
Bagi LIKE dan VOTEnya ya 😉
Happy reading
Jefri sudah selesai memeriksa keadaan Dinda. Lalu ia duduk di tepian kasur angin dengan memperhatikan wajah Dinda yang aku lupa memakaikan jilbabnya kembali.
"Eh, sialan kau! Sini!" ucapku dengan menarik lengan bajunya.
Jefri bangkit dan mengikuti langkahku menuju ruang depan.
"Apa sih kau?" tanya Jefri bingung.
"Tengok apa kau? Tunggu kau di sini." sahutku kemudian. Umi menatap kami dengan heran.
Lalu aku bergegas masuk ke kamar Dinda untuk mengambil hijab. Aku keluar dari kamar dan menuju ke arah Dinda untuk memasangkan hijab. Yang penting rambutnya tak kelihatan.
Terlihat Jefri mengintip dari tembok kayu yang berlubang itu.
Lalu ia tertawa terbahak-bahak dan menyebut-nyebut namaku.
"Ya ampun Adi Riyana."
"Memang kau gila sekarang, Di."
"Adi, Adi. Tak habis pikir aku sama kau!" ucap Jefri beruntun.
"Kau yang gila! Tak sopan pula kau! Terang-terangan melototin Dinda yang tak pakai kerudung." seruku dengan menghampirinya.
"Aku baru tengok rambut dia, Di. Bukan aku melototin. Aku terkesima, rambutnya bagus kali." terang Jefri dengan terkekeh.
"Tak lucu. Dan jangan kau ulangi lagi!" tekanku memberinya peringatan.
"Dasar gila! Cuma gara-gara rambut Dinda yang nampak aja kau heboh sekali, Di!" ujarnya kemudian.
"Kau yang gila!" aku membalikkan makiannya tadi.
"Kau gila!" tukas Jefri tak mau kalah.
"Kau!" seruku dengan cepat.
"Kau!" balas Jefri tak mau kalah.
"BERISIK! PAPAH SAMA AYAH SAMA-SAMA GILA!" teriak Givan yang keluar dari kamar. Lalu ia menutup kembali pintu kamarnya dengan membantingnya cukup keras. Terlihat ia begitu marah, dari caranya dan urat mukanya.
"Nah, kan." tunjuk umi padaku dan Jefri. Lalu ia menyusul Givan dalam kamarnya.
__ADS_1
~
Jefri tengah merokok di teras depan. Dan aku baru selesai makan. Lalu aku menghampiri Jefri di luar dengan menyalakan ujung rokokku.
"Dinda perlu dibawa ke rumah sakit tak?" tanyaku pada Jefri.
Jefri menggeleng, "Tak perlu. Memang semalam ia minum macam orang kesetanan." jawabnya sambil memainkan ponselnya.
"Oh, kau ada di tempat juga semalam?" tanyaku memastikan. Berarti jika bersama Jefri juga, Dinda pasti aman pikirku.
"Iya, ada aku bareng Haris juga. Dinda kayanya ada masalah." sahut Jefri dengan menikmati rokoknya.
"Masalah darahnya gimana?" ucapku kemudian.
"Mana aku tau. Kau tak bagi izin buat aku tengok." sahutnya dengan menoleh sejenak padaku.
"Ya nanti kau malah liat k*malu*nnya lagi." balasku mengatakan dengan jelas.
"Memang aku udah tau." jawabnya enteng. Apa dia kata? Jangan-jangan Dinda pernah dipakainya lagi.
"Kau pernah pakai Dinda?" tukasku cepat.
"Tak pernah lah. Dulu kan waktu ia pendarahan di rumah sakit. Kan aku sama kawan dokter yang lain yang nanganin dia." tuturnya menjelaskan. Oh syukurlah, aku kira Dinda pernah Jefri pakai.
"Memang seberapa banyak darahnya. Warnanya kehitaman tak?" ucapnya kemudian saat aku terdiam.
"Kau yang bersihkan?" tanya Jefri padaku. Pasti ia terheran mengetahui faktanya bahwa aku yang membersihkannya tadi.
"Mau bagaimana lagi. Umi ngeri liat darah Dinda yang sebanyak itu." jawabku dengan mengedikkan bahuku.
"Tapi Umi bilang tadi sih, itu macam darah segar." lanjutku kemudian.
"Coba bagi aku tengok sebentar, Di. Biar aku bisa mastikan juga." ucap Jefri dengan membuang rokoknya.
"Aku ikut, dan kau jangan aneh-aneh!" ujarku memberinya peringatan.
"Ok siap." sahut Jefri cepat.
Lalu kami masuk kembali ke dalam rumah. Aku masuk sejenak dalam kamar untuk memberitahu umi untuk jangan keluar dulu. Kulihat Givan masih memejamkan matanya. Mungkin tadi tidurnya terganggu karena aku dan Jefri yang ribut tadi.
