
Aku sekarang sudah kembali ke rumah, dengan anak ajaib yang menempel terus dalam dekapan ku. Karena Jefri tidak bisa menjaganya terhalang tugas malam yang ia jalankan sekarang. Ibunya ada urusan penting yang katanya cuma sebentar, tapi sudah lewat dua jam lamanya Dinda belum juga kembali. Sekarang pukul 22.15 menit. Givan sudah sangat payah, teramat ingin tidur. Tapi masih memikirkan es krim yang akan di bawa ibunya nanti. Takut mencair kalau dia tidur katanya. Semoga saja Dinda ingat janjinya akan membawakan es krim untuk anaknya. Kasihan anaknya sampai rela menunggu menahan kantuk.
Kenapa Dinda tak menitipkan anaknya ke orang tuanya saja. Atau orang tuanya sudah tiada. Sudah cukup aku berburuk sangka lagi tentangnya.
Tak lama Dinda datang dengan membawa banyak kantong belanja. Aku yang melihatnya kesulitan membawa kantong belanjaannya langsung membukakan pintu untuknya. Dia tersenyum lebar dan langsung meminta maaf karena terlalu lama pergi. Sebenarnya dia sadar kalau memang dia pergi cukup lama. Tapi mengapa dia tak kunjung pulang dari tadi. Dasar betina! Pasti tak mau di salahkan nantinya.
Dia memberikan Givan, Zulfa, dan aku masing-masing satu es krim stick double coklat. Dan lihat es krim miliknya, satu tepak besar yang memiliki tiga rasa. Kami bertiga melihat tajam ke arahnya.
"Kok punya Zulfa gak sama kayak punya kakak!" seru Zulfa melihat Dinda dengan santainya menyantap es krim itu sendiri.
"Abang punya pun kenapa laen dek!" protes ku karena dia masih asik dengan es krimnya saja.
"Wah, tak bersyukur kalian. Masih untung di kasih juga." dengar suara dari siapa itu? tentu saja suara anak ajaib itu. Ibunya terkekeh geli mendengar ucapan anaknya.
"Nih, ambilah! Gigi aku ngilu betul makan yang dingin-dingin begini." ucap Dinda menyerahkan tepak es krim yang baru di cicipi nya berapa sendok.
"Aku bersih bang, tak penyakitan!" cetusnya melihat ku menatap datar es krim yang masih di sangga tangganya. Aku pun langsung mengambilnya dan Zulfa merebutnya seketika dari tangan ku. Aku hanya menggeleng cepat dan ikut larut dalam obrolan ringan.
Aku melongo tanpa ekspresi, melihat pemandangan di depanku ini. Bagaimana bisa Dinda membantu anaknya yang kerepotan dengan lelehan es krim di tangannya, aku merasa seolah Adi's bird yang sedang di jilatinya. Dan ohh shit, dia memasukan es krim yang masih berstick itu ke mulutnya sampai ke pangkal dan mengeluarkannya lagi perlahan sampai ke ujungnya, "Dah bersih, cepat lanjutin terus kita pulang!" ujar Dinda ke anaknya.
__ADS_1
Aku rasa ada yang mengalir di hidung ku, aku pun berlalu pergi menuju toilet rumah. Dasar, kaum lemah kau Di. Lihat pemandangan begitu saja sampai mimisan. Aku membersihkan hidung ku dengan tersenyum geli. Aku paham, Dinda tadi hanya membantu anaknya membersihkan lelehan es krim. Otak ku saja memang yang terkoneksi dengan yang tidak-tidak.
Aku merasa geli dengan diriku sendiri. Semoga saja Dinda tak melihatnya tadi. Tak ke dinginan, tak ke capek an, apalagi kecelakaan, dengan tidak tau malunya darah itu merembes ke hidung ku. Aku menggeleng lalu mencuci wajahku, dan keluar dari toilet karena pintu toilet di ketuk Givan berkali-kali.
"Kenapa lama sekali? Aku kebelet pipis tau!" ungkap Givan terburu-buru.
"Sini papah bantu." balas ku ringan hendak mengikutinya masuk ke toilet lagi. Sejak kejadian pagi tadi. Aku dan Givan sepakat untuk memanggilku papah Adi. Tak apa kan, Jefri juga belum memiliki anak di panggilnya ayah Jefri. Hitung-hitung latihan.
