Sang Pemuda

Sang Pemuda
103


__ADS_3

"Astagfirullah, Adi Riyana." ucap Jefri yang baru memasuki rumah, karena ia baru selesai memarkirkan mobilnya.


Adi langsung tersadar, dan menoleh pada Jefri dengan memasang senyum tak berdosa.


"Sampai segitunya! M*ni kau tuh berceceran!" ujar Jefri dengan menunjuk celana Adi.


"Jaga mata. Ingat! Jangan kau tengok apa pun." tutur Adi memberi peringatan pada Jefri.


"Serah kau, Di! Terserah kau!" tukas Jefri yang berbalik keluar dan menyalakan rokoknya.


Adi langsung berinisiatif untuk membereskan kertas yang Adinda hamburkan tersebut. Ia mengambil satu persatu dan mengumpulkannya menjadi satu tumpuk.


"Kebiasaan ini anak. Kalau tidur geletak aja." ucap Arif yang keluar dengan pakaian yang sudah berganti.


Lalu Arif mengangkat adiknya, dan membawanya masuk ke dalam kamar. Adi hanya bisa memperhatikan rambut panjang bergelombang milik Adinda yang melambai-lambai padanya.


Lalu Adi meraih ponsel Adinda dan mematikan MP3nya. Dan ia langsung beralih pada laptop Adinda. Ia mengsavenya terlihat dahulu sebelum menekan tombol untuk mematikannya. Ia tak mau Adindanya lelah menulis dan usahanya hilang begitu saja karena Adi langsung mematikan laptopnya.


"Repot-repot beresin ini kan jadinya." ucap Arif yang keluar dari kamar dengan membawa karpet berbulu.


"Tak apa." sahut Adi dengan tersenyum ramah.


"Dia memang pasti begitu. Apa saja yang berhubungan dengan Dinda pasti dikerjakannya." ujar Jefri yang muncul dari balik pintu.


"Namanya juga usaha ya, Di. Tapi ingat, jangan cuma di awal aja!" tutur Arif yang membuatnya salah tingkah.


Lalu Adi permisi ke toilet, dan langsung di tunjukkan oleh Arif. Dan tak lama, tiga orang laki-laki itu tertidur pulas di atas karpet.


~


Pagi harinya Adi terbangun karena suara tangis dari anak Arif. Adi mengangkat tangannya untuk melihat jam tangan yang melingkar di tangannya tersebut.


"Masih jam empat pagi. Beginikah rasanya punya bayi kecil." gumam Adi dalam hati.


Tak lama, Arif terbangun dan bangkit menuju suara tangis anaknya yang belum mau berhenti juga.

__ADS_1


Adi hanya pura-pura terpejam. Karena ia sudah tak bisa tertidur kembali. Lalu samar ia melihat rambut coklat keemasan itu melambai keluar dari kamar menuju ke ruang belakang.


Adi berpikir mungkin Adinda hendak mandi. Namun sepertinya ia tak bisa menahan rasa gatal di kakinya yang ingin melangkah mengikuti Adinda.


Perlahan namun pasti, ia mengendap-endap menuju ke ruang belakang. Dan ia melihat Adinda yang sedang menggosok giginya di depan wastafel di depan kamar mandi.


Adinda yang melihat wujud Adi dari cermin, membuatnya membulatkan matanya tidak percaya. Lalu ia berbalik badan menghadap Adi dengan mulut yang penuh buih dari pasta gigi tersebut.


"Kumur dulu sana!" ucap Adi yang membuat Adinda langsung berbalik lagi dan melepehkan buih pasta giginya. Lalu Adi melingkarkan tangannya di pinggang ramping Adinda. Adinda tak menyangka, Adi berada di rumah kakaknya juga. Ia kira kakaknya pulang di antar, dan mereka langsung pulang ke rumahnya. Namun ternyata, laki-laki ini masih berada di sini.


"Aku kira kau langsung balik." ujar Adinda setelah berkumur beberapa kali.


"Kalau langsung balik nanti tak bisa ketemu Adindaku." ucap Adi dengan suara khas bangun tidur. Suara yang menurut Adinda terdengar sedikit menggoda di telinganya.


Lalu Adi memutar tubuh Adinda cepat, agar berhadapan dengannya. Lalu ia mengeratkan pelukannya dan menyambar bibir Adinda.


"Jorok! Sikat gigi dulu sana kau!" tukas Adinda yang melepaskan tubuhnya dari pelukan Adi. Lalu ia berjalan menuju rak dinding, dan mengambil salah satu sikat gigi baru dari dalamnya.


