Sang Pemuda

Sang Pemuda
52


__ADS_3

Crazy up 😱


happy reading


AUTHOR POV


Sudah dua belas jam lamanya Adi masih tertidur di ranjang rumah sakit, dengan jarum infus yang terpasang di tangannya.


Jefri sedang mendapat tugas malam, dan ia menyempatkan diri untuk datang ke ruang kamar Adi.


Setelah kejadian Adi pingsan, Jefri langsung merebahkan tubuh kawan karibnya tersebut untuk bisa mendapatkan pertolongan pertama.


Namun, Adi makin kesulitan bernapas. Jefri dengan bantuan beberapa temannya membawa Adi ke unit gawat darurat. Di sana Adi langsung dipasangkan alat bantu pernapasan dan mendapatkan pertolongan lanjutan.


Jefri kalap dengan keadaan Adi. Jefri langsung menelpon Zulfa untuk memberitahukan keadaan abangnya dan meminta mereka datang untuk melihat keadaan Adi tersebut.


Seorang dokter biasanya tidak bisa profesional saat menangani pasien yang merupakan orang terdekatnya sendiri. Dan Jefri sedang mengalaminya sekarang. Ia meminta rekan dokternya memberikan penanganan yang terbaik untuk Adi.


"Kenapa belum tidur Umi?" sapa Jefri setelah berada di ruang inap Adi. Umi, Zulfa dan Edi sudah berada di kota C, lebih tepatnya di rumah sakit tempat Adi dirawat sekarang.


Terlihat keadaan ibu Meutia tidak baik-baik saja, matanya bengkak dengan air mata yang merembes keluar membasahi wajahnya.


"Adi over dosis atau bagaimana? Cerita sama Umi, Nak!" seru Ibu Meutia dengan menarik jas putih Jefri.


"Setau ku, Adi tak pernah pakai barang tersebut Umi. Tapi memang ia sedikit cerita tentang sesak nafas yang dideritanya selama satu minggu ini. Siang tadi juga aku nganterin Adi untuk periksa masalah sesak nafasnya. Untuk pemeriksaan awal, Adi baik-baik aja. Makanya Adi siang tadi melakukan rangkaian tes lebih lanjut untuk mengetahui penyebab sesak nafasnya." terang Jefri dengan jelas.


"Tapi sebelumnya Abang baik-baik aja kok." sela Zulfa yang terbangun dari tidurnya karena seruan dari ibunya tersebut. Zulfa menyimak penjelasan dari Jefri barusan.


"Iya, Abang pun tak paham Dek." ucap Jefri menatap pada Zulfa.


"Apa di keluarga Umi ada riwayat sakit jantung atau asma?" tanya Jefri pada ibu Meutia.


Ibu Meutia menggeleng, "Ada riwayat diabetes, tapi dari ayah sambung Adi. Kan tak mungkin juga." jawab ibu Meutia dengan menatap kosong anaknya yang terbaring lemah itu.

__ADS_1


Jefri mendapatkan telepon, ia diminta untuk kembali mengecek keadaan beberapa pasien yang ia rawat. Jefri permisi, dan berlalu pergi dari ruang perawatan Adi.


Pagi harinya, pak Dodi sampai di kota C. Ia langsung menuju rumah sakit tempat Adi di rawat. Lalu ia meminta istrinya dan kedua anaknya untuk pulang ke rumah Adi yang berdekatan dengan rumah ibu Rokhayah. Ia berinisiatif untuk menjaga Adi sementara yang lainnya istirahat.


Setelah mendapat kabar anaknya dirawat di rumah sakit. Pak Dodi langsung meminta orang kepercayaannya untuk menghandle semua pekerjaannya yang sedang mengalami sedikit masalah tersebut. Lalu ayah Dodi langsung bertolak dari provinsi KB menuju bandara S******o H***a dan melanjutkan perjalanan darat melalui tol yang dikenal sebagai tol terpanjang itu.


Pak Dodi khawatir dengan keadaan Adi yang tidak segera membuka matanya. Sakit apa yang diderita anaknya sampai ia tertidur selama ini.


Pak Dodi lalu mengambil wudhu, ia menunaikan shalat Dhuha dan melanjutkannya dengan dzikir. Ia berharap keadaan anaknya lekas membaik dan Adi bisa segera membuka matanya kembali.


Saat jam makan siang, Haris menyempatkan diri untuk menengok keadaan Adi. Ia mendapat kabar tak enak itu dari Jefri kamarin hari. Namun ia saat itu sedang menyelesaikan masalahnya dengan Sukma. Dan baru bisa menyelesaikan masalahnya siang hari ini.


