
"Pah, pengen susu kotak." ucap Givan yang berjalan ke arahku dengan merengek minta gendong. Aku senang ia bersikap manja padaku. Aku merasa ia menganggapku selayaknya seorang ayah. Aku pergi bawa motor, dia langsung minta ikut. Butuh sesuatu, ia merengek padaku.
"Biasanya beli di mana? Mamah tak nyetok kah?" tanyaku dengan mengangkat tubuhnya. Lalu Givan memberikan ponsel Dinda padaku.
"Beli di toko sana." jawabnya menunjuk arah yang tak jelas. Aku memperhatikan wajah Dinda yang tertidur.
Tiba-tiba aku merasa iba padanya. Kasian betul Dinda. Diusianya yang masih muda begini, ia sudah harus jadi janda. Terlebih lagi, ia harus mencari uang dan berperan menjadi ibu juga. Namun ternyata, aku malah membuatnya semakin kesusahan saja. Dengan memintanya mengawasi ladangku, dan dia harus rela jauh dari keluarganya. Jika ia sakit begini bagaimana dengan Givan? Dengan posisinya yang jauh dari kerabat dan juga keluarganya. Apa lagi kalau tak ada aku begini.
"Yuk, beli." ujarku pada Givan. Lalu Givan langsung menyebutkan nama-nama makanan ringan yang ia inginkan. Padahal ia tadi menginginkan susu kotak.
Aku berjalan menuju pintu samping dan langsung menguncinya dari dalam. Terlihat Dinda tak terusik dengan aktifitasku. Lalu aku berjalan keluar rumah dari pintu depan. Dengan masih mendengarkan celotehan Givan tentang makanan yang ingin ia beli.
Aku keluar dari rumah dan mengunci pintu rumahku dari bagian luar. Dan membawa kuncinya. Biar Dinda nanti bisa keluar dari pintu samping. Tapi ia tetap aman bila kutinggalkan dia dengan keadaan pintu rumah yang sudah terkunci rapat.
Sepanjang perjalanan, tak ada orang yang tidak memperhatikanku. Semua mata langsung tertuju padaku yang tengah menggendong Givan ini.
"Udah pantes, Di. Kapan nikahnya nih?" sapa beberapa pemuda sebayaku. Namun mereka jelas sudah menikah dan memiliki anak.
"Masih ngelobi." sahutku bergurau.
"Enak Di sama janda anak satu. Kau tinggal nambahin jumlah anak aja." gurau salah satu dari mereka.
"Tak begitu juga. Janda anak satu ini ibarat ayam betina yang baru keluar kandang setelah ngeramin telurnya. Kau paham kan bagaimana galaknya dan agresinya ayam betina itu." ujar salah satu temanku dengan menyenggol lenganku dengan sikutnya.
Dan semua orang yang berada di situ tertawa keras mendengar aku yang diguraui seperti itu. Givan mengeratkan tangannya yang berada di leherku. Aku paham ia mungkin tak nyaman berada di tengah-tengah gerombolan pemuda yang tengah menongkrong begini.
"Papah, ada i'i. Di belakang om yang duduk di motor itu. I'i perempuan itu lagi jilat-jilat kuping om itu." ucap Givan membisikanku. Namun aku tak melihat apa-apa pada salah satu pemuda yang sedang asik dengan ponselnya itu.
"Ayo cepet pergi. Dia liatin aku terus." lanjutnya kemudian. Langsung aku merasa merinding-merinding sriwing. Lalu aku pamit pada mereka dan bergegas menuju toko bibi dari Shasha yang Givan maksud.
Namun aku tak habis pikir dengan i'i yang Givan maksud tadi. Kenapa ia bertingkah cabul pada manusia? Dan parahnya lagi ia menjilati telinga pemuda itu di depan anak laki-lakiku. Aku khawatir Givan akan penasaran dan bertanya lebih padaku atau Dinda tentang aktifitas makhluk itu.
__ADS_1
Givan memborong semua yang ia mau. Jujur aku hanya pada anak ini seroyal ini. Pada anak kak Ayu, atau saudaraku yang lain. Aku tak pernah membebaskan mereka jajan ini itu sesuka hatinya. Terlebih lagi, bukan kali ini saja Givan demikian padaku.
Saat aku berjalan pulang, aku ditegur oleh salah satu pemuda yang tengah menongkrong tadi. Supaya aku membuka pintu rumahku jika tengah berada di dalam rumah yang Dinda tempati. Dan aku diminta cepatlah kembali ke rumah kak Ayu, jika urusanku dan Dinda sudah selesai.
Itu rumahku sendiri, tapi orang lain yang mengatur. Aku hanya mengangguk dan memberikan dua bungkus rokok yang baru kubeli, beserta uang seratus ribu pada mereka. Agar mereka bisa diajak kompromi tentang masalah ini.
