
Terdengar suara orang yang menanyakan kondisi Shasha. Hah? Apa ia terjatuh? Tapi kenapa aku tak mendengar suara debugnya. Jelas, dia bukan mangga juga.
Aku menoleh ke belakang, dan terlihat Shasha baik-baik saja. Sudahlah, aku lanjutkan saja langkahku.
Dari jauh terlihat Givan yang tengah berada di perempatan jalan, ia sedang berjalan sendirian menuju warung ibu Shasha.
Lalu aju berjalan cepat mengahampirinya, "Beli apa Bang?" tanyaku pada Givan.
"Beli mie rebus. Mau bikin darmi." jawabnya dengan memberikan uang pas pada ibu Shasha.
"Eh, pulang kapan Di?" sapa ibu Shasha padaku.
"Pulang semalam, Bu." sahutku kemudian. Aku tau ia hanya berbasa-basi saja.
Lalu aku pergi dengan menggandeng tangan Givan.
"Mamah udah bangun, Bang?" tanyaku padanya.
"Udah, tapi masih tiduran main hp." jawabnya dengan memperhatikan bungkus mie instan itu.
"Tadi aku ngomongnya beli i*domie ayam spesial, tapi malah dikasihnya s*rimie ayam bawang." ucap anak itu dengan berbalik melangkah menuju warung ibunya Shasha. Apa tidak salah? Anak sekecil dia bisa membaca? Atau dia paham dari gambarnya saja.
Aku mengikuti langkah kaki anak kecil itu. Aku ingin mengetahui tingkah anak laki-lakiku ini.
"Bu, ini s*rimie. Bukan i*domie." ujarnya dengan memberikan mie itu.
"Sama aja, Nak. Rasanya mirip." jawab ibu Shasha dari dalam warung.
"Memang tak ada kah i*domienya?" tanya Givan memastikan.
"Tak ada, Nak." sahut ibu Shasha dengan tersenyum gemas pada Givan.
Lalu Givan berbalik lagi, dan meninggalkan warung itu. Ia terlihat sedikit tak bersahabat. Apa benar ia kesal hanya karena masalah mie saja?
"Mamah, dikasihnya ini." ucap Givan dengan menyodorkan mienya pada ibunya yang masih berbaring di sofa panjang di depan televisi.
"Ya udah, sama aja." sahut Dinda yang bangkit dari posisinya, dan langsung menggelung rambutnya asal-asalan.
"Masih demam, Dek?" tanyaku dengan mendekatinya dan mengecek kembali suhu tubuhnya.
Dinda mengangguk, ia terlihat begitu lemas tak bersemangat.
"Udah minum obat, tapi demamnya masih tinggi aja. Pas magiin tadi aku menggigil. Tapi sekarang tinggal angetnya aja, udah tak panas tinggi lagi." ungkap Dinda dengan memulai beraktifitas di dapur.
Dapurku ini kebetulan bersebelahan dengan ruang televisi. Dan hanya dibatasi dengan meja bar saja.
"Ke dokter aja ya? Sarapan cepet terus kita berangkat." ujarku dengan mengambil alih aktifitas Dinda.
"Biar Abang yang lanjutin. Kau mandi dan siap-siap dulu aja." lanjutku kemudian.
"Macam paham aja. Ini bukan bikin mie rebus. Tapi bikin darmi." tutur Dinda dengan melirikku.
__ADS_1
"Mie yang udah direbus, terus dikasih bumbu dan telor di campurin, terus digoreng kan?" ucapku menjelaskan. Agar ia percaya bahwa aku bisa melakukannya. Dinda mengangguk dan berlalu pergi.
Kenapa aku sering sekali melihatnya tanpa hijab begini. Apa ia tak paham jika rambutnya yang bergelombang dan wangi itu cukup membuat pikiranku melayang?
"Pah, jangan dikasih bubuk cabenya." tandas Givan yang fokus pada tontonan kartun duo plontos itu.
