
"Bang, maaf. Aku tak mau nanti pisang Abang jadi pisang rebus." suara khas bangun tidur. Apa dia kata? Pisang rebus? Kenapa aku malah tertawa renyah mendengarnya.
"Malah ketawa pulak." ucap Dinda dengan menjembreng pipiku.
"Ngantuk Abang hilang, gara-gara Adek bilang pisang rebus." sahutku dengan memegang tangannya yang berada di pipiku.
"Kepala atas ngantuk, kepala bawah bangun sih gimana?" balas Dinda dengan meremas Adi's bird yang masih mengeras di balik sarungku.
"Ssttt, jangan Adek remas!" ujarku menarik tangannya yang berada di bawah sana.
"Pengen betul tah? Sok aja, tapi aku tak bisa balik service." ungkapnya kemudian.
"Tak usah, Dinda sembuh aja dulu. Abang bisa atasi sendiri. Gih tidur lagi." tuturku padanya.
"Betul?" tukasnya memastikanku.
"Katanya takut nanti jadi pisang rebus. Kan kasian Adeknya juga." ucapku dengan merapihkan anak rambutnya yang menutupi wajahnya.
"Mau aku bantu?" tanyanya.
"Tak usah. Nanti malah Abang tak bisa nahan diri." jawabku dengan langsung memeluknya.
"Boleh aku tengok bentar aja." pintanya aneh-aneh saja.
"Pengen juga?" aku memastikannya dengan melonggarkan sarungku.
"Mau liat aja. Abang sekarang kurusan. Takut doi menyusut juga." ujarnya membuatku geli sendiri.
"Tenang, Dek. Pasti Adek selalu berselera tengok dia." sahutku dengan mengeluarkan Adi's bird.
Dinda langsung menggenggamnya. Panas betul tangannya. Pasti intinya lebih panas dari ini. Kemarin saja saat aku hampir memperk*sanya, waktu suhu tubuhnya normal. Intinya terasa begitu hangat saat jariku berhasil memasukinya. Ya, hanya jariku. Tidak dengan Adi's birdku.
"Kepalanya, Dek." ucapku yang sudah kelabakan hanya dengan Dinda menggenggamnya saja.
Aku mendekati wajahnya dan mengincar bibirnya. Dinda langsung melepaskan tangannya dari Adi's bird. Dan mendorong dadaku. Apa aku kata tadi. Baru juga mingkem. Nyatanya aku malah tak bisa menahan diriku sendiri.
"Bang…" ucap Dinda dengan menjauhkan badannya. Rasanya tubuhku bergerak sendiri agar bisa mendapatkan bibirnya.
Saat bibirku sudah bertaut dengan bibir Dinda. Ponselku berbunyi berulang kali. Siapa lagi itu? Aku perhatikan jika aku dan Dinda sudah seperti ini ada saja yang mengganggu. Setiap aku menyentuhnya, ada saja gangguan itu. Entah itu faktor dari luar, atau dari faktor Dinda sendiri.
__ADS_1
Aku tersenyum pada istriku, "Gih tidur. Tadi Abang ada urusan sebentar sama Haris." ucapku memberitahunya. Agar ia tak curiga padaku.
Dinda mengangguk mengerti, dan mulai memeluk bantal guling kembali. Dengan perlahan memejamkan matanya.
"Ya Ris." ucapku dengan mendekatkan ponselku ke telingaku, saat dering kedua ponselku berbunyi lagi.
"Gimana tadi? Ada apa?" tanya Haris kemudian.
"Dinda demam tinggi, tapi kalau malam hari aja. Kalau siang suhu tubuhnya normal." ungkapku pada Haris. Aku keluar dari kamar dan menuju pintu depan.
"Gejala lainnya apa? Udah ke dokter belum?" sahut Haris.
"Nafsu makan berkurang, terus dia ada bilang sembelit juga." balasku dengan menyalakan rokok yang telah terselip diantara bibirku.
"Penyakit pengantin baru memang begitu. Kadang disertai dengan anemia juga, karena istirahatnya kurang. Kebanyakan begadang gitu kan. Jadi daya tahan tubuh menurun, bisa jadi." jawab Haris menjelaskan selayaknya dokter.
"Ris, aku baru nikah kemarin. Dan Dinda sakitnya udah empat hari sekarang. Gimana sih kau?" ucapku padanya. Kenapa ia sama saja macam Jefri itu.
"Aku pun serius. Iya memang nikahnya kemarin. Tapi kan aku tak tau kau dan Dinda kawinnya dari kapan. Kau aja ke sana udah sekitar empat harian kan? Pas tuh timingnya dengan Dinda mulai sakit." jelas Haris menuduhku.
"Serius aku, Ris." sahutku sesekali memperhatikan pemuda yang tengah bermain gitar di pos ronda ujung jalan ini. Tepat berada di lahan kopiku.
