Sang Pemuda

Sang Pemuda
64


__ADS_3

"Jadi gimana?" ucap Adi saat tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut orang-orang yang berada di dalam ruangannya.


"Ladang di sana siapa yang ngurus, Din?" tanya pak Dodi.


"Aku minta Bang Safar ngawasin selama dua hari aku di sini. Tapi kayaknya aku bakal lama di sini, bapak aku juga masih sakit." jawab Adinda prihatin.


"Ya udah tenang aja. Biar orang Ayah yang ngurus sementara. Kalau memang Adi sakit tak wajar. Mari sama-sama bantu Adi nemuin kesembuhannya kembali." sahut pak Dodi.


"Tapi lepas ini kayaknya Ayah mesti cari pengganti aku deh. Bapak aku kurang setuju aku kerja jauh." balas Adinda yang tengah duduk di tepian tempat tidur Adi.


Adi memegang tangan Adinda. Jefri kaget dan menatap heran Adi yang bersikap demikian.


"Kau udah janji tadi, Dek." Adi merengek pada Adinda.


Sontak membuat Adinda menoleh dan terkekeh pelan, "Kalau Ayah nemuin pekerja baru kan mending aja Bang. Ladang Abang pasti terurus." ucap Adinda kemudian.


"Kau jangan drama kali napa Di! Jijik kali kau kutengok." ujar Jefri bergidikan.


Pak Dodi tertawa geli melihat tingkah anak laki-lakinya, "Iya tenang aja Bang Adi." tutur pak Dodi.


"Jadi gimana cerita yang kau mau ceritain itu Bang?" ungkap Adinda mengalihkan pembicaraan.


"Memang seminggu sebelum Abang memeriksakan diri, Abang sering dilanda sesak napas. Dan setiap tidur pun pasti mimpi buruk. Entah itu tidur siang atau tidur malam, dan berakhir terbangun karena sesak napas mendadak. Satu sampai dua jam kemudian, napas Abang sudah kembali normal. Begitu terus setiap harinya." ungkap Adi menceritakan.


"Terus?" tanya Adinda singkat. Pak Dodi dan Jefri menyimak cerita Adi.


"Dimimpi Abang, sering ada perempuan yang menatap marah pada Abang. Tapi memang wajahnya berubah-rubah." lanjut Adi bercerita.


"Kira-kira kenal tak Abang sama perempuan itu?" sela pak Dodi.


"Abang ngerasa familiar dengan matanya. Tapi wajahnya berubah-rubah, Abang tak yakin itu dia." jawab Adi serius.


"Siapa itu Bang?" tanya Adinda penasaran.


"Kau pun pasti tau juga, Dek. Sejak kau terangin kenapa orang bisa berbuat demikian pada kita. Abang merasa semakin yakin bahwa orang itu dia. Karena memang sejauh ini Abang tak merasa bersaing usaha dengan orang lain." jawab Adi dengan terfokus pada Adinda.


"Siapa Dek?" tanya Jefri penasaran dengan mencolek kaki Adinda yang menggantung.


"Tak tau juga Bang. Memang siapa sih Bang?" tanya Adinda bingung pada Adi.


"Hmmm… dia…." Adi yang hendak memberitahu Adinda tiba-tiba ucapannya terpotong dengan teriakan Givan dari luar ruangan Adi, ia memanggil mamahnya berkali-kali.


"MAMAH, Mamah Dinda." teriak Givan. Adinda lalu turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu ruangan.


"Heh, tak sopan. Jangan teriak-teriak di rumah sakit." ucap Adinda dengan menghampiri anaknya.


Lalu Givan menarik-narik rok plisket ibunya. Ibunya lalu berlutut, menyetarakan tingginya dengan anaknya.

__ADS_1


"Apa, hm?" tanya Adinda kemudian.


