
"Ya, kenapa memangnya?" terang Dinda menghentikan pijatannya lalu menyodorkan teh hangat kepadaku. Jantung ku berdegup kencang. Yang benar saja ini perempuan.
"Kau tak sopan sekali dek. Ya ampun, abang merasa di lecehkan!" seru ku dengan menerima teh darinya.
"Hah, kau bilang aku tak sopan bang? Abang muntah aku bereskan, aku lap bersih badan abang, aku lepaskan sepatu abang. Sampai hati abang bilang gitu sama aku!" Dinda berseru dengan suara sedikit meninggi. Ia langsung duduk di kursinya dan memijat kembali kepala ku dengan begitu kuat.
"Pelan-pelan loh dek, kuat sekali kau pijat. Ya maaf, abang taunya sudah tak pakai baju dan pengait celana tak terpasang pula" ungkap ku menyesal telah menuduhnya yang bukan-bukan.
"Lain kali jangan sok begitu lah bang! Yang kasian sama kawan kau yang bawa. Yang sayang sama badan kau sendiri!" lirih Dinda yang nada bicaranya berubah jadi halus. Dengan tetap melanjutkan pekerjaannya di kepala ku.
"Ini kali ke berapanya abang nyoba minuman begitu, abang tak terbiasa dek. Cuma gak enak aja tadi sama kawan Haris pada nawarin!" ungkap ku jujur sambil menyeruput teh hangat.
"Ya bilang aja maaf bang aku anak baik-baik, aku gak terbiasa minum-minuman!" balas Dinda menyimak ucapan ku.
"Mana ada anak baik-baik masuk penjara." aku bergumam pelan.
"Apa bang? Jangan terlalu pelan, aku tak dengar!" pinta Dinda dengan menundukkan sedikit kepalanya.
"Gak enak dek, kata Jefri abang harus bisa bersosialisasi." sergah ku menatap lurus ke depan. Aku malu mengakui kenyataan bahwa aku pernah sebodoh itu.
Aku menyimak cerita Dinda tentang tingkah anak-anak. Lanjut dia bercerita tentang dirinya yang suka pergi ke tempat gym selepas kerja, ia mengajak ku nge-gym bareng bila ada waktu luang nanti. Tak lama kemudian Jefri menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
"Dek, yuk?" ajak Jefri tengah memainkan ponselnya
"Lagi malas aku bang!" tukas Dinda tetap melakukan aktifitasnya di kepalaku.
"Mau kemana?" cetus ku merasa terganggu dengan kehadiran Jefri.
"Mabar." Adinda menjawabnya dengan lirih. Sepertinya dia mengantuk terlihat beberapa kali dia menguap.
Haris muncul dengan menggendong Kinasyah, "Dek, tidurin dulu nih. Rewel betul dia!" pinta Haris yang nampak lelah.
Adinda berdiri dan meninggalkan pijatan di kepala ku. "Anak mamah kenapa sih, hm?" sapa Dinda terdengar setelah menggendong Kinasyah. Adinda lalu memeluk Kinasyah dalam gendongannya. Mengelus punggungnya, dan menyanyikan lagu islami. Adinda terlihat seperti ibu yang baik untuk anaknya. Tapi kenapa di sisi lain dia tak patut di contoh untuk anak-anaknya.
"Hm hm hm, perhatikan lah terus. Kemarin bilang tak tertarik.", sindir Haris kepada ku.
"Bukan begitu juga. Heran aja aku sama dia. Hijab tak lepas-lepas, tapi bertolak belakang dengan kelakuannya." tukas ku setelah melihat Dinda pergi.
"Baru segitu yang kau tau udah keheranan, apalagi aku yang setengah mati berjuang ngeluarin dia dari penjara! Banyak pertanyaan bertaburan di kepalaku. Tak satupun aku dapatkan jawaban dari Dinda kenapa dia bertindak sekejam itu" tutur Haris sesekali menghembuskan asap rokoknya. Aku terkejut mendengarnya. Mantan napi juga rupanya Dinda ini.
"Kasus apa?" aku bertanya singkat.
