
"Dek, Abang cuma ngobrol. Sefatal itu kah kesalahan Abang?" tanyaku yang maju satu langkah dari posisiku.
"Aku pernah berada di titik ini!" serunya dengan menahan dadaku. Lalu ia berjalan menuju kamarnya, meninggalkanku yang sedang kebingungan.
Lalu aku berjalan cepat menuju kamar. Kemudian, aku mengunci pintu kamarku. Terlihat Dinda tengah merebahkan diri dengan langsung memeluk guling. Saat ia melihatku, ia langsung memunggungiku dan menghadap ke Givan.
Aku masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar, dan setelah menyelesaikan tujuanku di kamar mandi. Aku langsung mendekati Dinda, dengan memeluknya dari belakang.
Badannya terasa begitu panas. Kenapa juga tadi aku nongkrong di sana? Dengan keadaan Dinda yang seperti ini. Tapi tadi Dinda mengatakan pernah berada di titik ini. Jadi sebelumnya Mahendra sering meninggalkannya untuk menongkrong dengan teman-temannya kah?
"Maaf sayang. Abang tak lagi-lagi. Beucong, Abang tak akan mengulanginya lagi." ucapku dengan menciumi rambutnya. Aku sampai berani bersumpah untuk hal ini.
Baru juga tadi aku bergurau mesra dengannya. Tapi dalam malam yang sama, ia menangis karenaku juga. Aku tak ingin melukai hatinya. Meskipun hanya karena masalah yang menurutku sepele.
Dinda menyentuh tanganku yang mendekap tubuhnya, "Kalau belum siap jadi suami juga jadi seorang papah. Lebih baik ini tak usah dilanjut. Ini bukan masalah main dekat atau jauh. Bukan tentang dengan siapa keluar dan di mana tempatnya." ungkap Dinda dengan air mata yang masih merembes keluar. Lalu ia memutar tubuhnya menghadapku.
"Ini tentang komitmen. Dengan masih pengen main sama temen, nongkrong, ngumpul macam itu. Itu tandanya Abang belum berani berkomitmen. Abang belum puas mainnya. Lebih baik jangan dulu menikah. Puasin aja dulu main-mainnya. Jangan bilang kita menikah karena terpaksa. Jujur, aku lebih terima dicambuk, Bang. Tak enak rasanya ditinggal suami main macam ini. Abang kira waktu aku tak tersita dengan semua tugas-tugas yang harus aku kerjakan. Dengan enak-enaknya Abang ketawa bebas sama temen-temen Abang. Coba kita balik, kalau aku yang macam itu gimana? Apa Abang tak malu di mata orang-orang? Bang, aku nguatin hati, neguhin hati untuk bisa nerima kenyataan bahwa aku sudah kembali menjadi istri." ucap Dinda yang mengeluarkan unek-uneknya.
"Aku tak ngelarang Abang main, berbaur dengan masyarakat. Tapi bukan tengah malam begini. Abang tak tau waktu! Coba apa kata orang-orang? 'nah itu si Adi, udah punya istri tapi masih berat ke temen-temennya.' Abang mau dikira tak betah di rumah? Kurang lebihnya Abang tanya sana ke saudara-saudara Abang." lanjutnya dengan menghapus air matanya.
Oh jadi itu masalahnya. Jadi dia malu dikira tak bisa bikin suami betah. Logika juga. Apa pun alasannya. Aku paham, intinya ini tentang komitmen.
"Maaf ya sayang, Abang janji tak macam itu lagi." sahutku kemudian dengan mencium lama keningnya. Setinggi ini panasnya. Pantas saja ia semarah ini kutinggalkan. Entah berguna atau tidaknya aku di sisinya. Intinya Dinda ingin aku selalu ada di dekatnya.
Harusnya ia memaklumi aku yang tak paham masalah rumah tangga macam ini. Nasehatin aku pelan-pelan atau bagaimana? Ini main minta cerai aja. Bikin aku cekak-cekak mendadak.
"Tidur yuk. Cepet sembuh ya. Nanti kita bertiga liburan." ujarku menciumi wajahnya dan merengkuhnya dalam pelukanku.
~
Pagi harinya, aku menitipkan Givan pada bibiku. Karena aku akan memeriksakan Dinda ke dokter kembali.
Kami sedang dalam perjalanan menuju puskesmas yang dokter sarankan. Agar Dinda bisa di tes darah. Karena menurut analisis dokter, mungkin Dinda terkena demam tifoid, atau gejala tifus. Untuk memastikannya diperlukan tes darah.
__ADS_1
Dan tempat terdekat untuk tes darah hanya di puskesmas yang berjarak tak jauh dari tempat dokter tersebut.
"Bang, aku udah adem. Aku udah sehat. Tak perlu tes darah." ini sudah kesekian kalinya Dinda mengucapkan kalimat itu.
"Nanti Abang temani. Jangan takut, ok?" sahutku kesekian kalinya dengan kalimat yang sama.
