
"Sebenarnya aku gak tega ngelakuin itu semua. Tapi setiap aku ingat bagaimana sikap dan perlakuan Abang padaku, malah membuat rasa gak tegaku hilang." ujar Devi dengan masih mendekap suami Adinda tersebut.
"Mari kita saling memaafkan satu sama lain." balas Adi dengan melepaskan pelukan Devi. Lalu Devi mengangguk dan tersenyum samar.
Tak lama kemudian, ibu-ibu tadi datang dengan membawa empat gelas jus buah.
"Aduh, Bu. Jadi ngerepotin gini." tutur Adinda yang melihat ibu tersebut berjalan ke arahnya.
"Gak apa-apa. Namanya juga tamu kehormatan. Kapan lagi yang punya bukunya nganterin sendiri hadiahnya begini." tukas ibu tersebut membuat suasana di kamar itu mencair.
Dan mereka mengobrol ringan, sampai mengobrolkan perihal sakitnya Devi yang cukup misterius.
Adinda paham, Devi seperti ini karena perbuatannya sendiri. Itu yang ustad ucapkan selama Adinda sering bolak-balik ke sana untuk menjalani serangkaian pengobatan untuk Adi.
Adinda hanya menyarankan Devi untuk rajin beribadah dan bersedekah, serta ikhlas dan sabar menerima. Karena hanya itulah obat untuk Devi, yang ia ketahui dari ustad itu juga.
Kemudian mereka bertiga pamit pulang, karena Givan yang terus merengek meminta sesuatu yang tak jelas.
"Eh, ternyata anak kita ngantuk Dek." ucap Adi saat Adinda mulai menjalankan mobilnya.
"Pantesan. Tak tidur siang juga dia." sahut Adinda yang menoleh sekilas pada Givan yang berada dipelukan suaminya.
"Habis ini Abang mandi besar. Cuci juga tuh pakaiannya, bila perlu tak usah dipakai lagi." ujar Adinda dengan fokus pada jalanan.
"Kenapa memang? Disuruh ustadnya macam itu kah?" tanya Adi begitu penasaran.
"Tak, Abang kan tadi abis dipeluk Devi. Enak? Anget? Mana di depan aku lagi. Kalau sikonnya tak macam itu, rasanya pengen kubuat kalian berdua koyak tak berbentuk." jawab Adinda dengan nada yang tak bersahabat.
"Ngeri betul, Dek. Dirimu selalu di hati. Yang lain cuma numpang lewat, Dek." ungkap Adi dengan tersenyum manis sambil mencolek dagu Adinda.
"Di hati, di hati macaaaaaaaam ~~~~~~ " gerutu Adinda tak jelas. Justru membuat Adi tertawa renyah.
~
~
~
Esok harinya, Adi tengah membersihkan rumah milik Adinda yang cukup lama ditinggalkan oleh pemiliknya tersebut.
"Papah gimana sih? Mamah aku pagi-pagi udah dilepas. Gimana nanti makan siang aku? Janji juga katanya hari ini mau ke mall." ucap Givan dengan menghentak-hentakan kakinya.
"Itu mamah kau, macam peliharaan aja kata-katanya. Pagi-pagi udah dilepas." sahut Adi yang tengah menyapu lantai rumah.
"Memang mamah aku lagi ke mana sih?" tanya Givan yang moodnya sedang buruk itu.
"Lagi perawatan." jawab Adi memberitahu.
"Terus gimana nanti ke mallnya? Belum katanya mau ke kota J. Terus nanti balik ke provinsi A lagi." balas Givan dengan memasang wajah cemberut.
__ADS_1
"Tenang, nanti balik lagi ke sini. Mamah mau urus perternakannya dulu." ujar Adi membuat senyum Givan terbit.
"Asik, pasti bakal lama di sini." tuturnya dengan gembira.
"Tak juga, cuma pesen kandangnya aja dulu." tukas Adi membuat wajah Givan cemberut kembali.
"Kenapa sih memang kalau di provinsi A? Kan enak di sana sejuk, tak usah pakai AC. Terus kan enak Abang main bolanya. Di sana juga ada mall kok, tapi waktu itu memang belum sempat Papah ajak aja." ucap Adi dengan memperhatikan anaknya itu.
"Aku di sana rasanya macam cuma main, di sini tetap jadi rumah aku." jawab Givan lugas.
"Kan Papah lagi buat rumah buat Abang, buat Mamah." sahut Adi membuat Givan penasaran.
"Rumah yang dirusak itu? Jadi nanti kita tak tinggal di rumah abusyiknya Papah?" tanya Givan dengan mendongakan kepalanya untuk bisa melihat wajah Adi.
"Iya dibangun ulang. Macam rumah kakek dan nenek. Kita cuma sementara tinggal di situ, nanti balik lagi ke rumah kita, kalau udah jadi." jawab Adi membuat Givan memeluk kakinya.
"Rumah aku ada gawangnya tak, Pah? Terus nanti di rumah itu udah disiapkan anak-anak yang bakal jadi adik aku tak? Terus…" sahutan dari Givan terpotong oleh ucapan Adi.