"Kan begini. Ada ubur-ubur hantam atap ruangan Papah. Terus kan terdengar macam suara kirikil yang dilempar di atap atas. Terus jangka waktu beberapa menit, Papah Adi langsung menggap-menggap lagi." ungkap Givan membuat Adinda bingung.


Pasalnya tadi anaknya dibawa oleh umi dan Zulfa untuk pergi berbelanja di minimarket rumah sakit.


"Mana Umi dan Tante Zulfanya? Mamah tak paham, Abang tengah bahas apa?" sahut ibunya kemudian.


"Kata dia." ucap Givan menunjuk kursi kosong yang berada di depan ruangan Adi, "Papah bisa jatuh sakit lagi karena ubur-ubur api yang nimpa atap ruangan Papah." lanjut Givan yang membuat Adinda bergeser menjauh dari jajaran kursi.


"Dia siapa?" tutur Adinda merasa takut.


Givan memamerkan giginya, "Maaf Mamah. Soalnya dia bolak balik ruangan Papah aja. Ngikutin aku terus sampai di a*pamart. Jadi aku tanya." ungkap Givan polos.


"Terus dia bilang begitu? Jangan maen sama mereka. Mamah takut." ujar Adinda dengan memasang wajah sedih bercampur takut.


"Aku cuma nanya sedikit aja. Sama ditemenin balik ke sini. Soalnya aku lupa kalau tak langsung dibilangin langsung ke Mamah." ucap Givan kemudian.


"Abang kabur? Tak izin sama Umi sama Tante Zulfa?" tanya Adinda yang langsung diangguki Givan.


"Yuk masuk." ajak Adinda kemudian. Merekapun berjalan memasuki ruangan Adi kembali.


"Duduk sini ya." tukas Givan yang menaikan anaknya di atas ranjang Adi, "Mamah mau telpon Tante Zulfa dulu." lanjut Adinda yang mengutak-atik ponselnya.


Setelah Adinda mengabari Zulfa bahwa Givan sudah kembali ke ruangan Adi, lalu Adinda menceritakan tentang yang diungkapkan Givan barusa.


"Dia." jawab Givan yang menunjuk pintu ruangan Adi. Pak Dodi langsung bangkit dari sofa dan buru-buru berjalan menuju ranjang Adi. Mereka semua berkumpul di tempat Adi.


"Kenapa Yah?" tanya Jefri yang sebenarnya tahu kalau pak Dodi tengah ketakutan.


"Bertanya pula kau! Jelaslah Ayah takut." jawab pak Dodi yang langsung mendapat kekehan tertahan dari Jefri, Adinda dan Adi.


"Dia meninggal di ranjang ini. Tapi dia jin qorinnya bukan arwahnya." tutur Givan yang menepuk tempat tidur Adi.


"Minggir kau, Dek. Abang mau pindah." ucap Adi yang hendak turun dari ranjang.


"Tak apa Di! Antenglah kau duduk di situ." ujar pak Dodi.


"Abang takut loh Yah." seru Adi dengan wajah takutnya.


"Jin qorin itu apa?" tanya pak Dodi pada Givan.


"Setiap bayi dilahirkan, dia pasti memiliki jin qorin yang mendampinginya sampai akhir hayatnya. Yang bertugas menyesatkan manusia." jawab Givan lugas.


"Kau tau dari siapa?" tanya Adinda pada anaknya.


"Mamah maaf." sahut Givan dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Maaf terus! Susah kali kau dibilangin." balas Adinda dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Udahlah, Dek. Kau dengar Dek, jin qorin ternyata lebih setia dari pasangan kita. Pasangan hidup kita meninggal, pasti cepat kita cari yang baru. Jin qorin setia sampai akhir hayat Dek. Kau mau tak salah satu dari mereka buat jadi pendamping hidup kau." ujar Adi membela Givan lalu memberikan candaan pada Adinda.


Mereka semua menahan tawa, saat Adi berkata demikian dan langsung mendapat delikan tajam dari Adinda.


