Sang Pemuda

Sang Pemuda
16


__ADS_3

AUTHOR POV


Adinda sedang berbicara dengan salah satu personal trainer yang ada di T********gym. Lalu ia menunjuk ke salah satu laki-laki yang sedang mengobrol dengan seorang wanita.


"Nitip ya coach." ucap Adinda tersenyum manis dan berlalu masuk ke ruangan lain. Lawan bicaranya menanggapi dengan anggukan kepala dan membalas senyum manis Adinda.


Evan, laki-laki yang di panggil coach oleh Adinda tadi menghampiri Adi yang terlihat tidak suka dengan adanya Maya di dekatnya.


"Mari mas ikut saya." ajak Evan sopan. Adi terlihat bingung tapi tetap menganggukan kepalanya.


"Tinggal dulu ya May." tandas Adi memotong pembicaraannya dengan Maya.


"Coach, biar abang ini ikut coach Indra saja bareng saya." ungkap Maya dengan senyum mendadak saat Adi berdiri dari kursinya.


"Maaf mbak, Abang ini sudah di titipkan ke saya." terang Evan dengan senyumnya yang ramah.


"Bang tunggu lah sebentar. Abang balik kan sore ini? Bareng aku ya bang!" pinta Maya seraya menggenggam tangan Adi.


"Maaf May abang bareng sama karyawan abang yang tadi, ada Zulfa juga baru datang di kedai." sahut Adi melepaskan tangan Maya, "Mari coach" ajak Adi tidak enak kepada Evan yang telah menyaksikan dramanya bersama Maya. Lalu mereka berlalu pergi menjauh dari tempat Maya.


Maya menatap kepergian Adi dengan kesal, "Gak mungkin sama karyawan kedai sampai segitunya!" gumamnya.


ADI POV


Sampai hati Dinda tinggalin aku seorang diri di sini. Aku kesal sekali dengannya. Kenapa dia tak bawa aku pergi dari Maya. Sejak kejadian malam itu, aku enggan bertegur sapa dengan Maya. Aku masih tidak mengerti kenapa dia menyalahkan aku.


Sudah hampir satu jam aku di arahkan oleh coach Evan, coach yang diminta Dinda untuk mengawasi ku.

__ADS_1


Tak lama kemudian Dinda datang dengan air mineral kemasan di tangannya.


"Aku temani satu jam lagi oke." tegur Dinda saat aku menoleh ke arahnya.


"Kau dari mana saja dek? Sampai hati aku di tinggalkan sendiri." balas ku menerima air mineral dari Dinda.


Dinda tersenyum dan berkata, "Senam, biar rasanya gak kalah enak sama gadis."


Aku terkekeh geli, ada-ada saja betina ini. Kemudian kami melanjutkan arahan dari coach Evan.


~


Aku sudah berada di rumah dengan Zulfanizar, adik ke tiga ku. Aku tak paham dengan Zulfa ini. Cuma dia sendiri yang tak mau melanjutkan pendidikannya. Dia hanya lulusan SMK. Setelah lulus dia memilih menjadi online shop dan sesekali membantu ayah mengurus beberapa kedai yang tersebar di provinsi JB.


Dan sekarang dia di utus umi untuk tinggal bersama ku disini. Tentu saja untuk memata-matai ku juga. Aku tengah chatting dengan perempuan berkacamata minus itu, Devi Latvia. Aku semakin dekat dengannya. Rencananya, kalau dia mau. Akan ku jadikan dia wanita ku. Tapi entah untuk kedepannya, aku masih belum ingin menikah.


~


Esok harinya, aku melakukan aktifitas ku di kedai seperti kemarin sebagai pengganti general manager. Karena general manager yang dulu di pindahkan ayah ke cabang baru. Sebenarnya aku tidak menguasai di bidang ini, Tapi ayah telah mempercayakannya kepada ku.


Aku baru tau dari abang Mun kenapa Adinda tidak memakai seragam. Selain dia karyawan baru di sini, ternyata dia juga orang ayahku. Pada awalnya Dinda membantu temannya memecahkan masalah keuangan kedai yang terlihat janggal. Dan akhirnya Dinda jadi salah satu orang kepercayaan ayah, dan baru sebulan bekerja sebagai chef di kedai ini.


