Sang Pemuda

Sang Pemuda
116


__ADS_3

Sebelas orang berbondong-bondong menuju rumah yang paling ujung tersebut. Dengan pemikiran mereka yang sudah tersulut emosi mendengar beberapa saksi mata yang terus mengobari mereka dengan ucapannya.


Tok, tok, tok..


Ketukan pintu berulang kali terdengar dari depan rumah Adi. Namun Adi yang masih berusaha menjinakkan Dinda tak sampai mendengar gedoran pintu yang cukup kuat itu. Bahkan sampai gagang pintu itu ditarik beberapa kali, namun tetap tak terbuka. Karena Adi sempat menguncinya dari dalam.


"...Dari samping aja, Pak." ucap seseorang yang mengutarakan idenya.


Lalu mereka semua berjalan terburu-buru menuju pintu samping rumah Adi.


Tarikan digagang pintu yang ternyata tak dikunci itu membuahkan hasil. Mereka langsung mencari sumber suara perempuan yang terdengar menangis pilu itu.


Mereka menemukan kamar dengan pintu tertutup dengan suara tangis perempuan yang semakin jelas terdengar. Tanpa pikir panjang lagi, salah satu dari mereka langsung membuka pintu kamar tersebut.


Adi amat terkejut dan melepaskan tangannya yang berada di dalam inti Adinda. Lalu ia menutupi tubuh Adinda dengan selimut. Karena kondisi Adinda cukup memprihatinkan dengan baju yang sudah terkoyak, dan celana yang sudah turun sebatas lutut.


Adi langsung ditarik dan diseret ke luar rumah. Sementara Adinda langsung ditenangkan oleh istri dari ketua RT.


Nyawa Adi terselamatkan, berkat ketua RT yang menengahi warganya yang tangah berapi-api tersebut. Adi tak menyangka tindakannya berakibat sefatal ini.


Sementara itu, beberapa saudara Adi diminta untuk datang ke lokasi kejadian. Dan sebagian lagi ada yang menemani Adi yang dibawa ke balai desa setempat.


"... Diserahkan ke WH aja, Pak." seruan dari seseorang. Dada Adi bergemuruh, terlihat ia ketakutan sekaligus khawatir akan nasibnya dan Adinda. WH merupakan singkatan dari Wilayatul Hisbah, adalah sebuah lembaga pengawasan pelaksanaan Syariat Islam di provinsi A. Istilah ini juga digunakan oleh masyarakat umum dan pada pemberitaan media massa sebagai "panggilan" untuk polisi Syariah Islam.


~


Satu jam kemudian, Adi pulang ke rumahnya dengan pamannya dan juga saudara yang lainnya.


Adi tak menjawab pertanyaan dari beberapa saudara. Ia langsung menuju ke Dinda yang tengah menemani anaknya bermain ponsel.


"Kita nikah sekarang, Dek." ucap Adi lirih. Adinda menoleh pada Adi dengan pandangan kaget. Ia tak mengerti dengan keadaan ini.


"Aku tak mau!" jawab Adinda terlihat marah dengan Adi.


"Kau mau kita diproses? Kau mau dicambuk seratus kali? Kalau Abang terus terang tak mau dan tak sanggup." sahut Adi agar Adinda mau mengerti.


"Kau yang salah. Bisanya malah kita yang kena proses? Kenapa tak kau aja yang diproses, heh? Kau kan pelakunya!" balas Adinda dengan delikan tajamnya.

__ADS_1


"Apa maharnya, Di? Dihubungi belum orang tua Dindanya?" seruan dari paman Adi yang mengurus segalanya mendadak seperti ini. Ide itu pun terlontar darinya. Setidaknya, hanya itu yang menyelamatkan mereka berdua dari proses hukum di provinsi A tersebut.


"Surat tanah aja gimana, Pak cek?" sahut Adi yang memutar tubuhnya menghadap pamannya.


"Memang tak ada emas kah? Sepuluh apa lima belas mayam?" balas paman Adi dengan mengutak-atik ponselnya. Untuk menghubungi sanak saudaranya.


"Ada itu yang Mak cek tunjukin tadi, Di. Yang hadiah dari masyik itu. Mau tak?" ujar bibi Adi menimpali.


"Kecil itu, Mak cek. Biar surat tanah aja. Nanti lepas ini gampang dibalik nama." ucap Adi yang mendapat anggukan.


Adinda terlihat begitu kebingungan dengan situasi sekarang ini. Mereka akan dinikahkan dengan kondisinya yang hampir diperkosa oleh Adi tadi.


"Papah pinjam hpnya dulu ya, Bang. Mau telpon nenek sama kakek dulu ya." ucap Adi meminta ponsel Adinda pada Givan.


