
Adinda sudah berada di bandara T*************E. Ia seorang diri, Givan sengaja ia titipkan dengan orang tuanya. Adinda belum tau pasti situasi dan kondisi lokasi yang akan ia tempati dalam bekerja nanti, maka dari itu dia tidak ingin mengambil resiko kalau harus membawa Givan juga.
Sebetulnya ini bukan kali pertamanya Adinda berada di provinsi A ini. Saat rumah tangganya di ujung tanduk pun dia sedang berada di provinsi A, di kota lain dekat dengan pesisir pantai. Dan sekarang dia di tempatkan di dataran tinggi daerah B*********h. Daerah kelahiran Adi Riyana, dan akan di percayakan untuk mengawasi ladang kopi milik Adi Riyana.
Adinda tengah menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Pagi sebelum Adinda pulang ke rumah orangtuanya, Adi mendatangi Adinda di rumahnya. Dan memaksa Adinda untuk mau di jemput oleh Safar, anak dari pamannya. Adinda terpaksa mengiyakan saran dari Adi, karena Adi begitu memaksa sampai terlihat kesal.
"Dengan dek Dinda bukan?" sapa seorang laki-laki berusia 26 tahun itu. Dia adalah Safar, sepupu Adi. Dia menepati janjinya menjemput Adinda.
"Ah, iya. Dengan bang Safar kah?" ucap Adinda tersenyum ramah.
"Betoi dek. Eh, benar dek maksud saya. Mari." jawab Safar membetulkan ucapannya dan mengajak Adinda untuk mengikutinya.
"Santai saja bang. Aku pun sedikit bisa berbahasa bahasa daerah sini." balas Adinda mengikuti langkah Safar.
"Oh ya? Bagus dong. Tak perlu abang menerjemahkan kalau adek hendak berkomunikasi dengan orang sini." ujar Safar yang fokus pada langkahnya.
"Haha, Insyaallah aku tak merepotkan bang." cetus Adinda dengan tawa sumbangnya.
"Bukan begitu dek maksud abang. Maaf jangan tersinggung." jawab Safar menghentikan langkahnya mendadak dan menyadari mungkin dia telah salah berkata. Untung Adinda melangkah sejajar dengan Safar. Jadi tidak sampai menabrak punggung Safar yang tidak kalah lebar dengan milik Adi.
"Tak apa. Ayo bang." ajak Adinda ramah. dengan menepuk pelan bahu Safar. Safar sedikit terkejut dengan tindakan Adinda, tapi ia langsung mengangguk dan melanjutkan langkahnya kembali sampai ke mobil dan langsung membukakan pintu untuk Adinda. Adinda masuk ke mobil dan mengucapkan terimakasih dalam bahasa daerah sana.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di kampung halaman Adi. Adinda langsung di persilahkan untuk masuk ke rumah kediaman Safar. Adinda di sambut hangat oleh keluarga Safar. Adinda sedikit bingung di sini. Ia di beri alamat yang katanya rumah kontrakan yang akan ia tempati, sedangkan Adi memaksanya juga untuk menempati rumahnya yang ada di kampung itu. Tapi Safar malah membawanya ke kediamannya. Mungkin hanya untuk istirahat sejenak pikir Adinda.
Di ruangan lain. Safar tengah menelpon seseorang, "Ya bang, dek Dinda sudah sampai di rumah aku." ucap Safar dengan bersandar di kursi kayu.
__ADS_1
"Kenapa kau bawa balik. Antarkan adek ke rumah abang aja langsung. Dia capek butuh istirahat far!" seru Adi di sebrang telepon.
"Mana tau dia lapar bang. Di rumah abang mana ada makanan." jawab Safar membenarkan tindakannya.
"Memang tak ada kak Ayu kah di rumah abang? ya sudah, lepas adek makan istirahat nanti antarkan balik ke rumah abang. Jangan antar ke alamat yang adek tunjukin. Di lingkungan sana banyak pekerjaan ladang yang mayoritas laki-laki semua. Abang khawatir kalau sampai adek harus tinggal di rumah kontrakan itu." terang Adi memberitahu Safar alasan di balik pemaksaan atas kehendaknya sendiri.
"Ya bang. Perempuan abang kah dek Dinda itu?" tanya Safar kemudian.