"Siap bos." sahutku dengan tersenyum samar. Cuma anak ini, yang berhasil membuatku berada di dapur. Sudah dua kali ini ia berhasil membuatku berhadapan dengan kompor.
Setelah aku selesai memasak darmi. Aku langsung menghidangkannya, dan mengambil nasi secukupnya untuk Givan.
"Pah, dikipasin terus suapin aku ya." ucapnya begitu aku membawa makanan ke arahnya.
"Kenapa sih makan harus adem aja? Enak juga dimakan anget-anget." ujarku dengan duduk di sofa panjang.
"Macam papahnya begitu." sahut Dinda menimpali. Ia sudah berganti pakaian namun masih belum memakai hijab.
Aku tak suka Dinda mengatakan demikian. Entahlah, tiba-tiba aku kesal tak jelas.
"Aku tak usah ke dokter lah Bang. Aku udah sembuh." ucap Dinda dengan sepiring nasi di tangannya. Lalu ia mendekatiku dan mencium pipiku sekilas. Dan ia langsung duduk di lantai bersama anaknya. Ia memotong darmi itu menjadi dua bagian. Dan ia memakannya perlahan.
Aku masih terdiam dengan memperhatikan mereka berdua. Barusan membuatku kesal lalu ia menciumku. Apa maksudnya coba?
"Jadi kapan aku mesti balik?" tanya Dinda setelah ia selesai makan.
Apa lagi ini, aku menyusulnya ke sini. Tapi ia berpikiran untuk pulang ke kotanya. Jadi kapan aku bisa memulai projekku. Aku rasa tak mungkin satu kali berbuat terus berhasil.
"Tak usah balik. Abang di sini buat liburan aja." jawabku kemudian. Lalu aku masuk ke dalam kamar, untuk berganti pakaian.
Aku memperhatikan jalanan di balik jendela kamarku yang berwarna hitam. Aku bisa melihat jelas aktifitas di luar sana. Namun dari luar, tak bisa melihat apa pun yang berada di balik jendela ini.
Apa yang aku perhatikan. Namun tetap pikiranku membayangkan sesuatu yang membuat Adi's bird mengeras di balik celana jeansku. Entahlah aku bersiap pun akan ke mana. Dinda sepertinya akan sibuk. Sampai-sampai ia menolak ajakanku ke dokter dan malah berdalih dirinya sudah sembuh.
Pintu kamar terbuka menampakkan Dinda yang terlihat mencari sesuatu. Namun sepertinya keberadaanku di sini tak mengusik hari-harinya. Atau memang aku yang tak berarti lagi untuknya?
Aku perlahan menutup pintu, lalu menguncinya. Kuncinya sengaja aku cabut dan aku simpan diatas angin-angin pintu kamarku.
Dinda terlihat masih berusaha mencari sesuatu di dalam lemari bajuku. Aku mendekatinya dan langsung memeluknya dari belakang.
"Abang kangen. Kau kangen tak sama Abang?" tanyaku dengan mengendus tengkuk dan lehernya yang masih terasa hangat.
"Aku udah terbiasa nahan kangen. Tapi aku tak biasa nahan lapar. Aku jauh juga untuk cari uang buat menuhin rasa lapar aku." jawabnya yang tak terusik dengan tindakanku.
Ucapannya sebenarnya cukup mengusik telingaku. Namun aku coba hiraukan, dan kualihkan dengan menikmati leher jenjang ini.
"Ngapain sih kau?" tanya Dinda dengan melepaskan pelukanku. Dan langsung meloloskan dirinya dari jangkauanku.
"Tak ngapa-ngapain!" jawabku santai dengan melepaskan bajuku yang baru kukenakan tadi.
"Givan belum selesai makan. Aku mau keluar. Mana ini kuncinya?" ucapnya yang sedang berusaha membuka pintu kamarku.
Aku mendekatinya dan langsung menyerangnya kembali.
