Sang Pemuda

Sang Pemuda
58


__ADS_3

Happy reading


LIKE, VOTE ya kak 😉


biar author tambah semangat 😅


Saat Dinda hendak bercerita, tiba-tiba ponselku berdering berulang kali.


Ahh, Farah menelpon disaat tidak tepat. Aku melihat Dinda yang berlalu menjauhiku saat aku mengambil ponsel dan tertera nama Farah di sana. Mungkin Dinda juga melihatnya tadi.


"Ya, ada apa?" tanyaku langsung setelah mengangkat sambungan teleponnya.


"Aku udah di depan rumah kau. Malu sekali aku tanya ke orang-orang di mana alamat rumah kau, Di." ucap Farah. Aku lupa, aku mengajaknya untuk berlibur bersama di kotaku di provinsi A.


"Aku, aku masih di kota C Far." jawabku kemudian. Aku melirik sesaat pada Dinda. Dinda terlihat cuek namun aku paham, raut wajahnya terlihat sedikit kesal.


"Kok gitu sih Di. Gimana dong aku? Mana udah malam lagi aku nyampai sininya." balas Farah dengan nada bingung.


"Tak jauh dari tempat aku ada beberapa penginapan kok, Far." ujarku memberitahu Farah.


"Kesel banget aku sama kau. Jauh-jauh aku dari kota L, buat nemuin kau ke kota T ini. Eh kau masih di kota C." tutur Farah kesal.


"Maaf, aku tengah sakit." ungkapku memberitahunya.


"Sakit apa Di? Ya udah deh aku cari penginapan di sini untuk beberapa hari. Aku nunggu kau di sini aja ya. Aku mau liat langsung ladang kopi kau." sahutnya. Dasar Farah keras kepala! Waktu itu aku dan dia sudah sepakat untuk bertemu di tempat liburan. Tapi kenapa ia malah datang ke rumahku. Dia tau alamat rumahku dari siapa ya?


"Aku belum ada rencana pulang kayanya. Lain waktu aja, Far." balasku agar Farah cepat pergi dari daerahku. Ngapain dia mau nunggu aku balik. Kalaupun aku balik, pasti bareng Dinda. Dan kalau dia tau aku dekat dengan janda. Pasti habis aku diolok-oloknya.


"Ya udah santai aja. Kayanya aku bakal cari rumah di daerah sini. Aku suka dengan suasana perkebunannya." ujarnya membuatku mengelus dada. Dasar bangsa jetset, kaum tajir melintir. Beli rumah macam beli gorengan.

__ADS_1


"Ya udah terserah kau aja. Aku tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum." tuturku mematikan sambungan telepon setelah Farah menjawab salamku.


"Betina Papah ya?" tanya Givan yang bersandar pada dadaku, dengan memainkan game H*y D*y.


"Perempuan ya jangan betina, ok?" tuturku memberitahu ucapan yang baik pada Givan. Karena kalau disebut betina oleh anak kecil, terdengar tak pantas dan kasar sekali. Meski memang bermakna kasar jika diucapkan oleh orang dewasa sekalipun.


Givan mengangguk, "Aku sering liat om temen Mamah nunjuk perempuan tapi nyebutinnya betina." ucap Givan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajahku.


"Iya tak boleh ya, itu kasar. Betina itu tak pantas disebutkan untuk manusia. Sebutan betina itu untuk binatang. Contohnya kambing, kambing jantan untuk kambing yang berjenis kelamin laki-laki, dan kambing betina untuk kambing berjenis kelamin perempuan." jawabku menjelaskan dengan jelas agar Givan paham dan tak seperti itu lagi.


"Papah pernah nyebut Mamah, betina." skakmat, balas Givan membuatku tak bisa menjawabnya.


"Huuuuuu." Dinda yang tengah duduk di sofa panjang menyoraki ku dengan puas.


"Mamah pun tadi nyebut pacarnya Ayah Jefri dengan sebutan betina." ucap Givan membuat Dinda mingkem.


Aku tertawa puas karenanya, "Senang kau!" seru Dinda terlihat kesal. Ia membuang muka dan menyalakan televisi yang ada di ruang inap ku.


"Bang, Abang bilang tadi bola api itu bisa terlihat jelas. Waktu Abang ngingetin Mamah tadi." tanyaku yang langsung diangguki Givan.


"Terus kenapa tadi tak nampak sama Mamah sama Papah?" tanyaku langsung menuju intinya.