Dinda cari uang dalam segala macam bidang, pantas saja Jefri pernah mengatakan dia multitalenta saat diskusi tentang Shalwa di kamar Haris.


Dinda datang dengan membawa anaknya, dia masuk ke ruangan ku.


"Bang, nitip sebentar ya. Nanti bang Jefri jemput." ucap Dinda lirih. Sepertinya dia sedang tidak dalam keadaan baik. Terlihat dari bibirnya yang sedikit pucat dan matanya yang sedikit bengkak.

__ADS_1


"Kalau sakit istirahat aja dek! Libur dulu sana sampai enakan badannya." ujar ku prihatin melihat keadaannya.


"Abang juga libur kah? Bolehlah aku nitip anak aku. Givan rewel kali semalam. Kayanya dia juga tak enak badan." tutur Dinda dengan bersandar di sofa panjang dan memejamkan matanya sejenak.


"Ya abang tak libur juga dek, katanya Givan mau di jemput Jefri." jawabku dengan mencari nomor abang Mun di ponsel ku, untuk mencarikan chef pengganti Dinda. Disini ada tiga chef, dan satu kepala chef dalam satu shift.


"Bang Jefri juga baru selesai tugas malam bang." sahut Dinda berdiri dan mengunci pintu ruangan ku. Karena anaknya tau bisa diam.


"Biasanya sama pengasuh Kenkin." balasku berdiri dan duduk di sofa panjang. Karena si aktif Givan ingin duduk di kursi putar katanya. Ku sebut pengasuh anak Haris dengan sebutan Kenkin, dari ke penggabungan nama anak-anak Haris.


"Bang Haris ada tugas dari rumah sakit selama tiga hari di kota B, dia tak tega ninggalin anak-anaknya cuma dengan pengasuhnya aja. Jadi mereka semua di bawa." jelas Dinda duduk di sebelah ku dan bersandar di lengan ku. Aku mulai terbiasa dengan sikapnya yang seenaknya. Batin ku selalu bertanya kenapa dia tak mengerti kalau aku laki-laki normal yang memiliki hormon yang selalu ku pendam. Melihat betis kebawah aja aku sudah hilang fokus. Tapi aku begitu hanya dengan Dinda.


Menurut ku perempuan lebih berkali lipat bikin penasaran kalau berhijab. Sayangnya yang berhijab tak semuanya selicin kulit Dinda.


Malah aku biasa saja dengan wanita yang tak berhijab. Nafsu sih nafsu juga. Tapi tidak terlalu penasaran, karena cenderung lebih bisa di tebak isinya.


Huh, sudah sudah. Masih pagi Di, jangan mulai.


Aku menghela nafas gusar, "Hei bang, tak dengar kah kau!" seru Dinda menggigit lengan ku yang tertutup kemeja panjang. Aku tersentak dari lamunan ku dengan kelakuan ajaibnya. Lihat anaknya terbahak-bahak melihat ku di gigit ibunya.


"Aku pun sering di gigit mamah kalau bikin kesal mamah." terang anaknya mendekati ku dan duduk di pangkuan ku. Lumayan sakit juga gigitannya, kurasa Dinda sedang tidak bermain-main dengan aksinya.


"Tuh kan ngelamun lagi! Kau kenapa sih bang? Kesal betul aku." teriak Dinda bangkit dari duduknya dan berdiri di kursi menggunakan lututnya, dua tangannya mendekati leher ku dari samping dengan senyum seram dan gigi putihnya nampak semua. Apa yang dia lakukan? Ini gila, dia hendak mencekik ku. Anaknya mengikuti aksi ibunya pula dengan wajah yang berakting layaknya zombie.


"Aduh aduh, dah nih Abang mati duluan aja." ucapku cepat memiringkan kepala ku dan munjulurkan lidah ku dengan mata tertutup. Mereka tertawa terbahak-bahak, aku pun larut dalam tawanya dengan memeluk anak laki-laki yang wajahnya mirip sekali dengan ibunya ini. Membuat mereka tertawa bahagia terkadang semudah itu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2