Sang Pemuda

Sang Pemuda
SP140


__ADS_3

ADI POV


Setelah aku membayar upah taksi, yang mengantarku tadi. Aku melangkah masuk menuju rumah orang tuaku. Semoga ada jalan keluar untuk masalah perjodohan ini. Aku tak mungkin menikahi Retno, sedangkan aku sendiri sudah menikah dengan Dinda.


Aku yakin, aku tak akan bisa adil. Terlebih lagi aku pasti tak akan bisa membagi rasa cintaku. Karena jelas, hatiku dan diriku. Hanya milik Dinda. Meski aku tau, selamanya surga anak laki-laki ada di kaki ibunya. Dan anak laki-laki tetap milik ibunya. Tapi, aku tak mungkin bisa rela jika tubuhku harus kubagi dengan perempuan lain, selain Dinda.


"Assalamualaikum." ucapku yang langsung masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikum salam." sahut Zuhra yang tengah berkumpul dengan teman-temannya di ruang tamu. Dengan laptop yang menyala, dan buku tulis di tangan masing-masing.


Zuhra langsung berjalan cepat ke arahku dan mencium tanganku.


"Umi mana, Dek?" tanyaku padanya.


"Di kamarnya kayanya, Bang." jawabnya kemudian. Aku mengangguk dan berlalu menuju kamar umi. Kulirik sekilas, Zuhra kembali belajar bersama teman-temannya. Tahun ini ia akan lulus SMA. Mungkin sekarang sedang banyak tugas sekolah yang menumpuk, pikirku.


Tok, tok, tok.


Aku mengetuk pintu kamar umi.


"Assalamualaikum, Umi… ada di dalam kah?" seruku yang berniat ingin membicarakan hal tentang perjodohan itu.


"Wa'alaikum salam. Masuk aja, Bang." sahut umi yang sepertinya mengenal suaraku.


Aku membuka pintu kamar itu, dan masuk ke dalamnya. Kulihat umi tengah berbaring di atas tempat tidurnya. Benarkah umiku tengah sakit macam ini. Aku kira, jika kolesterol tinggi tak berefek pada tubuh.


Aku mencium tangan umi, dan duduk di tepian tempat tidur.


"Mana yang sakit, Umi? Maaf baru bisa nengokin." ucapku sambil memperhatikan wajah umiku. Dan aku memikirkan juga tentang kata-kata yang aman di telinga umi nanti.


"Sakit kepala, ngantuk aja. Kram, kesemutan, tengkuk leher juga sakit kali." sahut umi dengan memijat tengkuk lehernya.

__ADS_1


Aku mengulurkan tanganku untuk berganti memijat tengkuk leher umiku.


"Ayah mana, Umi?" tanyaku kemudian. Dengan tangan yang masih memijat.


"Ayah lagi di halaman belakang. Ayah tuh udah tak boleh merokok. Tapi tetap aja macam itu." balas umi dengan duduk dan bersandar pada kepala ranjang.


"Susah kalau berhentinya langsung tuh. Bulan lalu Abang cuma tiga batang sehari. Sekarang udah beberapa hari, lagi coba dua batang sehari. Pelan-pelan mau berhenti ngerokok." ungkapku mencoba mencairkan suasana. Karena jujur aku sedikit ragu untuk menceritakan tentang aku yang masih berhubungan dengan Dinda. Apa lagi kebenaran yang nyatanya, aku dan Dinda sudah menikah. Meski hanya sah secara agama saja.


"Bagus dong." sahut ayah yang muncul dari pintu kamar. Sampai kaget aku dibuatnya.


Lalu ayah menghampiriku, dan aku langsung mencium tangannya.


"Sini duduk, Ayah." ujarku dengan menepuk tepian tempat tidur yang aku dudukki tadi. Dan aku bangun, lalu duduk kembali di kursi rias milik umi.


"Sebetulnya ada yang mau aku omongin." lanjutku yang mulai mengambil ancang-ancang untuk berbicara panjang lebar.


"Aku… sebetulnya tak ingin dijodohkan macam itu. Aku hanya mau menikah dengan perempuan pilihan aku." ungkapku dengan memperhatikan reaksi umi dan ayah.


"Ayah juga udah bilang. Tapi Umi yang maksa mau jodohin kau." sahut ayahku.


"Umi tentunya tak sadar udah permainkan perasaan Abang. Awal-awal Umi minta Abang untuk ngasih kejelasan pada Dinda. Mojok-mojokin Abang tiap waktu. Suruh pertimbangkan kebaikannya. Tapi tiba-tiba Umi minta aku untuk jauhin dia, lebih-lebih Umi minta Abang untuk tak kenal dia lagi." ungkapku sehalus mungkin, berharap umi tak merasa sakit hati dengan ucapanku.