"Stop! aku bisa sendiri. Ini private part aku, cuma orang tua aku aja yang boleh tau. Besar nanti juga orang tua aku tak boleh lihat tak boleh pegang juga!" seru Givan dan membanting pintu toilet. Pandai juga Dinda membekali anak dengan education sex. Education sex adalah memberi pemahaman kepada anak tentang private partnya, tentang fungsi kelaminnya dan untuk membantu anak memahami batas-batas norma sehingga melindunginya dari resiko pelecehan dan penyimpangan seksual. Pada masyarakat kita education sex menjadi pemahaman yang tabu, malah tidak sedikit orang salah mengartikannya dengan tanggapan, "Masa anak kecil di ajarin beginian!" itu sangat salah menurut ku.
Kami sekarang berkumpul lagi di ruang tamu, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.25 malam.
"Yakin dek kau mau pulang?" tanyaku memastikan, jujur aku khawatir dengannya apalagi dia mengendarai motor sendiri dengan membawa anak.
"Aku mau beres-beres rumah bang, ngamanin tabung gas sama listrik juga. Paginya aku mau ke rumah orang tua aku, soalnya aku dapat jadwal pesawatnya sore!" jawab Dinda menatap aku dan Zulfa bergantian.
"Oh masih ada orang tua kau dek?" tanyaku saat Dinda berdiri dan mengambil kantong belanjaannya yang tergeletak itu.
"Alhamdulillah, masih lengkap bang orang tua aku!" terangnya tanpa meninggalkan aktivitasnya. Lalu dia menghampiri ku dan Zulfa.
__ADS_1
"Nih, buat kalian. Di pake coba bang! Kenapa sih pakaian dari aku tak pernah kau pakai. Padahal ku tengok yang kau pakai itu-itu saja. Tak hargain pemberian aku!" ungkapnya kecewa dengan sikap ku yang tak memakai pemberian darinya.
"Iya dek, nanti abang pakai. Kenapa sih kau senang sekali bagi-bagi barang begini?" tanyaku, aku merasa tidak enak hati padanya. Malah kemarin hari aku menyangkanya akan mempermalukan ku jika aku pakai barang darinya.
"Mamah aku memang baik aslinya. Tapi tau sendiri aja ya." ungkap anaknya dengan mata ngantuk tapi memaksa bercanda. Betul sekali mirip dengan ibunya.
Akhirnya Dinda memaksa untuk pulang dan memilih naik taksi online saja. Motor maticnya ia tinggalkan di rumah ku. Katanya kalau mau pakai ya pakai saja, kalau tak terpakai simpan saja atau minta bang Haris simpan di rumahnya nanti. Semudah itu dia percaya ke orang, aku termasuk orang baru di kenalnya. Tapi dia berani meninggalkan anaknya dengan ku, dan menitipkan motor matic miliknya yang terlihat masih baru. Semoga Dinda di provinsi A nanti selalu di kelilingi oleh orang-orang baik.
AUTHOR POV
Adinda baru saja sampai di rumahnya. Ia keluar dari taksi dengan memberikan sedikit tip untuk supirnya. Adinda di kenal sebagai pribadi yang royal, ramah dan fleksibel. Maka dari itu dia memiliki teman yang cukup banyak di berbagai daerah. Tapi tidak sedikit orang yang memanfaatkan kebaikannya. Ia hanya menggunakan instingnya saja untuk menilai orang. Yang menurutnya baik dan bisa saling menjaga seperti Haris dan Jefri akan di anggapnya seperti keluarga sendiri.
Setelah masuk ke rumah, ia mengajak anaknya untuk membersihkan diri dulu. Hanya mencuci tangan, kaki, wajah, menyikat gigi dan berganti pakaian saja. Itu adalah kebiasaannya kalau tidak sempat untuk mandi.
Saat di dalam kamar, sebelum tidur dia menyempatkan mengobrol sejenak dengan anaknya.
"Gimana bang hari ini? Kenapa bisa sampai panggil bang Adi jadi papah?" tanya Dinda dengan memeluk anaknya.
"Hari ini seru, tapi kayaknya mamah repot banget ya bawa-bawa aku? Biar aku tak usah punya papah sambung. Cukup papah Hendra aja yang jadi papah aku!" jawab Givan enteng, ia tak sadar telah memberi sedikit nyeri di hati ibunya.
__ADS_1
"Mamah tak merasa direpotkan kok bang." balas Dinda singkat dan memejamkan matanya untuk menahan air mata yang hendak menetes.
TBC.