Aku yakin mereka paham. Buktinya, aku dan Shasha dulu aman-aman aja. Bahkan ibunya stay di warung dekat rumahku. Dan aku bebas melakukannya dengan Shasha. Hanya dengan alasan aku beli nasi beserta lauknya dan minta diantarkan. Shasha dengan mudah masuk ke dalam rumahku dan berlama-lama denganku.
Sudahlah, kenapa bahas Shasha lagi. Sekarang aku hanya ingin fokus projekku pada Dinda.
Sudah aman dengan para pemuda yang sedikit rese itu. Aku lalu masuk ke dalam rumah dan langsung menguncinya. Aku juga tak akan melakukan hal lebih melihat keadaan Dinda yang menurun drastis begini.
Aku menemani Givan sampai ia tertidur di dekapanku. Lumayan linu juga ini tulang, menimangnya setengah jam saja. Givan terlewat manja padaku. Biasanya pun ia tidur di kasur, namun padaku ia meminta untuk digendong sambil diayun-ayun dengan dinyanyikan sholawatan.
Aku merebahkan Givan di tempat tidur yang berada di kamarku. Dan setelah selesai dengan anaknya. Aku menghampiri ibunya dan mengecek kembali keadaannya.
Dinda masih panas tinggi saja. Tidurnya pun terlihat begitu gelisah dengan air mata yang merembes keluar. Padahal ia tengah terlelap pulas dalam tidurnya.
Jangan-jangan aku kena grebek. Tapi bukannya tadi aku sudah menyogok mereka, 'Aduh, tenang saudara sekalian. Aku hanya ingin merawat wanitaku. Bukan ingin macam-macam padanya. Setidaknya saat keadaannya seperti ini. Lain lagi ceritanya jika Dinda sudah pulih.' Ucapku dalam hati.
Ternyata Safar yang datang. Syukur, alhamdulillah. Aku kira aku digrebek. Ia membawa kopi yang katanya hasil dari ladangku itu. Dan juga papan catur.
"Biar aku yang bikin kopi. Kau tunggu aku di depan, ok." ucap Safar kemudian.
"Main catur di depan tv aja. Dek Dinda lagi sakit. Aku khawatir ia butuh sesuatu. Atau Givan yang terbangun nanti." ujarku padanya. Lalu ia masuk dengan mengikuti langkah kakiku.
Safar sedikit terkejut dan memperhatikan Dinda yang tak memakai hijab. Jujur, aku tak suka melihat orang lain memperhatikan Adindaku dengan atau tanpa sepengetahuanku.
"Kucolok juga mata kau!" ucapku dengan menunjuknya pas di depan wajahnya. Ia meringis dan tertawa sumbang.
"Santai, ok? Sana kau pindahin kalau tak boleh kutengok sikit." sahutnya dengan berjalan santai menuju dapur. Lalu aku mengambil kain yang terdapat di atas dahi Dinda. Kemudian, aku menggendongnya. Perlahan namun pasti akhirnya sampai juga di kamarku.
__ADS_1
Ternyata Dinda lumayan berat. Atau aku saja yang memang letoy. Sepertinya aku butuh susu tinggi protein dan juga olah raga yang teratur. Biar nanti aku bisa bertahan lama di atas Dinda.
Safar aku minta tidur di sini, menemaniku yang masih bolak-balik ke kamar untuk mengganti kompresan Dinda.
Tak ada alasan lagi. Besok aku minta Safar untuk mengawasi ladangku, sementara Dinda aku antar ke dokter dulu.
Besok juga aku akan membicarakan masalah uang deposito dengan pamanku, ayahnya Safar. Karena jujur, aku tak punya uang lebih lagi. Hanya tersisa tiga juta di rekeningku. Dan satu juta di dalam dompetku.
~
~
~
Esok harinya, setelah Dinda pulang dari dokter. Aku minta ia untuk makan, dan langsung meminum obatnya. Sebetulnya ia menolak, karena demamnya sudah turun kembali saat ia bangun tidur. Tapi aku memaksanya, aku khawatir malam harinya ia akan demam lagi. Karena sudah dua malam berturut-turut ia panas tinggi.
Aku mengajak Givan agar Dinda beristirahat tanpan diganggu anaknya. Aku membawa anak itu ke ladang terlebih dahulu, karena aku ingin mengecek sendiri pemasangan selang untuk pengairan tetes itu.
Dan setelah dari ladang, aku mengajaknya ke rumah Safar. Aku ingin membahas masalah keuangan dengan pamanku.
TBC.
Nih masalah ladangnya 🙄 Tapi sepertinya...
Yuk kita ikuti kisahnya terus 😊
Jangan lupa **tinggalkan jejak ya 😊
LIKE, VOTE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, COMENT JUGA 😉
Terima kasih 🙏**
__ADS_1