Lalu Givan menyerahkan ponselnya yang tengah ia mainkan pada pemuda yang sebentar lagi akan menjadi ayah sambungnya itu.


Adi langsung menghubungi orang tua Adinda. Sebenarnya ia merasa ini tak sopan. Terlebih lagi mendadak seperti ini. Ia tak yakin akan diberi izin untuk menikahi putri mereka dengan mendadak seperti ini.


"Tak diangkat-angkat, Dek." ucap Adi menoleh pada Adinda yang hanya diam saja itu.


"Coba hubungi a Arif." sahut Adinda kemudian terdiam lagi. Givan turun dari pangkuan Adinda. Karena diajak oleh Liana untuk ikut dengannya.


"Ya Din. Gimana?" ucap Arif begitu mengangkat teleponnya.


"Ini Adi, A." sahut Adi grogi.


"Oh, ya. Kenapa, Di?" tanya Arif kemudian.


"Bisa tak kalau aa ke rumah orang tua Dinda dulu. Mau ada yang aku bicarakan. Maaf kalau kurang sopan." ujar Adi.


"Apa itu? Dinda sakit kah? Atau bagaimana?" tanya Arif di seberang telepon.


"Tak A. Dinda dan Givan baik-baik aja. Hubungi balik ya A, kalau udah sampai di rumah ibu sama bapak." jawab Adi terdengar di Arif.


"Ok, tunggu." balas Arif yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Bang, kau serius? Emang bisa ngurus nikah mendadak begini?" ucap Adinda setelah Adi selesai menelpon Arif.

__ADS_1


"Nikah di bawah tangan dulu, Dek. Tapi Abang janji, lepas ini. Abang langsung ngurus untuk daftar di KUA." jawab Adi. Adinda melengkungkan bibirnya ke bawah.


"Aku tak mau nikah siri. Nanti aku beranak nanti, anak aku tak punya sertifikat hak cipta. Belum lagi nanti kau gampang betul ceraiin aku. Tinggal bilang 'Aku talak kamu.' nanti aku udah resmi jadi janda lagi." respon Adinda yang mulai menangis kembali.


Adi malah menahan tawanya mendengar ucapan Adinda. Suasana masih sangat ricuh. Belum lagi Adi masih terngiang tentang dirinya dan Adinda yang akan dicambuk seratus kali itu. Malah wanitanya melucu dengan membawa-bawa sertifikat hak cipta.


"Apa itu sertifikat hak cipta?" tanya kak Ayu yang menyimak pembicaraan mereka. Karena posisinya cukup dekat dengan Adi dan Adinda


"Itu...apa Bang namanya?" ucap Adinda yang menghapus air matanya kasar. Dan menoleh pada Adi.


"Akte lahir, Dek." jawab Adi dengan tersenyum manis. Ucapan Adinda yang tak sengaja melucu itu membuat Adi lebih rileks.


"Iya, itu loh Kak. Akte lahir maksud aku. Cuma tak ketemu, aku hanya ingat novel-novel aku. Jadi aku salah ucap, malah bilangnya sertifikat hak cipta pulak." jelas Adinda pada kak Ayu.


Kak ayu tertawa renyah mendengar ucapan dari Adinda.


"Yang sembilan apa yang lima hektar, Di?" tanya paman Adi dengan ponsel yang masih ia tempelkan di telinganya.


"Sembilan aja, Pak cek. Betina aku mahal." jawab Adi kemudian. Paman Adi terkekeh geli mendengar ucapan keponakan itu.


"Nih, kau dengar. Abang maharin kau mahal. Awas aja kalau kau kabur." ucap Adi pada Adinda. Adinda menoleh pada Adi dengan melayangkan tangannya untuk memukul lengan Adi.


"Dinda ganti baju." seruan dari saudara Adi.


"Ganti baju apa? Aku belum pesen gaun." ucap Adinda bingung.


"Gamis aja." sahut saudara Adi. Sontak membuat Adinda menjatuhkan rahangnya.


"Astagfirullah, nikah pakai gamis." ucap Adinda dengan menundukkan kepalanya dengan menggeleng-gelengkannya.


"Sabar. Resepsi nanti kau akan pakai sunting A***." sahut Adi yang mendengar ucapan Adinda barusan.


Adinda menghela nafasnya, lalu berjalan menuju kamar.


Saat pandangan Adi masih melihat ke pintu kamar yang tertutup. Ia dikejutkan dengan getar ponsel digenggaman tangannya.


Adi terlihat berpikir sejenak, sebelum mengangkat panggilan telepon dari kontak Arif tersebut.

__ADS_1


TBC.


VOTE BANYAK-BANYAK LOH YA 😅


__ADS_2