Sang Pemuda

Sang Pemuda
75


__ADS_3

Bagi LIKE, VOTEnya ya kak 🙏😅


"Buat apa?" tanyaku heran.


"Banyak tanya betul!" ucapnya sewot.


Ini anak kenapa memaksa sekali. Lalu aku merogoh dompetku yang berada di saku belakang celanaku. Dan mengambil satu lembar uang berwarna biru itu.


"Nih" ucapku dengan menyerahkan uang yang ia minta.


Ia berjalan menghampiri pegawai yang tengah kerepotan menyusun mainan yang cukup banyak itu.


"Aku tunggu di tempat kasir ya, Om. Ini buat Om." ucapnya pada pegawai tersebut dengan menyerahkan uang yang ia minta tadi.


Umi tersenyum lebar dengan bertepuk tangan pelan. Matanya berbinar senang dengan mentap putra dari Dek Dinda itu.


"Dermawan kali kau, Nak." ucap umiku dengan mengelus kepala anak itu.


"Tapi songong. Macam kaum jetset aja kau." ujarku menedelik pada Givan.


"Aku tunggu di tempat kasir ya, om." gumamku leyeh-leyeh yang masih didengar Givan dan umi.


Mereka mentertawaiku karena mengulang ucapan Givan tadi. Memang apa yang lucu tadi? Dermawan sih dermawan. Tapi tengok gayanya itu. Ini anak benar-benar harus di pesantrenkan nantinya.


Umi menepuk pundakku, "Ayo Pah." ajak umiku terkekeh. Kenapa pula umi memanggilku dengan sebutan Papah. Geli sendiri aku mendengarnya.


Hanya untuk mainan saja habis sampai tujuh juta sekian. Aku membayangkan kelak nanti aku punya anak. Apa akan seperti Givan nantinya. Pintarnya sih ok, tapi keras kepala dan sifat pemaksaannya ini. Belum lagi dia sudah memiliki bibit sombong. Baik budi memang, tapi mulutnya kadang tak mencerminkan bahwa ia hanya seorang anak kecil.


~


Aku sudah berada di rumah Dinda lagi. Dinda belum sampai di sini. Padahal aku sudah rindu ingin menghabiskan waktu bersamanya lagi.


Kalau memang Dinda-lah yang Tuhan berikan untuk mendampingiku. Insyaa Allah, aku ikhlas menerimanya. Tapi jujur aku ingin mengenalnya lebih jauh. Tentang keluarganya, kehidupannya sebelum mengenalku. tentang rumah tangganya dulu. Dan masih banyak lagi. Intinya aku tak mau terburu-buru, jika Dinda mau. Aku akan memintanya menungguku sampai aku siap dengan ini semua.


Tapi aku merasa Dinda malah seolah sedang menarik ulur hatiku. Saat awal aku akrab dengannya, terlihat ia begitu menginginkan untuk bisa selalu bersamaku. Dan sekarang, saat aku mulai terbiasa dengan kehadirannya, ia malah perlahan menjauh dan secara terang-terangan mengungkapkan untuk tidak menikahinya dengan alasan aku tak akan bisa menerima anaknya.


Aku jadi teringat dulu aku begitu menghindarinya, dan selalu mengatakan aku hanya ingin dengan gadis perawan. Apa Dinda sekarang sakit hati padaku. Atau jangan-jangan Dinda-lah yang membuatku sakit seperti ini. Bisa jadi Dinda merasa sakit hati karena ucapanku dulu.


Oh, sudah cukup Di! Jangan mulai lagi berburuk sangka pada Dinda. Pikiran dan hatiku yang selalu bertolak belakang dengan kenyataannya.


Terdengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah. Aku langsung mengintip dari jendela. Ternyata mobil Dinda. Ia datang dengan membawa beberapa wadah makanan kedap udara itu.


Ia sudah berganti pakaian lagi, berbeda saat ia kenakan tadi pagi.


Ia mengenakan kemeja putih sepanjang pahanya, dengan lengan yang ia gulung sedikit. Dengan bawahan celana ketat yang berwarna hitam dan dipadukan dengan ikat pinggang yang berwarna hitam yang ia kenakan di luar kemejanya. Tentu saja dengan hijab yang tak pernah lepas dari kepalanya juga.

__ADS_1


Kenapa ia selalu terlihat menarik di depan mataku. Belum lagi sepatu hitam bertumit lancip setinggi lima centi itu. Membuat part belakangnya terlihat sedikit naik dan menonjol. Kenapa bisa sebagus ini perempuan yang sudah mengeluarkan satu anak itu.


Ada seseorang yang mengusap mulutku dengan tertawa geli. Aku langsung menoleh untuk mengetahui siapa pelakunya.


Ternyata umi yang sedang tertawa geli melihatku yang mengintai Dinda dari jendela.


"Iler tuh berceceran." ucap umiku yang masih tertawa, dengan menunjuk mulutku.


Aku memegang mulutku, untuk memastikan apa benar aku sampai ileran karena Dinda.


"Enak aja, aku tak ileran." seruku kemudian, setelah tak mendapat iler di bagian luar mulutku.


