
"Masuk, shalat. Bantu doa agar Dinda cepet membaik kondisinya." ucap Haris kemudian.
"Jangan nangis lah kau, Di! Aku jadi ikut sedih. Kan ada cara lain agar umi mau kasih restu." lanjutnya setelah melihat mataku memerah.
"Siapa yang nangis? Aku tak nangis!" sahutku mengelak. Tentu saja aku malu karena ketahuan olehnya.
"Iya tak nangis. Sana masuk, shalat." ujar Haris mengulang ucapannya kembali.
Lalu aku nyelonong masuk begitu saja. Aku amat malu padanya. Kan tak lucu seorang Adi menangis hanya karena tak diberi restu. Yah hanya restu, yang membuatku patah semangat seperti ini. Awas saja kau restu, jika kugagal mendapatkanmu. Aku akan menghamili Adindaku, biar kau kudapatkan dengan mudah. Dasar restu, restu sialan!
Setelah aku selesai shalat, berdoa dan berdzikir sebentar. Lalu aku keluar dari kamar. Terlihat Jefri sudah kembali dan menyantap makanan yang ia bawa dengan Haris.
"Makan, Di." ucap Jefri menawariku.
"Ini buat Dinda." lanjutnya dengan menunjukkan bubur nasi dalam wadah kedap udara yang sudah dibuka penutupnya.
"Siapa yang bikin?" tanya Haris pada Jefri.
"Ada betina kau di rumah. Dia yang buatin. Aku tuh pengen Ganis macam Alvi. Akur sama Dinda, baik sama Dinda." ungkapnya curcol.
"Tiap orang kan beda-beda. Dan lagi Dinda sama Alvi kan satu server. Aku sama Alvi aja akur kalau lagi sama-sama s*nge aja." sahut Haris setelah menelan makanannya. Kami semua tertawa kecil saat Haris menuntaskan kalimatnya. Kawanku memang tak ada yang lurus. Aku paham amarah Haris kemarin. Mungkin ia hanya tak ingin Dinda dipermainkan olehku. Hanya saja caranya kemarin pada Dinda cukup kasar.
Lalu ku duduk di sofa single, dengan mengambil sekotak makanan berlogo ayam yang memegang kentaki.
"Itu Dinda tidur apa bagaimana?" tanyaku kemudian.
"Ehh, udah bangun tadi. Coba tengok." jawab Haris dengan menunjuk ruangan sebelah dengan dagunya.
Aku langsung menaruh kembali makanan yang sudah kubuka tadi. Dan berjalan cepat menghampiri Dinda.
"Langsung gercep…..
Kudengar suara Haris dan Jefri yang terkekeh kemudian.
Aku melihatnya tidur miring dengan memeluk guling. Dengan suster Linda yang sedang mengelus-elus pinggang Dinda. Semakin aku mendekatinya, aku bisa mendengar suara rintihannya.
"Dek" panggilku lirih dengan memegang punggungnya.
__ADS_1
"Mana tuh Haris sialan." serunya dengan suara yang bergetar.
"Kenapa memang? Jangan bilang Haris ngapa-ngapain kau semalam." sahutku kemudian.
"AKU TAU YA KAU YANG MASANG SELANG INFUS SIALAN INI! AKU TAU INI TAS KAU! PASTI KAU ORANGNYA, HARIS HARTONO!" teriaknya memberi jeda, "PAP ASEE!" teriak Dinda bukan main kencangnya. Ibunya bilang Dinda alim, hebat sekali orang alim suaranya menggelegar seperti ini. Memang tiada duanya, setelah mengeluarkan darah begitu banyak. Ia tetap bisa berteriak seperti itu.
"Nih mulut nih, kasar betul mulut kau." ucapku dengan mencomot mulutnya. Pap asee, kurang lebih seperti f*ck a*jing artinya.
"Bukan Abang. Jefri itu yang masang." elak Haris begitu muncul dengan mulut yang penuh dengan makanan. Lalu ia kembali lagi ke ruang depan.
Oh aku paham, ia marah karena ia dipasang infusan begitu. Aku juga merasakannya sendiri, bagaimana rasanya tangan yang terpasang selang infus.
"Enak aja kau salahin aku! Itu Adi, Dek. Yang masang. Bukan Abang!" elak Jefri yang muncul dengan membawa nasi kotaknya. Lalu ia duduk menongkrong dengan melanjutkan makannya.
Dinda langsung mendelik tajam padaku. Jefri mengelak dan melemparkan perkaranya padaku.
