Sang Pemuda

Sang Pemuda
54


__ADS_3

Sore harinya Adinda telah berada di kota C. Ia sedang bersama keluarganya dalam ruang rumah sakit M***a P*****n, tempat ayahnya dirawat.


Ia diberi rentetan pertanyaan dari ayahnya yang tak mengenakan hatinya. Adinda hanya bisa menunduk tanpa menjawab satu pertanyaan pun. Karena ia paham jika ia bersuara maka amarah ayahnya tak akan pernah habis.


Ya benar, ayahnya tengah memarahinya karena ayahnya tak pernah setuju ia bekerja sejauh itu.


"Kamu tau sendiri kan? Belum ongkos, waktunya, jarak yang begitu jauh, kalau ada kabar buruk seperti ini yang ada kamu capek sendiri karena perjalanan. Udah khawatir, capek juga. Udah tak usah kerja, lebih baik buka usaha aja. Bapak tau kamu pandai cari uang, dengan kamu diam dirumah aja kamu bisa nyukupin kebutuhan anak kami dan kebutuhan kamu sendiri. Kerja jauh buat alesan aja biar bisa lebih bebas kan?" ucap ayahnya yang belum puas mengeluarkan amarahnya.


Adinda hanya menunduk, "Ya Pak, Dinda nanti obrolin dulu sama Bosnya Dinda." sahut Dinda ingin segera menyudahi ini. Adinda mengambil ponselnya dan memasukannya dalam tote bag. Lalu ia menghampiri Givan yang sedang duduk bersama neneknya.


"Ayo Bang, ikut Mamah yuk." ujar Givan mengajak Givan pergi


Ayahnya memperhatikan mereka, "Mau kemana lagi tuh? Heran sama kamu, kenapa sih gak betah banget ngumpul sama keluarganya. Baru juga datang, udah mau pergi lagi." ungkap ayahnya kemudian.


"Kan mau ngomongin masalah kerjaan Dinda. Katanya bapak gak setuju Dinda kerja jauh." balas Adinda dengan menahan suaranya agar tak meninggi.


"Gak harus sekarang juga. Liat Din, Bapak masih di rumah sakit!" ucap Afandi, kakak pertama Adinda.


Adinda menghampiri kakaknya yang sedang berdiri di depan jendela ruang inap ayahnya, "A, A Afan." rengek Adinda dengan manja dan memeluk lengan kakaknya.


"Bos aku lagi gak baik-baik aja sekarang. Aku mau liat keadaannya dulu. Kalau dia udah membaik, aku nanti bicarain masalah kerjaan aku." ucap Adinda dengan mendongak memperhatikan wajah kakaknya yang terlihat lelah itu.


Afandi menurunkan pandangannya, menatap adiknya sekilas, "Hmm, jangan lama-lama. Givan di sini aja sama Aa, biar kamu gak nginep." ungkapnya.


"Aku bawa aja, aku takut Givan rewel nanti." sahut Adinda menolak secara halus.


"Aa paham, intinya kamu mau kabur ini tuh. Lagian namanya juga orang tua. Dimaklumi aja coba Din! Kamu sih jelas banget nampakin rasa gak sukanya." balas Afandi lirih, agar tak didengar oleh orang tuanya. Ia paham Adinda khawatir dengan ayahnya, tapi ia tak suka jika ayahnya bersikap demikian padanya.


"Aa gak ngerasain aja!" ujar Adinda pelan dengan menghapus air matanya yang menetes sebelum mendapat ijin darinya. Lalu Adinda pun pamit, dan pergi dari rumah sakit tersebut.

__ADS_1


~


"Lagi tak ada uang aku Bang!" ucap Adinda dengan menatap bingung Frans. Ya, dia sekarang sudah berada di bengkel mobil Frans, karena Frans menelponnya sesaat setelah Adinda sampai di kota C.


"Udah bawa aja. Sempit di sini, mobil kau makan tempat." sahut Frans kemudian.


"Berarti aku punya utang dong." balas Adinda memanyunkan bibirnya. Adinda adalah tipe orang yang anti pada hutang piutang. Jika salah satu temannya membutuhkan bantuan dana, Adinda lebih mengikhlaskan uangnya dibandingkan ia hutangkan. Dan jika ia tidak mempunyai uang, Dinda lebih suka meminta secara terang-terangan kepada teman terdekatnya, ia khawatir tak bisa membayar jika berhutang. Maka dari itu banyak teman yang bersikap baik padanya.


"Tak, udah bawa aja sana." ujar Frans memperhatikan mobil Adinda yang baru di keluarkan dari dalam bengkel oleh anak buahnya.


"Mana bagian belakang ada yang diganti lagi. Pasti kau kehabisan modal Bang, kalau aku tak bayar." ungkap Adinda menatap bingung mobilnya yang terlihat semakin cantik itu.


"Banyak kali kau cakap! Tinggal bawa-bawa aja tuh. Terus cepet balik sana. Pusing aku liat anak kau! Bisa tambah rusak semua mobil yang ada di sini, Din!" cetus Frans melihat aksi Givan yang bertingkah layaknya montir mobil.


"Biarin aja Napa Bang! Orang lagi mainan." sahut Adinda terkekeh.


"OM BAWEL, TURUNKAN AKU!" teriak Givan tidak terima.


Lalu Frans menyerahkan Givan pada Adinda, "Sana kau jauh-jauh! Geram kali aku sama kau." ucap Frans mendelik tajam pada Givan.