"Ayah pun udah pernah bilang, Bang. Semakin anak dilarang, semakin nekat juga dia berbuat. Apa lagi kau anak laki-laki, kau pasti merasa semuanya bisa kau kehendaki bukan?" sahut ayahku yang memang benar seperti itu. Mungkin karena ayah adalah seorang laki-laki, sedikit banyaknya mungkin ia paham tentang anak laki-lakinya ini.


"Jangan pernah berpikir untuk aneh-aneh, Bang. Umi paham kau belum bisa lupain Dinda. Makanya Umi berniat jodohin kau, biar perempuan baru ini bisa bantu Abang buat lupain Dinda. Abang yang paham, Umi hanya mau yang terbaik untuk kehidupan anak-anak Umi." ujar umiku yang masih tetap ingin menjodohkanku.


"Kalau memang itu keputusan Umi ya silahkan lakukan. Tapi jangan salahkan Abang, jika nanti Abang jadi menikah dengan Retno. Di hari Abang lepas masa lajang Abang, di hari itu pula Abang berstatus sebagai duda. Silahkan atur aja pernikahannya, mau yang mewah, apa yang sederhana. Silahkan atur sedemikian rupa." tuturku dengan menahan emosiku.


"Jangan ngomong jelek macam itu, Di." tegas ayah dengan memperhatikan wajahku. Karena aku beberapa kali membuang muka, karena merasakan sesuatu yang bergejolak naik ke kepalaku. Dan sebentar lagi akan meletup ini.


"Abang mau cari pilihannya sendiri? Tak mau sama Retno?" tanya umiku yang memperhatikan aku dengan seksama.

__ADS_1


Aku mengangguk mantap, "Ya, Umi. Abang pengen cari sendiri aja." jawabku agar umi lebih paham.


"Asalkan jangan Dinda ya?" balas umiku yang membuat aku reflek menoleh pada umi.


Rasanya ingin aku beri tau saja, jika Dinda sudah aku nikahi. Tapi khawatirnya malah Dinda umi maki-maki, dan menyalakan semua kejadian ini pada Dinda.


"Kenapa sih, Umi? Abang ingin tau kali, apa sebetulnya sampai aku dilarang macam ini?" sahutku kemudian.


"Karena, Umi tau semua keburukannya. Selain dia pemabuk, dia juga perokok. Iya kan?" ungkap umi yang membuatku cukup terkejut.


"Pasti kau bertanya, kenapa Umi bisa tau? Iya kan?" lanjut umi saat aku diam tak merespon ucapannya.


"Umi tau saat kau tinggal di sini kemarin. Dan di hari Shasha datang. Mbak Eri, asisten rumah tangga kita. Tengah membersihkan kamar yang Dinda tempati waktu menginap di sini. Dia keluar dari kamar itu, dengan beberapa puntung rokok yang ada bekas lipsticknya. Tak mungkin juga kalau kau lipstickan, iya kan?" ucap umi dengan menatapku dengan pandangan tajam.


"Entah kenapa, di pikiran Umi. Perempuan merokok itu macam j*lang. Jadi udah, lebih baik pembicaraan ini tak perlu dibahas lagi. Ok, Umi batalkan perjodohan itu. Asal perempuan yang kau pilih bukan Dinda." lanjut umi begitu tegas.


"Sana masuk ke kamar Abang sendiri. Umi mau istirahat." tutur umi karena aku hanya terdiam dengan pikiran yang berkelana.


Sepertinya tak ada jalan keluar lain, selain aku menghamili Dinda terlebih dahulu. Dan akan kuberi tau pada umi, setelah Dinda mengandung. Menghamili istri sendiri tentu tak berdosa bukan?


"Kalau begitu, Abang langsung balik aja. Tolong sering-sering tengokin Zulfa. Dia masih kecil, dan dia perempuan. Khawatir betul kalau dia seorang diri di kota orang." ucapku dengan langsung pamit pada umi.


"Mau balik ke provinsi A?" tanya ayah yang langsung kuangguki.


"Iya, Yah." jawabku dan pamit pada ayah juga.


Aku pun keluar dari kediaman orang tuaku. Dan langsung menyetop taksi yang lewat di depan rumah. Untuk menuju ke hotel tempat anak dan istriku menginap malam ini.


Hanya membutuh waktu kurang dari sepuluh menit. Aku sudah sampai di tempat tujuan. Dan berjalan masuk menuju kamar yang sudah ditempati oleh anak istriku.


TBC.

__ADS_1


Detik-detik menjelang end 😩


Jangan lupa ikuti ceritanya ini di season 2nya 😅


__ADS_2