Sang Pemuda

Sang Pemuda
76


__ADS_3

Maaf eh, agak jorok.


Tapi di sini juga terungkap nih bagaimana Adi ke........


Yuk tengok ceritanya 😊


...Happy reading...


Pukul sembilan malam. Dinda dan Givan sudah kembali ke rumah. Dengan Givan yang terlihat mengantuk, dan Dinda yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Aku mau nemenin Givan dulu ya, Bang. Nanti lepas Givan tidur, aku keluar kok. Nanti aku tidur di ruang tivi aja bareng Zulfa, bareng umi." ungkap Dinda kemudian.


"Tidur di dalam juga tak apa." ucapku kemudian. Lalu mereka masuk dalam kamar.


Aku besok akan memulai puasaku. Semoga ada titik terang dari ikhtiarku untuk mencari kesembuhan ini.


Zulfa dan umi sudah tertidur pulas di atas kasur angin yang di tempatkan di ruang tivi. Aku duduk di sofa dengan membaca dzikirku kembali sembari menunggu Dinda keluar dari kamar. Aku ingin sedikit mengobrol dengannya.


Tak lama Dinda keluar dari kamar memakai pakaian tadi yang masih rapi, dengan wangi lembut green tea yang cukup menyengat.


"Mau ke mana?" tanyaku saat ia memakai kembali sepatu bertumit lancipnya.


"Tidur di dalam gih, Bang." ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku.


Aku bangkit dari dudukku, dan menghampirinya yang sudah memegang gagang pintu.


Lalu aku menarik tangannya, berharap ia menghentikan langkahnya untuk keluar dari rumah.


"Udah malam. Mau ke mana?" ujarku mengulang kembali pertanyaanku.


"Keluar sebentar. Biasanya Givan tak bangun lagi kok kalau malam. Gih tidur di dalam bareng Givan." jawabnya seolah menutup-nutupi sesuatu.


"Ada apa? Sebentarnya ke mana? Kau pergi pasti ada tujuannya kan?" sahutku berharap Dinda menjawabnya lebih jelas.


"Tak ada apa-apa. Aku ada janji sama kawan, Bang. Sebentar kok tak lama." balasnya mencoba melepaskan tanganku yang masih memegang kuat pergelangan tangannya.


"Ke mana? Mau balapan lagi?" tuturku sedikit menekankan suaraku.


"Tak Bang. Tenang aja." tukasnya yang berhasil melepaskan tangannya dari genggamanku. Ia lalu pergi begitu saja dengan menaiki mobilnya.

__ADS_1


Ini malam minggu. Aku lupa kalau Dinda masih muda. Mungkin ia akan nongkrong bersama kawan-kawannya. Bodohnya aku dari tadi menunggunya keluar dari kamar dan menghadapkanya mau mengobrol denganku.


Aku ingin Dinda menceritakan apapun yang aku tanyakan. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Namun ia memilih menghabiskan malam minggu di luar sana. Ya sudahlah, mungkin bukan sekarang waktunya.


~


Aku terbangun pukul satu malam. Aku mengecek keadaan rumah, dan ternyata Dinda masih belum pulang juga. Aku mengintip dari jendela, mobilnya juga belum terpakir di halaman rumahnya.


Mungkin sebentar lagi ia akan datang, pikirku. Lalu aku mengambil wudhu dan memulai shalat malamku.


Setelah selesai shalat. Seperti biasa, aku menyambungnya dengan doa-doa dan dzikir yang aku bisa.


Tak lama terdengar suara deru mesin mobil Dinda yang berhenti di depan rumah.


Aku cepat-cepat bangkit dan keluar dari kamar. Aku langsung membuka pintu sebelum Dinda mengetuknya. Aku khawatir umi tau dinda pulang dini hari, dan akan beranggapan buruk pada Dinda. Mesti dari deru mobilnya saja cukup mengusik tidur seseorang, karena suasana yang begitu sepi dan tidak ada suara lain selain suara jangkrik.


Dinda berjalan tergopoh-gopoh dengan tangan yang menggapai apa saja yang bisa untuk berpegangan.


Aku paham sekarang. Aku juga melupakan selain Dinda berada di lingkungan balap, ia juga berada di lingkungan yang tak baik. Ya benar, tempat hiburan malam. Aku masih ingat waktu aku di ajak Jefri. Hanya dia satu-satunya wanita berhijab yang masuk dalam tempat hiburan malam.


Aku sengaja tak membantunya, aku hanya memperhatikannya yang berjalan seperti orang buta. Lalu ia berjongkok dan...memutahkan isi perutnya.