"Adik lagi proses, nanti muncul dari perut mamah. Rumah dikasih gawang tuh cemana?" tanya Adi dengan menaruh sapu, lalu ia berjalan menghampiri anaknya.
"Pagar maksud aku. Hehehe, aku lupa namanya." jawab Givan membuat Adi terkekeh geli.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah, melanjutkan obrolan mereka yang membahas tentang segala hal.
~
"Kok baru makan? Makan sama apa?" tanya Adinda yang baru turun dari mobil, dan berjalan ke arah Adi.
Lalu ia mencium pipi Adi sekilas, dan mencium pipi anaknya yang tengah bermain balok susun di sebelah Adi.
"Wangi betul, Sayang" ucap Adi dengan mengendus bau dari istrinya.
"Bau madu lagi. Hmm, bikin Abang jadi laper." lanjut Adi tersenyum manis pada Adinda.
"Laper ya makan dong. Lagian ditanyain tadi diem aja." sahut Adinda yang duduk di sebelah Adi. Givan sepertinya tak terganggu dengan kehadiran ibunya.
"Pengen makan Adek. Semalam Adek malah tidur duluan." balas Adi dengan tersenyum mesum. Dan merengkuh pinggang istrinya.
"Ini di luar, Bang!" ujar Adinda melepaskan tangan suaminya yang berada di pinggang.
"Tuh kan. Dulu sebelum nikah Adek ngebet betul sama Abang. Udah kesampaian malah tak peduli macam itu." tutur Adi membuat Adinda menolehkan kepalanya.
"Tak peduli apanya sih, Bang? Segitu tadi udah diciumnya juga." tukas Adinda lalu bangkit dari duduknya, dan masuk ke dalam rumah.
Tak lama Givan masuk mengikuti ibunya, meninggalkan Adi dan segala mainan yang berserakan di teras rumah.
Adi menggelengkan kepalanya, melihat tingkah ibu dan anak itu. Ia membereskan mainan anaknya, kemudian masuk ke dalam rumah.
"Lah, kok tidur?" ucap Adi begitu melihat anaknya tergeletak di lantai depan televisi yang menyala.
__ADS_1
Dinda keluar dari kamar, dengan pakaian yang sudah berganti dengan kemeja milik Adi yang kebesaran di tubuhnya.
"Memang tadi tidur belum?" tanya Adinda yang mendapat gelengan kepala dari Adi.
"Cemana lah Abang tuh! Suruh momong anak malah jam makan, jam tidurnya kacau macam ini." ujar Adinda dengan masuk ke kamar mandi.
Adi menutup pintu rumah mereka, dengan langsung menguncinya. Dan berjalan menghampiri istrinya yang berada di dapur.
"Sesuatu yang tak Abang sanggupi kemarin, Abang kerjain semua hari ini." ucap Adi yang langsung menaikan Adinda di atas meja dapur.
"Ih, mau ngapain lagi coba?" seru Adinda saat Adi membuka kakinya, dan berdiri tepat di antara kedua kakinya.
"Abang cuci baju, jemur baju, nyapu, ngepel. Terus masak sayur kacang panjang, lauk yang Givan minta. Terus Abang lap-lap kaca dan bagian yang kena debu juga. Plus momong anak dan ngeladenin anak saat lagi ngerjain tugas-tugas tadi. Tapi Abang masih tak dapat juga kah?" ungkap Adi memelas. Membuat Adinda menarik garis bibirnya ke atas.
"Kan Abang lagi tak kerja juga." sahutnya yang membuat Adi membulatkan matanya.
"Udah suruh jadi mamak-mamak, disuruh kerja pulak." balas Adi, kemudian ia langsung mencumbui leher istrinya. Dengan tangan yang meraba-raba paha mulus istrinya.
"Cemana? Aku wangi tak? Enak tak disentuhnya? Coba pegang bibir aku juga." ucap Adinda membuat Adi mengangkat kepalanya yang berada di ceruk leher Adinda.
"Memang diapain ini bibirnya?" tanya Adi yang langsung menyesapi bibir istrinya.
Adinda mendorong dada suaminya, agar mau melepaskan tautan bibir mereka.
"Di masker, terus…" jawab Adinda terpangkas dengan selaan Adi.
"Jangan bilang disuntik, difillet macam itu." sahut Adi yang terlihat begitu menantikan jawaban dari Adinda.
"Filler, bukan fillet." balas Adinda dengan tawa renyahnya.
"Iya itu. Betul disuntik?" ujar Adi kemudian, dengan menatap tajam mata istrinya.
TBC.
Segala bibir difillet. Dikira daging layak makan kali ah 😂
Menjelang end ini.
Jangan lupa loh nanti ikutin season 2nya.
Hm, lagaknya udah macam author pemes.
Tak apa lah, ini demi kenyamanan kita semua dalam membaca cerita ini.
Tak kalah seru kok nanti season 2nya.
Masih tentang Adi Riyana si pemilik Adi's bird yang gacor itu ya. Sama Adinda janda anak satu, yang menggoyahkan pendirian Adi Riyana itu.
Pokoknya harus ikutin terus ceritanya 😊
__ADS_1