"Aku tak paham. Aku sebenarnya dilarang Mamah. Kata Mamah tak perlu aku cari tau ini itu dan tak usah penasaran pada hal-hal begitu. Aku juga sebenarnya disuruh tutup mata aku yang di sini." ucap Givan menunjuk hatinya. Oh, maksudnya mata batin kah?


"Tapi aku penasaran, soalnya aku ngerasa kaya akan terjadi sesuatu. Aku mau jagain Mamah aku, aku takut Mamah kenapa-napa. Jadi aku buka untuk jaga-jaga aja. Sedangkan aku tak boleh mainan buka tutup terus. Jadi pas tadi mau nengok kakek ke rumah sakit sampai sekarang aku sengaja buka dan belum aku tutup balik. Sebenarnya aku takut juga liat ini itu yang berdarah-darah, tapi aku coba tahan dan pura-pura tak nampak aja. Tapi pas di lorong rumah sakit sana, ada kaki sepotong jalan ke arah aku dan Mamah. Mana banyak darahnya lagi. Aku udah takut kali, makanya aku langsung bilang Mamah. Eh Mamah malah ngajak aku lari entah kemana, untungnya malah masuk ke A*pamart yang ada di dalam rumah sakit. Coba kalau masuk ke tempat yang lebih seram, ruang operasi contohnya. Ihh, aku tak bisa bayangin." ungkap Givan menceritakan dengan memperhatikan ku dengan seksama.


"Terus gimana Bang?" sahutku kemudian.


"Eh tak taunya sama Papah. Kayanya ini akan terus terjadi Pah." balas Givan yang membuatku ngeri.

__ADS_1


"Jadi Papah setelah ini harus gimana?" tanyaku pada Givan.


"Coba tanya Mamah, Pah." pinta Givan menoleh pada Dinda.


"Dinda, sayang. Sini dong." ucapku dengan tersenyum manis pada Dinda. Givan tertawa geli dan menutup wajahnya dengan tangan saat aku memanggil manja ibunya. Dasar anak kecil jaman sekarang, dewasa sebelum waktunya.


"Pue?" sahut Dinda menggunakan bahasa daerahku yang berarti apa.


"Sini dulu coba, Dek!" seruku memintanya untuk mendekat padaku. Dinda menaruh remot televisi di meja. Dan ia berjalan menuju ke arahku.


"Apa lagi Bang?" tanyanya dan duduk di tepian tempat tidur. Dinda duduk membelakangiku dengan mata yang fokus pada televisi. Aku menyelipkan tanganku melingkar pada perutnya.


"Bantu Abang, Dek. Abang mau sembuh terus bisa ngapa-ngapain kau lagi. Abang tak mau diteror terus. Apa lagi taruhannya nyawa Abang sendiri." ungkapku di telinganya.


"Masa tujuannya biar bisa ngapa-ngapain aku lagi." sahut Dinda menoleh padaku.


"Karena kau pun suka Abang ngapa-ngapain kau. Cuma gengsi aja bilangnya." bisikku pelan.


"Kesal betul aku sama kau!" ujarnya dengan menyikut perutku.


Aku menyibakkan hijab yang berada di bahu kanannya. Lalu menarik bajunya, sedikit kumelorodkan bagian bahunya. Sebelumnya aku sudah memastikan Givan aman dengan ponselnya.


Aku mengecup, menjilat, menghisap dan menggigit pelan bahunya. Dinda semakin memberikan ruang padaku. Aku semakin berani dengan aksiku, aku meraba perutnya dari luar bajunya. Semakin naik untuk bisa menyentuh beban yang menggantung itu. Aku mengelusnya dan meremasnya perlahan.


"Gimana kabar kau, Di?" ucap seseorang yang langsung membuka pintu dan melihat kegiatanku. Aku buru-buru menurunkan tanganku yang sedang beraksi dengan lihai itu. Dinda sibuk merapikan baju dan hijabnya kembali.


Aku melupakan kalau aku sekarang adalah pasien rumah sakit. Dan aku juga melupakan bahwa sekarang aku berada di ruang rumah sakit. Aku merasa sehat dan bugar kembali sejak datangnya Dinda tadi. Dasar pejantan lemah iman kau Di! Selalu saja begini jika dekat dengan betina yang satu ini. Suara hatiku berkata demikian.


TBC.

__ADS_1


Hayo siapa ya kira-kira yang datang? Kadang suka kesel aku tuh kalau nanggung begini 🤭


Ditunggu ya kelanjutannya 🙏😉😁


__ADS_2