__ADS_1
"Bang! Kau jangan bikin aku takut, kenapa sih?" ujarnya yang mencoba meloloskan diri.
"Jangan berontak terus coba, Dek!" sahutku dengan menatap matanya.
"Nikmatin ini. Sebentar aja." lanjutku dengan suara halus. Lalu aku memanggulnya di bahuku. Seperti membawa karung beras. Dan menurunkannya di tepian tempat tidur.
Langsung aku menyingkap rok panjangnya, dan terlihat kaki mulusnya.
"Percuma! Kau bakal terganggu dengan teriakan Givan." tuturnya terlihat santai. Apa ia tak takut dengan aku yang siap menerkamnya ini. Bisa-bisanya ia terlihat pasrah begitu.
"Abang tak lama. Bentar aja, ok?" ujarku melobinya.
"Kau kira aku bakal puas kalau cuma sebentar?" tukasnya yang membuatku semakin merasa tertantang. Jadi ia menginginkan permainan yang lama. Ok, siap! Dia kira aku tak bisa menjabaninya.
Aku langsung menindihinya, dengan posisi kakinya sedikit terbuka. Perlahan namun pasti, aku membuatnya melayang dengan cumbuanku.
Tak ada penolakan yang berarti darinya. Saat aku melihat matanya, hanya mata yang terpejam sejauh ini aku memperhatikannya.
Aku menyingkap baju longgarnya, dan terpampang part yang selalu ku rindukan.
Aku menarik ke bawah penutup itu. Dan terlihat tutup teko dengan ujung berwarna coklat kehitaman.
Benarkah ia sudah menyusui? Kenapa puncaknya kecil sekali?
Dinda terkekeh geli melihatku yang terus memperhatikan pucuk partnya. Harusnya dia malu atau berusaha menutupinya begitu. Bukannya malah terkekeh geli begini. Terkadang aku tak mengerti tentang dirinya.
"Hm, ragu kan? Aku bagi tau juga nih ya. Itu pun bekas orang! Udah, sana kau cepet turun!" ucapnya dengan melihat wajahku. Bukan aku ragu atau pun jijik melahapnya. Hanya saja, aku sedikit tak habis pikir. Bagaimana bisa, bayi Givan menyusu pada pucuk sekecil ini? Dan baru kali ini, aku bisa melihatnya dengan jelas.
"Apa sih kau? Sensitif kali!" sahutku dengan langsung melahap pucuknya. Ia memejamkan matanya kembali, dengan satu tangannya yang berada di belakang kepalaku.
Terasa benda kecil itu sudah mengeras saat kunikmati. Dinda juga sesekali membusungkan dadanya dengan tangan yang memainkan rambutku. Aku beralih ke sebelahnya, dan kulakukan hal yang sama. Mengkombinasikan beberapa keahlian yang kukuasai.
"Pakai gigi juga. Pedes betul ujung aku kau hisap-hisap macam itu." ungkapnya mengajariku. Sebegitu amatirannya kah aku? Tapi sejauh ini, baru kali ini ada perempuan yang komplen.
Ya sudahlah, aku menurut saja. Aku langsung menancapkan gigiku pelan, namun aku yakin terasa.
Aku meliriknya sekilas, terlihat ia tengah mengigit bibirnya. Kenapa bisa bertambah seksi saja wanita ini?
Tanganku mulai menjelajahi punggungnya, untuk melepaskan pengait wadah bulat itu. Setelah berhasil, lalu tanganku kembali ke bagian depan, dengan pelan aku memijatnya.
Bugh, tok, tok, tok.
Dugh, dug…
Pintu kamarku sepertinya akan segera hancur. Terdengar suara ketukan, lemparan barang, dan tendangan di pintu kamarku.
TBC.
Haduh, siapa lagi sih?
Tak tau kah ada yang lagi nanggung macam ini 🤭
__ADS_1
Ayo ah, bagi author semangat 😉