"Terus gimana lagi Bang?" lanjut Adi bertanya pada Givan. Ia mengalihkan perhatiannya pada Givan. Sepertinya Adinda sedang tidak ingin bercanda dengannya sekarang.


"Yang ubur-ubur api itu, dia sejenis sihir yang dibawa oleh bangsa jin. Jin-nya ini jin yang dipelihara oleh dukun-dukun begitu." jelas Givan dengan duduk dipangkuan Adi.


"Nah jelaskan. Berarti itu kiriman." sahut Jefri yang dari tadi hanya menyimak.


"Coba Abang tanya sama yang ngirim. Tanyain siapa yang nyuruh." ucap pak Dodi pada Givan.


"Ayah jangan nyuruh-nyuruh anak aku loh Yah. Tak suka aku." protes Adinda dengan bibir yang mengerucut.


"Aku tak berani sama mereka yang berwujud seram dan marah. Mah, coba minta bantuan Abah yang dulu kita sering berkunjung." tutur Givan pada ibunya.


"Kau sering ke dukun juga Dek?" tanya Adi memperhatikan Adinda yang sedang berpikir.


"Bukan dukun. Jadi kan gini...Ekhmmm." ucap Adinda berdekhem sejenak lalu melanjutkan ucapannya, "Neneknya Mahendra punya Kodam. Banyak persepsi tentang Kodam ini Bang. Aku pun tak tau pasti mereka ini apa, yang aku tau hanya mereka ini turun temurun pada keluarga yang bersangkutan dengannya. Dan sialnya turun ke anak aku Bang. Banyak orang yang bilang Givan istimewa, ini itu. Yang aku pahami di mata Givan ini ada isinya, yang turunan dari neneknya Mahendra itu. Aku berusaha sebisa mungkin ngusahain Givan agar tak bisa melihat mereka lagi. Bukan apa-apa, aku takutnya mereka nyesatin anak aku. Dan lagi, aku takut psikisnya terganggu karena Givan tak siap melihat wujud mereka yang menyeramkan ini." ungkap Adinda kemudian menjeda sejenak untuk mengambil nafas lebih banyak.


"Dan aku datang, ke rumah anak dari kakaknya nenek Mahendra. Apa itu sebutannya?" tutur Adinda lalu bertanya.


"Ya… pokoknya itulah. Lanjutin Dek!" sahut Adi menyimak cerita Adinda.


"Aku tau dia sedikit bisa dari keluarga Mahendra. Aku minta padanya buat mutusin perjanjian pada makhluk tersebut pada keturunan manusia yang bersangkutan, biar tak berlanjut pada Givan dan keturunan Givan kelak. Tapi ia tak bisa melakukannya. Jadi beberapa kali aku bolak-balik ke tempat dia. Aku cuma bisa bikin Givan ngendaliin penglihatannya." tukas Adinda mengakhiri ceritanya.


"Memang Mahendra itu siapa?" tanya pak Dodi merasa bingung.


"Mantan suaminya Dek Dinda, Yah." jawab Adi memberitahu.


"Ke ustad D*nu aja Dek. Di kota J. Dia bisa mutusin perjanjian jin dan manusia. Abang pernah tengok tayangannya di tivi." tutur Jefri memberi saran pada Adinda.


"Kira-kira nyakitin Givan tak ya Bang?" tanya Adinda pada Jefri.


"Ok nanti lepas Abang sembuh, Abang temenin ke ustad itu. Tapi pikirin dulu nasib Abang Dek." tukas Adi merasa terlupakan.


"Ehh, hihihi." tawa Adinda pelan.


"Kita sekalian aja ke ustad itu buat ngobatin kau dan normalin Givan, gimana?" usul pak Dodi yang langsung menjadi pusat perhatian mereka semua.


TBC.


Ngalir gak sih ceritanya? 🙄


Tapi memang begini adanya 🤫

__ADS_1


__ADS_2