"Bukan! Udah kau tak perlu banyak tanya! Udah dulu abang sibuk." seru Adi yang langsung memutuskan sambungan telepon. Safar hanya menggeleng dan pergi keluar rumah untuk melanjutkan pekerjaannya yang sedikit terganggu tadi.
ADI POV
Flashback On
Pukul 06.10 pagi, aku terbangun dengan rasa lengket di daerah milik ku. Astagfirullah, aku terus melafalkan istighfar dalam hati. Ini pasti gara-gara aksi Dinda semalam. Tanggung jawab kau dek telah membuat celana ku belepotan begini. Aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan celana ku dan mandi besar tentunya. Tak habis pikir aku dengan diriku sendiri.
Sesampainya aku di rumah, terlihat Dinda tengah membersihkan halaman rumahnya.
"Hei dek, aduh untung kau belum berangkat. Sampai ngebut loh abang tadi." sapa ku langsung dan turun dari motor hijau ku.
"Assalamualaikum dulu dong!" tegur Dinda menghentikan aktivitasnya dan pergi mencuci tangan ke keran air yang terdapat di pojok rumahnya.
"Hehe, walikumsalam. Gini loh dek, abang mau tanya. Nanti kau di provinsi A tinggal di mana?" ungkap ku duduk di teras rumah.
"Kau nampak buru-buru sampai ngebut begitu cuma mau nanya itu. Kasian betul!" tukas Dinda dengan tampang mengejek. Menyebalkan sekali Dinda ini. Aku pusing semalaman memikirkan dirinya di provinsi A nanti. Dia malah santai saja, apa tak khawatir kah dia pergi jauh dari daerahnya sendiri. Apalagi dia ini perempuan. Apa dia tak merasa takut, takut nyasar atau bagaimana.
__ADS_1
"Jangan mancing emosi abang dek, ini masih pagi. Bahkan abang tak sempat sarapan, cuma untuk nemuin kau dulu." balas ku santai dengan stok kesabaran yang masih full
"Tak usah ada drama di antara kita. Bilang aja kau mau minta sarapan gratis. Banyak basa-basi betul kau ini bang!" sahut Dinda yang aku tau maksudnya mengguraui ku. Aku sudah hafal sedikit banyak tentang cara bicaranya. Adi pokoknya harus bisa sabar, hati nurani ku terus mengatakan demikian.
"Iya kau memang paling tau dek. Coba bagi tau abang alamat kau di provinsi A. Mana tau kan kita bisa jadi partner balap di sana." ujar ku membalas gurauannya. Dinda sedikit terkejut mendengar akhir kalimat ku. Tapi ia mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Bentar ya, aku ambil. Abang disini aja, Givan masih tidur. Dia sensitif terhadap suara, nanti takut terbangun." jawab Dinda berlalu. Aku meresponnya dengan mengangguk saja. Rupanya bocah ajaib itu masih tidur, pantas tidak terdengar suaranya dari tadi.
Dinda kembali memberikan handphonenya kepada ku, "Eh , yang mana dek. Abang tak tau." seru ku sesaat setelah menerima handphone.
Dinda yang hendak pergi masuk ke dalam untuk mengambilkan makanan mengurungkan niatnya, dan duduk di sebelah ku.
"Ini loh bang. Dekat tak dengan rumah abang?" jawab Dinda dengan menunjukkan satu pesan chat di handphonenya.
"Beda satu RT dek, jangan tinggal di situ lah dek. Kebanyakan laki-laki semua tetangga kontrakan kau nanti." ungkap ku memberi tahunya.
"Macam kau tau aja bang." balas Dinda singkat tapi terdengar menyebalkan.
"Abang bilang macam itu karena abang tau dek Dinda! mereka bukan penduduk asli daerah situ yang kerja di ladang abang!" jelasku penuh penekanan.
Saat aku dan Dinda tengah beradu pandang tiba-tiba terdengar suara bentakan dari pintu rumah, "BERISIK!" teriak anak laki-laki yang nampak kesal dengan penampilan khas bangun tidur.
Aku dan Dinda menoleh kompak dan hanya bisa nyengir kuda. Givan rupanya benar-benar marah dengan raut wajah yang terlihat merah padam dan sorot matanya yang tajam.
Anak laki-laki ini, hmm. Aku menggeleng cepat dan membuang nafas panjang saat terdengar tangis pecah dari Givan.
__ADS_1
Flashback Off
TBC.