"Bang nanti darah aku diambil dari siku dalam ini." ucapnya dengan menunjukkan tangannya, "Diambil satu suntikan penuh, Bang. Banyak kali." lanjutnya ketakutan.
Aku hanya fokus pada jalanan. Karena jujur aku sedikit lupa.
"Bang." rengek Dinda yang kudengar lagi.
"Biar Adek lekas sembuh. Tak apa diambil darahnya juga. Yang penting bisa ketahuan penyakitnya." sahutku dengan memelankan laju mobil jaman dulu yang ku modifikasi sekeren mungkin ini.
"Abang tak sayang sama aku." tuturnya yang mulai menangis kembali. Ya ampun, apa ia tak mengerti aku begini karena aku sayang padanya. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Makanya aku cepat ambil tindakan tes darah ini.
"Abang sayang sama Dinda. Lepas Dinda sembuh nanti kita liburan ke manapun yang Dinda mau." rayuku mengiming-iminginya liburan.
"Ke kota L. Aku pengen kali ketemu sama artis gagal caleg itu. Masih muda, udah bersertifikat halal. Tak macam Abang, 29 tahun baru menikah. Itu pun karena digrebek, nikah siri pulak. Terus Abang gagal caleg itu suaranya bagus kali, apa lagi lagu-lagunya yang indiaan. Yang nanyi, 'soe peugah long dek tukang dabel. Sino sideh abang na boh langgoi.' itu tuh Bang." ungkapnya dengan bernyanyi sesaat. Suaranya bagus juga Dindaku, apa lagi desahan kl*maksnya.
"Udah menikah. Dia punya sertifikat halal sama istrinya. Abang kan tak punya." balasnya menyahutiku. Oh buku nikah rupanya. Kok dia macam menyindir aku.
"Nanti kita nikah resmi, ok? Lepas nanti ada uang, kita pulang ke pulau J. Kita temuin orang tua Adek. Kenalin Abang juga ya ke seluruh anggota keluarga Adek. Terus kita ke umi." ujarku padanya. Dinda hanya terdiam membisu.
"Kenapa diem aja?" tanyaku padanya.
"Aku takut. Takut tak diterima mereka." jawab Dinda dengan menundukkan kepalanya.
"Sekalipun macam itu. Abang tak akan ninggalin Adek." ungkapku dengan menarik tangannya dan kucium sekilas.
"Beliin aku h*nda j*zz. Bangunin rumah juga. Jangan lupa anak aku dibukain tabungan pendidikan. Hajikan orang tua aku, kakak-kakak aku beserta istrinya juga. Nanti tak akan kutinggalin Abang." ucapnya dengan tersenyum lebar. Aku paham ia hanya bercanda. Tapi memang sudah kewajiban aku untuk memberi itu semua padanya.
"Ok, tak masalah. Tak sekalian p*jero aja? Apa mau mobil sport mewah?" tanyaku menyahutinya.
__ADS_1
Dinda tertawa renyah, "Aku udah kaya sendiri. Aku bisa dapatin itu semua sendiri." jawabnya kemudian.
"Ya iyalah, lahannya aja sembilan hektar. Belum lagi peternakan telor puyuhnya. Ladang Abang aja cuma lima hektar, kalah sama ladang Adek." sahutku dengan memarkirkan mobilku.
"Mana surat tanahnya? Aku tak pegang. Lepas nikah surat tanahnya diambil balik sama pak cek." balasnya.
"Lagi ganti nama. Tenang, Dek. Yuk turun." ujarku mengajaknya.
Terlihat Dinda sudah tegang kembali, setelah sadar bahwa ini adalah tempat untuk diambil darahnya.
Tak begitu lama menunggu, sekarang giliran Dinda yang akan masuk.
Saat proses berjalan, Dinda mulai memegang lenganku. Aku mengelus lembut tangannya dan memberikan senyum terbaikku.
"Hasilnya langsung keluar. Tunggu satu sampai dua jam paling lama." ucap petugas medis yang mengambil darah Dinda tadi.
"Baik, Bu." sahutku membawa Dinda keluar dari ruang laboratorium itu.
Aku mengajaknya makan bakso di luar puskesmas itu. Namun malah mendapat tancapan gigi di lenganku yang dari tadi ia gandeng.
"Mmmhh" aku memekik tertahan dengan menggigit bibir bawahku, karena malu jika sampai berteriak.
Setelah gigitannya terlepas, aku langsung mengamankan lenganku dengan cara merangkulnya.
"Awas aja nanti jika saatnya tiba!" aku memberinya peringatan. Sebetulnya tak sampai melukai bagian yang ia gigit tersebut. Tapi gigitan wanitaku, cukup bisa membuat bagian tersebut membiru. Lebam seperti kena tonjok seseorang.
"Hai, ngapain di sini? Periksa hamil kah?" sapa seseorang yang menepuk pundak Dinda.
TBC.
Baru menikah woy, macam mana bisa langsung tekdung la la la.. 😆
Apa lagi ini Abangnya belum sempet ngapa-ngapain 🤭
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😁