"Nusuk orang dia!" balas Haris tersenyum kaku menatap kedepan. Aku terkejut mendengarnya. Cantik-cantik sadis juga Dinda ini.
__ADS_1
"Penancapan keknya itu ris. Itu tangan susah lepas dari kap mobil!" sahut Jefri tetap fokus pada ponselnya
"Apalah itu namanya. Kesal sekali aku kalau ingat Dinda buat kesalahan macam itu! Kenapa tak di pikir dua kali dulu mau nyelakain orang." cetus Haris terdengar kesal.
"Diakan hanya melindungi dirinya! Itu gerak reflek dari tubuhnya." sahut Jefri menoleh ke arah Haris.
"Gimana kejadiannya?" ungkap ku bangkit dari posisi duduk ku dan berdiri sejajar dengan Haris.
Haris menceritakan dengan jelas kasus Dinda. Fakta unik tentang Dinda lagi, ternyata dia seorang pembalap liar juga. Sudah pasti ada unsur judi di dalamnya. Dinda tidak terima perlakuan tidak mengenakan dari teman laki-lakinya di arena balap tersebut. Dengan sengaja teman laki-lakinya memegang private part dari bagian belakang tubuh Dinda. Dengan gerak reflek dia menancapkan satu buah obeng ke telapak tangan teman laki-lakinya sampai menembus dan menancap kuat di kap mobilnya. Aku membayangkannya saja sudah merasakan linu.
Meski Dinda terlihat nakal, dengan ucapannya yang sedikit mesum. Ternyata dia tidak suka bagian tubuhnya di jamah sembarangan. Biasanya wanita yang memiliki pergaulan seperti Dinda, pasti sudah rusak juga badannya di cicip sana sini.
Tak lama Dinda muncul dengan wajah lelah, "Bang Adi, baliknya besok aja bareng aku nanti. Aku udah ngantuk kali!" ucap Dinda tengah mengucek matanya.
Aku hanya mengangguk mengerti. Haris pun meminta ku menginap semalam lagi untuk menjaga rumah dan penghuninya. Karena dia harus mengantar keluarganya dan beberapa keluarga dari Aziz ke bandara dini hari nanti. Dari kota C ke bandara s***********a memerlukan waktu 4 jam dengan menggunakan jalan tol yang terkenal lurus dan terpanjang itu.
Aku di ajak Haris turun ke bawah dan di perkenalkan dengan beberapa keluarganya yang masih terjaga. Kami mengobrol ringan sampai satu persatu orang pamit untuk istirahat. Ayah Haris ternyata salah satu anggota lembaga negara. Maka dari itu mereka pun setuju dengan pendapat Adinda, karena akan tetap menjaga nama baik keluarganya. Aku kasian dengan Shalwa dan Aziz, apakah ada yang memikirkan perasaan mereka berdua.
Malam semakin larut dan akupun masuk di kamar tamu yang tadi ku tempati. Dompet dan ponsel ku tergeletak di nakas. Maafkan aku dek Dinda, sempat menuduh kau segila itu. Aku terkekeh sendiri mengingat berapa kali aku menuduhnya yang bukan-bukan.
Aku mengecek ponsel ku. Baterainya penuh, perasaan terakhir aku mengeceknya saat di hiburan malam itu sudah hampir kehabisan baterai. Apa Dinda juga yang menchargernya. Perhatian juga Dinda dengan ku dan barang-barang milik ku. Ku buka beberapa pesan masuk yang belum terbuka. Ternyata dia juga tau batasannya, dengan tidak melihat isi dari pesan di ponsel ku. Pantas saja Haris dan Jefri menganggapnya sudah seperti adik sendiri. Apalagi mereka jauh dari keluarga dan kerabat. Aku paham sekarang. Pada dasarnya Dinda juga wanita baik-baik, entah hal apa yang membuatnya demikian. Aku merasa pergaulannya bukan tempatnya, mungkin pergaulannya hanya bagian dari pelariannya saja dari keadaan yang tidak adil untuknya.
__ADS_1
Aku anak rantau juga kan sekarang. Baiklah, mulai hari ini aku harus bisa bertahan hidup di kota ini dan mungkin besok aku akan meminta pekerjaan pada ayah.
TBC.