Namun Givan malah mengejek Frans dengan tangan yang ia tempatkan seperti tanduk, dan lidah yang ia julurkan. Sontak Frans pun melotot melihat reaksi Givan, "Wah, berani ya kau!" ujar Frans dengan mengambil sapu.


Namun Givan dan Adinda malah tertawa terbahak-bahak dan berlari masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya cepat. Frans menggeleng dan tersenyum saat melihat mobil Adinda yang perlahan hilang dari pandangannya, "Dasar, anak nakal." gumam Frans pelan. Entah untuk Adinda atau anaknya.


Di dalam mobil Givan banyak bertanya, dan Adinda meladeninya dengan senang hati.


"Mah, om itu kaya gak suka ya sama aku. Tiap aku main, cepet-cepet disuruh balik. Kenapa ya mah kira-kira? Padahal aku udah sopan, dan baik juga karena udah bantu kerjaan dia." ungkap Givan merasa bingung pada kejadian tadi.


"Mamah pun tak paham, kenapa ya kira-kira Bang?" sahut Adinda yang bertanya balik pada Givan. Ia sengaja berkata demikian, agar Givan menemukan sendiri letak kesalahannya.

__ADS_1


"Aku tuh tambah pusing kalau ngomong sama Mamah! Malah tanya balik pula, kan aku tak tau. Makanya aku nanya!" balas Givan dengan sewot.


"Abang yakin udah sopan dan baik sama om tadi? Tadi pas pamit pun kita kabur, Abang tak cium tangan om itu lagi." ujar Adinda menoleh sesaat pada anaknya dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan.


"Kan mau dipukul pake sapu. Masa iya aku diam di tempat, mati konyol dong!" seru Givan yang membuat Adinda terkekeh geli. Givan sendiri sering Adinda bawa menongkrong dengan teman-temannya, tak heran jika ucapannya sudah seperti orang dewasa. Karena pengaruh lingkungan juga tutur kata yang sering ia dengar dari sekelilingnya.


"Ok ok. Mamah bagi tau nih ya, om itu sebenarnya suka sama Abang kalau Abang tak usah bantuin om itu perbaiki mobil. Omnya malah jadi bingung kalau Abang ikutan ketak-ketuk gitu, ok? Jadi jangan gitu lagi ya?" ucap Adinda agar Givan paham, "Nanti Kalau Abang udah besar, udah dewasa, boleh kok bantuin om itu perbaiki mobil. Sekarang kan Abangnya masih kecil, belum sekolah pula. Abang tak tau kan mana bagian yang rusaknya? Jadi lebih baik kalau main ke om lagi Abang harus anteng, tak perlu bantuin om Frans." lanjut Adinda dengan menatap mata anaknya saat berhenti di lampu merah.


Lalu Givan mengangguk mengerti dan tersenyum pada ibunya. Adinda paham rasa penasaran anaknya itu. Jika Givan dilarang maka timbulnya anak itu akan semakin memaksa dan sulit dikendalikan. Tapi jika diberitahu pada waktu yang lain, seperti ini. Givan akan mengerti, dan tidak akan mengulanginya lagi saat kembali berkunjung ke tempat tersebut.


"Mah kita mau kemana sih?" tanya Givan merasa penasaran akan tujuan ibunya.


"Mau nengok Papah Adi. Nanti kayak tadi, ok? Kalau liat yang serem Abang pura-pura tak nampak dan, tak usah bagi tau Mamah. Nanti Mamah ikutan takut." jawab ibunya melirik sesaat pada Givan.


"Oh, ke rumah sakit lagi ya? Sebenarnya yang serem bukan hanya ada di rumah sakit. Tapi entah mengapa, kok yang di rumah sakit ngeri-ngeri sekali. Aku kan nurut sama Mamah, aku pura-pura tak nampak dan tutup mulut biar tak diganggu mereka." sahut Givan mengerti.


Givan seperti anak umum pada biasanya, tapi ia punya kelebihan bisa melihat makhluk halus. Konon katanya ada turunan dari neneknya Mahendra.


Pada saat Givan bayi, ia sering menangis dan rewel tanpa sebab. Sampai ia bisa berbicara dan menceritakan apa yang ia lihat pada orang tuanya. Dan pada saat itu Adinda dan Mahendra paham, Givan memiliki keistimewaan.


Berbanding terbalik dengan Mahendra yang bangga akan keistimewaan anaknya. Adinda malah berusaha mencari cara agar Givan tak bisa melihat makhluk halus lagi. Dan menutup-nutupi kebenaran itu dari orang luar, dia khawatir Givan akan dikucilkan. Adinda berpikir, jika Givan dibiarkan saja begitu. Maka psikisnya akan terganggu. Dan mengahambat perkembangan otaknya.


Dengan beberapa usaha Adinda itu, Givan bisa melihat hanya diwaktu Givan kehendaki sendiri. Karena sudah diajarkan cara untuk mengendalikan pengelihatan ajaibnya tersebut. Tapi tetap saja, kontrol Givan tidak sesuai harapan Adinda.


Contohnya seperti tadi, pada saat Adinda dan Givan berjalan di lorong rumah sakit M***a P*****n tadi. Givan melihat sepotong kaki penuh darah yang berjalan menghampirinya. Tentu saja seruan dari Givan membuat Adinda kalap dan berlari tak tentu arah.


TBC.


Ayo semangatin aku 🤭

__ADS_1


__ADS_2