"Assalamualaikum." ucap Haris saat akan masuk ke dalam ruangan Adi.


"Wa'alaikum salam." sahut pak Dodi dengan menoleh pada pintu yang terbuka.


"Maaf Yah, baru bisa jengukin Adi. Tadi abis selesaiin masalah sama mantan istri." ujar Haris dengan mencium tangan pak Dodi.


"Tak apa. Udah kelar tapi masalahnya?" tanya pak Dodi. Dan Haris mengangguk mantap, "Alhamdulillah sudah Yah." jawab Haris lalu memeriksa keadaan Adi sekilas.


"Kondisinya udah stabil. Mungkin Adi kelelahan aja jadi butuh istirahat lebih." ungkap Haris kembali menyelimuti Adi sebatas perut.


Tak lama dokter yang merawat Adi pun datang untuk memeriksa Adi secara berkala.


"Eh ada kamu Ris." ucap dokter tersebut yang mengenal Haris. Dokter Rusmanto, rekan sesama dokter yang usianya di atas Haris.


"Kawan aku ini Bang." ungkap Haris kemudian, "Ada kemajuan tak Bang?" lanjut Haris bertanya saat dokter Rusmanto selesai mengecek kondisi Adi.


"Udah stabil kok." ucap dokter Rusmanto.


"Sakit apa dia kira-kira Bang? Soalnya mendadak juga dan langsung parah aja ini anak." tutur Haris terlihat begitu akrab dengan dokter Rusmanto.


"Hasil tesnya sore ini keluar. Menurut analisa sih kayaknya penyumbatan pembuluh darah jantung." ungkap dokter Rusmanto. Pak Dodi terlihat begitu kaget.

__ADS_1


"Kok bisa Bang? Biasanya hal itu kan terjadi pada lansia." tanggap Haris terlihat serius.


"Itulah. Penyakit jaman sekarang tak pandang umur." sahut dokter Rusmanto, "Mari Pak, mari Ris." lanjut dokter Rusmanto pamit keluar dari ruangan Adi.


Haris terlihat sedang berpikir, "Ada riwayat keluarga yang sakit jantung tak Yah? Atau diabetes, apa penyakit penyerta lainnya?" tanya Haris pada pak Dodi.


Pak Dodi menggeleng, "Kurang tau pasti, kalau dari ibunya tak ada. Kalau dari ayah kandung Adi, ayah kurang tau juga. Karena posisi ayah ini ayah sambung. Kalau ayah memang ada turunan diabetes." ucap pak Dodi serius.


Pak Dodi amat terkejut mendengar putranya dianalisa menderita penyumbatan pembuluh darah di jantungnya.


Haris pamit saat ibu Meutia, Edi dan Zulfa datang dengan membawa makanan.


"Mari Mi, Yah, semuanya. Assalamualaikum." pamit Haris kemudian. Ia tak mau mengganggu waktu makan siang mereka.


"Wa'alaikum salam." sahut mereka serentak.


Beberapa jam kemudian, Jefri datang dengan membawa hasil tes Adi. Sebelumnya ia telah membahas hasil tes Adi dengan dokter yang menangani Adi.


"Ehh, masuk aja Bang." ucap Zulfa yang berpapasan dengan Jefri di depan ruangan Adi.


Jefri tersenyum ramah sambil mengangguk, lalu ia melanjutkan tujuannya. Zulfa memperhatikan Jefri saat Jefri melangkah masuk ke dalam ruangan Adi. Ia tersenyum sesaat dan melanjutkan langkah kakinya untuk pergi membeli cemilan di kantin rumah sakit.


"Saran aku sih Yah, apa tak sebaiknya kita tanyakan keadaan Adi pada orang pinter." ujar Jefri setelah menjelaskan hasil tes Adi.


"Orang pintar itu apa? Kau juga kan pintar makanya jadi dokter." sahut pak Dodi.


"Maksud aku, sejenis ustad gitu Yah." balas Jefri menjelaskan maksudnya, "Ikhtiar sih apa aja kan Yah. Yang penting Adi bisa sembuh lagi." lanjut Jefri memperjelas maksudnya.


Namun saat mereka tengah serius berdiskusi, tiba-tiba Adi batuk-batuk. Orang-orang yang berada di situ pun langsung memusatkan atensinya pada Adi.


TBC.


Jangan lupa untuk support author ya 😉

__ADS_1


LIKE, VOTE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, COMENT and tap ❤️ FAVORIT


terimakasih 🥰


__ADS_2