Adi terkekeh geli melihat reaksi Adinda. Ia kira pagi ini akan menjadi pagi yang romantis untuk mereka. Namun perkiraannya salah. Adinda ternyata sejiji itu berciuman di pagi ini.


"Aku anti makan dan ciuman sebelum sikat gigi." lanjutnya dengan mengambil roti tawar yang masih terbungkus rapih di atas meja makan. Ia mengambilnya satu dan langsung menggigitnya tampa memberikan tambahan pada roti tawar itu terlihat dahulu.


Lalu Adi langsung membubuhkan pasta gigi di atas sikap giginya. Dan mulai menggosokkannya di giginya.


Adinda mulai membuka kulkas. Dan mengorek isi kulkas kakaknya.


"Mau makan apa, Bang?" tanya Adinda yang masih mencari beberapa sayuran dari dalam kulkas.


Adi menyelesaikan segera kegiatannya dan langsung berkumur.


"Apa aja, Dek. Tapi Abang minta cium dulu lah. Barusan udah sikat gigi juga." ucap Adi begitu sampai di belakang Adinda.


Adinda menyikut kaki Adi, karena posisinya masih berjongkok di depan kulkas yang terbuka.


Terdengar kekehan pelan darinya lalu ia berkata, "Bukannya lanjut mandi terus sana sholat. Malah minta cium pulak kau!" ucapnya geli.

__ADS_1


"Tadi baru nempel, langsung kau lepas begitu. Kau nampak jijik betul sama Abang." sahut Adi dengan membantu membawakan sayuran yang Adinda pilih tadi.


"Jijik aku. Bau jigong gitu kan, terus campur di mulut aku. Ihhh, bau jigong sendiri pun aku jijik betul. Makanya tadi bangun langsung sikat gigi." balas Adinda yang mulai mengambil beberapa alat yang ia perlukan untuk memasak.


"Mandi dulu gih. Terus pakai hijabnya yang rapih. Takut-takut Jefri bangun nanti dia nampak leher dan rambut kau lagi." ujar Adi pada Adinda.


"Aku udah laper betul. Nanti lah, lagian juga subuh masih setengah jam lagi." tolak Adinda.


"Yuk kita mandi bareng." ucap Adi yang membuat Adinda langsung berlari pergi dengan menyambar handuk, kemudian langsung masuk dalam kamar mandi dan menguncinya.


Adi menggelengkan kepalanya, dan berlalu pergi menuju ruang depan kembali.


~


mereka semua sudah selesai menyantap sarapan pagi. Jefri langsung izin pulang dengan Adi yang mengikutinya, karena Jefri sebentar lagi ia akan tugas pagi.


Adinda tengah bersiap, karena beberapa menit lagi mobil travel akan menjemputnya dan mengantarkannya ke bandara.


ADI POV


"Jef, kau sih buru-buru balik. Aku belum puas ngobrol sama Dinda." ucap Adi buka suara.


"Ya kenapa kau ikut balik? Aku tak minta kau ikut sama aku." sahut Jefri yang fokus pada jalanan.


"Tak enak lah aku. Mana tak bawa mobil sendiri lagi." balas Adi kemudian.


"Jadi gimana kau sama Dinda? Dapat kau lobi kakaknya?" ujar Jefri yang menginjak pedal rem sesaat karena akan berbelok ke jalan besar.


"Dinda tak mau aku usahain. Benar kata kau, dia langsung jabarin hukum anak di luar nikah." ungkap Adi pada Jefri.


"Kan apa aku kata! Kau memang tak pernah percaya sama aku." sahut Jefri menimpali.


"Aku udah tergila-gila sama dia. Aku udah pengen rumah tangga sama dia. Aku udah pengen Givan bergantung sama aku, aku pengen mereka jadikan aku tempat untuk berkeluh kesah dan membagi sesuatu. Entah itu suka ataupun duka." tutur Adi dari hati.


"Ini kau lagi curhat kan, Di? Awas aja nanti Kalau aku curhat, kau bilang geli lagi. Aku tak masalah kau curhat sama aku. Aku tak bilang itu sesuatu yang menggelikan. Tak macam kau! Kau bilang curhat bareng kawan laki-laki itu menggelikan, tapi tetap kau lakukan. Padahal kau yang waktu itu ejekin aku macam itu. Hari ini, kau sendiri yang malah curhat bareng kawan laki-laki." tukas Jefri yang membuat tawa keduanya pecah dengan saling melempar ejekan satu sama lain.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2