinda.


"Di mana-mana juga istri harus nurut ke suaminya." gumam Adinda pelan, hampir tidak terdengar.


"Apa Din?" tanya ibunya menatap wajah anak perempuannya yang mirip sekali dengan dirinya.


"Tak ada Bu. Dinda sekalian mau bawa Givan juga." ungkap Adinda duduk di sebelah ibunya.


"Kenapa begitu? Punya rumah yang masih satu kota aja kamu jarang pulang! Apalagi kerja di sana, bawa anak juga. Nanti kapan kamu pulangnya?" seru ibunya sedikit marah.


"Memang mau lepas tangan ngurus orang tua kamu tuh. Sengaja nyari kerja yang jauh biar gak pulang-pulang lagi!" seru bapak Adinda.


"Gak begitu juga. Waktunya pulang ya pulang. Kalau bos Dinda udah bisa megang ladangnya sendiri juga, tenaga Dinda udah gak kepakai lagi!" jawab Adinda mencoba menenangkan orang tuanya


Lalu mereka terlibat percakapan yang ringan. Supir taksi online sudah memberitahu Adinda bahwa ia sudah berada di titik penjemputan. Adinda lalu pamit pada kedua orang tuanya, dengan menggendong Givan yang tertidur pulas. Ia pergi dari kediaman orang tuanya, dengan taksi yang membawanya perlahan menjauh membelah ramainya kota C di sore ini.


~


"Mbak, tolong suapin Givan dulu. Aku mau nemuin bang Haris dulu." pinta Adinda pada mbak Mirna, salah satu pengasuh anak Haris.

__ADS_1


"Iya kak. Bapak ada di kamarnya." ucap mbak Mirna memberitahu Adinda. Adinda mengangguk mengerti.


"Abang sama Mbak Mirna dulu ya. Main sama Ken dan Kin gih." ungkap Adinda pada anak satu-satunya itu. Givan mengangguk dan berlari ke ruang bermain Ken dan Kin. lalu Adinda langsung menuju kamar Haris.


"Bang Haris." panggil Adinda setelah dirinya berada di dalam kamar Haris.


"Tidur kah bang?" tanya Adinda mendekati Haris yang memejamkan matanya di atas tempat tidur.


"Tak dek. Ada apa?" jawab Haris membuka matanya. Dan menatap Adinda.


"Abang, aku butuh uang." sahut Adinda kemudian dan dia mengambil posisi tengkurap di sebelah Haris.


"Berapa? Buat apa? Kalau untuk mobil yang kena sita, Abang tak akan bagi kau uang." balas Haris bersandar pada kepala ranjang.


"Sebetulnya iya bang. Aku mana bisa bohong. Apalagi sama Abang." jawab Adinda sedikit pelan.


"Huh." terdengar Haris membuang nafasnya kasar, "Dek, cobalah dengar sikit aja omongan Abang. Kalau kau mau ambil mobil baru, Abang bakal bantu kau. Kau ada uang berapa, sisanya Abang tambahkan. Tapi kalau kau mau ambil mobil kau yang kena sita itu dan ada niat buat maen di arena lagi, jangan harap Abang mau bantu kau lagi." tutur Haris dengan jelas.


"Maaf Bang, aku ngerepotin terus." tukas Adinda yang mulai meneteskan air mata.


"Ya Abang jangan bagi tau mereka. Apalagi Bang Adi, aku sering kali bikin Bang Adi kesal. Sampai berapa kali Bang Adi ngatain aku ini gila. Kalau sampai dia tau sebenarnya aku ini cengeng, habis aku diolok-oloknya." ungkap Adinda menceritakan sedikit tentangnya dan Adi.


Haris sedikit terhibur dengan cerita dari Adinda. Ia pun sebenarnya masih dibuat pusing dengan masalahnya dengan mantan istrinya yang tak kunjung usai. Adinda pun mengetahuinya, Adinda hanya sekedarnya membantu. Karena ia sadar posisinya adalah orang lain. Dia tak berani terlalu jauh mencampuri urusan mereka.


"Ya Bang, aku tak enak sama Bang Frans." ucap Adinda setelah selesai bercerita tentang ulahnya pada Adi.


"Nanti aku ajak Bang Adi deh, kalau Abang masih tak percaya aja sama aku." ungkap Adinda kemudian setelah tidak mendapat respon dari Haris.


"Hm, ya udah. Kau yang nurut sama Adi, Dek." sahut Haris kemudian.


"Siap Bang." balas Adinda cepat. Haris kemudian menyerahkan kartu platinum miliknya pada Adinda. Haris sudah amat percaya dengan Adinda. Haris yakin Adinda bisa menjaga kartunya dengan baik.


Adinda lalu turun ke bawah, kembali bermain dengan anak-anak.

__ADS_1


~


~


~


Beberapa jam kemudian, Adi telah sampai di rumahnya dan langsung membersihkan diri. Ia terlihat tidak bersahabat, sampai Zulfa pun ia hiraukan.


ADI POV


Aku merebahkan diriku di tempat tidur. Mood ku masih buruk. Dan rasanya aku ingin memaki seseorang. Aku merasa amarahku masih memuncak. Aku tidak merasa lega sebelum menuntaskan amarah ku. Aku mengingat kembali kejadian bersama Devi di kamar penginapan itu.


Flashback On.


Kenapa begitu mudah aku memasukinya. Mungkin selaputnya amat tipis pikirku. Sampai aku menghentikan yang kedua kalinya. Devi seolah menikmatinya, kenapa ia tidak kesakitan juga pikirku.


Lalu aku langsung melepas penyatuan ku, setelah aku memahami apa yang sebenarnya terjadi. Aku merasa di tipu olehnya. Aku mengambil kembali handuk ku dan pergi ke kamar mandi. Sekilas Devi terlihat kaget dengan tindakanku yang langsung pergi darinya.


Di kamar mandi aku melepaskan pengaman ku dan membersihkan milik ku. Aku merasa sangat jijik. Berapa laki-laki yang sudah memasukinya. Pantas saja rasanya sudah tidak ketat lagi.


"Bang Adi." Devi memanggilku dan beberapa kali mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya." sahutku dan keluar dari kamar mandi. Devi sudah memakai kembali jubah mandinya, ia langsung memelukku.


Aku reflek melepaskan pelukannya. Lalu Devi berkata, "Maaf bang." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Dev, sebelumnya pun Abang sudah bertanya langsung kan. Kenapa gak jujur?" tanyaku dengan menahan emosiku.


"Aku takut Abang tinggalin aku." sahut Devi mendekati ku.


"Terus, kamu pikir setelah ini aku gak bakal ninggalin kamu?" balasku menahannya yang hendak memelukku kembali.


TBC.

__ADS_1


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, vote, coment 😁, dan favoritkan ❤️ juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰


__ADS_2