"Ya kau ngintai dengan tatapan macam itu. Terlihat kali kau begitu menginginkannya." ujar umi setelah bisa mengendalikan tawanya.


"Tau ah. Heran aku, diejekin terus sama Umi." sahutku dengan berlalu masuk dalam kamar Dinda.


Terdengar Dinda membuka pintu dengan mengucapkan salam. Lalu terdengar percakapan yang samar.


Sudahlah aku mau tidur saja sejenak. Jika aku keluar, pasti umi akan mengejekku lagi.


~


Saat adzan ashar berkumandang, aku terbangun dengan nafas yang mulai tak beraturan lagi. Dengan mimpi buruk yang terasa begitu nyata itu.


Semoga sesak nafasku kali ini tak membuatku masuk rumah sakit lagi. Aku bangkit dan bersandar pada kepala ranjang. Aku mendongakkan kepala menghadap plafon kamar Dinda, karena posisi seperti ini biasanya memudahkanku untuk menarik nafas.


Namun tak ada sahutan dari luar. Lalu aku meraih ponselku yang tergeletak tak jauh dari jangkauanku.


Aku mencari nama Dinda dan menekan panggilan telepon padanya.


"Dek, Abang sesak nafas lagi." ucapku setelah panggilan tersambung.


"Umi, Abang bengek lagi." suara Dinda yang sedang berbicara pada umi. Kenapa ia menyebut sesak nafas dengan sebutan bengek. Rasanya aku ingin tertawa, tapi kondisiku tak memungkinkan.


Lalu aku langsung mematikan sambungan teleponnya. Sepertinya mereka sedang tak berada di rumah. Karena tak terdengar ada aktifitas orang di rumah ini. Pergi mereka mereka semua.


Tak lama pintu depan terbuka dengan derap kaki yang terdengar terburu-buru.


Dan pintu kamar Dinda langsung terbuka, "Gimana Bang. Yuk ke rumah sakit?" tanya Dinda yang terlihat begitu khawatir. Ia lalu keluar lagi, dan kembali dengan minyak angin di tangannya.


Dinda mengoleskan minyak angin di leherku dan bawah hidungku. Lalu ia membuka kancing kemejaku ku, dan menyibakkannya. Ia langsung mengoleskan minyak angin pada area dadaku dengan terburu-buru.


"Tenang Dek. Abang masih bisa bernafas." ujarku dengan memegang tangannya yang masih berada di atas dadaku.


Air matanya jatuh berlinangan. Sebegitu khawatirnya kah dia padaku? Atau memang ini adalah bagian dari sifat cengengnya.

__ADS_1


"Ke rumah sakit aja, ayo." ucapnya dengan masih menangis.


"Tak apa. Bentar lagi juga baikan. Abang cuma ingin ditemani." sahutku agar ia sedikit tenang.


Dinda mengangguk, lalu memintaku untuk menarik nafas dari hidung. Dan membuangnya lewat mulut. Dengan sesekali ia mengolesiku minyak angin lagi di bagian pernafasanku.


Umi datang dengan menggendong Givan. Ia tak kalah khawatirnya seperti Dinda. Namun ia berusaha tenang, saat melihatku baik-baik saja.


Satu jam kemudian, seperti biasa saat aku belum masuk ke rumah sakit, sesak nafasku berangsur menghilang dan aku bisa bernafas lega kembali.


Lalu aku diberi minum air putih hangat oleh umiku. Aku meneguknya beberapa kali dan menaruhnya di nakas.


"Mandi gih terus shalat." ucap umiku kemudian.


Aku berjalan perlahan, keluar dari kamar ini. Aku melihat Dinda duduk seorang diri di sofa ruang tamu, dengan pandangan kosong.


"Dek, shalat Dek. Yuk Abang imamin." ujarku menyadarkannya dari lamunannya.


"Lagi tak shalat, Bang." ucapnya yang kumengerti maksudnya.


Lalu aku pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan sekalian mengambil wudhu.


~


Setelah shalat, aku menyambung doa dan dzikir yang aku bisa sampai waktu magrib dan isya tiba.


Lalu aku keluar dari kamar dan langsung minta umiku untuk menyiapkan makanan untukku.


"Givan kemana, Umi?" tanyaku melihat hanya ada Zulfa dan Umi saja di rumah ini.


"Maksudnya sih nanya Kak Dinda itu, Umi." sahut Zulfa menimpali.


"Keluar pake mobil." jawab umiku dengan menghidangkan makanan.


"Dinda sama Givan?" tanyaku memastikan.


"Ya iya, masa Givan bawa mobil sendiri." balas umi kemudian.


"Dari kapan memang?" ucapku bertanya lagi.


"Lepas magrib tadi." jawab umi. Lalu tak ada percakapan lagi diantara kami. Dan aku menyantap makananku dengan tenang. Namun pikiranku masih menebak-nebak kemana kah mereka pergi.


TBC.


Author down, tak naik level karya. 😭

__ADS_1


Apa ada yang mau ngajak author naik-naik yang lain?


Biar tak galau macam ini 😓


__ADS_2