Kenapa Jefri dan Haris seolah tengah meledekku begitu? Aku bertanya serius. Untuk mencari solusi baiknya aku bagaimana? Membawa Dinda ke dokter atau langsung ke rumah sakit. Karena aku khawatir ia terkena DBD.
Aku berjalan menuju pos ronda. Sekedar menyapa mereka. Mereka adalah kawan-kawanku dulu. Yang mengajakku untuk menjadi pemakai.
"Hai syedara. Gimana punya kabar?" tanya seorang temanku yang melihatku berjalan ke arah mereka.
"Alhamdulillah, kabar baik rakan." sahutku berjabat tangan mereka satu persatu.
"Denger-denger kemarin sah ya, Di?" tanya temanku yang duduk paling dekat denganku.
"Alhamdulillah, sah juga akhirnya." jawabku dengan memamerkan senyum bahagia.
"Bolehlah party kecil-kecilan." ujar temanku dengan didukung oleh mereka semua.
"Lain waktu mungkin, kawan. Nikah masih di bawah tangan soalnya. Masih banyak keperluan lain." balasku yang sebetulnya merasa tak enak pada mereka. Mau bagaimana lagi? Aku gengsi jika berterus terang bahwa aku tak memiliki uang.
"Takut dia sama istrinya." seru salah satu temanku. Lalu mereka semua menyuarakan tawanya. Dan selanjutnya kami larut dalam obrolan ringan.
__ADS_1
Memang dasarnya mereka pecandu. Sudah kena getahnya, tapi tetap saja seperti itu. Banyak dari mereka juga bercerita. Bahwa dalam rumah rehab dan dalam bui. Mereka tetap mendapat pasokan barang. Berbeda dengan aku yang hanya terjerumus, sudah kena getahnya ya aku tobat. Lagi pula, apa untungnya. Lebih-lebih aku takut Givan dan anak-anakku kelak mengikuti jejak burukku. Pokoknya jangan sampai seperti itu.
Saat obrolanku semakin berlarut tentang modifikasi mobil. Dering ponsel membuyarkan konsentrasi yang tengah memperhatikan kawanku yang tengah menyetel mobilnya.
"Ya Dek." ucapku setelah menggeser ikon hijau ke atas.
'Ada yang dicariin istrinya.'
'Suami takut istri.'
Beberapa seruan dari kawan-kawanku.
"Mau pulang apa mau tidur di luar?" ujar Dinda begitu kejam. Apa maksudnya, aku hanya keluar rumah sebentar saja. Tapi ia sudah berucap seperti itu.
"Abang di ujung jalan ini, Dek. Coba Adek keluar rumah terus tengok kanan. Ada Abang di sit…." terangku disela olehnya.
"Aku cuma tanya, mau pulang apa mau tidur di luar?" serunya sengit. Ok aku paham. Mungkin istriku lagi ingin dimanja.
"Pulang, Dek. Abang lagi jalan." sahutku cepat. Lalu aku bergegas menuju rumahku. Tak kuhiraukan seruan dan ejekan dari teman-temanku. Biar saja aku dikatai takut istri. Dari pada harus tidur di luar. Mana udara di sini begitu menusuk tulang lagi.
Aku cepat masuk ke dalam rumah. Terlihat Dinda tengah menatapku tajam. Sungguh aku terkejut melihatnya yang berdiri di sudut ruang tamu begini. Ia seperti penampakan menurutku.
"Abang udah punya istri, udah ada anak. Malam-malam masih keluyuran aja tuh gimana sih?" serunya dengan suara sedikit bergetar. Waduh, runyam ini. Jangan-jangan Dinda akan menangis gara-gara ini.
"Abang cuma di pos, Dek. Tak jauh-jauh." jawabku dengan mendekatinya.
"Aku lagi sakit. Bukannya diurus, malah Abang nongkrong-nongkrong tak jelas! Kalau belum bisa berkomitmen untuk berumah tangga. Lebih baik ceraiin aku sekarang, mumpung belum terlalu jauh. Mumpung masih nikah agama, jadi Abang hanya tinggal ucapin aja. Terus kita selesai!" ungkapnya dengan meneteskan air mata. Sefatal itu kah kesalahan aku, sampai-sampai ia minta cerai begini?
"Lagi pula, Abang sudah terselamatkan kan dari hukuman seratus kali cambuk itu. Untuk apa Abang masih pertahanan pernikahan ini?" lanjutnya dengan perkataan yang semakin menusuk ulu hatiku.
Aku mencoba meraih tubuhnya. Namun ia mundur satu langkah, membuat posisinya menempel pada tembok.
Kenapa dengan istriku? Aku bingung menyikapinya. Apa lagi ia menghindar dariku seperti ini.
TBC.
Realitanya, aku pribadi memang tak suka kalau pejantanku keluyuran malam-malam. 😔
upsttt 🤭
__ADS_1