Rasanya sifat baik yang kau miliki terkubur semua, Dek. Tak ada yang lebih buruk dari ini. Abang masih bisa mentolerir kau yang ternyata seorang pembalap liar setelah Abang mengetahui bahwa kau bisa menjaga diri kau sendiri. Tapi lihat sekarang, kau mabuk. Bagaimana caranya kau menjaga diri kau sendiri. Apa jangan-jangan kau baru selesai having se* dengan seorang laki-laki di luar sana. Itu bisa saja terjadi, apa lagi dengan keadaan kau setengah sadar begini.


Kalau bisa, aku ingin mengetakan rasa kekecewaanku pada kau sekarang Dek.


"Bantuin aku lah Bang. Kenapa kau malah diam aja?" ucapnya dengan suara parau.


"Sungkan! Cepat masuk dan jangan tidur bareng anak kau." sahutku dengan geram.


Aku berlalu meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar.


Tak lama aku mendengar pintu tertutup dan suara kunci yang terjatuh ke lantai. Sudahlah biarkan saja. Aku tak ingin umi bangun karena mendengar makian yang kuberikan pada Dinda. Dengan aku menjauhinya sementara seperti ini. Ini akan menyelamatkannya dari makian dan amarahku sekarang. Aku ingin umi tak mengetahui sisi buruk Dinda malam ini.


Biar esok pagi saja sebelum umi bangun, kubereskan bekas muntahannya dan ku pindahkan ia ke kamar dan Givan yang tidur di luar bersamaku. Untuk sekarang biarlah dia sendirian seperti ini. Aku tidak bisa menahan amarahku jika melihat wajahnya sekarang.


~


"Sial, aku kesiangan." gumamku setelah terbangun dari tidurku dan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.

__ADS_1


Aku buru-buru keluar dari kamar. Aku melihat Dinda masih tertidur pulas di depan pintu rumahnya.


Aku berjalan menuju dapur, karena aku tak mendapati umi dan Zulfa di ruang tivi. Aku melihat Zulfa tengah menyantap sarapannya, dan umi sedang mencuci piring.


"Umi" panggilku kemudian.


"Itu kah yang kau bilang sisi lain dari Dinda. Baguslah kalau kau tau. Jadi tak menyesal di kemudian hari." ucap umi tanpa menoleh padaku.


Harusnya semalam aku bereskan bekas muntahannya. Harusnya aku bawa Dinda ke kamar. Tapi aku malah lebih mementingkan diriku sendiri, yang berusaha menahan amarahku.


Kalau sudah begini. Sudah jelas umi akan melarangku dengan Dinda. Bukan lagi seperti kemarin yang memojokkanku dengan Dinda. Aku paham umi tak tolerensi pada mereka yang pemabuk dan pecandu. Untungnya dulu aku masih bisa mendapat maaf darinya.


"Bukan begitu, Umi. Mungkin Dinda tengah banyak masalah sekarang. Makanya dia seperti itu." sahutku kemudian. Berharap umi tak berpikiran buruk pada Dinda.


"Belum apa-apa udah berani ngebelain?" balas umi dengan menoleh padaku. Terlihat umi begitu marah.


"Hmm, aku berangkat ya. Assalamualaikum." ujar Zulfa yang belum menyelesaikan makanannya, namun ia hendak pergi dari sini.


"Masih pagi, Dek. Masih dua jam lagi kau masuk kerja." ucapku mengikutinya yang berjalan keluar dari rumah.


"Biar Umi marahnya sama Abang aja. Aku gak tau-tau nih Bang, soalnya." sahutnya yang ternyata sudah memesan ojek online.


"Hai Dek, bukannya ini hari minggu? Kau libur sekarang." seruku sebelum Zulfa menaiki motor.


"Kemarin aku belum selesaiin kerjaan aku. Ini cuma nyelesaiin yang kemarin aja." balasnya menyahutiku. Lalu ia pergi dengan ojeknya.


Aku mengambil pasir dengan pengki sampah, dan menutupi muntahan Dinda yang berbau tajam ini.


Setelah selesai dengan masalah bekas muntahannya. Lalu aku masuk dan mengurusi Dinda, uang tertidur dengan masih menggunakan sepatu bertumit lancip dan hijab yang menutupi kepalanya.


Ia terlihat amat sangat buruk. Dengan bau alkohol yang cukup menyengat dan noda merah yang cukup banyak menempel pada kemeja putihnya dan lantai rumahnya.


Apa ini? Amis.


Dinda berdarah?


TBC.


Bagi LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT, dan FOLLOW author juga ya 😁

__ADS_1


terimakasih 🥰


__ADS_2