"Biar aku yang buka." ucapku saat Jefri sudah berada di dekat Dinda.
"Protektif betul kau. Suaminya dulu tak begitu pun." balasnya menyahutiku.
"Dasar aja suaminya tak sayang! Masa istrinya di buka-buka sama laki-laki lain boleh aja." sahutku cetus.
__ADS_1
"Jadi kau lebih sayang begitu dari pada suaminya dulu? Ya kan dia tau aku dokter. Aku mau meriksanya, bukan mau macam-macam padanya." ujar Jefri yang menjawab terus. Sungguh aku kesal kali padanya. Kalau tak kubutuhkan dia di sini, sudah ku usir dia dari rumah ini.
"Diam kau! Jawab terus." tukasku dengan mendelik tajam padanya.
Ia terkekeh pelan dengan menggelengkan kepalanya.
Aku bingung sendiri, jika aku sibakkan roknya. Maka kaki mulus Dinda akan terekspos dan posisinya juga pasti akan meng*ngkang. Ini akan membuatku pusing. Oh begini saja, aku punya ide.
"Kau tengok dari belakang aja. Kau intip dikit aja." ucapku kemudian. Dengan begini hanya part belakangnya saja yang terlihat. Meski memang akan merugikan juga. Tapi setidaknya hanya posisi itu yang paling aman.
"Biasanya juga aku kalau cek pendarahan ya begitu, Di!" jawabnya santai.
"Geser sana kau. Bagi aku ruang." lanjutnya kemudian.
Lalu Jefri mulai memiringkan posisi Dinda, dan sedikit menurunkan roknya ke bawah. Kepalanya sedikit ia turunkan untuk melihat dengan lebih jelas. Lalu Jefri cepat membenarkan kembali posisi roknya dan posisi tidur Dinda.
"Pendarahan ini, Di." ucapnya terlihat sedikit panik. Lalu ia menelpon seseorang dengan berlalu pergi ke ruang depan.
Aku semakin panik, benarkah demikian. Kenapa aku tak gerak cepat dari tadi. Malah sempat-sempatnya aku bermain sabun tadi. Aduh, aku sangat menyesali waktu yang terlewat. Pasti darahnya sudah banyak yang keluar.
Aku langsung menuju kamar dan mengatakannya pada umi. Umi terlihat begitu khawatir dan memintaku untuk membawa Dinda ke rumah sakit saja. Biar Givan, Umi yang urus katanya. Tapi jelas aku masih menunggu arahan dari Jefri.
Aku berjalan keluar kamar, untuk menemui Jefri. Terlihat Jefri sedang marah-marah pada orang di ujung telepon.
"Segitunya kah kau tak suka sama Dinda? Malah sekarang kau suruh aku memilih pula? Kau tak mencerminkan bahwa kau seorang perawat! Di mana rasa belas kasiu kau, Nis?" serunya dengan urat leher yang mengencang. Bertanda ia sudah sangat emosi sekarang.
"Kalau mau batalin, batalin dari sekarang! Biar tak banyak biaya yang terbuang sia-sia nantinya." ucap Jefri yang bisa kudengar dengan jelas.
"Kau dengar aku baik-baik Ganis Nur Gayatri! Mulai sekarang kau dan aku sudah tak ada hubungan yang terikat lagi. Kita putus!" ujar Jefri dengan suara penuh penekanan. Lalu ia mengacak-acak tatandan rambutnya, dan membuang nafas panjang.
Dia memutuskan kekasihnya hanya untuk Dinda? Atau bagaimana? Aku ingin bertanya tapi aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat. Terlihat Jefri juga tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Lalu ia mendekatkan ponselnya pada telinganya kembali.
"Hallo Ris….." ucap Jefri yang sepertinya sedang meminta bantuan pada Haris. Lalu aku pergi dan kembali pada Dinda.
Aku tak paham dengan konsep pertemanan mereka. Haris, Jefri dan Dinda tetap bisa menjaga tali pertemanan mereka meski kemarin hari Haris sudah berlalu kasar pada Dinda.
Dan aku merasakannya sendiri, laki-laki dan perempuan dewasa tidak bisa berteman dengan sehat. Seperti kejadian aku dan Dinda. Karena sekarang aku paham, rasa itu hadir karena kita sudah biasa bersama. Apa lagi dengan Jefri dan Haris yang lebih awal mengenal Dinda. Aku yang hanya sebulan mengenalnya dan selalu bersamanya saja sudah seperti ini.
Givan sudah terbangun langsung berlari menuju ibunya, ia menciumi ibunya berharap tidur ibunya terusik. Namun ia malah terlihat kalap dengan Dinda yang tak meresponnya.
"Mamah, mamah kenapa?" serunya dengan mata yang berkaca-kaca.
"MAMAH BANGUN!" teriaknya lebih kuat. Namun Dinda tetap tertidur tanpa ada pergerakan sedikit pun.
__ADS_1
TBC.