Aku balas menatap tajam pada Dinda, "Abang beri tau nih, Dek! Kau tau Abang tukang ladang. Bagaimana mungkin caranya Abang bisa pasang selang infus. Abang pandainya nanem benih-benihan. Benih Abang contohnya, yang Abang tanam di rahim kau." ucapku dengan serius. Namun malah terdengar tawa pecah dari dua laki-laki yang mulutnya penuh dengan makanan itu. Sedangkan suster Linda hanya menutup mulutnya dengan tangannya.
"Tak lucu!" seru Dinda dengan memunggugiku.
"Sus, makan dulu aja. Biar Dinda, aku yang jaga." ujarku pada suster itu. Sebetulnya aku meminta suster Linda pergi dari sini. Hanya saja, caranya kuperhalus. Ia mengangguk dan pergi menuju ruang depan.
"Mana yang sakit, Dek? tanyaku lebih mendekatkan posisiku pada Dinda.
"Pinggang aku, perut aku, tangan aku." jawabnya dengan terisak. Ya ampun, jadi ia dari tadi tengah melanjutkan tangisnya.
"Ris, lepasin aja infusannya." seruku dengan suara sedikit keras.
"Nanti, habisin kantong yang itu aja. Dinda suruh makan aja dulu." jawab Haris dengan berjalan menghampiriku dengan membawa wadah berisi bubur dan potongan sayur.
"Ini owner M***** C***** loh Dek yang buat. Pasti enak." ucap Haris dengan memperhatikan wajah Dinda yang basah karena air mata.
"Nih, terus di minum obatnya. Ini satu kali sehari, ini satu kali sehari. Kalau kau mual, kunyah obat ini dulu." lanjut Haris dengan memberi Dinda tiga macam obat.
"Makanya disuapin tukang ladang. Makin mantap, Dek. Soalnya pandai dia mencangkul, pasti sendoknya penuh. Uhh, mantul." ujar Haris yang masih membujuk Dinda.
Namun Dinda masih melengkungkan garis mulutnya ke bawah, "Lepas dulu ini. Kau nyiksa aku hidup-hidup." ungkapnya begitu pilu.
__ADS_1
"Habisin kantong yang ini, Dek. Cepet makan! Jangan ngebantah terus!" ucap Haris penuh tuntutan dan terdengar tak bisa dibantah. Lalu Haris pergi meninggalkan kami berdua.
"Sini Abang bantu bangunnya." tuturku halus. Aku paham jika Dinda sudah berderai-derai air mata begini. Ia tak bisa mendengar suara yang terdengar kasar. Karena pasti tangisnya akan berlanjut.
"Tak ada yang sayang sama aku." ucapnya lirih saat posisiku berada sedikit menunduk tepat di depannya dan mengalungkan tangannya dileherku, dan langsung kutegakkan badanku. Ini cara para dokter dan suster yang membantuku bangun saat di rumah sakit kemarin.
"Tenang aja, masih ada Abang yang sayang sama Adek." sahutku kemudian setelah ia bisa mendirikan dirinya.
"Bohong." balasnya cetus.
"Memang, cuma kalimat penenang aja. Macam kau ucapkan waktu Abang di rumah sakit kemarin." ujarku dengan terkekeh.
"Tenang aja, ada aku yang selalu di samping Abang." ucapku menirukan ucapannya waktu di rumah sakit. Lalu Dinda terkekeh pelan karenaku tadi.
"Nyandar di sini." tukasku memintanya bersandar pada bantal yang kutata rapi pada tembok kayu yang berlubang itu.
"Biar Abang suapin." lanjutku mulai menyendokan bubur padanya. Ia menurutiku, ia membuka mulutnya dan memakannya dengan lahap.
"Nah kan, apa Abang kata. Sendokan tukang ladang memang mantul." ucap Haris yang berjalan menuju dapur.
"Bang, minum." ucapnya pada suapan ketiga. Aku mengangguk dan berjalan masuk ke dapur untuk mengambilkannya air minum.
Aku melihat Haris tengah mencuci tangannya. Dan ia berkata padaku, "Tanyain pelan-pelan. Ada masalah apa, atau tanya habis aktifitas apa." ucap Haris yang aku tau maksudnya adalah membicarakan Dinda.
"Memang penyebab pendarahan biasanya apa?" tanyaku pada Haris.
"Banyak hal, coba aja minta dia cerita sendiri. Itung-itung pendekatan juga kan." sahut Haris dengan tersenyum kuda. Aku malu sendiri saat Haris memojokkanku seperti ini.
"Kau sama Dinda gimana sih sebetulnya? Aku tak paham konsep pertemanan kalian." tanyaku padanya dengan serius.
TBC.
***Bagi LIKE dan VOTEnya ya 😅
Ayo dukung author selalu 😁
terimakasih 🥰***
__ADS_1